Short Story,  Titik Terang

Vaksin Astrazeneca Pertama

Yey, I got a vacin, finally..

Kenapa tulisan pertamaku di blog ini adalah tentang vaksin? Yang pertama, karena memang kebetulan aku baru saja vaksin yang pertama (kembali lagi, AKHIRNYA!) dan yang kedua, karena alasan yang sebenarnya baru terpikirkan beberapa menit yang lalu saat akhirnya memutuskan menulis ini. Aku ingin berbagi mengenai -melakukan hal baru- why not?

Maju mundur saat ingin mendapatkan vaksin, dulu di awal-awal vaksin ada, semua teman-teman kantor bahkan saudara sudah pada pamer mereka sudah mendapatkan vaksin dan berbagi cerita mengenai bagaimana efek dari vaksin untuk mereka. Ada rasa iri, dan cemburu pasti, aku juga ingin di vaksin. Banyak alasannya kenapa sangat ingin. Satu, pandemi ini menakutkan bagiku, aku benci sakit apalagi kematian. Ya, belum bisa berdamai sedikitpun dengan keduanya, its my bad. Apalagi kalau mendengar berita sakit atau kematian dari orang-orang yang kukenal, dari teman, atau bahkan dari keluarga. Berita seperti itu selalu membuat imunku down drastis dan buat stress berat sampai maag pasti kambuh dan bertambah dalam waktu yang lama. Mendapatkan vaksin tentu saja akan membuat aku jadi lebih percaya diri saat bekerja dan bertemu keluarga, aku tidak akan mudah menulari dan virus menyebalkan itu tidak akan terlalu mengganggu. Secara tidak langsung aku juga menjaga orang-orang yang kucintai.

Kedua, aku bekerja sebagai psikolog dan juga terapis ABK, tentu saja menamengi diri dengan vaksin adalah keharusan. Apalagi belakangan ini atasan di kantor mewajibkan untuk semua harus di vaksin. Dan aku sama sekali belum vaksin, walaupun bukan menjadi satu-satunya, tapi tetap saja ada rasa yang -kurang/bolong- dan aku selalu tidak nyaman dengan rasa yang seperti itu. Karena itu ingin segera di vaksin.

TAPI,

Balik lagi, masih ada maju mundurnya. Majunya sudah aku ceritakan di atas, lalu mundurnya apa?

Satu, kenapa sejak awal aku tidak vaksin, karena sedang PROMIL (doakan segera menjadi ibu ya aku). Diawal-awal vaksin ada, aku konsul dengan dokterku, katanya jangan vaksin dulu, harus milih lah satu mau vaksin atau mau promil. Trus katanya kalau sekarang vaksin harus menunggu 2 tahun untuk bisa hamil. Sejujurnya, aku juga takut kalau vaksin itu juga nantinya akan mempengaruhi kehamilanku, karena itu aku memutuskan untuk TIDAK VAKSIN dulu. Kedua, sejujurnya aku juga khawatir dengan efek vaksinnya. Banyak berita yang beredar, dan ternyata banyak yang hoax, katanya bisa menyebabkan meninggallah, kebutaanlah, atau kelumpuhanlah. Hah, semuanya menakutkan. Apalagi orang-orang terdekat yang sudah vaksin terlebih dulu benar-benar sakit, demam, meriang, semua badan ngilu. Kesimpulannya, AKU TAKUT!

Dan, FINALLY! aku di vaksin, setelah konsul dengan dokter dan mendapatkan kata boleh vaksin, lalu memantapkan diri untuk siap dengan efeknya setelah di vaksin nanti. Demam, meriang, badan ngilu semua, lengan bengkak, its okay, i am ready. Walau diawal-awal takut sama jarum suntik. Tapi mau tidak mau, sudah di rumah sakit, ya sudahlah aku menyerahkan lengan kiriku dengan sukarela dan tarik nafas dalam cairan vaksin itu masuk melalui pembuluh darahku. Oke baiklah, wish me luck then.

Aku berhasil mencoba hal baru.

Aku berhasil menaklukkan (untuk kesekian kalinya) rasa takutku.

Aku membuat keputusan yang tepat, menamengi diriku dengan vaksin ini dan menjadi lebih tenang untuk seterusnya. Untuk kali ini dan seperti biasanya, aku bangga pada diriku sendiri. Bahwa aku masih sangat mampu memilih apa yang seharusnya kulakukan, mau menanggung segala resiko dari pilihanku itu dan juga siap menjalaninya.

Aku mau cerita tentang efek dari vaksin AZ yang kudapatkan.

  1. 15 menit setelah di suntik, ada keliengan sedikit, agak pusing sedikit, dan tangan kiri rasanya kesemutan, kebas.
  2. 40 menit kemudian tangan kiri bagian atas sampai pundak kiri dan leher dibagian kiri agak sakit. Terkadang masih ada pusing, dan sometimes nafas rasanya agak pendek, tapi muncul dan hilang. Mungkin karena aku agak panikan juga.
  3. Sorenya, hem 9 jam setelahnya, sedikit pening, tapi tidak sampai sakit kepala.
  4. Aku tidak ada demam saat malam hari atau subuh (seperti efek yang dirasakan oleh yang lain). Dan tidurpun cukup nyenyak.
  5. Bangun pagi, lengan agak sakit, dan agak bengkak.
  6. Siang hari sampai saat ini so far so good. Hanya pening dan kadang pusing tapi tidak sampai mengganggu.

Yes, i nailed it.

Lalu apa yang kulakukan, kok sampai efeknya tidak terlalu mengganggu?

  1. 20 menit setelah vaksin aku minum Sanmol 500mg.
  2. 2 jam setelah vaksin, makan yang banyak, suami belikan nasi padang.
  3. Makan sup daun kelor buatan papa (yang rasanya pahit, tapi harus dihabiskan) dan juga ramuan khusus buatan papa, jahe+sereh+bawang putih+kurma. Ini enak banget sumpah, walau baunya kayak pepes, tapi rasanya mantap.
  4. Banyak minum air putih juga.
  5. Sorenya aku minum panadol yang merah.
  6. Malam sebelum tidur minum sanmol 500mg lagi.
  7. Besoknya, habis makan siang minum panadol lagi.

Thats it!

Bangga banget sama diri sendiri karena akhirnya berani di vaksin. Bangga banget juga karena akhirnya blog baru ini sudah bisa ditulisi dengan banyak pikiran-pikiran yang tersendat hanya di kepala. HAH, this day, is the perfect day, i think.

Yuk bisa yuk, berani yuk di vaksin, dan harus di vaksin yah. Tapi yang juga lebih penting lagi tetap jaga prokes ya. 5M atau berapa M pun itu tetap dilakukan.

  • Memakai masker,
  • Mencuci tangan pakai sabun dan air yang mengalir,
  • Menjaga jarak,
  • Menjauhi kerumunan, dan
  • Membatasi mobilitas dan interaksi.
  • Kutambahkan 1M lagi ya, mendaftar segera untuk di vaksin!

Salam sehat dan selalu bahagia untuk kalian semua,

aa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *