Parenting,  Tumbuh Kembang

Manfaat Bermain Puzzle Bagi Anak

oleh: Ayu Andini, M.Psi., Psikolog

Puzzle. Mainan bongkar pasang. Siapa yang tidak tahu? Mungkin ada beberapa. Bahkan ada beberapa orang tua dari klienku tidak pernah membelikan anaknya puzzle apalagi memainkan bersama. Ketika saya mengatakan “tadi main puzzle 1 keping ma atau pa,” mereka akan mengerutkan dahi. “permainan yang mana itu tante?” HEHEHE. Wajar. Ada beberapa orang tua yang mungkin pernah melihat tapi belum tentu tahu namanya. Setelah dijelaskan apa itu puzzle baru deh angguk-angguk, “ohya tante, yang itu. Memang fungsinya apa sih permainan itu? Kan tinggal pasang-pasang aja.” katanya begitu. Masih wajar. Memang ya tinggal pasang-pasang aja, tapi jangan salah dari yang hanya pasang-pasang itu saja banyaak sekali manfaatnya untuk anak.

Tidak hanya asal pasang-pasang saja, bermain puzzle banyak sekali manfaatnya, karena itu sering kupakai sebagai salah satu metode dalam melakukan terapi kepada anak-anak. Tapi sebelum itu, kita kenalan lebih dalam dulu yuk mengenai si permainan “yang tinggal pasang-pasang saja” itu.

PUZZLE adalah permainan edukatif yaitu permainan menyusun potongan gambar yang biasanya terbuat dari papan kayu atau karton tebal berwujud asimetris, untuk memudahkan menyusun gambar menjadi utuh. Permainan ini sudah ada sejak abad ke-18 lho, dan masih eksis hingga sekarang, dan semakin berkembang jenis-jenis dan macamnya. Kenapa masih dipakai sampai sekarang karena terbukti DAPAT MENSTIMULASI DAN MENGOPTIMALKAN FUNGSI KEDUA BAGIAN OTAK.

Puzzle banyak macamnya.

Ada beberapa macam puzzle yang bisa dipakai sebagai salah satu sarana dalam melakukan metode pembelajaran melalui play therapy. Apa saja?

  1. Logic Puzzle. Merupakan puzzle yang menggunakan logika berpikir. Seperti permainan teka-teki silang, grid puzzle dan sudoku.
  2. Jigsaw Puzzle. Puzzle ini merupakan kepingan gambar. Puzzle inilah yang paling familiar dan yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Bahan puzzle ini umumnya dari kayu atau karton yang tebal. Contoh jigsaw puzzle adalah tangram, puzzle huruf angka, puzzle hewan, puzzle buah dan sayur, dan puzzle matematika.
  3. Combination Puzzle. Merupakan puzzle yang dapat diselesaikan melalui beberapa kombinasi yang berbeda. Puzzle ini biasanya terbuat dari plastik dan kayu. Contohnya, rubik cube dan chungky puzzle.
  4. Mechanical puzzle. Merupakan puzzle yang kepingnya saling berhubungan dan dapat membentuk suatu formasi. Contohnya, mainan lego dan tetris kubus.
  5. Construction Puzzle. Merupakan kumpulan potongan-potongan yang terpisah, yang dapat digabungkan kembali menjadi beberapa model. Yang paling umum adalah permainan blok-blok kayu berwarna warni. Mainan rakitan ini sesuai untuk anak yang suka bekerja dengan tangan, suka memecahkan puzzle, dan suka berimajinasi. Contohnya, mainan city blok dan mainan kayu rainbow block.

Kita bisa memilih jenis puzzle yang mana yang dipakai saat bermain dengan anak. Tergantung dari usia dan juga kebutuhan anak ya, dan juga tujuan yang diinginkan oleh orang tua untuk perkembangan anaknya. Dilihat dari kepingnya, puzzle juga memiliki banyak macamnya. Ada puzzle 1 keping, 2 keping sampai 1000 keping bahkan ada. Pemilihan jumlah keping puzzle juga harus diperhatikan sesuai usia anak ya.

Manfaat Bermain Puzzle bagi Anak.

Melatih kemampuan kognitif. Dengan bermain puzzle anak mampu mengembangkan logika berpikirnya. Anak menjadi terlatih dalam melihat setiap kepingan yang ada, kemudian mencari potongan bentuk, warna dan gambar-gambar yang sesuai, kemudian menyatukannya menjadi satu benda yang utuh.

Melatih memecahkan masalah. Anak terlatih mencari menentukan strategi yang tepat dan mencari-mencari kepingan puzzle yang pas untuk menyatukannya dengan kepingan yang lain sehingga menjadikan bentuk yang sempurna. Anak juga dilatih berpikir bagaimana dan dimana ia harus memasang satu kepingan kemudian kepingan yang lain. Puzzle merupakan permainan yang memiliki tujuan yang jelas, yaitu menyatukan setiap kepingan dengan benar dan tepat sehingga menjadikan satu bentuk yang sempurna dan utuh, atau berhasil mencocokan bentuk dan warna, atau melengkapi teka teki silang seluruhnya. Anak diminta kreatif dalam mencari langkah-langkah yang tepat agar tujuan dari permainan puzzle dapat tercapai.

Melatih fokus dan konsentrasi. Dengan bermain puzzle anak akan mampu lebih tenang, fokus dan konsentrasi dalam rentang yang cukup panjang dalam menyelesaikan puzzle tersebut. Untuk mengukur rentang konsentrasi anak, dapat dilakukan dengan 2-5 menit x usia mereka. Misalnya, anak usia 3 tahun, maka rentang konsentrasinya diantara 6-15 menit lamanya. Perhatikan, tingkat kesulitan puzzle harus diperhatikan sesuai usianya. Jika lebih sulit, maka anak akan mudah menyerah dan tidak ingin bermain lagi.

Melatih kesabaran. Menyusun puzzle membutuhkan waktu. Dengan begitu anak akan lebih bersabar dalam menyelesaikan puzze tersebut.

Menambah kosakata dan identifikasi anak. Bermain puzzle yang memiliki tema tertentu membuat anak memahami lebih banyak kosakata. Misalnya, anak bercerita mengenai puzzle pemandangan yang telah diselesaikannya. Ada hewan apa saja, tumbuhan apa saja, bagaimana suara hewan dalam gambar dll. Hal ini juga akan mengajarkan anak mengenai banyak identifikasi benda-benda sekitar, seperti warna, bentuk, nama-nama hewan, buah, sayur, ikan, kendaraan dll.

Mengasah memori dan daya ingat. Untuk menyelesaikan satu puzzle sampai utuh, anak harus ingat dengan instruksi yang diberikan diawal dan juga harus ingat dengan kepingan-kepingan puzzle yang harus disatukan. Permainan ini akan melatih agar anak mengingat kembali potongan gambar, pola, atau kata-kata agar bisa sesuai satu dengan lainnya.

Stimulasi kemampuan motorik halus yaitu tangan dan jari-jari. Dalam memasang puzzle, anak diminta untuk mengambil kepingan, menekan, memutar atau membalik kepingan supaya pas dengan kepingan yang lain atau dengan papannya. Selain itu juga anak diminta untuk memindahkan potongan besar dan kecil, melingkari huruf, atau memasukkan gambar ke lubang yang sesuai. Hal ini akan melatih motorik halusnya supaya berkembang sesuai usianya. Jika terlatih dengan baik maka kedepannya dapat memudahkan anak saat belajar menulis, menggambar dan bermain musik.

Melatih koordinasi tangan dan mata. Dalam bermain puzzle anak harus melakukan kontak mata dengan baik dalam melihat kepingan-kepingan puzzle atau gambar-gambar yang sesuai. Melalui permainan puzzle ini, kemampuan anak akan terasah dalam menghubungkan apa yang dilihat oleh mata dan bagaimana tangan berespon terhadap hal itu.

Melatih keterampilan sosial. Ada jenis puzzle yang membutuhkan kerja sama untuk mengatasi kesulitan sehingga dapat membentuk gambar secara utuh. Dengan begitu anak belajar bekerja sama dengan orang tua dan juga teman sebayanya. Anak dapat belajar berkomunikasi, bertanya, berdiskusi hingga belajar bersabar menunggu gilirannya dalam satu kelompok.

Meningkatkan rasa percaya diri. Tujuan bermain puzzle adalah berhasil memasang kepingan-kepingan menjadi bentuk yang utuh. Ketika sudah berhasil, anak akan senang dan bangga dengan kemampuannya, sehingga akan membuatnya lebih percaya diri untuk kedepannya saat menghadapi masalah.

Mengasah keterampilan visuospasial. Kemampuan ini merupakan suatu skill yang berhubungan dengan persepsi dan hubungan-hubungan ruang. Kemampuan ini dapat terasah dengan bermain puzzle karena anak diminta untuk mengenal dan memahami bentuk, ukuran, warna serta ruang.

Menciptakan quality time antara orang tua dan anak. Orang tua dan anak dapat menikmati waktu bersama dengan bermain puzzle. Akan membuat bonding semakin tebal dan hubungan anak orang tua juga menjadi lebih hangat.

Pilihan puzzle anak berdasarkan usia.

Usia 0-2 tahun. Pada usia ini, puzzle yang diberikan untuk melatih koordinasi visual dan tangan. Bisa diberikan puzzle jumbo yang keping-kepingnya besar. Puzzle 1 keping hingga 2 keping bisa diberikan untuk melatih anak.

Usia 2-3 tahun. Pada usia ini kemampuan visual meningkat, anak juga lebih mampu mengenali objek. Puzzle yang diberikan bisa dipilih sesuai kesukaan anak, seperti kartun yang disukainya. Puzzle 8 – 20 keping dapat diberikan kepada anak di usia ini. Pada usia 3 tahun, anak dapat diberikan puzzle yang berukuran kecil.

Usia 3-5 tahun. Pada usia ini anak lebih suka permainan yang menantang, dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi. Anak sudah lebih mampu diberikan puzzle dengan tingkat kesulitan yang semakin sulit. Pemahaman anak juga sudah semakin meningkat sehingga dapat diberikan instruksi terlebih dahulu kepada anak atau diberikan contoh di awal.

Usia 6-8 tahun. Anak dapat diberikan berbagai bentuk, warna, objek untuk mengasah problem solvingnya. Puzzle 260 – 500 keping dapat diberikan kepada anak, bisa juga dibagi beberapa kelompok sehingga anak juga dapat melatih kemampuan kerja samanya. Saat anak sudah memasuki usia sekolah, orang tua bisa mengenalkannya dengan jenis puzzle yang ukurannya lebih kecil, tiga dimensi, atau variasi puzzle lain sesuai minat anak.

Tips untuk orang tua saat menemani anak bermain puzzle:

  • Pilih puzzle sesuai usia. Pertama kali mengenalkan puzzle harus benar-benar diperhitungkan sesuai usia anak. Pilihlah puzzle dengan gambar yang sederhana, dan mudah ditangkap oleh anak. Agar anak lebih percaya diri untuk bisa menyelesaikannya.
  • Pilih subjek yang disukai anak. Misalnya puzzle kartun, warna-warna yang disukai oleh anak dan juga tema-tema yang sedang diminati oleh anak. Dengan demikian anak akan lebih termotivasi dan memiliki minat yang tinggi untuk menyelesaikan puzzle tersebut.
  • Atur waktu yang tepat. Pilihlah waktu yang pas, pada saat mood anak untuk belajar juga baik dan tepat. Perhatikan jam tidur anak, sehingga moodnya juga bisa terjaga. Selain itu, permainan yang mengasah otak idealnya dilakukan dengan durasi 30-40 menit setiap harinya. Jika terlalu lama, anak akan mudah bosan, jenuh kemudian jadi enggan bermain lagi dikemudian hari.
  • Berikan contoh. Jangan paksa anak untuk menyelesaikan puzzle yang orang tua berikan secara mandiri. Awali dengan memberikan instruksi sederhana kepada anak, sebelum mulai memasang puzzle. Jika anak mengalami kesulitan. bantu dengan berikan contoh dalam menyelesaikan. Dengan begitu anak akan terlatih mendengar perintah dan juga melihat apa yang seharusnya dilakukan dari contoh yang anda lakukan.
  • Berikan pujian. Berikan apresiasi dan pujian tepat pada saat anak selesai memasang puzzle. Hal itu akan membuat anak bangga terhadap kemampuan yang dimilikinya dan agar kembali bersemangat untuk bermain puzzle di kemudian hari.
  • Beri dorongan dan semangat. Ketika anak mengalami kesulitan, dorong anak agar tetap mencoba untuk menyelesaikan puzzle tersebut. Berikan motivasi agar anak tidak mudah putus asa.

Semoga informasi ini bermanfaat dan memberi inspirasi kepada orang tua dalam memilih mainan yang edukatif untuk anak.

Selamat mencoba mam dan pap, semangat untuk perkembangan si kecil ya.

-aa-

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *