Note to Self,  Titik Terang

Tentang Benci

Ada dua pertanyaan yang begitu saja muncul di kepala saat melakukan perjalanan dari rumah ke kantor.

  1. Bisakah kita membenci orang seumur hidup kita?
  2. Bisakah kita membuang jauh-jauh orang yang pernah menyakiti kita, dari segala pikiran, asa dan juga hidup kita?

Setelah pertanyaan itu muncul begitu saja dan menetap seharian walaupun di sela-sela kesibukanku, akhirnya sorenya ketika (lagi dan lagi) dalam perjalanan dari kantor ke rumah, akupun menemukan jawabanku. Jawaban yang aku rasa sudah mantap, dengan gerakkan kepala yang juga sudah mantap.

“TIDAK!” kataku mantap.

Kenapa? Dan inilah menurutku,

Kita tidak bisa membenci orang lain selama-lamanya. Akan ada waktu-waktu dimana Tuhan dan juga semesta malah mempertemukan kita lagi, kemudian memaksa kita menjalin tangan lagi. Seperti menebus atau membayar kesalahan di masa lalu, dengan kebaikan-kebaikan di masa sekarang, dan juga kedewasaan yang juga sudah berbeda. Mungkin waktunya tidak selalu cepat, bisa 10 tahun, 20 tahun kemudian, atau malahobisa juga 1 bulan kemudian.

Ingat, segala sesuatu pasti berubah khususnya manusia. Pasti selalu berubah. Sekarang bisa membenci, nanti bisa cinta. Dulunya saling sayang, sekarang bisa saling melukai.

Dan lagi, kita juga tidak bisa benar-benar membuang orang-orang itu dan kenangannya yang pasti menyakitkan dari seluruh hidup kita. Kadang ia masih terpanggil di kepala kita, saat kita melihat orang lain melakukan hal yang sama, walau bukan kepada kita. Kita masih kadang merasakan rasa sakitnya yang sebenarnya belum benar-benar kering dan sembuh. Kadangpun bisa terbawa mimpi walau sekelebat saja muncul wajahnya yang kita benci.

Percayalah, semakin kita fokus dengan benci itu, maka semakin kita tidak bisa lepas dengan sumber bencinya. Tapi kebalikannya, saat kita menerima benci itu, membuat kita lebih tenang menghadapinya, hidup berdampingan dengannya dan bahkan menjadi temannya.  

Aku ingat memiliki pengalaman tentang benci ini beberapa kali selama hidupku. Sungguh, tidak pernah kusangka akan sangat membenci seseorang segininya, tapi inilah hidup. I think, harus pernah berada di tahap ini agar kita juga bisa belajar memperbaiki diri, belajar mengenai sudut pandang orang lain, belajar untuk membuat batasan dan masih banyak lagi.

Aku pernah sangat membenci seseorang, membenci wajahnya, sikapnya, sifatnya bahkan tawanya pun membuatku seketika muak. Tapi sayangnya, aku tidak bisa langsung pergi dan menjauh. Aku masih harus bertemu dengannya, setiap hari. Aku juga masih harus mendengar suaranya yang menggelegar dan tawanya yang seperti geledek. Bisa bayangin ga, orangnya seperti apa? Benar-benar menakutkan, membuat tidak nyaman dan aku semakin membencinya. Hari demi hari kujalani, dan pasti diawali dengan sakit kepala. Selalu lebihh sering ogah-ogahan pergi ke kantor karena aku harus melihat wajahnya yang kubenci dan mendengar suaranya yang lebih kubenci lagi. Begitu seterusnya sampai hampir 6 bulan lamanya.

Sampai akhirnya dua hal ini yang membuatku tersadar dan sedikit demi sedikit membuatku menyembuhkan diriku sendiri, agar akupun terlepas dari luka ini yang bisa jadi menumbuhkan dendam yang tidak berujung di hidupku. Aku tidak ingin luka dan dendam ini nantinya malah akan membawaku ke ujung jurang yang dalam, yang kemudian membuat tubuh kecilku tak lagi bisa menggapai ujungnya jika nanti aku terjerembab di dalamnya.

#1

Kata-kata papa ini selalu menjadi pengingat untukku, saat benar-benar kesusahan. “...RASA SAKITMU AKAN TERASA 7X LEBIH MENYAKITKAN KALAU KAMU MENOLAKNYA. KEBENCIANMU TERHADAP SESUATU AKAN TERASA 7X LIPAT JIKA KAMU MENOLAK SUMBER BENCI ITU...”

Ya, awalnya tentu aku menolak. Menolak kehadirannya, menolak segala hal tentangnya. Kalau bisa aku ingin pergi jauh dan tidak melihatnya lagi. Tapi tidak bisa kulakukan. Akupun tidak bisa meminta Tuhan membawanya jauh dariku. Diluar kuasaku.

Satu hal yang pasti bisa kulakukan adalah MENGELOLA DIRIKU SENDIRI, untuk bisa “mencoba menerima” benci ini dan juga sumbernya.

Awalnya aku menjauh, segera menghilang, pergi sejauh mungkin agar tidak berasa di lokasi yang sama dengannya. Wajar. Awalnya aku segera menutup telingaku saat mendengar suara apalagi tawanya. Wajar. Diawal-awal saat lukamu masih sangat basah, dan rasa bencimu masih di ubun-ubun, memang benar dan wajar melakukan ini. Terlebih dahulu, menjauhlah dari sumber bencimu, tenangkan dirimu, sebelum perlahan menerimanya, kemudian mendekat kepadanya.

Lalu sekarang?

Aku membiasakan tubuhku untuk diam di tempat yang sama dengannya, membuat tanganku tidak cepat-cepat menutup telingaku. Dan hasilnya, aku kemudian jadi TERBIASA. Aku mulai terbiasa dengan wajahnya yang tentu saja masih terasa menjengkelkan. Dan juga jadi terbiasa dengan tawanya yang masih membuat tidak nyaman ditelinga. Walau begitu, tetap kulakukan, agar semakin terbiasa. Karena aku tahu, untuk menjadi terbiasa, kita juga harus berani MEMAKSA DIRI kita. Aku selalu setuju kata memaksa untuk hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya.

Kemudian, akhirnya, akupun bisa menertawakan diriku sendiri. Tertawa lega yang baru kali ini muncul di bibirku ketika mengingat wajahnya dan juga mendengar suara apalagi tawanya. Ajaib ya? Dan pasti lega rasanya, saat aku akhirnya bisa tertawa karena berhasil mengalahkan emosi negatifku. Tertawa lega karena aku yang sedikit demi sedikit bisa terlepas dari belenggu yang tidak seharusnya membelengguku.

Yes, aku menang. Bukan karena bertempur dengannya, tapi menang dari rasa-rasa, pikiran-pikiran dan emosi-emosi negatif yang menghambatku untuk terus maju.

#2

Pertanyaan ini muncul di kepalaku suatu saat, dan anehnya dari pertanyaan itu bisa membuatku menemukan jawaban untuk menyembuhkan diriku sendiri. “KENAPA AKU MEMBENCINYA?” Ya, pertanyaan itu malah membuatku tersadar untuk tidak lagi terus menerus menampung rasa benci ini, yang sudah pasti akan terus mengakar pahit di hatiku. 

Kenapa aku begitu membencinya? Karena dia yang bersikap tidak sesuai dengan sikapku. Sifatnya yang tidak sesuai sifatku. Dan cara komunikasinya yang tidak sama denganku. Ya, jawabannya ternyata sesederhana itu, KARENA KAMI BERBEDA. Itu yang membuat kami sama sekali tidak cocok, tidak merasa sepadan apalagi selaras. Dulu, aku sama sekali tidak bisa memahami cara bicaranya yang terlalu agresif, yang sangat kaku, tidak sabaran dalam menjawab, karena tidak mau mendengar penjelasan dan juga pendapat orang lain. Aku benar-benar tidak habis pikir ada orang yang sangat egois sepertinya. Aku tidak menyangka ada orang yang tidak memiliki simpati dan empati sepertinya.

Aku yang lebih memilih bicara tertata dan pelan akan tidak cocok dengan orang yang bicara menantang dengan suara yang menggelegar. Aku yang ingin berdiskusi santai akan tidak selaras dengan orang yang menjawab atau menjelaskan sesuatu dengan memborbardir, seakan-akan ia disalahkan kemudian harus lantang bersuara untuk membela diri. Intinya, kami sangat berbeda, dalam hal berkomunikasi dan mungkin hal-hal lain juga, karena yang kutahu latar belakang budaya, pola asuh keluarga kami yang juga berbeda.

Alasan-alasan di atas, jawaban atas pertanyaanku itu menggambarkan bahwa kami sangat berbeda. Dan kesadaran itulah yang membuatku jadi “memaklumi” bahwa rasa benci bisa saja kurasakan. Dan lagi, mungkin tidak hanya aku yang membencinya, diapun bisa jadi membenciku, karena perbedaan yang kami miliki itu. Karena persepsi-persepsi dan sudut pandang akan sesuatu dari kami yang tidak bisa saling bertemu apalagi cocok.

Kami berbeda — membuatku maklum — membuatku tahu dan sadar bahwa tidak ada yang harus dibenci karena memang kami tidak sama. “dia memang orangnya begitu, cara bicaranya memang begitu, ya sudahlah, mau gimana lagi.” begitu yang kupikirkan. Kemudian aku sadar untuk tidak menambah benciku yang akhirnya akan mencapai dendam. Buat apa? Akupun tidak bisa mengubah sikap dan sifatnya menjadi sepertiku, agar kami bisa sepadan dan cocok. Buat apa? Akupun tidak bisa mengontrol orang lain untuk melakukan sesuatu yang hanya kusukai saja kan? Thats it!

Dan pada akhirnya, akupun bisa MEMAAFKAN.

Ingatan luka masa lalu dan rasa benciku tidak lagi mempengaruhiku. Sesekali ia muncul untuk mengingatkanku, tapi bukan untuk melukaiku lagi dan lagi. Aku tersembuhkan. Ajaibnya, bukan karena aku telah membunuhnya atau menjuruskan dendamku. Tapi hanya dengan menerimanya dan juga memahami alasan-alasan kenapa membencinya membuatku pelan-pelan, sedikit demi sedikit menyembuhkan lukaku dengan itu.

Ada lagi cerita yang lain. Aku pernah berteman sangat dekat, yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Kemudian entah kenapa suatu ketika dia berubah 180 derajat. Dia menjauhiku, enggan berteman lagi denganku, dan selalu memberiku tetapan yang tidak bersahabatnya. Aku bingung, karena itu kutanyakan apa salahku dan meminta maaf untuk itu. Mungkin tidak kusadari. Dia menjawab dengan kata-kata yang tidak tentu dengan jawaban yang tidak menjawab apa-apa. Aku menyerah untuk memperbaiki. Pikirku sudahlah, mungkin ada sikap dan sifatku yang telah membuatnya jenuh. Aku terima. Secara tidak langsung dan mungkin tidak kusadari aku ternyata membencinya. Kehadirannya membuatku tidak nyaman, dan tentu saja, akupun sering menangis karena mengingat perlakuannya padaku.

Awal-awalnya akupun sering menjauh, mencoba tidak ada di tempat dia berada. Berusaha sebisa mungkin tidak berpapasan, tidak mendengar suaranya apalagi mengobrol dengannya.

Tapi kemudian singkat cerita, akupun tersadar bahwa RASA BENCI INI TIDAK 100%. Tidaklah sampai memenuhkan tangki benciku untuknya. Di lain sisi, di pojok asaku, aku masih menyayanginya sebagai sahabat, sebagai seorang yang kuanggap adik. Diam-diam aku masih mendukung dan ikut senang akan keberhasilannya.

Hal ini yang membuatku mengatakan bahwa kita tidak bisa membenci seseorang seutuhnya:

#3

ADA INGATAN-INGATAN TENTANG DULU. Saat kami membagi keluh kesah bersama, menularkan tawa kami untuk masing-masing. Hal itu membuatku tersadar, bahwa aku tidak sepenuhnya membenci dia. Bahwa rasa benciku tidaklah sebesar kenangan indah, ingatan-ingatan baik yang telah kami lalui bersama dalam kurun waktu yang cukup lama. Kemudian rasa benci itu menjadi tidak ada artinya lagi. 

Kumaafkan dia, kumaafkan diriku dan kembali belajar memperbaiki diri kusendiri agar tetap mampu melangkah maju.

Kita bisa saja membenci siapa saja, membenci keadaan, atau bahkan membenci diri sendiri. Tapi selalu ingat rasa benci itu tidak akan selamanya ada. Rasa benci itu tidak memenuhkan apalagi meluapkan tangki benci kita. Dia hanya sedikit mengisi kemudian lama kelamaan dikikis oleh 3 hal di atas.

  • Menerima benci itu dan sumbernya,
  • Memahami alasan-alasan kita membencinya, atau
  • Mengingat kenangan-kenangan indah dan ingatan baik tentang seorang.

Satu pesanku:

Jangan biarkan benci menghancurkan hidup kita. Tidak seharusnya kita membiarkan benci itu menggerogoti bahagia kita kemudian membuat kita terpuruk oleh benci dan dendam yang tidak seharusnya kita miliki. Dengan membenci membuat kita tidak akan kemana-mana, tidak akan membuat kita bergerak maju, dan sudah pasti kebahagiaan, kesuksesan dan ketenangan hidup tidak akan pernah dapat kita raih. 

JADI BUAT APA?

aa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *