First Pregnancy,  Si Mungil Baca,  Titik Terang

Si Mungil Baca Buku #9 (mendengarkan, mencermati dan mempertimbangkan pendapat orang lain)

(mama rasa ini judul paling panjang dalam seri ini, karena mama kesusahan untuk mencari judul yang lebih tepat dari itu)

#35weeks cerita selanjutnya masih dari buku besar Kumpulan Dongeng Binatang 1 dari Anne-Marie Dalmais. Judul cerita pendek yang mama dan si mungil baca kali ini berjudul ’setelah baru’. Check this out ya untuk ceritanya dan juga makna yang kami dapatkan dari cerita ini.

Tentang Cerita

Pemeran utama cerita ini bernama KWAK, si katak hijau. Ia katak yang suka berdandan dan memiliki selera yang tinggi mengenai penampilan. Suatu hari ia pergi ke tukang jahit yang paling bagus dan terkenal di kotanya, kemudian memilih kain yang paling indah dari kualitas bulu biri-biri terbaik. Ia ingin membuat setelan baru untuk ke pesta.

Kwak tidak suka di ukur badannya, karena ia gemuk. Ia malu. Kemudian minta kepada tukang jahit agar setelannya dibuat saja sangat ngepas dengan badannya agar ia bisa terlihat lebih ramping. Tukang jahit memperingatkan bahwa kalau terlalu ngepas di badan, nanti Kwak tidak nyaman memakainya. Tapi Kwak malah tidak mau mendengarkan dan marah-marah dan mengancam akan mencari tukang jahit lainnya.

Singkat cerita, setelan baru Kwak sudah jadi sesuai dengan yang diinginkannya. Dan kebetulan ia mendapatkan undangan ke pesta ulang tahun pak Notaris. Ia sangat senang kemudian memakai setelan itu ke pesta tersebut.

Dan benar saja, dia kurang nyaman saat memakainya. Bahkan dia butuh waktu lama untuk memakai celananya, karena kurang muat. Jalannya juga jadi agak aneh, untuk bernafaspun ia rasanya kesulitan. Bahkan sopir taksi harus membantunya untuk masuk ke dalam taksi. Keringatnya bercucuran, belum pernah ia sesengsara itu.

Sesampainya di rumah pak Notaris, ia membungkukkan badannya untuk memberi salam, tapi…. BRET! Setelannya sobek menjadi berkeping-keping. Dia sangat malu kemudian berlari pulang. Setelah dipandangnya setelan yang compang-camping itu, Kwak berpikir : ”tukang jahit benar, lain kali aku harus membuat baju yang pas”.

Makna Cerita

Nak, makna dari cerita ini juga bagus sebagai bekal untukmu menjalani kehidupanmu kelak.

“memiliki pandangan atau pendapat sendiri memanglah baik. Tapi tidak pernah ada salahnya nak, kalau kita juga mendengarkan, menerima, mencermati kemudian mempertimbangkan pandangan atau pendapat dari orang lain. Apalagi hal itu mengenai diri kita sendiri, untuk kebaikan kita sendiri ke depannya,”

Kadangkala kita tidak bisa mempertahankan mati-matian apalagi sampai kaku dengan sudut pandang kita sendiri, lalu tertutup dengan pendapat orang lain. Belum tentu lho nak, apa yang orang lain sarankan untuk kita (baik saran untuk mengubah pola pikir, rencana, cara atau solusi yang kita pakai untuk mengatasi sesuatu) adalah saran yang tidak baik atau dapat menjerumuskan kita ke hal-hal yang buruk atau negatif.

Bisa jadi, kita sebagai manusia (yang sudah pasti tidak sempurna ini) melewatkan sesuatu, melupakan hal-hal lain yang ternyata penting. Dan yang ternyata dapat dilihat oleh orang lain. 

Jangan buru-buru menolak nak, saat mendapatkan saran dari orang lain, berikan tubuh dan rasamu tenang sehingga kamupun bisa mendengarkan saran itu dengan telinga yang tak panas, dengan seksama dan lebih cermat lagi. Kemudian setelah itu akan terbuka juga pikiranmu. ”ohya ya, saran itu jauh lebih tepat, aku bisa mencobanya!” atau, ”aku baru tahu hal itu, itu sudut pandang baru untukku dan bisa menjadi pelengkap dari rencana atau pandangan yang kupunya dalam menghadapi masalah ini,”

Apalagi nak, saran atau pandangan itu diberikan oleh seseorang yang memang ahlinya. Seperti tukang jahit yang memperingati Kwak mengenai ukuran setelan barunya. Mama bisa katakan, perilaku Kwak kurang tepat karena ia sama sekali tidak mau mencoba untuk sekedar mendengarkan apalagi menerima, mencermati kemudian mempertimbangkan saran itu. Ia malah marah-marah. Coba kita lihat, apa yang didapatkannya? Apa yang kemudian terjadi padanya?

Ia mendapatkan rasa malu dan akhirnya tidak bisa menikmati perta karena setelannya yang sobek berkeping-keping. Yang terjadi pada Kwak ini adalag salah satu contoh sederhana untukmu, untuk kita nak. Bahwa kita sebagai manusia, tidak bisa kaku dan selalu memaksakan pendapat kita saja.

Contoh lainnya, jangan cepat-cepat menolak saran atau nasehat atau pandangan dari orang tua, opa oma, guru-gurumu, dosenmu atau bahkan siapapun di luar sana. Dengarkan dulu, terima, cermati dan kemudian pertimbangkan ya. Jika kamu rasa cocok untukmu, apa salahnya juga mengambil dan menggunakan saran itu. Tapi jika sebaliknya, kamu rasa tidak cocok untuk rencana dan dirimu, apalagi kamu tahu dengan pasti bahwa saran itu hanyalah sekedar saran tanpa tujuan baik, maka jangan ambil apalagi memakainya. Tapi bukan berarti sejak awal kamu menolaknya tanpa mencoba mendengarkan ya.

Tentu mama percaya kamu pasti akan tahu kapan saatnya saran itu baik untukmu, kapan sebaliknya. Mama dan papa juga percaya kamu akan tumbuh menjadi pribadi yang bijak untuk memilah dan memilih pendapat dan sudut pandang dari orang lain. 

Sebagai penutup, mama ingin menambahkan bagaimana orang tua dapat membantu anak untuk lebih mampu mendengarkan, menerima, mencermati dan kemudian mempertimbangkan saran dan pendapat dari orang lain.

Tentunya pa ma, sebelum kita bisa mengajari anak-anak kita untuk itu, kitapun harus memulainya dari kita sendiri dulu ya. Kita pasti bisa !

Sebagai orang tua, alangkah baiknya tahu dan mulai menghargai pendapat yang anak-anak kita sampaikan. Kadang-kadang dan masih banyak orang tua di luar sana, masih memaksakan kehendak, sementara anak takut untuk berkata jujur meskipun sebenarnya ia kurang setuju. Lalu kalau sudah begitu, ketika anak dewasa nanti dan ternyata ia juga tidak pernah mau mencoba mendengarkan apalagi menghargai pendapat kita lagi sebagai orang tuanya, trus yang mau disalahkan siapa?

Karena itu mama mau sampaikan tips-tips buat papa dan mama (dan sebenarnya lebih sebagai pengingatku juga) untuk membantu orang tua agar lebih mudah mengahrgai pendapat anak. Yang mana nantinya juga jadi kebiasaan dan pelajaran untuknya dalam menghargai pendapat dari orang lain di luar sana, yang tentunya akan bermanfaat juga untuk dirinya menjalani kehidupannya.

Ada 5 tips yang mama dan papa bisa baca di bawah ini ya, dan juga bisa ditambahkan untuk bahan sharing bersama (tuliskan di komen!) :

Terbuka mendengarkan pendapat anak

Kadang, sebelum anak mengatakan satu patah katapun, kita sebagai orang tua langsung menolak dan mengatakan ”tidak, kamu belum tahu apa-apa. ikuti mama saja!” atau yang lebih sedikit lembut, ”nak, semua ini demi kebaikanmu juga, jadi ikuti saja ya.”. Disampaikan dengan lembut ataupun tidak, tetaplah orang tua tidak boleh mengatakan hal-hal demikian, karena hanya akan menutup anak untuk mengeluarkan pendapatnya. Lama-lama ia tidak hanya akan malas mengeluarkan pendapat dan menceritakan segala hal tentang dirinya kepada orang tuanya, yang lebih parah, bisa jadi ia tidak akan pernah percaya dengan kita.

Alangkah lebih baiknya, orang tua mulai menunjukkan sikap terbuka - mau mendengarkan - menerima - mencermati - kemudian mempertimbangkan apapun pendapat dari anak-anak kita. Entah itu mulai dari pendapat yang remeh, ataupun pendapat yang lebih kompleks untuk sesuatu. Bangun ikatan atau kebiasaan dimana orang tua dan anak sama-sama berdiskusi, saling mendengarkan saran masing-masing. 

Tidak menjadi orang tua diktaktor atau egois

Hindari menjadi orang tua yang seperti ini, orang tua yang menganggap dirinya yang paling tahu segalanya, yang harus selalu diikuti dan dipatuhi apapun yang dikatakan. Merasa anak tidak tahu apa-apa dan sama sekali menolak untuk mendengarkan apapun yang diucapkan oleh anak.

Banyak orang tua menganggap anaknya adalah anak kecil (walau sudah remaja dan dewasa sekalipun) dan dari anggapan inilah semua kekacauan bisa bermula. Menganggap anak selalu menjadi anak kecil membuat orang tua tidak mampu melihat kemampuan dan potensi anak. Dan dari sudut pandang anak, membuatnya menjadi anak yang tidak tahu apa yang diinginkannya dan apa yang harus dilakukannya, karena selalu disetir atau diarahkan dan mengikuti apa yang orang tua katakan.

Jika kebiasaan dan sikap ini selalu dan terus menerus dilakukan oleh orang tua, maka sudah terbayang kan bagaimana akan jadinya anak kita? Ini kemungkinan yang terjadi : 

- Mengikuti gaya orang tua, menjadi diktaktor dan kaku serta meremehkan pendapat dari orang lain dan mempertahankan pendapatnya sendiri. Tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain. 
- Menjadi seperti di rumah, takut dan enggan mengeluarkan pendapatnya di depan orang lain, menjadi orang yang pasif saja. 

Miliki lebih banyak waktu untuk keluarga

Sediakan waktu yang lebih banyak dan lama untuk berdiskusi dan mengkomunikasikan sesuatu dengan keluarga atau dengan anak kita. Tidak tergesa-gesa dan jauhkan dari distraksi apapun dalam mendengarkan pendapat dari anak. Dengan begitu, kita bisa jauh lebih tenang dan nyaman saat saling bicara dan berdiskusi atas sesuatu.

Waktu yang tidak terbatas membuat orang tua tidak hanya mendengarkan seutuhnya pendapat anak, tapi memiliki juga waktu untuk mencermati dan mencerna pendapatnya itu. Apakah bisa digunakan dan cocok sebagai penunjang dalam menyelesaikan masalah dalam keluarga.

Saat ternyata pendapat anak tidak terlalu tepat, orang tua dan anakpun masih memiliki banyak waktu untuk sama-sama mencari jalan lain atau bahkan jalan tengahnya. Sehingga anakpun belajar untuk memecahkan masalah dengan cara lain.

Hal positif yang didapatkan adalah, orang tua tidak selalu menjadi yang paling tahu, dan anak juga tidak sungkan dan takut mengutarakan pendapatnya. 

Berikan kebebasan anak berpendapat – bahkan dorong ia untuk selalu berpendapat

Aku baru saja membaca mengenai orang tua Maudy Ayunda yang membiasakannya untuk mengeluarkan pendapatnya. Kadang bahkan sampai ’memaksa/mencerca’ Maudy untuk benar-benar bisa mengeluarkan pendapatnya akan sesuatu. Hal ini dapat melatih anak untuk terbiasa berpikir. Misalnya, orang tua dapat melibatkan anak dalam menentukan menu makanan yang akan dimasak saat acara keluarga. Atau anak dimintai pendapatkan kemana dan aktivitas apa saja yang harus mereka lakukan di akhir pekan bersama keluarga.

Berikan kebebasan anak untuk mengeluarkan pendapatnya, dan juga dorong ia untuk memberikan alasan-alasan, kenapa harus memasak opor? Apa kaitannya dengan acara keluarga? dll. Begitu juga dengan tanyai terus menerus mengapa ia memilih tempat x dan aktivitas a untuk dilakukan diakhir pekan? Apa keuntungannya? Dan lain-lain.

Hal ini jika dilakukan oleh orang tua, tidak hanya membuat anak merasa dihargai pikiran dan pandangannya, untuk kedepannya iapun akan jadi lebih menghargai pandangan dan pendapat orang lain dan juga memberikan kebebasan kepada orang lain mengutarakan isi pikiran dan perasaannya tanpa harus mengjudge atau meremehkan. 

Menjadi orang tua yang mau terus belajar

Orang tua harus mengakui hal ini, bahwa jaman semakin berubah dan sudah pasti berbeda dari jaman orang tua dulu dengan anak-anak kita sekarang. Teknologi berubah, semakin canggih, pengetahuan semakin berkembang dan itulah sebabnya kita tidak bisa hanya tetap berdiam diri di satu tempat di jaman kita yang dulu, tanpa mau sedikitpun mempelajari hal-hal baru yang sebenarnya dialami dan dihadapi oleh anak-anak kita di tahun-tahun sekarang ini.

Belajar hal-hal baru ini bertujuan agar kita, sebagai orang tua bisa lebih memahami / ‘nyambung’ dengan cara pikirnya. Dengan begitu kita bisa lebih menyamaratakan kedudukan kita dengan anak. Tidak menutup kemungkinan kita menjadi lebih akrab dan menganggapnya sebagai teman. Anak juga jadi nyaman berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya di depan orang tuanya karena merasa dipahami.

Ini tentunya akan menjadi bekal juga untuk anak dalam berinteraksi dengan orang lain di luar sana. Ia menjadi lebih nyaman dan juga mampu menyamankan orang lain dalam berdiskusi, bekerja sama dan saling mengeluarkan pendapat dalam satu project tertentu. 

______

Semoga 5 tips itu bisa membantu ya, dan kalau ada yang papa dan mama ingin tambahkan, bisa ketik di komen. Kita sharing dan belajar bersama.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *