Marriage Care,  Note to Self,  Titik Terang

#1 tulisan tengah malam | aku istri yang beruntung dan patut bersyukur

Aku istri yang beruntung, tidak di bebankan dengan suami yang hanya suka mengeluh. Ia dengan tekun melakukan apa yang harus dilakukannya, bahkan dengan senang hati, tanpa beban. 

Aku istri yang beruntung, tidak disusahkan dengan suami yang sukanya berdrama, merasa dirinya melakukan lebih banyak, berkorban lebih sering. Ia dengan tulus membagi segala beban, sedih, susah, lelah bahkan bahagianya bersamaku. 

Aku istri yang beruntung, karena memiliki ia yang tidak suka menuntut ini dan itu, tapi memilih untuk berjuang bersama. Membagi lelah dan susah berdua. Ia tahu, cinta itu tidak harus 50:50. Jika kemampuan maksimalnya 100, ia akan membaginya jadi 50. Saat kemampuanku hanya 80, dan hanya bisa memberinya 40, itupun wajar adanya. Ya, kami memiliki 90 kekuatan, dan itu hampir sempurna. Tangki kekuatan kami masing-masing tidak kosong, dan tangki kekuatan kami bersama hampir penuh. Tak ada yang lebih baik dari itu.

Aku istri yang beruntung, memiliki suami yang tidak pernah mempermalukanku dengan mengumbar kekuranganku atau permasalahan kami di sosial media. Ia lebih memilih menegurku langsung, membicarakan kesalahan dengan hati yang sabar. Ia tahu, penyelesaian masalah kami tidak didapatkan dari membuat status di sosmed, tapi membicarakannya dari hati ke hati. Aku tersadarkan akan sesuatu bukan karena didiamkan berhari-hari, bukan karena bentakkan apalagi pukulan, tapi dari kesabaran dan hati yang terbuka dalam mencari solusi bersama untuk mengatasi masalah bersama.

Aku istri yang patut bersyukur, selelah, semarah bahkan sekalut apapun suamiku, ia tetap tenang. Ia tak pernah melampiaskannya dengan membentak apalagi memukulku. Ia tahu, aku tumbuh menjadi wanita sepertiku sekarang dengan tidak diwarnai oleh bentakan dan pukulan dari orang tuaku. Jadi dia tentu saja tidak berhak menoreh luka di fisik apalagi dihatiku.

Aku istri yang patut bersyukur, karena memiliki suami yang tak hanya memberi saran dan pendapat bahkan nasehat untuk kulakukan, tapi dia sudah lebih dulu melakukannya dan mencontohkannya padaku. Jadi aku tidak pernah meremehkan pandangannya itu, karena dia bukanlah suami yang hanya “omong doang”. Aku mempercayai apa yang dikatakannya, karena dia tidak sedang sok-sok an sok tahu. 

Aku istri yang patut bersyukur, karena dalam kondisi apapun, ia selalu ada untuk mendukungku. Tidak pernah sekalipun ia meremehkan perasaan dan pikiranku, sebaliknya, ia membersamaiku dalam melewati segalanya. 

Dan sebaliknya,

Kulakukan juga semua itu kepadanya. Dan juga pernah dikatakannya, dia juga sama bersyukur dan merasa beruntungnya karena memiliki istri sepertiku. Tak ada yang lebih melegakan dan membahagiakan dari ini.

Tidak bermaksud membandingkan, tapi melihat suami A atau B, aku jadi semakin tersadar bahwa suamiku berada di tapak tangga yang berbeda. Dan itu membuatku merasa sangat beruntung dan bersyukur.

Suamiku tidak sempurna, tentu saja. Begitupun aku, istrinya yang pun tidak sempurna. Bahkan keluarga kecil kamipun bukannya tak pernah tak ada masalah. Sama seperti yang lain, kamipun berjuang di lintasan kami. Kamipun memiliki kesusahan dan permasalahan kami sendiri. 

Tapi apa yang kemudian menyelamatkan?

Kami yang tahu bahwa kami harus terus belajar. Ia dan aku yang sampai pada saat ini karena memang diawali dan dijalani dengan terus belajar setiap detiknya. Dan memang begitu adanya kehidupan ini, yang akan bisa terus dijalani hanya dengan usaha yang positif dan juga semangat belajar yang tidak pernah pudar. Untuk mengisi setiap diri kami masing-masing, untuk memaksimalkan kerja sama diantara kami berdua. Yang mana semua itu bermanfaat untuk keluarga kami, agar semakin baik semakin harinya. 

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Semoga tulisan tengah malam ini juga menyadarkan beberapa orang, atau bahkan setiap orang (suami-istri) yang juga aku yakin pasti berjuang mati-matian untuk keluarganya (karena kamipun begitu), namun bisa melihat, menerima dan memaknai setiap perjuangannya itu dengan hal yang lebih baik dan positif.

Bukan dengan cara-cara yang berkebalikan dengan yang seharusnya. 

Semangat berjuang ya nahkoda kapal pernikahan, yang selalu ditemani dengan sukacita oleh navigator di sampingnya. 

Mari berjuang bersama dilintasan kita masing-masing 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *