Marriage Care,  Note to Self,  Titik Terang

Persiapan (WAJIB) Sebelum Menikah

Saat kita mencari kata kunci ‘persiapan pernikahan’ di internet, yang banyak kita temukan adalah membuat foto prewed, menentukan tempat menikah, membuat kartu undangan, dan masih banyak lagi benda-benda pernikahan lainnya. Rasanya begitu memusingkan karena banyak yang harus dilakukan untuk menikah.

Tidak sedikit juga kita pernah mendengar atau bahkan ada di sekitar kita, mereka kebingungan, merasa tertekan kemudian menyerah di tengah jalan dalam melakukan persiapan pernikahan itu. Saat menghadapi kesulitan, dan kedua pihak tidak bisa menjaga emosi, maka akan merambat ke hal-hal lain, hubungan dengan calon pasangan seumur hidup pun akan menjadi kacau, kalau tidak bisa berkomunikasi dengan baik dan benar.

Mereka yang tak sanggup melanjutkan, menyebutkan bahwa mereka kalah dari ‘monster’ persiapan yang sangat melelahkan dan membuat kewalahan, kalau dipikir-pikir lagi yang sebenarnya itu hanyalah mengumpulkan benda-benda untuk pesta satu atau dua hari. Bagus sekali kalau kita yang menjalaninya juga sangat bahagia akan benda-benda itu, tapi bagaimana kalau ternyata semua hal yang membuat kita kewalahan melakukannya selama beberapa bulan terakhir hanyalah untuk menyenangkan hati orang lain? Atau untuk memuaskan diri karena bisa menunjukkan bahwa kita memiliki pesta pernikahan yang megah, mewah dan lebih dari yang lainnya.

Lalu, pertanyaan terbesar adalah, apakah hanya itu yang harus disiapkan? Apakah hanya tempat menikah, foto prewed, kartu undangan, seberapa banyak jenis makanan yang kita hidangkan, gaun pernikahan dan benda-benda lainnya?

Sebagian orang (syukurnya) sudah menyadari bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita mempersiapkan fisik dan mental kita melebihi dari benda-benda yang sangat memusingkan itu. Hal ini mengingatkanku saat mempersiapkan pernikahanku 2 tahun lalu. Setiap orang memiliki impian pesta pernikahan yang diidam-idamkan. Tapi aku diajarkan hal yang berbeda, dan akupun mengikuti ajaran itu.

Bukan pestanya,’ begitu kata papa, ‘tapi kehidupan pernikahan setelah pesta itu yang paling penting,’ dan kupegang kata-kata itu saat akan menikah. Bukan seberapa banyak aku mengundang seseorang, bukan seberapa mewah pesta kami. Tidak bukan itu yang terpenting.

Lalu apa?

Inilah puncak dari tulisan ini, yang (selalu) dimulai dengan pembukaan yang sangat sangat sangat panjang, i am so sorry, my bad.

Dan ini adalah hal-hal terpenting, yang kupelajari dalam mempersiapkan (kehidupan) pernikahan. Hal-hal yang seharusnya sudah kuterima dan kupahami dengan sangat baik sebelum aku mengatakan, yes i will. Dan pesan ini juga kutujukan kepada para calon suami diluar sana, sebelum menanyakan, will you marry me, kepada pasangannya.

Kenali Diri Sendiri

Pertama, kenali kelebihan dan juga kekuranganmu. Kadang, sebagai manusia kita tidak menyadari memiliki potensi yang sebenarnya lebih besar dari yang kita gunakan atau tunjukkan selama ini. Penting untuk kita mengetahui apa kelebihan yang kita miliki, agar bisa juga kita bagikan kepada pasangan. Agar bisa kita gunakan untuk melebihkan kekurangan yang lain. Selain itu, juga penting mengakui kekurangan yang kita miliki. Kadang kita sebagai manusia, sengaja menutup mata mengenai kelemahan, menutup telinga dengan kritik dan saran orang lain mengenai kekurangan kita. Kita seperti membuang jauh-jauh dan tidak ingin melihat apalagi bersahabat dengannya.

Seperti kelebihan yang seharusnya kita pahami ada di diri kita, kitapun harus memperlakukan kelemahan seperti itu. Letakkan ia sangat dekat dengan diri, dengan begitu kita bisa mengontrolnya, kita bisa meletakkannya di tempat yang benar, dan di situasi tertentupun kita bisa membujuknya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sadari kelebihan dan kekurangan kita, agar kitapun bisa mengenali diri kita sejauh dan sedalam mungkin. Kalau bukan kita, mau siapa lagi?

Kedua, tahu betul mengenai bahasa cinta yang kita miliki. Aku salah satu fans Gary Chapman, dan aku salah satu orang yang mengatakan bahwa, ya aku setuju bahwa bahasa cinta itu sangat penting. Bahasa cinta menunjukkan bagaimana kita ingin diperlakukan oleh pasangan. Dengan tahu bahasa cinta kita sendiri, kita juga tahu bagaimana membuat diri menjadi lebih nyaman dan tenang dalam kondisi-kondisi tertentu.

Ketiga, tahu dan paham apa harapan-harapan dan juga batasan yang kita miliki. Selain tahu betul mengenai harapan kita (tentu kita harus punya harapan dan mimpi di dalam dunia pernikahan bersama pasangan), kita juga harus memahami apa saja dan bagaimana harapan itu. Apakah cukup realistis, apakah bisa diraih bersama pasangan. Harapan yang realistis tentu akan lebih mudah menjangkaunya.

Selain harapan, kita juga harus tahu dan paham apa saja batasan yang kita miliki dan inginkan. Batasan atau boundaries ini juga penting dalam kehidupan bersama pasangan. Walau dua telah menjadi satu, kita tetaplah satu individu yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan pasangan dan juga memiliki batasan-batasan secara individu yang seharusnya dihormati oleh orang lain. Nah, sebelum meminta pasangan menghormati batasanmu, coba dulu memahami apakah batasanmu sudah wajar dan realistis?

Keempat, kenali, pahami dan jadikan luka masa lalumu sebagai teman seperjalanan hidupmu. Ada beberapa orang memiliki masa kecil yang bahagia, jauh dari penderitaan, bahkan segala kebutuhan dan keinginan mereka bisa dengan mudah didapatkan. Masa kecil yang tidak bercela, orang tua yang harmonis, keluarga sempurna.

Tapi adapula yang tidak seberuntung itu. Tidak sedikitpun mereka yang memiliki masa kecil tidak menyenangkan, orang tua yang selalu bertengkar, di telantarkan, di tinggalkan, bahkan ada yang mengalami kekerasan dari orang dewasa di sekitarnya. Kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan itu bisa menumbuhkan luka di hati yang bahkan kesembuhannya membutuhkan waktu yang sangat lama, dan sulit untuk dihilangkan.

Ada yang bilang, kalau luka masa lalu harus dihilangkan dulu, harus disembuhkan dulu, baru kemudian menikah. Karena luka itu bisa mempengaruhi kehidupan rumah tangga kita kelak. Tapi sayangnya, luka itu tidak akan semudah itu hilang, lenyap, sembuh, tanpa bekas. Kalau sampai begitu, lalu kapan menikahnya?

Luka itu memang akan terus ada, ia akan terus berjalan berdampingan dengan kita, yang bisa kita lakukan adalah berteman dengannya. Yang bisa kita siapkan adalah bagaimana respon kita terhadapnya ketika ia tiba-tiba kembali muncul ke permukaan karena tersulut oleh suatu hal saat menjalani kehidupan berumah tangga.

Yang disiapkan bukan luka yang telah tersembuhkan, tapi perasaan dan pikiran kita yang telah terbiasa dan sudah kokoh kuat menghadapinya saat ia muncul lagi dan lagi. Sampai nanti kita bisa mengontrolnya untuk tidak dengan sangat parahnya melukai kita lagi dan lagi. 
Mengenali diri sendiri sedalam itu, akan memudahkan kita mengkomunikasikan dengan lebih tepat juga kepada pasangan. Ya, selain semua di atas itu, kemudian lebih penting untuk mengkomunikasikan semua itu apa adanya, tidak dilebihkan ataupun dikurangi, agar pasangan kita juga mengenali diri kita dengan sepenuhnya. 

Kenali Pasanganmu

Seperti kita yang harus mengenali diri sendiri, kita pun harus mengenali pasangan kita. Apa saja kelebihan dan kekurangannya. Bagaimana kebiasaannya, dan apa bahasa cinta yang digunakannya. Adakah luka masa lalu yang dialaminya, yang sudah pasti kitapun tidak bisa mengubahnya. Adakah cara-cara atau sudut pandangnya yang ternyata berbeda dengan kita. Apa saja yang sepertinya bisa berubah (untuk kepentingan bersama) dan yang mana saja sudah mendarah daging dan perlu usaha extra untuk menggantikannya dengan hal yang baru.

Sama halnya dengan kita, sudah pasti ada hal-hal di diri pasangan yang tidak mudah dirubah, namun ada juga yang bisa dirubah dengan sangat cepat, baik karena dia meniru dari kebiasaan kita, atau karena ia yang menyadari bahwa kebiasaan itu tidak pas untuk kepentingan bersama kemudian segera dirubahnya dengan kemauannya sendiri, atau ada juga bisa dirubah karena ada kompromi (yang bisa panjang atau sebentar) dari kedua belah pihak untuk kepentingan bersama.

Mengenali pasangan butuh waktu yang panjang dan lama, iya! Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Selagi masa pengenalan saat berpacaran, harus lebih banyak berkomunikasi, saling bertukar pendapat, dan mau mengamati bagaimana kebiasaannya.

Trus kalau begitu pacaran harus lama banget dong, sampai harus tahu sedalam-dalamnya baru menikah, tidak! Jika komunikasi diantara kamu dan pasangan baik dan terbuka, akan sangat mudah mengetahui hal-hal mendasar dari pasangan, itu sebagai bekal kita dalam mengarungi rumah tangga nanti.

Setidaknya kamu tahu kurang lebihnya walau belum seluruhnya, setidaknya kamu tahu bagaimana sudut pandangnya walau masih dalam hal-hal sederhana, setidaknya kamu tahu bagaimana ia menyelesaikan masalahnya walau dalam mengatasi masalah yang kecil. Setidaknya kamu tahu permukaannya dulu, daripada tidak sama sekali.

Tidak mungkin kan, kita menikahi seseorang yang sama sekali kita tidak tahu apapun tentangnya? Kalau bukan dari kita sendiri yang tahu bagaimana ia, pasti kita pernah mendengar tentangnya dari orang-orang terdekatnya. Bahkan yang memilih untuk menikah tanpa berpacaran sebelumnya pun, pasti ada pendekatan diawal yang dijembatani oleh orang-orang terdekat keduanya. Hal itu ya tujuannya untuk mengetahui dan mengenali bagaimana pasangan kita.

Ada dua tujuan mengenali pasangan ini, pertama, sebagai pengukur kemampuan kita dalam menerima segala hal yang ada dan dibawa oleh pasangan kita. Ada beberapa pertanyaan yang bisa kamu ajukan kepada diri sendiri.

#1 sudah siapkah kamu dengan masa lalunya yang tidak bisa serta merta kamu (bahkan dia) ubah? Seperti halnya luka masa lalu yang kita miliki, luka masa lalu yang ia miliki juga sama, akan menjadi teman seperjalanan hidupnya. Tidak bisa dengan serta merta diubah olehnya, apalagi olehmu. Coba tanyakan, seberapa besar kamu menerima luka itu? Yang mana, akan menjadi teman seperjalanamu juga dalam berumah tangga nanti dengannya. Seberapa besar kamu bisa mentoleransinya ketika luka itu tersulut oleh sesuatu kemudian muncul ke permukaan. Seberapa siapkah kamu bisa menanganinya? Kemudian seberapa banyak yang kamu tahu atas luka itu, dan bersediakah kamu juga ambil andil untuk membantu pasangan mengontrol luka itu di dalam hidupnya? Banyak pertanyaannya ya, tapi lebih baik begitu, daripada sudah terlanjur melangkah tapi kemudian ternyata kita tidak siap apa-apa.

#2 Sudah siapkah kamu dengan kelemahan dan kelebihannya? Pasangan yang baik ia akan menerima kelebihan pasangan, terlebih lagi kelemahannya. Namun, ada lagi yang lebih baik dari itu, pasangan yang bisa mengapresiasi kelebihan yang dimiliki pasangan, pun bisa menyadarkan pasangan (dengan tulus dan lembut) mengenai kelemahannya kemudian membantunya untuk mengupgrade dirinya agar kelemahan itu bisa menjadi kelebihan untuknya.

#3 Sudah siapkah kamu dengan cara-caranya menyelesaikan masalah dan sudut pandang yang dimilikinya? Mungkin cara penyelesaian masalahnya tidak selalu sejalan denganmu. Mungkin sudut pandangnya berlainan sudut denganmu. Lalu sudah siapkah dengan itu? Kabar baiknya, pasti selalu bisa disamakan, selalu bisa diselaraskan, asalkan kamu dan pasangan sama-sama saling mau mengkomunikasikannya dengan hati yang hangat dan kepala yang dingin. Kemudian, sudah siapkah kamu menyiapkan tenaga dan waktu untuk duduk tenang dengan pasangan dan membicarakan beberapa hal yang tak sama, kemudian menyamakannya agar kalian menemukan titik pas antara kalian.

#4 Sudah siapkah kamu dengan keadaan ekonominya saat ini? Ini salah satu yang terpenting, tapi terkadang seperti tabu dibicarakan. Kalian pasti punya rejekinya nantinya, iya itu benar. Ada lagi, setelah memiliki anak, anak akan membawa rejekinya sendiri, mungkin ini juga benar. Tapi yang pasti, yang saat ini, yang selangkah sebelum kamu tiba di dunia pernikahan. Sudah siapkah kamu dengan pekerjaannya dan penghasilannya saat ini? Ketika jawabannya “sudah siap”, bersamaan dengan itu, kita juga sudah menyiapkan beberapa strategi untuk membantu perekonomian keluarga kita sendiri. Kita bisa membicarakannya dengan pasangan apa lagi yang harus dilakukan dan disiapkan ke depannya.

Kedua, sebagai alat ukur kita menentukan keputusan selanjutnya. Ya, kehidupanmu, kamu yang tentukan. Hanya kita yang bisa memilih apapun untuk diri kita sendiri. Mau lanjut dengan semua yang ada pada pasangan, atau berbalik arah dan melupakan karena tahu bahwa ternyata terlalu banyak perbedaan dan ternyata kita tidak bisa mentoleransinya, karena sepertinya jika diteruskan, sepertinya antara kamu dan pasangan terlalu sangat banyak yang harus dikorbakan. Kedua pilihan itu sama benarnya. Apapun pilihanmu adalah tepat untukmu, karena kamu yang paling tahu apa yang terbaik untukmu.

Kenali Mertuamu dan Keluarga Barumu

Tidak ada salahnya sesekali saat kalian berpacaran, untuk mengunjungi orang tua dari pacarmu. Hal ini penting, agar kamu bisa mendapatkan gambaran mengenai keadaan keluarga pasanganmu yang nantinya juga akan menjadi keluargamu saat kalian menikah. Apa saja yang harus kita tahu dan kenali dari calon mertua kita dan keluarganya?

#1 Bagaimana cara mereka menunjukkan perhatian dan memperlakukan anak dan juga menantunya?

#2 Bagaimana cara keluarga mereka memandang dan menyelesaikan masalah?

#3 Bagaimana karakteristik calon mertuamu? Apa kelebihan dan kekuranganmu di matamu?

#4 Apa harapan dan keinginan mereka atas kehadiranmu?

Hal ini pasti akan kamu ketahui kalau menyediakan waktu untuk mengobrol dengan calon mertuamu. Bagus jika mertuamu (terutama ibunya) suka bercerita, ia akan terbuka menceritakan kesehariannya di rumah, memberitahumu, bisa secara langsung dan tidak, mengenai keadaan rumahnya, kamu juga bisa tahu apa saja harapannya terhadap anak-anak dan para mantunya.

Lalu bagaimana kalau ternyata calon mertuamu tidak mudah memulai cerita, kamu bisa memulai dengan menceritakan dirimu sendiri, keluargamu, atau bahkan memancingnya dengan menceritakan mengenai anaknya. Jangan terlalu narsistik, jangan juga terlalu tertutup, mendapatkan hati calon mertuamu itu yang terpenting. Kamu bisa mulai mencari tahu tentang mereka dari pasanganmu, seperti apa yang mereka sukai dan tidak sukai. Mulailah lebih dulu untuk terbuka dan mau mendekat kepada calon mertuamu, maka kamu juga akan bisa lebih mengenali mereka.

Ingat, kamu tidak hanya akan menikahi anaknya, tapi kamu juga menikahi keluarganya, bahkan keluarga besarnya. Kamu tidak hanya harus menyayangi pasanganmu, tapi juga harus menyayangi keluarga pasanganmu, keluargamu juga kelak. Lalu bagaimana caranya sayang itu ada kalau kamu tidak kenal lebih dulu?

Beberapa waktu lalu ada seorang istri melakukan konseling denganku, dia mengatakan “sepertinya mama mertuaku tidak menyayangiku, dia tidak perhatian denganku,” itu katanya. Singkat cerita, setelah menuangkan segala keluh kesahnya kemudian kami sampai pada kesimpulan, ternyata ia yang belum begitu mengenali mama mertuanya. Bagaimana ia menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya, dan lain-lain. Sang istri memiliki definisi sendiri mengenai bagaimana orang tua menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya, hal ini ia dapatkan dari orang tua kandungnya. Kemudian ia juga menaruh definisi itu kepada mama mertuanya. Ia lupa bahwa mama mertuanya bukanlah orang tua kandungnya, yang sudah pasti punya karakteristik dan cara-cara yang bisa jadi berbeda, seperti halnya cara ia menunjukkan perhatian.

Kita tentu tidak mungkin mengubah orang lain, apalagi mertua dan keluarga besar pasanganmu, dan sudah pasti juga kita tidak perlu mengubah mereka. Tapi, ada yang kita bisa lakukan, dan lebih realistis kita lakukan, adalah meengontrol diri sendiri. Kita bisa mengontrol perilaku kita dan bagaimana respon kita terhadap segala yang terjadi. 

______

Hah, selesai juga tulisan ini setelah 3 minggu di cicil. Selamat membaca ya calon pengantin..

Semoga segala pilihan yang kita buat untuk diri kita sendiri adalah pilihan yang terbaik untuk diri kita sendiri dan juga untuk kehidupan kita nantinya bersama pasangan kita dalam membentuk keluarga yang baik dan bahagia.

Semoga selalu bahagia ya,

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *