Note to Self,  Short Story,  Titik Terang

People come, people go. It’s okay, that’s life (belajar mengenai memaafkan)

Semakin bertambahnya usia dan kedewasaan seseorang, ternyata ada hal-hal yang tidak bisa diatasi dengan hanya, ‘ah sudahlah! Biasain aja.’ Atau ‘biarin deh biasain aja!’ Apalagi, ‘aku lupain aja deh.’

Pertama, ada hal-hal yang tidak bisa hanya dibiarkan saja, dibiasain aja, apalagi dilupain. Tanpa melakukan apa-apa untuk membuat ia menjadi netral dan tidak memberi pengaruh negatif lagi kepada kita secara negatif.

Ini berawal dari migrain yang tidak kalar-kelar padahal sudah hampir 4 hari lamanya. Dampaknya jadi kemana-mana dan negatif semua. Maag kambuh, kecemasan meningkat dan pernah sekali malah panic attack.

Usut punya usut ternyata beberapa hari ini sedang banyak ketrigger sehingga pikiran menumpuk. Adanya pikiran-pikiran saat ini kemudian di tumpuk dengan pikiran-pikiran jaman dulu yang ternyata masih unfinish bussiness kemudian ia muncul kembali sampai kepermukaan.

Ya, harus diakui ada luka di masa lalu, 3 tahun yang lalu, yang ketrigger beberapa kali belakangan ini. Belum lagi ada unek-unek yang tidak tersampaikan dari 2 bulan yang lalu. Dan ternyata kedua hal itu memaksa diri untuk segera dituntaskan, untuk segera meminta problem solving yang lebih tepat sehingga membuat kembali pikiran dan perasaan ini menjadi lebih nyaman.

Menunda, biarin aja, biasain ajalah, dan lupakan saja, bukanlah problem solving yang tepat ternyata, mostly untuk banyak orang, aku rasa dan akupun mengalaminya saat ini.

Ada luka, ada unek-unek, ada kemarahan yang terpendam sejak 3 tahun yang lalu, dan selama ini ternyata tidak hilang sama sekali dengan problem solving yang telah dipakai. Ternyata mereka tidak kemana-mana, masih di tempat yang sama, bedanya mungkin jadi malah semakin menggerogoti tempat yang sama itu dan semakin memberikan pengaruh buruk untuk kesehatan fisik dan mental ini.

Ternyata dengan ini, ‘udahlah biarin aja. sekarang biasaiin ajalah, aku akan tetap melihat semua postingan yang mentrigger ini, siapa tahu semakin dilihat, jadi biasa saja dan luka ini jadi tersembuhkan dengan sendirinya.’ eng ing eng… ternyata SALAH BESAR.

Setelah selama 3 tahun ini berjibaku dengan ‘ceritaiin ga ya?’ atau ‘jelaskan ga ya?’ dan sekarang 3 tahun setelahnya kemudian kusadari problem solving yang lebih tepat (ternyata untukku saat ini dengan masalah ini) adalah ‘BICARAKAN & JELASKAN!’ sesuai keinginanku, suarakan unek-unek dihatiku dan kemudian lepaskan, MAAFKAN.

yes, ternyata dengan beberapa masalah atau tantangan yang menghampiriku, dengan karakteristikku yang seperti ini, ternyata problem solving yang harus lebih banyak kupakai adalah BICARAKAN, SUARAKAN, CERITAKAN! Supaya kemudian, aku bisa lebih tenang dan nyaman (secara fisik dan mental) lalu setelahnya aku bisa lebih berdamai dengan diri sendiri dan keadaan lalu MEMAAFKAN akan menjadi lebih mudah dilakukan. Setidaknya, memaafkan diri sendiri, keadaan lalu kemudian orang lain. Akhirnya aku bisa dengan ikhlas membiarkan yang ingin pergi, pergi dengan baik dan damai. 

setidaknya, dengan aku menceritakan dan menyuarakan segala hal yang ada di dalam hati dan pikiranku, aku jadi semakin dapat melihat dengan lebih jelas dan nyata sebenarnya permasalahanku seperti apa. Lalu bonus lainnya adalah aku bisa mengetahui aku orang seperti apa, hal-hal apa yang harus kuperbaiki untuk kedepannya, dan hal-hal baik apa yang sudah kulakukan sehingga aku bisa lebih mudah berterima kasih dan memberi apresisasi kepada diri sendiri. 

Memang benar ya,

'ada hal-hal yang memberi bahagia dan kelegaan, ya dengan cara dia pergi atau dilepaskan.'

Melepaskan unek-unek ini membuat diri menjadi terasa lebih sehat, lebih bisa berpikir jernih, dan jauh lebih plong untu menjalani hari-hari berikutnya. Diri menjadi lebih terbebas dari masa lalu yang menjebak, dan itu kemudian membuat semakin mudah bergerak maju ke masa depan tanpa beban yang mengikuti di kaki, di tangan, pikiran dan hati.

yes, aku bebas, lepas, dan telah memaafkan!

At least, aku sudah berani melepaskan beban ini dan mengkomunikasikannya dengan asertif. Untuk respon yang mereka berikan, itu merupakan tanggung jawabnya sendiri. Keberaniannya mendengarkan penjelasanku, keinginannya memaafkanku, dan meminta maaf dan lain-lainnya adalah pilihannya dan apapun pilihannya itu tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadapku. Dan kemudian ini yang kupelajari setelahnya.

Ada 7 rules of forgiveness dari Thomas G Plante Ph.D., ABPP yang juga sebagai pertimbanganku selama ini.

Semua orang tahu memaafkan baik untuk kehidupan. Tapi memaafkan ternyata tidak sesederhana itu dan sunggu sulit dilakukan. Seperti akupun yang salah sangka, menyangka selama 3 tahun ini sudah memaafkan diri sendiri dan orang lain, padahal nyatanya tidak sama sekali.

Memaafkan itu butuh PROSES. Dan, sekali lagi, ternyata, biarin aja, biasaain, apalagi lupain bukanlah bagian dari proses itu. Ketiga hal tersebut bahkan tidak memberi dampak apapun kecuali luka itu masih ada, diam di tempat yang sama dan mungkin membuatnya menjadi tambah besar.

7 prinsip memaafkan ini membuatku juga belajar bahwa beginilah problem solving yang efektif untuk fisik dan mental yang jauh lebih terlegakan. Yuk kita belajar sama-sama darinya.

#1 Forgiveness doesn’t mean that you have to forget, too.

Ya, memaafkan bukan berarti harus melupakan juga. Ini salah sangka yang pertama dariku. Orang-orang yang telah dilukai, dilecehkan, dihianati, dan yang menjadi korban, tidak melupakan trauma atau kejadian itu, dan mereka atau kitapun tidak perlu melakukan hal itu. Tidak perlu dilupakan. Kita masih bisa belajar memaafkan orang-orang dan kejadian yang melukai itu, namun juga masih bisa mengingat mereka dan kejadian itu dengan sangat jelas dan baik.

#2 Forgiveness doesn’t mean you are minimizing your victimization experience.

Orang-orang dan aku juga, tidak perlu mengecilkan diri atau kejadian trauma atau yang melukai kita untuk bisa memaafkan. Jadi kata-kata, ‘ga apa-apa, ga seburuk itu kok lukaku. jadi biarin aja.’ tidak dikatakan saat kita akan memaafkan. Kita masih bisa memaafkan kejadian dan orang tersebut, selagi mengakui bahwa kejadian itu sangat nyata dan sangat buruk, kemudian memberi luka yang sangat menyakitkan untuk diri.

#3 Forgiveness doesn’t mean that you are a chump.

Ini sudah jelas dan sudah pasti ya, memaafkan bukan berarti kita bodoh. Memaafkan bukanlah tanda dari kelemahan, kenaifan apalagi kebodohan.

#4 Forgiveness doesn’t depend upon the other person apologizing and accepting your offer of forgiveness.

Sedihnya adalah kita tidak bisa berharap orang lain yang telah melukai kita dapat sepenuhnya menyadari kesalahannya, serta memahami dan menghargai bahwa yang ia lakukan adalah hal yang salah dan melukai kita. It’s okay. Karena kita memaafkan untuk kebaikan diri kita sendiri, bukan untuk keuntungan mereka. Seperti yang kulakukan tadi, memaafkan mereka adalah pilihan dan tanggung jawabku, kemudian respon mereka adalah pilihan dan tanggung jawab mereka. Kita tidak membutuhkan apapun dari mereka untuk memaafkan.

#5 Forgiveness is a process.

Memaafkan adalah sebuah proses. Dan sebuah proses sudah pasti tidak akan seperti mengedipkan mata, atau membalikan telapak tangan, tidak bimsalabim kemudian terjadi. Memaafkan bukan bicara semua atau tidak sama sekali, bukan hitam atau putik, bukan gelap atau terang. Kita mungkin tidak akan bisa 100% atau sepenuhnya memaafkan orang lain, keadaan bahkan diri sendiri, tapi kita bisa terus bergerak mendekati 100% itu.

Kita mungkin tidak bisa memaafkan sampai poin maksimal (misal 10), tapi kita bisa terus belajar dan bergerak maju untuk mengubah dari 6 menjadi 7, kemudian menjadi 8 dan seterusnya.

Sekali lagi, memaafkan itu butuh proses, jadi tidak bisa hanya ‘biarin aja ya.’.Yuk sama-sama belajar.

#6 Forgiveness is for your health and well being.

Penelitian mengatakan, menahan amarah adalah racun bagi kesehatan dan kesejahteraan hidup kita. Jadi sudah pasti dan jelas ya, kita memaafkan itu bukanlah untuk kebahagiaan dan kesehatan orang lain, melainkan untuk kesehatan fisik dan mental diri kita sendiri. Saat kita memaafkan, kita otomatis melepaskan marah kita dan hal tersebut tidak lagi menjadi beban dalam hidup kita. Kitapun jadi bebas, lebih lega, nyaman dan bersukacita melanjutkan kembali kehidupan kita.

#7 The secret sauce in forgiveness is letting go of anger.

Mereka yang melakukannya dengan baik dan mengatasi segala hal yang terjadi dalam hidupnya adalah mereka yang telah menemukan cara untuk memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka telah bekerja keras untuk melepaskan kemarahan dan kebencian dan terus maju melanjutkan hidup. Mereka tidak lupa dan tidak membiarkan diri mereka terus menjadi korban. Mereka memilih melepaskan amarah dan memilih untuk memaafkan.

Sudah belajar mengenai 7 prinsipnya, lalu bagaimana caranya? Ada 4 langkah memaafkan yang disampaikan oleh psikolog Robert Enright. Yuk, belajar bersama.

(1). Singkap dan pahami amarah dengan menelusuri akarnya. Memahami dengan lebih detail amarah itu bisa dengan menulis (jurnal, surat atau apapun). Jika akhirnya tulisan itu tidak kita kirimkan pada orang yang telah menyakiti, tidak apa-apa, karena dari proses kita menulis, dapatmenjernihkan pikiran dan hati kita.

(2). Memaafkan adalah sebuah keputusan. Memutuskan untuk memaafkan bisa kapan saja. Tapi sebaiknya dilakukan untuk membantu kita maju dan terlepas dari trauma yang berpotensi memborgol kita di masa lalu.

(3). Ini tidak mudah tapi penting untuk dicoba, menumbukan pengampunan dengan melihat orang yang telah melukai kita dengan kaca welas asih. Kita bisa renungkan apa akar dari kelakukan yang berujung menyakitkan ini. Apa karena memang niat jahat atau karena di dorong suatu situasi atau luka dalam hidupnya. Ketika kita menemukan akar dari kondisi si pelaku kita bisa lebih mudah memaafkannya.

(4). Lepaskan emosi yang membahayakan kesehatan kita dengan merenungkan bagaimana kita bisa bangkit dari keadaan yang menyakitkan dan dari orang-orang yang melukai, dan renungkan juga bagaimana proses kita mengampuni keadaan itu, orang lain dan bahkan diri kita sendiri. Lalu setelah itu yuk move on dan kembali melangkah maju.

Ini pesan yang selalu aku sampaikan kepada diriku sendiri, dan juga kepada orang lain:

"memaafkan bukan berarti kita berusaha mati-matian melupakan dan menghapus keadaan yang menyakiti dan melukai di masa lalu, tapi mengingat kembali luka itu dengan bingkai yang baru yang kemudian membawa kita kepada kondisi hati dan pikiran yang jauh lebih baik."

Aku sudah belajar memaafkan, bagaimana denganmu?

salam damai, Ayu Andini, M.Psi., Psikolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *