Note to Self,  Titik Terang

Sabotase Diri

Istilah ini menjadi salah satu pengingat buatku untuk lebih mencintai diri sendiri. Ya, psikolog juga perlu untuk lebih mencintai dirinya sendiri. Kata-kata yang sangat umum yang sering kudengar dan juga menjadi kata-kata terbanyak yang kuperkatakan adalah

”Bagaimana bisa menyayangi, mencintai hingga membahagiakan orang lain, jika diri sendiri belum memilikinya.”

Kenapa kemudian kutuliskan di blog ini, karena beberapa waktu yang lalu entah kenapa (seperti yang sering terjadi) beberapa klienku datang dengan tema ini. SABOTASE DIRI. Mereka bercerita sesuai versi mereka masing-masing. Ada yang terang-terangan menyebutkan istilah ini karena sudah mulai aware dengan kondisi diri kemudian mencari tahu di internet. Ada yang masih malu-malu, hingga belum menyadari bahwa yang dilakukannya termasuk menyabotase dirinya sendiri. Mereka yang baru tersadar kemudian terkejut, memang ada ya? Baru dengar! Oh ternyata manusia juga bisa disabotase? Oleh diri sendiri pula?

Ada yang juga masih awam ga dengan istilah ini? Atau baru pertama kali dengar setelah membaca blog ini. It’s okay, kamu tidak begitu jauh tertinggal kok. Kita belajar sama-sama ya tentang istilah ini.

Sabotase Diri

Ini merupakan perilaku atau pola pikir yang menahan atau mencegah kita melakukan apa yang sebenarnya kita inginkan, atau ingin kita lakukan dalam mencapai kebahagiaan. Orang-orang yang melakukan sabotase terhadap dirinya biasanya dengan sengaja menciptakan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang merugikan dirinya sendiri bahkan mengganggu tujuan jangka panjang. Untuk lebih memahami, coba renungkan kata-kata dari Friedrick Nietzshe:

”Kita adalah musuh terbesar diri kita sendiri”

Friedrick Nietzshe

Bentuk dan Contoh Sabotase Diri

Bentuk-bentuk dari sabotase diri adalah sebagai berikut:

  • Prokrastinasi
  • Perfeksionisme
  • “Mengobati diri” dengan obat terlarang atau alkohol
  • Makan berlebihan
  • Melukai diri sendiri
  • Sengaja berkonflik dengan orang lain

Contoh dari sabotase diri:

  • Sengaja telat ngantor, ga masuk tanpa ijin agar tidak di promosikan naik jabatan
  • Mencari-cari masalah agar hubungan yang stabil menjadi kacau

Kenapa hal itu bisa terjadi?

Ada ya orang yang dengan sengaja membuat dirinya sendiri masuk ke dalam sumur kesedihan atau jurang sengsara. TERNYATA ADA! Hal ini sebenarnya bukan karena ia tidak bisa merasa bahagia dan senang-senang saja, tapi ada kelainan persepsi mengenai kebahagiaan itu yang dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di masa lalu.

Pengalaman waktu kecil

Orang yang sering melakukan sabotase terhadap dirinya sendiri, biasanya berasal dari keluarga yang lebih dominan merasakan kesedihan, kemalangan dan tidak bahagia. Ia lebih banyak merasakan ketakutan, kekhawatiran, merasa diri tidak pantas bahagia dan takut dengan kebahagiaan itu sendiri.

Hal-hal itu membuatnya jadi terbiasa dengan kesedihan sehingga kebahagiaan jadi sangat aneh atau berlawanan dengan intuisinya. Ketika dewasa ia jadi lebih memilih kemalangan dibandingkan sesuatu yang sebenarnya lebih baik untuk kebahagiaannya. Menurutnya, penderitaan terasa lebih pasti, lebih bisa dikendalikan karena terbiasa sejak kecil merasakannya, sehingga menjadi pilihan yang dirasa lebih ‘aman’. Sementara kebahagiaan atau kesenangan tergantung takdir, dan terasa terlalu beresiko untuk diraih dan didapatkan.

Menurut Dr. Judi Ho, akar sabotase diri adalah naluri alami manusia untuk (a). Mendapatkan imbalan dan (b). Menghindari ancaman. Sabotase diri ini biasanya terjadi ketika dorongan kita mengurangi ancaman jauh lebih tinggi daripada dorongan kita untuk mendapatkan imbalan.

Perasaan rendah diri

Orang dengan sabotase diri yang tinggi ini percaya tidak pantas menerima hal baik dalam hidupnya. Istilahnya adalah self-fulfilling prophecy yaitu proses dimana ekspektasi dan harapan kita terhadap sesuatu, seseorang, bahkan diri sendiri akan mengarahkan kita agar ekspektasi itu terwujud. Bagaimana kita bisa bahagia jika kita tidak pernah menginginkannya, merasa yakin tidak pantas merasakannya dan selalu menolak kebahagiaan itu sendiri?

Menurut Maria Montesori, otak anak usia 0-6 tahun akan menyerap banyak hal. Anak tidak hanya mengingat apa yang dilihat dan didengarnya, namun semua itu juga akan menjadi pembentuk diri dan jiwanya.

Maka dari itu, papa, mama, hindari labelling kepada anak ya. Contohnya: anakku minderan, anakku pemalu, anakku bodoh dll. Labelling ini maka akan berkembang pada anak hingga dewasa. Ia akan percaya dan yakin dengan labelling itu sehingga membuatnya tidak termotivasi untuk mencoba sesuatu yang sebenarnya baik untuk dirinya sendiri.

Takut pada perubahan atau sesuatu yang tiba-tiba dan belum diketahui

Kebanyakan dari kita tidak akan menyukai sesuatu yang datang atau terjadi tiba-tiba, tidak sedikit pun dari kita tidak menyukai perubahan yang ada. Kita butuh punya kendali untuk tahu apa yang akan terjadi berikutnya agar kita bisa merasa aman dan secure. Ketika takut pada perubahan ini jadi sangat berlebihan, kita jadi akan lebih memilih untuk menbatasi diri, tetap di zona nyaman, melakukan aktivitas yang monoton atau membosankan daripada mendorong diri untuk ketingkat yang lebih membahagiakan kita.

Learned Helplessness biasanya terjadi pada seseorang yang mengalami KDRT atau kemalangan lainnya. Orang-orang seperti itu sebenarnya sedang menyabotase dirinya. Alih-alih keluar dari hubungan yang toxic itu, ia memilih untuk bertahan karena takut dengan konsekuensi yang belum pasti jika keluar dari zona tersebut.

STOP SABOTASE DIRI !

Semua perilaku Sabotase Diri ini cenderung terjadi di luar kesadaran kita. Lalu bagaimana caranya agar bisa berhenti melakukan perilaku yang negatif ini? Check this out ya.

Sadari dan/atau Akui

Alice Boyes mengatakan untuk keluar dari perilaku sabotase diri ini, kita harus lebih dulu menyadari dan mengakui bahwa kemungkinan besar penyebab hambatan terbesar diri kita untuk berkembang ya karena diri kita sendiri. Pada tahap awal ini mulailah dengan pertanyaan, “apakah ada perilakuku selama ini yang tidak sejalan dengan tujuan jangka panjangku?”

Selidiki Akar

Setelah mempertanyakan pertanyaan itu dan menjawabnya lalu selidiki akar dari jawaban itu. Misalnya, “ohya ada, aku selalu menolak saat atasan memberikanku pekerjaan untuk promosi jabatanku.” Cari tahu akar dari masalah kenapa kita selalu menolak tawaran dari atasan itu. Misalnya, sepertinya aku menolak tawaran itu karena merasa tidak percaya diri dengan tanggung jawab itu. Sepertinya karena sejak kecil aku selalu mendapatkan label bahwa aku ini bodoh dan lambat berpikir oleh kedua orang tuaku.

Hentikan perilaku & Mulai lakukan tindakan mendukung

Setelah tahu dan paham akar permasalahannya, segera hentikan perilaku dan mulai melakukan hal-hal yang mendukung kemajuan kita. Mulailah cari solusi atau cara-cara berhenti menyabotase diri dengan terus menolak tangguang jawab dan kepercayaan atasan, kemudian segera lakukan tindakan yang lebih positif seperti mulai membangun kepercayaan diri sendiri.

Contoh lain:

Sabotase Diri : Aku tu sayang sekali sama pasanganku, dia orang baik yang selalu berusaha memahamiku sebagai pasangannya. Tapi kenapa ya aku selalu mencari gara-gara dan membuat hubunganku dengan dia kacau?

Selidiki Akar : Sepertinya tindakanku ini berasal dari aku yang merasa tidak pantas bahagia dengan memiliki hubungan yang selalu senang dan stabil. Aku juga terbiasa melihat ibu dan ayahku setiap hari bertengkar, dan itu menjadi kebiasaan untukku.

Solusi/Tindakan : Aku dan pasanganku berbeda dengan ibu dan ayahku. Kami tidak harus sama dengan mereka apalagi mencontoh setiap hari berselisih paham dan bertengkar. Aku harus mensyukuri bahwa hubunganku baik-baik saja, dan meningkatkan keyakinan bahwa aku memang pantas untuk bahagia. 

Setelah tahu tentang pengertian sabotase diri dan cara-cara untuk berhenti melakukannya, semoga juga kesadaran dan ingatan ini bisa meningkatkan motivasi kita semua untuk keluar dari perilaku negatif itu ya. Sekali lagi, setiap orang berhak dan pantas dan layak untuk merasakan kebahagiaan.

Semangat ya!

Referensi:
Boyes, A.(2018,May 16). How to stop sabotaging yourself. Greater Good Magazine 
Why Your Child’s Brain is like a sponge.(n.d) age of montesori. Retrieved Nov 23, 2022. 
Greatmind. On Marissa’s Mind: Sabotase Diri. Diakses pada 20 november 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *