Note to Self,  Parenting,  Titik Terang

Mengenal ”toxic parenting” lebih dalam

Artikel ini di tulis oleh: Ayu Andini, M.Psi., Psikolog 

Topik ini sedang menjadi perhatian lebihku belakang ini apalagi setelah sudah resmi menyandang predikat “orang tua”, jadi bacaan sudah lebih banyak tentang per orangtuan-anak dan juga lebih banyak mengenai psikologi dalam keluarga. Menarik dan sebenarnya ’nagih’ untuk mengulik lebih dalam. Kenapa setertarik itu, ya mungkin karena sudah menjadi seorang mama, keinginan menjadi mama yang ’tepat’ dan lebih baik agar anak juga tumbuh menjadi yang lebih baik seturut perkembangannya juga sama besarnya.

Alasan lain adalah, entah kenapa belakangan ini beberapa klien remajapun ada yang datang dengan menceritakan tentang hal ini, hubungan ibu-anak yang tidak harmonis, hubungan ibu-bapak-anak yang dirasa tidak baik-baik saja. Mereka mengeluh bahwa orang tuanya toxic, sehingga otomatis mereka juga akan memperoleh parenting atau pola asuh yang juga toxic. Tentu saja, ada juga beberapa klien yang datang tidak serta merta mengatakan bahwa kondisinya saat ini dikarenakan ke toxic-an di rumah. Keluhan mereka lebih banyak mengatakan tidak bisa menjadi diri sendiri di lingkungan sosial, merasa kesepian dan hidup sendiri di dunia ini padahal ia masih memiliki keluarga dan teman, hingga yang sudah jelas-jelas menyebutkan ’memiliki orang tua serasa tidak’.

Dalam tulisan ini akan lebih banyak dibahas seputaran kehidupan orang tua-anak yang dilingkupi dengan toxic ini yang mana juga otomatis menimbulkan pola asuh yang toxic juga. Yang namanya toxic pasti akan tidak baik hasilnya, dan sudah pasti juga akan merugikan pihak orangtua-anak ini. Lalu kenapa sih masih ada orang tua yang seperti itu?

Dilihat dari Healthline, Ashley Marcin, blogger dan freelancer kesehatan, menyebutkan bahwa pola perilaku negatif atau toxic dari orang tua akan mempengaruhi pembentukan karakter anak kelak. Bisa jadi anak dari keluarga toxic ini akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, pencemas, mengalami ketakutan, dan penuh rasa bersalah. Bisa jadi juga sebabnya ia akan tumbuh menjadi anak yang pembangkang, kasar, arogan tidak hanya dengan keluarga tapi juga dalam pergaulannya. Dilihat dari sana saja sudah tidak ada keuntungannya ya.

Secara garis besar, orang tua toxic atau toxic parents adalah mereka yang konsisten berperilaku semaunya sendiri, dan cara-cara yang digunakan berdampak negatif pada anak. Mereka lebih memikirkan dan peduli kebutuhan diri sendiri dan sering kali tidak menyadari bahwa yang dilakukannya tidak tepat, berbahaya dan merusak mental anak baik dalam waktu jangka pendek dan juga jangka panjang.

Orang tua toxic kerap berdalih ’untuk kebaikan anak’ padahal yang dilakukan adalah hal-hal yang sebenarnya jauh dari ‘untuk kebaikan anak’. 

Ciri-ciri Toxic Parents

Egois dan mengabaikan keberadaan anak

Orang tua merasa kebutuhannya jauh lebih penting dan mengabaikan kebutuhan dan perasaan anak. Demi memuaskan ego dan kebahagiaan orang tua, anak dianggap wajib untuk melakukan apapun yang dikehendaki atau disuruh oleh orang tua. Belum lagi, orang tua tipe ini sering sekali memutarbalikkan fakta dan situasi untuk kepentingannya agar selalu terlihat baik walaupun sebenarnya yang dilakukannya salah.

Oleh sebab itu, muncullah perilaku menekan, membatasi, mengkritik dan menyuruh-nyuruh anak melakukan sesuatu yang berdalih demi kebaikan anak. Padahal hal itu dilakukan hanyalah untuk memenuhi ego orang tua dan sudah pasti mengabaikan kebutuhan dan kebahagiaan anak.

Contohnya, anak dipaksa untuk terus belajar dan belajar, waktu anak lebih banyak digunakan untuk belajar daripada bermain atau melakukan sesuatu yang disukainya. Hal ini dilakukan orang tua agar anak mendapatkan juara 1 di kelas, sehingga orang tua bisa membanggakan anaknya di depan teman-temannya.

Selain itu, orang tua juga dengan sengaja tidak memenuhi kebutuhan anak dan pura-pura tidak tahu atau melihat keberadaan anaknya. Jika anak ingin bermain atau membutuhkan sesuatu dari orang tua, maka respon orang tua akan segera meninggalkan anak.

Papa mama, seseorang yang paling dibutuhkan seorang anak di dunia ini adalah orang tuanya. Seorang anak tidak serta merta bisa sendiri menghadapi dunia yang semakin berkembang dan berubah ini. Ia butuh orang terdekat yang bisa memberikan dirinya sepenuhnya termasuk waktu, tenaga dan juga seluruh perhatiannya kepada anak. Isi dan penuhkan mereka dengan kasih sayang yang benar dan tepat agar ia bisa tumbuh dengan kuat untuk menghadapi dunia ini. 

Tidak menghargai privasi anak

”kamu itu masih keci, ga perlu ada rahasia-rahasiaan segala”. Itu salah satu bentuk kata-kata dari orang tua yang mencerminkan tidak menghargai privasi anak. Orang tua jadi sering mengawasi anak secara berlebihan bahkan saat anak sudah remaja hingga dewasa, mereka tidak peduli dan menyadari bahwa saat dewasa anak sudah terpisah dengan orang tuanya.

Jangankan anak yang telah dewasa, anak kecilpun sebenarnya memiliki hak-hak untuk mempunyai ruang privasinya sendiri.

Para toxic parents biasanya mengusik anak ketika mulai enggan bercerita mengenai semua hal. Padahal orang tua tidak seharusnya tahu semua hal sedetail-detailnya tentang anak. Lebih parahnya jika anak enggan bercerita, orang tua akan berubah menjadi polisi untuk melakukan introgasi hingga mencurigai anak.

Padahal sebenarnya, wajar saja saat anak beranjak remaja hingga dewasa menginginkan ruang sendiri untuk berpikir dan menyelesaikan masalahnya, tanpa campur tangan orang tua. Selalu ingin tahu segala hal tentang anak malah akan membuat anak semakin tertutup dan enggan bercerita pada orang tua.

Orang tua diharapkan lebih percaya dengan anak, agar tidak terjadi hal-hal negatif nantinya. Anak yang dipercaya oleh orang tua tentu akan tumbuh dengan lebih percaya diri dan juga jadi percaya dengan orang tuanya. Tanpa di minta apalagi dipaksapun, anak yang sudah memiliki kepercayaan terhadap orang tua akan datang dengan sendirinya untuk menceritakan apapun dengan terbuka. 

Terlalu mengontrol dan mengendalikan anak

Toxic parents selalu berpikir bahwa anak mereka masih kecil sehingga tidak bisa memilih dengan benar. Hal ini memunculkan keinginan untuk membatasi serta mengontrol apa saja yang dilakukan oleh anaknya. Hak untuk memilihpun tidak dimiliki anak hingga ia remaja dan dewasa. Hal ini dikarenakan orang tua selalu ikut campur tentang urusan anak, sehingga membuat anak tidak memiliki kebebasan memilih, mengeluarkan pendapat, dan melakukan sesuatu yang diminatinya.

Memang sangat wajar jika orang tua mengkhawatirkan anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya terluka, sedih atau salah langkah dalam hidupnya. Namun jika kekhawatiran orang tua sudah berlebihan sehingga sampai membuat anak kehilangan kebebasan atau haknya, maka hal itu malah akan membuat anak stres dan tidak bahagia.

Selain itu kontrol lainnya berbentuk orang tua selalu menuntut perhatian anak dan tak jarang menggunakan rasa bersalah anak untuk mendapatkan perhatian lebih.

Kontrol yang berlebihan orang tua didasari dengan ketidakpercayaan orang tua kepada anaknya. Dan hal ini akan menimbulkan kekecewaan dan kebencian anak kepada orang tuanya jika orang tua tidak segera berubah.

Apa yang harus dilakukan? 
Menjadi orang tua memang harus menjaga anak-anaknya, tapi juga tidak disarankan untuk menutup sepenuhnya kebebasan anak dalam memilih, berpendapat dan melakukan keinginannya. Tetap berikan pandangan-pandangan orang tua kepada pilihan-pilihan anak, tapi yang tetap menentukan adalah anak sendiri. Jika orang tua percaya pada anak maka anak juga tidak akan segan untuk menceritakan segala hal pada orang tua untuk mendapatkan pandangandan pertimbangan baru. 

Menyalahkan dan mengkritik anak

Toxic parents sangat jarang mengapresiasi dan memberikan pujian kepada keberhasilan anak saat melakukan sesuatu. Tapi mereka akan sangat cepat menyalahkan hingga memberikan label negatif kepada anak saat anak melakukan kesalahan. Toxic parents juga bisa mengkritik habis-habisan anak yang tidak bisa melakukan sesuatu, tanpa berpikir terlebih dahulu apakah anak memang benar-benar tidak mampu atau hal lainnya.

Kritik, komentar dan ketidaksetujuan juga sering diberikan dengan dibalut candaan, sehingga orang tua tidak terlihat jahat.

Toxic parents tidak segan-segan mengucapkan kata-kata ’bodoh’ hingga membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Hal ini tentu akan menimbulkan kesedihan pada anak. Selain itu, disalahkan terus menerus akan membuat anak kehilangan kepercayaan dirinya, takut dan cemas saat melakukan sesuatu hingga bisa mempengaruhi konsep diri. Yang akhirnya akan membuat anak tumbuh dengan mempercayai bahwa dirinya bodoh, tidak bisa apa-apa, yang kemudian akan menginternalisasi sampai ia dewasa hingga berumah tangga.

Sebaiknya, orang tua yang mampu menemani anak saat ia melakukan kesalahan atau tidak mampu melakukan sesuatu. Anak adalah cerminan dari orang tuanya, karena itu mulailah dengan memberikan contoh dari kita orang tuanya. Selain itu, anak juga merupakan peniru yang handal, jadi orang tua juga harus siap menjadi role model yang baik untuk anak-anaknya. 

Menggunakan kekerasan fisik dan verbal

Toxic parents tidak jarang membentak anak, cenderung tidak sabar dan cepat mengeluarkan emosi negatif terhadap perilaku anak sehingga melakukan kekerasan verbal demi menyalurkan amarahnya. Kata-kata kasarpun tidak jarang terucap saat orang tua marah.

Orang tua toxic kesulitan mengendalikan emosi dan cenderung beraksi berlebihan atau dramatis kepada anak. Mereka juga tak segan-segan memukul dan memaki anak di depan teman-temannya atau orang lain. Kemarahan orang tua ini kerap tidak bisa diprediksi dan sudah pasti sangat merugikan anak-anak yang menerimanya.

Cara yang dilakukan oleh toxic parents ini akan menyebabkan anak kebingungan terhadap letak kesalahannya, karena respon orang tua hanya marah saja tanpa disertai dengan penjelasan yang lebih mudah diserap atau dipahami oleh anak-anaknya.

Toxic parents yang melakukan hal ini akan menimbulkan kebencian dari anak-anaknya. Anak juga jadi takut kepada orang tua karena takut dipukuli atau dibentak. Bahkan ada anak yang sampai depresi ditengah-tengah toxic parents seperti ini.

Orang tua yang baik adalah orang tua yang dipercaya oleh anak menjadi tempat teraman dan ternyaman di dunia ini untuknya, bukannya menjadi sosok yang sangat mengerikan dan ditakuti. 

Mempermalukan anak

Terkadang orang tua tidak menyadari jika perilaku dan kata-katanya sebenarnya mempermalukan anak-anaknya. Tidak jarang mereka mengejek, merendahkan, berteriak, memaki hingga memukul anak di depan orang lain atau teman-temannya, sehingga hal ini membuat anak jadi malu.

Contoh perilaku yang sering dilakukan tanpa disadari oleh toxic parents adalah membandingkan hasil kerja anaknya dengan anak yang lain. Hal ini dibalut dengan ejekan atau candaan. Contoh lain, orang tua menceritakan kembali kesalahan-kesalahan atau hal-hal yang memalukan yang pernah dilakukan oleh anak di depan orang lain dan tertawa menganggap hal itu lucu.

Banyak juga orang tua langsung memukul, memaki atau menyeret anak di depan umum saat anak tidak mau menurut untuk pulang karena masih asik bermain. Hal ini tentu akan berdampak untuk anak. Anak jadi malu saat bertemu dengan teman-temannya. Bisa juga menjadi korban bullying disekolahnya, karena dianggap pantas untuk di tindas.

Alih-alih mempermalukan anak atas kesalahannya, orang tua lebih baik menjadi tempat belajar bagi anak. Beritahu ia atas kesalahannya dan ajari bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh anak. Orang tua bisa menceritakan ulang kesalahan yang dilakukan anak kepada pasangan atau orang lain disaat tidak bersama anak. Menceritakan kembali ini, ditujukan untuk mencari jalan pengasuhan yang lebih baik, bukan malah untuk mengejek anak. 

Menganggap anak sebagai saingan

Toxic parents akan menunjukkan ketidaksukaannya saat melihat keberhasilan atau kesenangan anaknya. Alih-alih memuji dan memberika selamat, orang tua malah akan berusaha membuat anak down. Selain itu toxic parents juga tidak akan menyemangati atau merasa bahagia atas pencapaian anak, ia akan mengabaikan dan enggan ikut senang dengan anak.

Menurut anak, orang tua adalah orang yang paling dekat dengannya, sehingga anak memiliki keinginan untuk berbagi dengan orang tuanya. Namun jika respon orang tua malah abai apalagi membuat kebahagiaan anak sirna karena merasa disaingi, hal ini akan membuat anak enggan melakukan keberhasilan-keberhasilan lainnya.

Anak bisa jadi tidak termotivasi melakukan suatu hal yang baik, yang berguna untuknya, karena merasa itu tidak perlu dan berguna baginya dan tidak bisa ia gunakan sebagai sarana untuk membahagiakan orang tuanya karena bangga terhadap keberhasilan dan hasil kerjanya. Selain tidak adanya motivasi, anak juga jadi rendah diri karena merasa apa yang dilakukan salah dan merasa tidak pantas bahagia.

Bagi anak, orang tua adalah suporter dan pendukung terbesar dan yang paling utama bagi anak. Jika ia berhasil melakukan sesuatu, sedikit tidaknya itu juga untuk diperlihatkan kepada orang tuanya dengan tujuan membuat orang tua bangga kepadanya. Kebanyakan anak akan merasa sangat bahagia dan bangga terhadap dirinya jika ia bisa melakukan satu hal yang kemudian membuat orang tuanya pun bangga dan bahagia. 

Dampak negatif perilaku toxic parents pada anak

Walaupun alasannya demi kebaikan anak, tanpa disadari oleh orang tua dampak dari perilaku toxic parents ini malah lebih banyak negatifnya daripada positifnya terhadap kehidupan anak. Anak yang berada dalam toxic parenting ini dapat mengalami gangguan mental dan juga fisik yang sudah pasti akan berdampak buruk juga untuk perkembangan dan pertumbuhannya.

Perilaku toxic parents ini bisa menjadi racun turun temurun karena bisa jadi anak akan meniru perilaku-perilaku orang tuanya dan menerapkannya kepada orang lain atau dalam jangka waktu yang panjang kepada keluarga dan anak-anaknya. Hal ini akan menjadi budaya dalam lingkungan keluarga yang tidak sehat sehingga menghasilkan juga generasi yang tidak sehat.

Berikut adalah dampak-dampak negatif dari perilaku toxic parents ini:

  1. Anak mengalami gangguan mental seperti kecemasan, stres, PTSD, depresi yang diakibatkan oleh lingkungan rumah yang tidak sehat
  2. Anak jadi kehilangan kepercayaan diri, minder, harga diri rendah dan tertutup
  3. Anak menjadi sangat benci dengan orang tuanya
  4. Anak meniru perilaku orang tua dan menerapkannya pada orang lain atau pada anaknya kelak
  5. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol
  6. Sulit mengendalikan emosi
  7. Merasa tidak aman dalam lingkungan, apalagi saat di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anak
  8. Anak akan jadi sulit untuk mengatakan ’tidak’ pada orang lain. Kurangnya afeksi di rumah, membuat anak mencarinya dilingkungan sosial. Kebanyakan dari mereka akan berusaha terus untuk menyenangkan orang lain, dengan harapan juga selalu disenangkan oleh orang lain.
  9. Anak jadi mengalami kesulitan menjadi diri sendiri. Ia tidak tahu apa potensi, bakat dan minatnya yang sebenarnya sehingga mengalami kesulitan untuk mengenal jati dirinya.
  10. Mengembangkan ke-toxic-an yang sama dalam hubungan atau malah menghindari untuk menjalin hubungan dengan siapa saja karena mengalami trauma.
  11. Selalu merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri terhadap perlakuan buruk orang lain. Karena anak selalu berpikir dan merasa menjadi penyebab dari orang tua yang bermasalah.

Cara mengatasi perilaku toxic parents

Dari sisi anak:

  • Jangan menghindar tapi hadapi. Cari informasi mengenai cara-cara menghadapi toxic parent ini. Hal ini dilakukan agar anak tahu dan paham bagaimana karakteristik dari orang tuanya dan ciri-ciri yang paling dominan sehingga lebih mudah untuk mencari cara untuk menghadapinya dengan tepat dan benar.
  • Menerima sebagai langkah awal. Penerimaan membantu kita sebagai anak memulihkan ketenangan pikiran dan jiwa
  • Ingat! Sikap toxic dari orang tua kita bukanlah karena kesalahan kita sebagai anak.
  • Cari dukungan dari orang yang kita percaya. Bisa kakek nenek, om-tante, atau orang lain yang dekat dengan kita.
  • Beri pengertian dan jawaban tegas kepada orang tua. Beri penjelasan, pandangan atau pendapat kita kepada suatu hal dengan baik, pelan-pelan dan dengan hati dan kepala yang tenang.
  • Arahkan obrolan dengan orang tua kepada hal-hal yang positif.
  • Anak juga bisa berkonsultasi dengan psikolog untuk mencari tahu cara membina hubungan yang baik dengan orang tua yang memiliki tanda-tanda toxic parents ini.

Dari sisi orang tua:

Jika kita sebagai orang tua, sudah merasa bahwa yang kita lakukan atau bicarakan pada anak adalah tanda-tanda dari toxic parents tidak ada salahnya untuk segera memperbaiki diri secara perlahan. Hal-hal dibawah ini bisa dilakukan oleh orang tua agar berhenti menjadi toxic parents:

  • Menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Ajar anak berbicara dengan nyaman sehingga mereka bisa merasa di dengarkan dan diperhatikan. Berikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan keinginan, pikiran dan perasaannya.
  • Dorong anak untuk menjadi diri sendiri. Biarkan anak memilih apa yang ingin dilakukan dan diminatinya. Berikan dukungan pada anak supaya ia tahu bahwa kita orang tuanya juga menghormati pilihannya.
  • Tidak berlebihan saat anak membuat kesalahan kecil. Tingkatkan kesadaran bahwa setiap orang akan pernah mengalami kesalahan. Saat anak melakukannya beri pengertian mengenai kesalahannya dan minta untuk tidak mengulangi lagi.
  • Memiliki harapan yang realistis terhadap anak. Buatlah standar yang sesuai kemampuan dan usia anak. Jangan terlalu tinggi atau rendah. Contoh, anak usia 3 tahun tidak mungkin diminta untuk belanja ke toko diseberang jalan.
  • Hormati batasan yang anak terapkan. Misalnya anak ingin dibiarkan sendiri saat sedang sedih, orang tua yang baik harus menghormati itu dan berikan waktu kepada anak untuk itu.
  • Jika cara-cara tersebut kurang menunjukkan hasil, orang tua bisa berkonsultasi dengan psikolog keluarga untuk mendapat bantuan secara profesional dalam mengatasi masalah ini.
Referensi:
Psychological Today. http://www.psychologicaltoday.com/us/blog/toxic-relationship/12-clues-relationship-parent-is-toxic
Andy Whitney,B.Sc.,Ed.M. parenting points. 99 pedoman kebijaksanaan untuk anak yang bahagia dan mandiri
Laura Markham.peaceful parent, happy kids:how to stop yelling and start conecting. New York:published by the penguin group. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *