Anak Berkebutuhan Khusus,  Parenting,  Tumbuh Kembang

Tentang Fokus dan Konsentrasi pada Anak

Seringkali kita dengar celetukan orang lain mengenai perilaku anak, baik itu anak teman-temannya atau keponakannya, atau bahkan bisa jadi kepada anak orang lain yang ia tidak kenal. “Duh, anaknya ni ga bisa diem, nakal banget sih?” begitu katanya. Kejam ya? Iya. Menurutku begitu. Oke memang tidak ada salahnya ketika kita mengatakan anak tidak bisa diam karena memang kenyataannya anak tidak bisa diam. Tapi jika langsung Judging “nakal” kepada anak, itu yang disayangkan. Please jangan diteruskan.

Tapi nyatanya, ternyata ada yang lebih jahat lagi, ketika kata-kata berkonotasi negatif itu malah muncul dari bibir seorang ibu atau ayah kepada anaknya sendiri. “aduh nak, diam dong. Jangan naik-naik, kok nakal banget sih?” Sayangnya lagi kata-kata itu muncul ketika berada di tempat umum. Kata-kata itu seolah-olah sebagai pembelaan atau menutup malu, atau malah melampiaskan kekesalan hati kepada anak. Terbayang tidak bagaimana perasaan anak saat mendengar apalagi anak yang sudah memahami kata nakal itu. Ingatan itu mungkin akan terbawa sampai ia dewasa nanti.

Penilaian yang tidak ada sumber jelasnya sudah pasti tidak benar. Dan lagi ayo biasakan mulai sekarang melihat perilaku anak sesuai apa adanya, stop jangan dulu mengatakan anak nakal yang mana sangat berkonotasi negatif yang akan mempengaruhi anak sampai ia besar nanti. Anak yang tidak bisa diam, memanjat sana-sini, berlarian kesana kemari, bukan berarti ia anak yang jahat/nakal/patut dipenjarakan. Terkadang, iapun tidak tahu bagaimana mengontrol perilakunya tersebut, kadangkala iapun ingin diam, duduk tenang seperti teman-temannya yang lain, tapi apa daya, seringnya anak tidak tahu dan tidak bisa bagaimana caranya.

Kalau ditanya apakah mereka benar-benar tahu kondisi anaknya, bisa jadi mereka akan menggeleng. Kalau ditanya lagi, apakah pernah mencari tahu tentang perilaku anaknya, bisa-bisa mereka lagi-lagi menggeleng. Pertanyaan ketigapun tidak akan ada gunanya ditanyakan. Karena mereka juga otomatis akan menggeleng saat ditanya, “tahukah cara menghadapi anak yang memiliki keaktifan yang tinggi dan kurang fokus?” atau pertanyaan ini, “tahukah cara membuat anak menjadi lebih tenang?

Sayang sekali ya!

Tapi-tapi-tapi, ada kabar baiknya nih, jenis ibu atau ayah seperti di atas sudah semakin berkurang belakangan ini. Yang aku lihat dan cermati, para orang tua jaman sekarang sudah lebih cepat peka dengan tumbuh kembang anaknya. Karena itu banyak orang tua yang sudah langsung datang tanpa babibubebo lagi untuk mengkonsultasikan perilaku atau kondisi anaknya ke psikolog atau ke dokter anak. Keluhan utama orang tua biasanya, terdapat perilaku atau kebiasaan anak yang membuatnya terganggu secara sosial atau akademik. Tidak hanya terjadi di rumah tapi juga di sekolah.

Sudah banyak orang tua yang mulai “ngeh” saat anaknya usia 2 tahun. Orang tua mengeluhkan anaknya suka lari-larian di dalam rumah, saat makan tidak bisa duduk diam di kursinya, sebagian aktivitas bermainnya adalah lari-larian, lompat-lompat, manjat-manjat. Tapi ada juga yang agak terlambat sedikit, ngehnya saat sudah masuk play group atau TK. Ibu mulai bisa memperhatikan sosialisasi anak dengan temannya. Ada yang mengeluhkan anaknya cepat bosan, mudah teralihkan, berkelahi dengan teman di kelas, tidak dapat duduk tenang dan menyelesaikan aktivitas, dan ada juga yang sering berkelahi dengan saudaranya.

Ada dua hal tema besar di atas, yaitu FOKUS KONSENTRASI dan HIPERAKTIF-IMPULSIF. Dalam psikologi ada yang namanya ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) yang didalamnya mengandung dua hal di atas. Ada baiknya kita kenalan sedikit mengenai apa itu ADHD di artikel ini, tapi so sorry, aku tidak akan memberikan secara detail, terlebih apa saja detail-detail gejalanya karena itu bagian dari penegakan diagnosa.

Bukan apa-apa, hanya tidak ingin banyak ibu dan ayah malah kebingungan hanya karena membaca artikel saja. Lebih baik, langsung datang untuk konsultasikan keadaan anak ke psikolog ya.

Tapi jangan terlalu kecewa, aku akan membahas mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan fokus konsentrasi dan juga hiperaktif-impulsif itu.

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Merupakan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas yang menyebabkan anak kesulitan memusatkan perhatian, menjadi terlalu aktif (hiperaktif) dan cenderung bertindak tergesa-gesa tanpa berpikir panjang (impulsif).

Kuingatkan sekali lagi, ibu dan ayah harus berhati-hati dalam mendiagnosa anak ya, lebih baik konsultasikan dulu ke tenaga ahlinya, bisa ke psikolog untuk memastikan diagnosa dari si kecil. Untuk mendiagnosa dan menekankan kondisi anak, tidak bisa dilihat hanya dari “oh, anakku kurang fokus nih, apa ADHD ya?” atau “anakku suka lompat-lompat trus, sukanya lari-lari saja. ADHD pasti nih.” jangan lakukan yang ibu dan ayah. Tidak semudah itu mendiagnosa.

Ini juga sedikit di sayangkan, banyak kita yang jadi psikolog dadakan, atau malah asal diagnosa untuk menjadi bercandaan. Anaknya aktif sedikit langsung dibilangnya ADHD, anak selalu mendapatkan nilai merah dan tidak suka mendengarkan guru di depan kelas langsung menyebutkan siswanya ADHD, tanpa penilaian secara tepat sebelumnya. Ini sama saja dengan judging nakal kepada anak. Akan melekat pada anak seumur hidupnya, dan dia akan menjalani kehidupannya dengan orang lain yang melihat aneh padanya atau yang membicarakan perilakunya yang disebut ADHD.

Ada banyak kasus dengan salahnya diagnosa, apalagi dari yang bukan pakarnya, sudah pasti membuat cara mengatasinya juga jadi tidak tepat. Boro-boro membuat anak menjadi lebih berdaya, malah akan membuat anak semakin tidak berkembang dan potensi-potensinya jadi tidak tergali juga.

Catatan: karena hal-hal di atas, maka dari itu aku tidak akan menjelaskan secara sangat detail mengenai gejala-gejalanya ya. Agar tidak menjadi psikolog dadakan dan merasa hanya membaca artikel saja sudah bisa mendiagnosa anak dengan sangat tepat.

Oke, sekarang lebih baik kita beralih kepada penjelasan mengenai fokus dan konsentrasi ya. Apa manfaatnya, apa dampak negatifnya kalau anak kurang fokus dan konsentrasi dan bagaimana cara agar orang tua bisa meningkatkan fokus dan konsentrasi anak.

Manfaat Fokus dan Konsentrasi yang baik pada Anak

Fokus dan konsentrasi merupakan bagian dari kemampuan berpikir yang memungkinkan anak melakukan tugas tanpa menundanya. Fokus juga berkaitan dengan bagaimana si kecil menjaga perhatiannya pada sesuatu sampai hal tersebut selesai.

Dengan fokus dan konsentrasi yang baik, anak akan terhindar dari gangguan distraksi yang bisa menggagalkan tujuannya. Ketika anak memiliki fokus dan konsentrasi yang baik, maka iapun dapat melakukan aktivitas yang diberikan dengan lebih tenang. Ketika anak tenang dan fokus dalam melakukan sesuatu, maka kemungkinan besar anak juga mampu mendapatkan pelajaran berharga dari aktivitas tersebut. Misalnya saja, anak sedang melakukan aktivitas bermain puzzle, jika anak dapat fokus dan tenang ia dapat mengerjakan puzzle tersebut sampai selesai, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan dirinya, ia juga bisa belajar mengenai problem solving dll.

Bisa dibaca di artikel sebelumnya mengenai manfaat bermain puzzle bagi anak.

Lalu, apa sih dampak negatif dari anak yang memiliki fokus dan konsentrasi yang kurang?

  1. Anak kesulitan untuk duduk tenang menyelesaikan satu aktivitas dalam satu waktu.
  2. Anak jadi tidak terbiasa melakukan tanggung jawab yang diberikan kepadanya, ini akan mempengaruhi anak dalam tugas-tugas di masa depan.
  3. Banyak tugas jadi terbengkalai, tidak terselesaikan sepenuhnya karena anak suka menunda, akibat dari distraksi hal-hal lain saat mengerjakan aktivitas. Hal ini juga dipengaruhi anak yang kurang mampu mengontrol gerak sehingga ingin terus merespon stimulasi yang ada.
  4. Anak sulit mengikuti arahan, buru-buru langsung mengerjakan aktivivitas padahal instruksi sebelumnya belum selesai. Jadi hasil yang didapatkan juga kurang maksimal. Hal ini biasa terjadi pada anak yang hiperaktif yang kurang mampu mengendalikan impulsivitasnya. Terkesan buru-buru dan kurang sabaran dalam melakukan sesuatu.
  5. Mudah terdistraksi jadi tidak bisa menyelesaikan aktivitas yang diberikan sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan.
  6. Sulit menyaring visual, suara, dan informasi yang tidak penting, terlalu banyak pikiran-pikiran dikepalanya.

Kenapa ada beberapa anak mengalami kesulitan mempertahankan fokus dan konsentrasinya? Kenapa ada beberapa anak mengalami kesulitan untuk duduk tenang, malah sebaliknya sangat aktif dan terburu-buru melakukan sesuatu?

  1. Pada masa kanak-kanak, keinginan atau kebutuhan terbesarnya adalah bermain atau bergerak. Energi yang mereka miliki sangat besar untuk menjelajah lingkungan di tambah lagi keingintahuan yang tinggi sehingga anak lebih cepat merespon stimulus yang ada.
  2. Orang tua yang kurang peka dan paham mengenai kondisi anak sehingga cenderung membiarkan saja perilaku yang sebenarnya kurang tepat. Berpikir bahwa nantinya anak akan mau duduk tenang kalau waktunya, atau nantinya anak akan mau fokus dan konsentrasi saat melakukan aktivitas di sekolah. Hal ini membuat orang tua sedikit terlambat untuk mulai memberikan latihan agar memperbaiki atau meningkatkan kemampuannya.

Dilihat dari DSM-5 hal-hal berikut merupakan penyebab dari anak ADHD.

  • Dari sisi biologis : karena genetik, ketidakseimbangan atau defisiensi neurochemical, neurophysiological, aspek neuroanatomical, ibu yang terkena infeksi saat kehamilan, dan adanya infeksi, trauma atau implanasi di otak ketika early infancy.
  • Dari sisi psikologis: adanya trait atau temperamen yang dimiliki anak dan adanya familial genetic.
  • Dari sisi sosial: adanya faktor pola asuh seperti maltreatment dalam pengasuhan, adanya kekerasan yang sifatnya kronis, dan diabaikan. Selain itu, juga dikarenakan oleh masalah keluarga dalam menangani anak yang menampilkan tingkah laku membangkang, impulsif, hiperaktif (tingkah laku tersebut pada awalnya belum tentu merupakan simptom ADHD).

Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi Anak

Kita sebagai orang tua wajib melatih fokus dan konsentrasinya agar dampak-dampak negatif tidak terjadi. Semakin bertambahnya usia anak akan membutuhkan kemampuan ini untuk belajar dan menyelesaikan tugas penting lainnya. Lalu apa saja yang bisa dilakukan oleh orang tua?

  1. Menerima anak apa adanya. Orang tua diharapkan mampu menunjukan kasih sayangnya yang tulus, bagaimanapun keadaan dan kondisi anak. Dengan demikian orang tuapun menjadi aktif mencari tahu informasi-informasi mengenai cara-cara meningkatkan fokus dan konsentrasi anak. Orang tua juga diharapkan meluangkan waktu lebih bersama anak, karena latihan ini membutuhkan kesabaran dan juga waktu yang konsisten. Yang juga penting adalah orang tua lebih peka dengan kesulitan dan ketidakmampuan anak.
  2. Berikan tugas-tugas kecil yang mudah terlebih dahulu baru kemudian berikan secara bertahap tugas-tugas yang lebih sulit. Hal ini untuk meningkatkan dan menimbulkan terlebih dahulu rasa percaya diri dan motivasi anak dalam menyelesaikan aktivitas. Jika tugasnya lebih mudah dan anak mampu menyelesaikannya ia akan merasa bangga pada dirinya dan lebih percaya diri untuk tugas-tugas yang lain. Jika diberi tugas yang sulit terlebih dahulu dan anak tidak mampu mengerjakannya, anak akan merasa bahwa tugas itu menakutkan jadinya tidak termotivasi melakukan aktivitas
  3. Berikan tugas yang sesuai dengan rentang fokus dan konsentrasi sesuai usianya. Misal anak usia 3 tahun memiliki rentang fokus dan konsentrasi 6-15 menit (usia dikasi 2-5menit). Jadikan sediakan aktivitas yang waktu pengerjaannya selama rentang tersebut. Sebaiknya jangan melebih waktu tersebut karena anak akan bosan dan juga lelah. Anak yang kelelahan sudah pasti tidak akan lagi fokus. Beri juga jeda waktu antara aktivitas 1 dengan yang lainnya.
  4. Kurangi distraksi dari lingkungan. Orang tua dapat mengajak anak belajar atau melakukan aktivitas di tempat atau ruangan yang tenang. Jauh dari suara bising, dan aktivitas lain yang dapat mengalihkan perhatian anak. Hindari anak dari distraksi suara TV, gadget dan musik. Ciptakan ruang belajar yang kondusif agar dapat meningaktkan fokus anak.
  5. Bermain mainan edukatif yang berfungsi untuk meningkatkan fokus dan konsentrasi. Seperti, meronce, bermain puzzle, lempar tangkap bola dll. Pilihlah permainan yang membutuhkan waktu, deadline yang jelas, sehingga selain anak juga melatih fokus, ia juga bisa meningkatkan perhatian, tanggung jawab, kontak mata, koordinasi organ tubuh dan juga daya ingatnya.
  6. Lakukan aktivitas fisik. Seperti berenang, bersepeda, sepak bola, petak umpet untuk menyalurkan energinya yang berlebihan. Bedakan dengan jelas aktivitas-aktivitas yang mengharuskan adanya gerakan atau yang duduk tenang di kursi.
  7. Membacakan cerita kemudian meminta anak menceritakan kembali cerita yang didengarnya. Berikan pertanyaan sederhana mengenai cerita tersebut dengan pertanyaan yang mengesankan dan interaktif. Sediakan atau ajak anak meilih cerita menarik yang disukai anak. Ketertarikan anak dengan sebuah cerita akan meningkatkan keterampilan mendengarkan dan mendorongnya untuk fokus.
  8. Jangan lupa, anak perlu istrirahat. Perhatikan waktu tidur anak di malam dan siang hari. Tidur siang dan malam yang cukup dapat menyehatkan otak. Selain itu juga atur jadwal makan anak, agar terpenuhi juga nutrisi dan gizi anak.
  9. Orang tua dapat menerapkan peraturan rewards and punishment pada anak. gunakan juga time out dan konsekuensi-konsekuensi yang sesuai dalam menerapkan disiplin pada anak. Dengan kedisiplinan pada anak, ia juga akan terlatih untuk mengontrol perilaku aktifnya sehingga mampu menyelesaikan aktivitas sesuai perintah.

Mungkin ada beberapa anak yang kita kenal memiliki fokus dan konsentrasi yang rendah, atau bahkan ada anak-anak yang kita kenal telah didiagnosa mengalami ADHD, biarlah kesusahan kita stop sampai disana. Lebih baik kita fokus pada hal-hal baiknya, seperti kita yang lebih aware apa sih cara-cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kesulitan dan permasalahan anak-anak itu.

Semoga informasi artikel ini bermanfaat ya, dan bagi kita-kita yang tahu informasi ini bisa dishare ke ibu-ibu atau ayah-ayah yang membutuhkan ya.

aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *