Note to Self,  Titik Terang

Mengenal lebih dalam si “PEOPLE PLEASER”

Artikel ini ditulis oleh : Ayu Andini, M.Psi., Psikolog 

Beberapa waktu yang lalu, seorang remaja mengirimi pesan dengan mengatakan hal ini,

“kak, aku mau cerita ya. Aku ini orangnya susah sekali bilang “ga bisa” atau “ga mau” sama orang lain. Paling sering sama orang-orang terdekat, tapi ga jarang juga sih sama yang baru kenal juga gitu. Aku sadar kadang aku ngerasa lelah banget kalau harus selalu bilang ‘iya’ tapi ya gimana kak, apa karena udah kebiasaan juga ya. Aku cuma takut aja kalau aku bilang ga, nanti mereka jadi marah sama aku dan jadinya aku dijauhi atau dimusuhi. Cuman ya kerasa juga kak, aku suka sedih kalau ternyata mereka ga melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan.”

Si remaja ini mengirimiku dua pesan yang cukup panjang, menggambarkan keadaannya saat ini. Satu pesan di awal sudah cukup menggambarkan sih tema permasalahannya, tapi pesannya yang kedua lebih membuatku bersyukur untuknya. Dia ternyata cukup memahami bahwa yang dilakukannya cukup menyusahkan dan menyakiti fisik dan juga mentalnya, karena itu dia mencariku untuk mendapatkan bantuan. 

“aku ni sebenarnya kenapa ya kak? Susah sekali bilang ga untuk orang lain, kadang malah suka memaksakan diri sendiri, padahal lagi bener-bener ga bisa, atau lagi butuh pertolongan juga, tapi malah memaksakan diri untuk bantu yang lain dulu, nantinya diri ini ya sama aja ga ada yang bisa bantu juga seperti yang sudah-sudah. Gimana ya kak caranya untuk berubah? Kadang aku pengen bilang ga, tapi masih takut-takut buat lakuiinnya. Apa aku terlalu mengantungkan diriku sama orang lain ya? Gimana caranya supaya aku bisa ga gitu lagi kak?”

Dari ceritanya yang cukup panjang aku menyadari bahwa ia sedang berada di kondisi serba salahnya. Ingin berubah, tapi masih takut-takut melakukannya. Zona nyamannya saat ini sudah tidak menjadi zona nyaman lagi, namun tetap saja lebih nyaman disana. Takut berganti zona ternyata ga jadi lebih nyaman dari yang sekarang. Tapi satu hal yang kufokuskan, bahwa ia ingin berubah dan itu merupakan modal besar untuknya. 

Tema atau garis besar dari keadaan yang dialaminya saat ini kujadikan fokus untuk tulisanku di blog kali ini.

PEOPLE PLEASER 

Sebelumnya aku pernah menulis sesuatu yang berjudul “seperti menangkap nyamuk dalam gelap” di seri tulisan tengah malam, yang memang semua kata-kata itu kudapatkan ketika tidak bisa memejamkan mata di malam hari. Kuibaratkan menangkap nyamuk dalam gelap itu seperti usaha kita untuk menyenangkan semua orang. 

Seperti menangkap nyamuk dalam gelap.

Ya susah,

Tidak mudah,
Sulit,

Hampir mustahil,

Dan yang terpenting, 

BUAT APA DILAKUKAN?

Ya, buat apa dilakukan kalau ternyata kita sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Mungkin sekali dua kali akan mendapatkan kebahagiaan atau kepuasan karena telah membuat orang lain senang, karena sudah bisa membantu orang lain, tapi kalau semua itu ternyata mengesampingkan kebahagiaan dan kebutuhan kita sendiri, lalu buat apa? Kalau ternyata semua yang kita lakukan itu menyakiti fisik, membuang waktu dan tenaga apalagi materi, lalu kenapa harus diteruskan? 

Waktu itu aku menyarankan ia untuk berhenti menjadi people pleaser dan mulai mencoba untuk mengatakan ‘tidak’ jika memang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk memberi pertolongan. Aku juga menekankan untuk lebih menghargai diri sendiri dengan lebih memperhatikan kebutuhan diri di atas kebutuhan orang lain. Bersyukurnya, ia berjanji dan membuat komitmen untuk mencoba melakukannya untuk kebaikan dirinya sendiri. 

Bersyukur untuk dia yang mau berubah, lalu bagaimana dengan yang lain? Yang masih bersedia mengesampingkan dirinya, menomor sekiankan kepentingannya dan mungkin menghitung dirinya menjadi yang terakhir saja untuk mengecap bahagia. Yang masih mengatakan bahwa tempat yang ia pijaki saat ini saat menjadi people pleaser adalah zona nyamannya dan belum benar-benar menyadari bahwa zona itu tidak senyaman itu bahkan tidak aman lagi untuk kesehatan dirinya secara utuh. 

Karena itu pada tulisan ini, aku akan membagikan mengenai PEOPLE PLEASER ini. Dari pengertian, 5 cara untuk mengatasi diri atau berhenti menjadi people pleaser dan juga fakta-fakta berani mengatakan ‘tidak’. Semua itu tentu saja untuk meningkatkan kesadaran bahwa menjadi people pleaser dengan segala harapannya tidak sebaik berani untuk lebih dulu mencintai dan memperhatikan kebutuhan diri sendiri. 

People Pleaser, apa itu?

People pleaser merupakan orang-orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain. Ia tidak pernah menolak dan berkata tidak jika dimintai pertolongan oleh orang lain. Ia atau mereka sebagai people pleaser bersedia selalu membantu orang lain agar terus bisa membuat orang lain senang, tidak kecewa dengan dirinya, sehingga bisa lebih diterima oleh orang lain. 

Secara umum, people pleaser merupakan dorongan dari dalam diri individu untuk selalu menyenangkan orang lain dengan berbagai cara, contohnya dengan selalu memberikan pertolongan. Namun, ia yang memiliki perilaku people pleaser ini juga biasanya tidak mampu mengontrol kapan ia perlu mengatakan ‘ya’ kapan waktu yang tepat mengatakan ‘tidak’untuk memberi ruang bagi kebahagiaan diri sendiri. 

Tentu, menjadi seseorang yang baik dan bermanfaat bagi orang lain adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Namun perlu diperhatikan juga untuk tidak serta merta mengesampingkan kebutuhan diri sendiri. Tidak seharusnya juga kita meletakkan kepentingan orang lain jauh di atas kepentingan kita sendiri. Dan tentu juga, membuat orang lain senang dan bahagia baik adanya, perlu dilakukan sesering mungkin, namun juga jangan lupa harus memperlakukan diri juga sama baiknya ya. 

Dan tidak jarang kita temui, bahkan beberapa klienku juga, meski mereka memiliki niat baik untuk membuat orang lain senang dengan selalu ada dan selalu mengatakan iya untuk memberikan pertolongan, banyak dari mereka juga mengalami penurunan kesehatan fisik dan mental karena selalu berusaha menjadi ‘orang baik’ agar ‘sekitarnya selalu senang’. Meski nampaknya perilaku ini terlihat positif, namun jika dilakukan secara berlebihan dapat membuat seseorang jadi stres, tertekan secara emosional dan cemas berkepanjangan. 

Kalau suatu hal sudah terlalu berlebihan dan merusakkebahagiaan dan kesehatan diri sendiri, sebaiknya tidak lagi dilakukan ya?

Berikut rangkuman, dari karakteristik people pleaser.

Coba cek diri sendiri ya, apakah ada salah satu diantaranya menjadi ciri khas atau karakteristik kita. Masih ada banyak waktu untuk memperbaiki atau merubah menjadi lebih tepat lagi, yuk bisa yuk. 

Sulit mengatakan ‘tidak’

Salah satu tanda dari perilaku people pleaser yang sangat kentara adalah ia selalu mengatakan ‘ya’ kepada orang lain. Seperti yang dialami oleh salah satu klienku di atas, mereka memiliki kesulitan untuk mengatakan ‘tidak’ atau menolak permintaan orang lain. Walaupun ia sebenarnya memiliki cukup waktu untuk melakukan kegiatan yang ia senangi, ia akan mengabaikan itu untuk membantu orang lain. Walaupun ia tidak sedang ingin membantu, ia akan tetap membantu jika diminta oleh orang lain.

Hal ini dilakukannya agar tidak membuat orang lain kecewa terhadap dirinya dan selalu bisa menyenangkan orang lain sehingga dengan harapan orang lain juga akan selalu membuatnya senang dengan terus menjadi teman dan tidak memusuhinya.

Meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahannya

Hal ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki perilaku people pleaser agar orang lain tidak menilai buruk dirinya. Ia juga selalu merasa tidak enak dan overthinking ketika seseorang terlihat marah atau kesal, karena merasa atau berpikir apakah mereka seperti itu karena dirinya.

Menyadari kesalahan yang memang dibuat dan meminta maaf atas kesalahan itu adalah sikap yang baik dan terpuji. Sebaliknya, sebaiknya tidak dilakukan untuk kesalahan yang sudah jelas-jelas bukan karena kita ya.

Terlalu menggantungkan diri pada orang lain

Seperti yang klienku sebutkan di atas, dia menyadari seperti sangat menggantungkan dirinya terhadap penilaian dan sikap dari orang lain. Dan hal ini memang merupakan salah satu dari karakteristik atau ciri-ciri people pleaser. Seseorang dengan perilaku people pleaser ini membutuhkan orang lain agar selalu menyukai dirinya dan tidak memiliki alasan untuk menolaknya.

Adanya kekhawatiran mengalami penolakan dari orang lain mendorong seseorang untuk melakukan berbagai hal agar orang lain menykainya. Ia akan mencoba dan melakukan segala cara agar orang lain selalu membutuhkannya.

Mudah menyetujui siapa saja, cenderung menjadi follower

Karakteristik ini akan terlihat dengan jelas ketika berada di dalam satu kelompok, atau dalam satu kondisi dimana mengharuskan untuk mengeluarkan ide atau pendapat. Seseorang dengan perilaku people pleaser ini akan selalu menyetujui apa yang disampaikan dan dilakukan oleh orang lain, agar membuat orang lain senang. Tidak jarang yang dilakukannya sebenarnya bukan karena percaya dan yakin dengan pendapat orang lain, hanya saja ada sikap enggan atau malas memberikan pendapatnya.

Meyakini bahwa dirinya tidak lebih berharga dari orang lain 

Seseorang dengan perilaku people pleaser ini sering kali membutuhkan orang lain untuk memberikan atensi dan penilaian positif terhadap dirinya. Karena itu ia selalu berusaha membantu dan memberikan segala yang dibutuhkan oleh orang lain. Hal ini dilakukan agar orang lain memandang dirinya baik sehingga hal tersebut bisa meningkatkan harga dirinya. Ia juga memerlukan pujian dan penghargaan dari orang lain, untuk meyakini bahwa dirinya memang berharga. 

Adanya penyangkalan dan pengabaian terhadap perasaan sendiri 

Seseorang dengan perilaku people pleaser merasa tidak yakin dengan apa yang diinginkannya dan bagaimana caranya untuk jujur kepada diri sendiri. Perasaan ini yang kemudian memunculkan pengabaian ketika orang lain menyinggung perasaan pribadinya. Bukannya menegur dan mengatakan kepada orang lain telah menyakiti dirinya, ia malah mengatakan kepada diri sendiri untuk tidak terlalu dipikirkan dan menganggap orang lain sedang bercanda saja. 

Mengalami perubahan kepribadian

Ini merupakan karakteristik sekaligus menjadi dampak yang sangat negatif jika perilaku people pleaser ini tetap dilakukan. Seseorang dengan perilaku ini akan mengubah dirinya untuk menjadi sama dengan kebiasaan kelompoknya, walaupun itu bukanlah kebiasaan dan dirinya yang sesungguhnya. Perilaku ini dilakukan sebagai bentuk penyesuaian diri dan agar diterima oleh kelompok tertentu. Hal ini yang akan berdampak negatif yang mana bisa mengubah kepribadian seseorang dan tertentu akan mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupannya. 

Lalu bagaimana cara meminimalisir atau bahkan berhenti menjadi people pleaser?

Berikut 5 caranya ya,

Tingkatkan sikap asertif dan jujur 

Mulailah tegas pada diri sendiri dan orang lain. Jika tidak bisa memberikan bantuan yang mungkin di luar kemampuan atau malah merugikanmu, tolaklah dengan baik dan sampaikan dengan jelas apa yang membuatmu tidak bisa melakukannya. Dengan jujur terhadap pikiran dan perasaanmu, maka akan membuat orang lain paham keadaanmu, jadi mereka juga tidak akan memaksa kamu untuk menolongnya. 

Beri jeda pada diri untuk berpikir sebelum memberikan jawaban

Sebelum mengiyakan atau menolak permintaan orang lain sebaiknya kita diam sejenak dulu untuk berpikir. Jangan buru-buru memberikan jawaban. Amati dua hal ini ya,

1. Apakah tujuan kita memberikan bantuan untuk pamrih atau tidak. Jika memang begitu, sebaiknya tidak dilakukan karena apa yang kita lakukan tidak akan tulus. Ini berdampak negatif ketika apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan. 

2. Apakah orang lain hanya ingin memanfaatkan kita saja. Jangan sampai kita menjadi ‘budak’ untuk memenuhi ego mereka ya. 

Mulailah menentukan atau membuat batasan 

Seleksi pada kondisi-kondisi seperti apa kita akan menolak atau berkata ‘tidak’ pada permintaan orang lain. Buatlah batasan yang jelas, sehingga orang lain juga dapat memahaminya. Dengan begitu kita juga jadi tahu sejauh apa kita bisa menjadi penolongnya. 

Contohnya,

“maaf hari ini aku ga bisa nemenin kamu ya, besok baru aku free.” Atau, “aku bisa membantumu hari ini tapi hanya bisa sampai jam 7 malam ya, aku harus buat PR untuk dikumpulkan besok.”

Utamakan diri sendiri 

Ada waktu dimana kamu harus memikirkan dirimu lebih dulu baru orang lain. Mementingkan diri sendiri bukanlah egois, karena bagaimana kita membahagiakan orang lain jika diri sendiri belum bahagia. Ayo mulai berani untuk mengatakan ‘tidak’ pada hal-hal yang membuatmu tidak bahagia apalagi pada sesuatu atau seseorang yang menguras energimu terlalu banyak. Tentu, boleh-boleh saja membuat orang lain senang, tapi jangan sampai harus mengesampingkan atau mengorbankan kebahagiaan dan kesenangan diri sendiri baik dari waktu, tenaga, ataupun materi. 

Tidak perlu meminta maaf jika bukan kesalahan kita 

Meminta maaflah seperlunya, artinya minta maaf jika kamu memang berbuat salah. Meminta maaf untuk kesalahan orang lain artinya kamu membuat ia lepas tanggung jawabnya. Dan membuat mereka terlepas dari tanggung jawab malah tidak akan membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Ingat, jangan merasa bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh orang lain. 

Fakta-fakta berani untuk berkata “TIDAK”

Photo dari IG @serasaselaras.psi

______

Photo dari IG @serasaselaras.psi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *