Friendship,  Note to Self,  Titik Terang

Kenali berbagai ‘red flags’ dalam Pertemanan

Setiap manusia yang bernafas pasti membutuhkan orang lain sebagai teman, sahabat atau bahkan keluarga baginya. Orang lain sebagai teman atau sahabat berfungsi sebagai penyemangat bahkan penolong kita dalam menjalani proses kehidupan ini.

Tentu, kita ingin memiliki hubungan interpersonal yang baik. Tentu, kita ingin memiliki teman dan sahabat yang selalu ada di saat senang maupun sedih, yang selalu bersedia memberikan pandangan-pandangan barunya untuk solusi atas permasalahan yang sedang kita hadapi. Atau bahkan hanya sekedar memberikan dukungan kepada kita dengan mendengarkan keluh kesah kita kepadanya. Tentu juga kita akan sangat bersyukur jika memiliki teman atau sahabat yang selalu memberikan dukungan kepada kita untuk bertumbuh dan maju ke depan meraih kesuksesan kita. Ia juga ada di sana saat kita berbahagia dengan pencapaian yang kita miliki.

Namun sayangnya, tidak jarang, tidak sedikit dari kita malah memiliki teman atau sahabat yang berkebalikan dengan di atas. Ternyata teman dan sahabat yang kita miliki tidak pas atau malah memberi masalah kepada kita.

Bukan hubungan yang sehat yang dirasakan dan didapatkan, tapi malah hubungan toxic yang membuat diri sendiri kewalahan hingga frustrasi dalam menjalaninya. Ada pula yang sampai sakit secara fisik dan mental karena terlibat di dalam lingkaran hubungan pertemanan yang toxic atau beracun ini.

Lebih cepat di atasi lebih baik,” begitu kata pepatah. Maka dari itu harus segera juga dikenali ’red flags’ atau warning atau tanda-tanda dari pertemanan yang toxic atau tidak menguntungkan ini. Agar kita lebih cepat awas dan melepaskan diri dari lingkaran hubungan yang tidak sehat itu.

🚩🚩🚩

Red Flags dalam Pertemanan

Dia hanya memikirkan/mementingkan diri sendiri

Teman yang seperti ini hanya ingin di dengarkan dan diberikan solusi saat ia kesusahan. Ia menuntut kita untuk selalu ada untuk mendengarkan dan memberikan pendapat mengenai keluh kesahnya. Namun ketika kita membutuhkannya, ingin didengarkan atau meminta solusi atas permasalahan yang kita dihadapi, ia akan memiliki seribu alasan untuk menolak. Sebagai teman dia tidak selalu ada di waktu-waktu kita membutuhkannya. Kurangnya simpati dan empati juga menjadi alasan kenapa ia tidak bisa memberikan waktu dan tenaganya untuk hanya mendengarkan keluh kesah kita, apalagi bersusah-susah mencarikan solusi dan memberikan pandangan baru untuk kita. Teman seperti ini tidak akan pernah bisa diandalkan dan tidak bisa kita percaya untuk menjadi bagian atau teman berkeluh kesah atas masalah yang kita hadapi.

Judging, menganggap ia yang paling tahu mengenai diri kita

Tipe teman yang seperti ini memperlihatkan bahwa ia yang paling tahu diri kita melebihi diri kita sendiri. Ia dengan gampang mengatakan bahwa kita A,B, atau C, hanya dengan satu perilaku atau satu ucapan dari kita saja. Walau kita bukanlah seperti yang ia katakan, namun lama-lama karena terlalu sering dinilai seperti itu kita jadi percaya bahwa kita memang seperti yang dikatakannya. Lama-kelamaan kita bisa jadi berperilaku sama persis seperti kata-kata dia. Hal ini membuat kita yang tidak menjadi apa adanya lagi, hingga kepercayaan terhadap diri sendiri menjadi turun atau rendah.

Kita tidak bisa menjadi diri sendiri

Tipe teman seperti ini juga secara tidak sadar menuntut dan merubah kita menjadi orang lain, ia mengubah penampilan hingga kepribadian kita menjadi seseorang yang lain sesuai yang diinginkannya. Kita jadi berubah menjadi seseorang yang sebenarnya bukan kita, padahal tidak seharusnya ia merubah kita, disaat tidak ada hal-hal buruk dari kita yang seharusnya dirubah. Hal ini membuat kita kebingungan mengenai diri sendiri, kita jadi tidak mengenal siapa diri kita. Ia tidak bisa menerima kita yang apa adanya, inipun akan mempengaruhi dan membuat kita tidak menjadi diri kita sendiri.

Memberi pengaruh buruk untuk hidup kita

Pertemanan yang sehat akan memberikan kita pengaruh yang baik dan menginspirasi kita untuk lebih maju dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun jika sebaliknya, maka ini merupakan red flags yang perlu segera kita waspadai. Daripada mengajak kita beribadah bersama-sama, atau mengerjakan tugas bersama-sama, ia lebih sering mengajak kita pergi malam pulang pagi. Ia juga bisa jadi mengenalkan dan menjerumuskan kita pada dunia narkoba, minum-minuman keras hingga seks bebas. Hal ini tentu tidak sehat untuk fisik kita dan kitapun tidak akan bisa maju untuk meraih kesuksesan yang kita harapkan.

Iri terhadap kesuksesan dan kebahagiaan yang kita miliki

Tipe teman seperti ini biasanya akan menjauhi atau malah memusuhi kita karena kesuksesan dan kebahagiaan yang kita sedang raih dan miliki. Ia sangat tidak senang melihat kita tertawa dan bahagia dan mencari cara untuk menjatuhkan kita kembali agar kita tidak pernah lebih maju darinya. Ketika kita memiliki kabar baik untuk dibagikan, dia akan mengurangi kebahagiaan kita dengan hanya fokus kepada pencapaian yang ia miliki. Hal ini dilakukan karena mereka tidak menyukai bahwa kita lebih disorot dibandingkan dirinya. Tidak jarang kita jadi segan atau sungkan memperlihatkan kebahagiaan yang kita rasakan, takut jika dia melihatnya dia akan marah kemudian menjauhi kita.

Menganggap kita saingannya

Hampir mirip dengan penjelasan di atas, teman yang seperti ini akan selalu mencari cara dan jalan untuk menghambat kita agar tidak lebih sukses atau lebih maju darinya. Contoh nyata dari perilakunya adalah bisa jadi dia merahasiakan hal-hal yang ia ketahui mengenai tugas-tugas sekolah atau kantor kepada kita. Hal-hal yang menguntungkan akan ia keep sendiri tanpa melibatkan kita. Dia bisa jadi sangat terlihat baik di depan kita karena menganggap kita masih bermanfaat untuknya, namun juga akan menusuk kita dari belakang agar kita tidak lebih baik darinya.

Posesif dalam pertemanan – mengekang

Ia tidak suka saat kita memiliki teman lain selain dia. Dia akan cemburu dan marah ketika kita menolak ajakannya untuk bertemu karena kita sudah lebih dulu mempunyai janji dengan orang lain. Namun, walaupun dia tidak suka kita memiliki teman yang lain, itu tidak berlaku untuknya. Sebaliknya, ia boleh bebas berteman dengan siapa saja selain dengan kita.

Lelah secara fisik dan mental saat bersamanya

Ada perasaan gelisah, tidak nyaman, tidak leluasa saat bersamanya. Membuat kita juga tidak menikmati hal-hal yang harus di nikmati saat itu karena ia ada di dekat kita. Adanya tuntutan-tuntutan yang tidak realistis darinya membuat kita berusaha sangat keras melakukan sesuatu, sehingga ini akan menimbulkan kelelahan secara fisik dan mental.

Lalu, apa yang harus dilakukan dalam menghadapi teman toxic ini? Check it out ya 🙂

Komunikasikan perasaan dan pikiranmu dengan tegas dan baik

Bicarakan dengan santai mengenai perasaan dan pikiranmu mengenai perilaku atau kata-kata darinya yang membuatmu tidak nyaman. Sampaikan dengan tegas namun juga dengan sopan dan dengan kepala yang dingin dan hangat.

Jika ia teman yang baik untukmu, ia akan meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki sesuatu yang salah darinya yang telah menyakitimu karena ia yang tidak begitu sadar telah melakukannya. Namun, jika ia memang orang yang toxic, ia akan membela dirinya atas apa yang dilakukannya dan tidak mendengarkan dengan penuh empati dan hati yang terbuka mengenai ketidaknyamananmu. Saat inilah waktumu untuk melepaskan teman seperti ini. Kamu berhak mendapatkan kenyamanan bahkan dalam pertemanan sekalipun.

Buat batasan yang tegas dan jelas

Jelaskan mengenai batasan yang kamu miliki, mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh orang lain terhadapmu. Misalnya komunikasikan dengan jelas mengenai kebutuhan-kebutuhanmu juga, seperti memiliki teman yang berbeda, menikmati hari libur bersama keluarga atau bahkan juga memiliki hak yang sama untuk di dengarkan dalam bercerita dan membagi keluh kesah dengannya.

Lepaskan pertemanan jika memang tak lagi ada harapan

Ada pertemanan yang bisa kita ubah menjadi hubungan yang jauh lebih baik dari sebelumnya setelah kita mengkomunikasikan perasaan, pikiran dan juga menyampaikan batasan kita dengan jelas kepada teman kita itu. Namun, jika ia tetap defensif dan merasa bahwa tidak ada yang salah dengan perilakunya selama ini terhadap kita, maka itu adalah alasan yang cukup jelas dan tepat untuk menjauhi dan melepaskan teman seperti itu.

Ingat, kamu layak memiliki hubungan pertemanan yang sehat, bahagia dan memberimu pengaruh positif untuk kelangsungan hidupmu yang jauh lebih baik dan menjadikanmu pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika temanmu yang sekarang tidak memberikanmu hal-hal itu maka berlapang dadalah untuk membiarkannya pergi.

Kebahagiaan dan kesehatan mental serta fisikmu jauh lebih berharga untuk kamu jaga daripada menjaga pertemanan yang sudah pasti tidak akan memberikanmu apa-apa.

-aa-

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *