Note to Self,  Short Story,  Titik Terang

Time will Heal?!

Don’t worry, time will heal.” Begitu kata 1 kalimat. Tenang saja, waktu akan menyembuhkan. Tapi apa benar waktu bisa menyembuhkan segalanya? Jika waktu bisa menyembuhkan, apa cukup hanya dengan itu? Lalu kita hanya perlu berdiam diri, menunggu dan tidak melakukan apa-apa?

Kalau menurutku, nyatanya waktu saja tidaklah cukup, kita perlu usaha, melakukan sesuatu untuk mengobati, mengatasi dan akhirnya kembali membuat lega, nyaman dan sembuh jiwa dan fisik ini.

Time doesn’t heal anything. It’s what you do with the time thats heals.” Ya, waktu tidak menyembuhkan sesuatu, yang dapat menyembuhkan adalah usaha-usaha apa yang kita lakukan pada waktu itu, itulah yang akan menyembuhkan.

Udahlah ga apa-apa, nanti juga membaik. Time will heal!” Adalah kalimat yang terdengar seperti memberi semangat, namun jika ditelaah kembali seperti meremehkan luka yang ada dihati kita. Luka itu sepertinya sangat remeh sehingga tidak perlu melakukan apa-apa juga pasti akan sembuh dengan sendirinya.

Padahal, layaknya seperti fisik kita, yang kita usahakan untuk selalu kita jaga agar tetap sehat dan bugar dengan minum vitamin, makan makanan yang bergizi, mandi, mengosok gigi dll, hatipun selayaknya juga kita jaga dan rawat dengan sangat baiknya. Yang pasti dengan usaha, bukan dengan menunggu dan berdiam diri.

Banyak yang meremehkan luka dalam hatinya, mungkin saat menerima penolakan, kegagalan, kesepian, penyesalan dan hal-hal buruk lainnya. Banyak mereka membiarkan saja hati mereka yang patah dengan harapan waktu akan menyembuhkan dengan sendirinya.

Padahal nyatanya, TIDAK.

Yang lebih tepat adalah waktu memberikan kita kesempatan untuk melakukan usaha-usaha atau mencari cara-cara yang lebih tepat, benar dan baik untuk mengobati luka yang kita punya. Kita sebagai manusia mau mengambil kesempatan itu atau tidak, itulah yang menjadi pembedanya. Misal, orang A dan B memiliki luka dalam hatinya karena ditinggalkan seseorang. Orang A membutuhkan 10 tahun untuk pulih, sedangkan orang B membutuhkan 1 tahun untuk benar-benar pulih.

Yang membedakan waktu yang diperlukan setiap orang untuk sembuh dan pulih adalah kemampuan seseorang dalam mengambil kesempatan dari pemberian waktu untuk mengakui, menerima, menjadikan teman, memaafkan kemudian merelakan untuk melepaskan semua hal yang telah terjadi. Inilah yang biasa disebut dengan self healing. 

Ya, kita tidak bisa meminta orang lain atau keadaan bahkan waktu untuk menyembuhkan diri kita, sedangkan kitanya tidak melakukan apa-apa. Self healing merupakan trend yang sednag marak dibicarakan akhir-akhir ini, lantas bagaimana cara melakukan self healing ini? Apakah cukup dengan pergi ke tempat-tempat baru kemudian diri menjadi tersembuhkan? Atau melakukan hal-hal baru sehingga diri menjadi lebih terlegakan?

Kalau menurutku, berginilah self healing yang biasanya kulakukan untuk menyembuhkan atau mengatasi hal-hal buruk yang telah terjadi.

#1 Mengakui kemudian menerima hal yang telah dialami dan yang telah berlalu

Sebagai manusia, kita bisa melakukan antisipasi terjadinya hal buruk atau merugikan dengan belajar dan usaha melakukan hal-hal baik. Namun, pun sebagai manusia kita tidak bisa mengatur segala hal. Ada hal-hal diluar kemampuan kita yang tidak bisa kita kontrol.

Jadi saat hal-hal kurang menguntungkan bahkan mungkin membuat rugi dan terluka terjadi, kita hanya bisa mengakui bahwa itu nyata adanya dan menerima bahwa hal itu memang sedang kita alami. Dengan mengakui kemudian menerima hal itu membuat kita jadi melihat hal itu lebih nyata, sehingga kita juga bisa mencari cara mengatasinya dengan lebih benar. Kita bisa bertindak seperti teman karib untuk hati yang terluka itu. Kita akan lebih mampu memandang hal tidak menguntungkan itu lebih objektif sehingga kita pun bisa mencari pemecahannya dengan lebih bijaksana dan tepat sasaran.

Sehingga, alih-alih kita membenci atau mengabaikan luka itu, kita akan malah merawat ia dengan kasih sayang.

#2 Self acceptance atau menerima diri sendiri

Selain menerima keadaan dan hal yang terjadi, kita juga sebaiknya menerima diri kita sendiri. Ya, kita adalah kita. Aku adalah aku. Kamu adalah kamu. Aku tidak bisa menjadi utuh selayaknya kamu, begitu juga sebaliknya.

Saat kita gagal dan membuat luka dihati, ya terima diri kita yang telah gagal itu, yang telah terluka itu. 

Jadi, luaangkan waktu untuk menerima seutuhnya diri sendiri ya! Baik dan buruknya kita, itulah kita. Terima diri kita sendiri dengan kegagalan yang pernah terjadi dengan masa lalu dan masa sekarang yang ada pada kita.

#3 Maafkan diri sendiri

Bagi sebagian orang sulit sekali memaafkan orang lain, namun lebih banyak lagi sulit memaafkan dirinya sendiri. Ada juga yang sangat mudah memaafkan orang lain namun lagi-lagi sulit memaafkan dirinya sendiri. Memaafkan orang lain memang ada kalanya begitu sulit namun baik dilakukan agar hidup bisa lebih tenang dan tanpa beban. Begitu juga dengan memaafkan diri sendiri.

Maafkan diri sendiri akan membuat kita lebih bisa menerima diri kita dan bisa membuat langkah menjadi ringan dan tujuan hidup pun bisa lebih mudah tercapai.

#4 Maafkan dan merelakan hal yang telah terjadi

Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, pun begitu tidak perlu menyalahkan orang lain dan keadaan, bahkan bila perlu tingkatkan pemikiran mengenai hal ini, bahwa “selalu ada hal baik atau hikmahnya dalam setiap hal yang terjadi, termasuk pada hal-hal buruk sekalipun.

Dengan mampu memaafkan dan merelakan kitapun akan lebih legowo untuk melepaskan ia pergi. Dan berterima kasih pula untuk hal-hal baik yang ia bawa selagi menghampiri kita. Ingat ini ya!

Sukacita dan tawa bisa jadi tidak menetap, begitu juga dengan dukacita dan air mata yang hanya sementara. 

Setelah kita berhasil mengatasinya dengan cara-cara yang tepat, kemudian lepas ia dengan penuh sukacita, lapang dada dan penuh ucapan terima kasih. Hal itu akan membuat membuat kita semakin mendewasakan, membuat kita semakin bijak dan juga semakin cerdas dalam melakukan problem solving.

#4 Melakukan kegiatan positif

Temukan kesibukan yang positif, itu yang biasa kulakukan untuk pengalihan. Dengan kita sibuk, waktu, pikiran dan tenaga akan mendominasi keadaan diri kita sehingga mampu memperbaiki suasana hati dan perasaan akibat kejadian buruk yang telah terjadi.

Selain itu juga bisa mengalihkan pikiran-pikiran kita untuk hanya fokus pada kejadian atau hal-hal yang telah berlalu. Selalu mengingat dan memikirkan kejadian buruk, hanya akan mempengaruhi mood kita berada di rentang yang kurang baik. Kitapun akan jadi kurang semangat untuk kembali menjalani hidup.

Dengan melakukan hal-hal positif seperti membaca buku, mendengarkan kata-kata motivasi, mendengarkan lagu-lagu yang ceria dan meningkatkan motivasi secara rutin sehingga secara tidak langsung otak akan mengirim pesan positif yang dapat meningkatkan mood dan mendukung proses self healing tadi.

Hal ini juga akan mengembalikan kepercayaan diri yang sempat menurun ketika kita kembali yakin atas diri kita dan kembali semangat serta termotivasi, kita juga akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi pikiran-pikiran negatif.

______

Catatan:
⭐️Banyak penelitian menyebutkan hanya dengan 2 menit pengalihan, mampu menghilangkan keinginan yang sangat kuat untuk memikirkan kembali kejadian buruk yang sudah terjadi. 

⭐️Dengan melakukan self healing ini, kita akan membangun kembali kepercayaan diri yang sempat menurun, dan meningkatkan disiplin diri dalam menghadapi pikiran negatif yang muncul. Tidak hanya membuat luka kita terobati, tapi kita juga sedang membuat sebuah sistem pertahanan dalam hati kita, hal ini yang akan pakai untuk memperkuat diri dari ancaman-ancaman lain di kemudian hari. 

______

Semoga tulisan dan sharing ini bermanfaat ya untuk kita semua yang sedang berada dalam proses healing diri ini.

Salam, Ayu Andini, M.Psi., Psikolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *