Note to Self,  Titik Terang

Titik-Titik Terang di Ruang Tidurku yang Gelap

Di waktu-waktu tertentu, ada kalanya aku tidak bisa tidur cepat sesaat meletakkan kepala di bantalku yang empuk itu. Ada kalanya, bukan karena tidak bisa tidur karena dengkuran suami, tapi karena aku malah menikmati suara dengkurannya, dan membiarkan diriku banyak menjelajah gelapnya malam di ruang tidurku yang juga sangat gelap. Banyak pikiran-pikiran yang kudapatkan, banyak juga kesadaran-kesadaran yang dapat kupetik yang dibawa oleh pikiran-pikiran itu.

Hah, ada waktunya aku sangat mendambakan waktu-waktu aku yang terjaga sepanjang malam. Bukan membuatku lelah dan lemas keesokan harinya, tapi malah sebaliknya, aku jadi malah semakin bersemangat menyambut pagi dan segala susah-senangnya esok hari.

Dan inilah pikiran-pikiran yang awalnya gelap kemudian membuat titik-titik terang yang seirima dan beriringan dengan sinar-sinar lampu dari luar ruangan yang masuk dari celah-celah pintu ke kamarku. Lama kelamaan kamarku tidak jadi terlalu gelap lagi. Mataku mulai terbiasa dan kutemukan ada beberapa titik sinar terang yang menemani sepanjang malamku.

🌻🌻🌻🌻🌻

Terkadang kita mengatakan kalau orang lain salah dan tidak baik, bukan karena mereka benar-benar salah dan buruk. Hanya saja, apa yang dilakukannya, apa yang dipikirkan oleh mereka, jauh berbeda dengan apa yang biasa kita lakukan dan pikirkan. Itu sebabnya kita tidak cocok, tapi lantas terlalu mengenerasikan bahwa mereka tidak baik, karena kita yang hanya melihat sudut pandang dari mata kita. Bahwa kita lebih baik.

“kok gitu banget sih dia? Ih, jahat banget.” kata-kata itu mungkin pernah atau bahkan sering terucapkan oleh siapa saja dan kepada siapa saja. Kepada sahabat, teman, dosen, kenalan, tetangga, bahkan kepada orang tua kita. Kita sering mengatakan kalau pemikiran dan apa yang dikatakan oleh orang tua atau sahabat kita adalah salah dan mengira bahwa mereka orang yang jahat, namun sebenarnya mereka hanya berpikir dan berkata yang berbeda dengan yang biasa kita lakukan.

Melakukan judging bahwa mereka jahat dan salah tidak seharusnya dilakukan dengan sangat mudah. Kita dan orang lain memiliki persamaan namun juga memiliki banyak perbedaan. Tidak ada satu orangpun di dunia ini memiliki persamaan yang sempurna, begitu juga dengan saudara kembar sekalipun. Jadi, buat apa menyalahkan, buat apa memberikan label bahwa orang lain berbuat salah, berbuat jahat, padahal mereka hanya berbeda dengan kita.

Kalau sudah begitu, sudah seharusnya kita mengubah kata-kata di atas “mereka salah dan jahat” menjadi “kamu dan aku berbeda, kamu boleh berpikir dan berkata seperti itu, tapi menurut pikiranku berbeda denganmu. Dan tidak ada salahnya dengan itu, selagi tidak merugikan yang lain.”

🌻🌻🌻🌻🌻

Terkadang tanpa sadar kita melihat perlakuan orang lain yang sangat tidak kita sukai, tapi seketika itu juga, kita sadar dan ingat kalau pernah melakukan atau mengatakan hal yang sama. Kalau sudah begitu, apa yang harus kita lakukan?

“oh, ternyata kalau orang lain melakukan itu, aku bener-bener tidak suka. Mungkin orang lain juga tidak akan suka, saat aku melakukan hal yang sama seperti itu dulu,”

YA, bersyukurlah karena Tuhan menegur dan mengingatkan disaat yang tepat, tidak terlambat sehingga kita tidak menyesalinya, tapi juga tidak terlalu cepat sehingga tidak ada gunanya.

Mengenai hal yang satu ini, aku benar-benar sangat bersyukur. Aku yakin dan percaya bahwa “TUHAN SELALU TEPAT WAKTU, DAN WAKTUNYA BENAR-BENAR INDAH”. Menjadi orang yang peka itu cukup sulit, karena itu bersyukurlah jika kita telah menjadi peka dan kepekaan itu semakin tajam seiring bertambahnya usia.

Aku mempunyai seorang teman, waktuku sangat banyak bersamanya. Terkadang aku bahkan bisa bercermin darinya. Ya, banyak kesadaran yang muncul dan teguran yang segara dari Tuhan, ketika aku melihat perilakunya dan mendengar kata-katanya. Mungkin kami saling mempengaruhi, karena itu terkadang aku bisa melihat diriku yang mengatakan hal yang sama seperti yang pernah kukatakan sebelumnya darinya. Hem, bagaimana menjelaskannya, Intinya aku melihat diriku di dalam dirinya saat dia melakukan sesuatu dan mengatakan sesuatu. Seperti aku yang sedang mengatakan dan melakukannya. Dejavu? Flashback? Entahlah, tapi begitulah. 

Seketika itu juga aku terdiam, “oh aku dulu pernah melakukan ini, aku dulu pernah mengatakan ini,” setelah terdiam, aku menyadari sesuatu, “kenapa aku tidak suka dengan sikapnya? Oh, kata-katanya menyakitkan, aku tidak suka,” seketika itu juga aku menyadari bahwa, “aku pernah berkata seperti itu juga, aku pernah berperilaku seperti itu juga,” Aku tidak menyukai kata-katanya dan perilakunya menyakitiku, dan seketika itu juga aku menyadari bahwa mungkin dia juga terluka saat dulu aku berperilaku dan berkata-kata yang sama.

Kesadaran itu membuatku lebih aware untuk tidak melakukan atau mengatakan hal itu lagi karena aku tahu itu menyakitkan untuk orang lain, sama seperti aku yang tidak suka dengan kata-kata dari orang lain kepadaku.

🌻🌻🌻🌻🌻

Terkadang, kita lupa bahwa seorang sahabat seharusnya ada untuk menemukan salah satu emas ditumpukkan batu-batu, bukan berusaha bersaing mengumpulkan batu paling banyak sehingga mampu lebih dulu membangun kesuksesan yang tinggi dan besar. 

“aku malu kalau sahabatku lebih sukses, atau lebih cantik daripadaku.” sungguh disayangkan kalau kata-kata itu pernah muncul di pikiran, dihati atau bahkan sudah pernah terucap oleh bibir kita. Sangat disayangkan kenapa harus muncul kata-kata seperti itu.

Seorang sahabat tidak seharusnya bersaing, tidak seharusnya merasa berada di bawah atau di atas yang lain, tidak seharusnya berjalan paling depan atau paling belakang. Seorang sahabat harus saling menggenggam tangan, menjadi saudara dalam kesesakan dan sama-sama tertawa dalam kebahagiaan, walaupun hanya salah satu dari sahabat yang merasakannya.

Terkadang kita akan lebih mudah merasa iri dan cemburu pada saudara kita, pada sahabat kita dan berbuat baik pada orang lain bahkan orang yang baru pertama kali kita temui. Thats life. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa pembunuhanpun sering dilakukan oleh orang terdekat kita.

Apa arti sahabat bagimu? Ayo, segera buat definisi sahabat menurutmu dan jalani persahabatanmu sebagaimana definisimu sendiri. Harus yang positif ya!

Contohnya : “sahabat bagiku adalah tempat berbagai segala hal dan mencurahkan segala hal. Aku akan bahagia ketika melihat sahabatku bahagia, kita akan tertawa bersama. Aku akan menangis bersamanya ketika dia terluka dan menangis.”

Jangan jadikan sahabatmu sebagai tolak ukur keberhasilanmu, contohnya “pokoknya aku harus lebih dulu dibandingkan dia,”

TIDAK, bukan itu tujuan hidup kita. Kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dari itu. Jalani jalan kita sendiri, jangan mencoba mendahului bahkan memikirkan bahwa sahabat kita tidak boleh lebih beruntung dari kita.

🌻🌻🌻🌻🌻

Terkadang kita mengatakan sesuatu dan melakukan sesuatu karena ingin membuat orang lain bahagia, karena tidak ingin mengecewakan orang lain, karena kita tidak ingin orang lain menilai negatif terhadap kita. Apa itu salah?

Aku percaya setiap orang memiliki karakter, aura dan kewibawaan mereka sendiri-sendiri.

Mungkin kita pernah mengalaminya:

Orang A: terlihat sangat egois, mengatakan tidak kalau dia tidak suka, tapi apa orang lain langsung meninggalkannya? Terkadang bahkan orang lain mengikuti apa yang dikatakannya. Apa yang terjadi? Apa karena ia memiliki aura kepemimpinan dan bisa memengaruhi orang lain?

Orang B: dia terlihat sangat baik, selalu mengatakan iya walaupun hatinya mengatakan tidak. Selalu mengikuti kemanapun dan apapun yang dikatakan oleh orang lain demi kebaikan orang lain. Dia sangat baik, selalu ada saat diperlukan dan menomorsatukan kepentingan orang lain diatas kepentingannya. Apa yang terjadi dengannya? Ketika ia lelah dan tidak sanggup lagi mengatasi tuntutan lingkungan, dia akan berubah menjadi manusia yang berbeda. Dia akan menjauh, menghilang atau menjadi individu yang jahat. Tidak lagi menegur sapa, tidak lagi mendekat, berubah jutek kemudian teman-teman yang lain akan mengatakan bahwa dirinya palsu. Bahwa orang B itu hanya baik di awal kemudian berubah di akhir. Apa orang B itu salah? 

Menurutku, tidak ada yang salah antara orang A ataupun orang B. Mereka sama-sama orang yang baik, pada dasarnya mereka adalah orang yang baik. Hanya saja cara mereka untuk menampilkan diri dan mentranfer kebaikan mereka yang berbeda.

Orang A lebih apa adanya, mengatakan tidak saat dia merasa tidak, dan mengatakan iya saat dia menyetujuinya. Dia tidak terpengaruh bahkan ikut-ikutan sesuatu yang tidak diyakininya. Akan lebih baik lagi kalau dia menolak dengan baik atau memberikan saran yang masuk akal dan baik untuk perbaikan. Orang A akan menjadi orang yang mandiri, memiliki banyak teman, orang lain menjadi respek padanya dan tentu saja dia akan menjadi sukses.

Lalu bagaimana dengan orang B. Andai saja orang B mengetahui kemampuannya yang terbatas dan tidak akan bisa selamanya mengatasi tuntutan lingkungan dan mengabaikan dirinya sendiri, dia akan menjadi pribadi yang jauh jauh jauh jauh lebih baik dan mendapatkan banyak teman. 

Intinya adalah jadilah orang baik, berusaha membantu orang lain namun juga harus ingat bahwa kepentingan sendiri harus juga dipikirkan. Boleh menomorsatukan kepentingan orang lain, tapi juga harus bisa mengatakan “tidak” saat memang harus mengatakan tidak. Tidak apa-apa kalau kita selalu mengatakan “iya” untuk apapun, tapi kita juga bukan orang yang jahat ketika pada suatu saat kondisi dan waktu mengharuskan kita untuk mengatakan “tidak”.

🌻🌻🌻🌻🌻

photo by gipong at new year 2020

Banyak titik-titik terang yang kutemukan walau di dalam gelapnya ruang tidurku. Sampai jumpa di titik-titik terang yang lainnya ya.

-aa-

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *