Note to Self,  Titik Terang

Pernah Disakiti. Lalu?

Di waktu-waktu senggang, di waktu-waktu aku dapat lebih tenang dan rileks kemudian memikirkan tentang kehidupan. Pernah terpikir untuk bertanya kepada mereka-mereka, apa alasan mereka saat melakukan hal-hal curang kepadaku dulu. Kenapa mereka melakukannya? Apa salahku, sehingga mereka berbicara, berpikir bahkan melakukan hal-hal buruk kepadaku? Apalagi mereka melakukannya di belakangku. Pernah berpikir untuk bertanya kepada mereka, kenapa harus menggunakan cara-cara tidak baik dan tidak pantas untuk menyakitiku dulu?

Semua pertanyaan-pertanyaan itu bertahan cukup lama di kepalaku, terngiang-ngiang dan berputar-putar begitu saja dalam waktu yang cukup lama, sampai membuat tengkukku terasa berat, sakit yang menjalar dari leher ke kepalaku, ke seluruh bagiannya membuatku tersentak kemudian membuatku hanya bisa menutup mata. Rasanya sakit sekali. Entah karena kembali mengingat apa yang telah mereka lakukan dulu, atau aku masih menyimpan dendam dan marah yang ingin sekali kutuangkan kepada mereka.

Processed with VSCO with m5 preset

Hingga pada akhirnya, saat aku menutup mata, aku melihat satu titik terang yang akhirnya pelan-pelan membuat nafasku kembali lega. Membuatku kembali bisa membuka mata sedikit demi sedikit, menghilangkan rasa sesak yang sedikit demi sedikit juga mulai berkurang. Ada banyak pikiran-pikiran dan ingatan-ingatan mengenai hal-hal baik yang mengingatkanku, perlahan itu membinasakan pikiran negatif dan marahku yang sedikit demi sedikit kian menghilang pergi.

Aku sangat bersyukur.

Lalu, kuurungkan niatku untuk bertanya apalagi untuk hal-hal yang sudah lama berlalu. Aku tahu mereka mempunyai alasannya sendiri. Kalau aku tidak boleh tahu, mungkin mereka ingin menyimpannya sendiri. Biarlah hanya mereka yang tahu.

Ada alasan-alasan untuk segala hal yang terjadi, termasuk dalam membenci dan menyakiti. Banyak sebabnya alasan-alasan itu ada, bisa jadi karena iri, cemburu, membenarkan kesalahan sendiri, atau bahkan untuk membuat diri terlihat lebih dari segalanya. Alasan-alasan lainnya adalah mereka hanya mengisi waktu luang mereka, sayangnya dengan cara menggosipkan yang lain, atau melukai hati yang lain. Orang-orang seperti ini yang seharusnya sama sekali tidak diladeni, tidak pula untuk kita berikan waktu kita yang berharga.

Kita yang lebih tahu diri kita sendiri, selagi apa yang dikatakan mereka tidak benar mengenai kita, ya sudah biarkan. Berikan mereka kerjaan, karena mereka memiliki banyak waktu luang. Bukan seperti kita, yang waktunya kita alokasikan untuk perkembangan diri dan memberikan manfaat positif kepada orang lain.

Bener deh, kadang suka gemes dengan orang-orang yang berkata-kata atau berbuat sesuatu dengan tujuan menjatuhkan, membuat air mata atau bahkan menimbulkan amarah.

Tapi, ya suka gemes juga sama diri sendiri, KENAPA HARUS TERPENGARUH kata-kata yang hanya sekedar mereka ucapkan untuk mengisi waktu luang karena mereka bosan.

Sekali lagi kukatakan,

hidup kita hanya kita yang tahu. Jadi akupun lebih banyak melihat ke dalam diri. Mencermati dan menyadari dengan hati, apa yang sedang kualami, respon apa yang sebaiknya aku berikan dan ingat lagi apa saja perjuangan-perjuangan yang telah kulakukan dalam hidupku. Hal ini sangat berguna agar aku tidak serta merta terpengaruh oleh hal-hal yang merugikan yang menghampiriku.

Hal ini juga selalu kutanamkan dalam pikirku.

Sudah bukan jamannya lagi kita mendengarkan apa kata mereka yang tidak benar-benar tahu dan memahami hidup kita. Dan juga jangan mengurusi hidup orang lain yang kita tidak sekalipun pernah ada dipijakkan kaki mereka. 

Apa yang kemudian membuatku merasa lebih baik?

Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk hanya melakukan atau memberi hal-hal baik kepada kita.

andini ayu, 2019

Pemikiran di atas adalah pemikirkan yang membuat kita mawas diri. Membuat kita ingat kembali bahwa setiap manusia memiliki tujuan hidup, karakteristik dan cara pikir mereka masing-masing. Ada orang-orang baik, ada juga yang jahat. Ada yang dengan tulus dan penuh empati membantu kita, tapi ada juga yang berteman dengan kita dengan tujuan memanfaatkan apa yang kita miliki. Ada orang-orang yang dengan rela menangis bersama dengan kita yang menangis, tapi ada juga orang-orang yang menjadi alasan mengapa kita terluka dan bersedih. Dan masih banyak lagi jenis-jenis manusia di luar sana.

Dan sudah pasti, selagi kita masih hidup, masih bernafas, kitapun diminta untuk selalu siap bertemu dengan salah satu dari mereka.

Salah satu ciri kita telah menjadi dewasa adalah kita tidak menghabiskan waktu untuk melakukan atau memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Hal-hal yang menghambat kita melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk hidup kita. Termasuk meminta klarifikasi perbuatan orang lain kepada kita.

Satu lagi, memaafkan. Mungkin pemikiran ini juga bisa membantu untuk mulai bisa memaafkan yang sudah-sudah. Menempatkan diriku di posisi mereka. Sama sepertiku, mereka juga bukan manusia sempurna. Mereka dan aku juga bisa berbuat salah, yang juga berpikir negatif kepada orang lain, yang juga bisa bersikap tidak manis kepada yang lain.

Sebagai manusia yang sudah pasti tidak sempurna, kita diminta dan diharapkan untuk selalu memberi maaf kepada yang lain. Entah mereka memintanya atau tidak. Memaafkan, bukanlah semata-mata hanya untuk orang lain, tapi utamakan untuk diri sendiri. Dengan memaafkan kita bisa menjalani hidup dengan tenang, tanpa beban dendam dan pikiran-pikiran negatif yang malah menghantui kita dalam melangkah maju. Kita tidak bisa fokus kepada tujuan baik yang kita telah usahakan, tapi malah lebih berfokus kepada cara-cara aneh dan negatif untuk membalas perlakuan tidak baik orang lain kepada kita.

Seperti yang kukatakan tadi, ada orang-orang jahat, tapi juga pasti ada orang-orang baik. Karena itulah hidup ini menjadi seimbang. Seperti ada hitam dan putih, ada pahit dan manis, ada luka dan tawa, semuanya membuat kita hidup, semuanya membuat kita bisa melangkah maju. Karena itu selalu terima keberadaannya, dan selalu kusyukuri kehadirannya.

Kita tentu tidak bisa mengatur siapa saja yang bisa kita temui, atau orang-orang seperti apa saja yang bisa berhubungan dengan kita. Tapi yang pasti kita bisa mengatur dan mengendalikan diri kita sendiri, untuk berperilaku seperti apa kepada mereka. Untuk mengelola emosi dan diri kita agar tidak terlalu terpuruk dan terpengaruh oleh hal-hal negatif yang mereka tawarkan atau berikan kepada kita.

Biarlah mereka melakukan apa saja sesuka mereka, tapi kita tetap melakukan hal-hal yang baik untuk diri kita sendiri.

Apalah kuasa manusia, selain memaafkan dan selalu berbuat baik?

Love,

aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *