Marriage Care,  Note to Self

Kehidupan Pernikahan Ibarat Menanam Pohon

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa dunia pernikahan adalah dunia yang menakutkan. Entah karena ditakut-takuti oleh yang katanya sudah lebih senior mencemplungkan dirinya ke dunia itu, atau memang mereka melihat dari kehidupan pernikahan orang-orang yang dikenalnya, bisa orang tuanya, atau bisa juga pernikahan teman-temannya.

Tidak sedikit juga yang jadinya takut menikah, banyak juga yang ingin sendiri saja selama hidupnya. Memang banyak alasannya kenapa seseorang memilih untuk tidak menikah selama hidupnya, bukan hanya karena melihat pernikahan yang lain yang kurang mulus, bisa jadi karena memang pilihan hidupnya. Tapi menurutku, yang pasti dari keduanya adalah ada ketidak percayaan terhadap diri sendiri dan kepada orang lain dalam menjalani hubungan, apalagi untuk berkomitmen dalam pernikahan.

Ada juga jenis yang lain, walau belum 100% percaya diri untuk menikah, tetap saja dilakukan. Surprisingly, ada yang berhasil tapi tidak sedikit juga yang gagal.

Hal ini yang kudapatkan selama melihat dan menemukan beberapa kasus yang ada hubungannya dengan pernikahan.

“Menikahlah dikala siap.” Siap disini artinya, menikahlah dikala semua luka masa lalu telah dapat kita atasi dengan baik. Ya, luka masa lalu. Banyak orang memiliki masa lalu yang tak bercela, mulus, bahkan sangat penuh kenangan baik, menyenangkan dan membahagiakan. Tidak ada rasa sakit dalam menjalani masa kecil hingga dewasanya, semuanya tersedia, baik kasih sayang, materi, segalanya. Namun, ada juga beberapa orang tidak seberuntung itu. Mereka menghadapi permasalahan orang tua yang tak terselesaikan. Mereka berada di tengah-tengah kesulitan. Belum lagi luka-luka yang seharusnya tak pernah ada tapi nyatanya sering muncul. Orang tua yang melakukan kekerasan, yang tidak diperdulikan, yang merasa dirinya selalu dibanding-bandingkan dengan yang lain, bahkan masih banyak lagi. Luka-luka itu pasti akan selalu ada seumur hidup kita. Ketahuilah, ia tidak akan langsung mengering dengan mudah kemudian lenyap menghilang.

Ada yang bilang, menikahlah saat semua luka masa lalumu sudah terselesaikan. Sayangnya, luka itu tidak akan pernah benar-benar hilang, bahkan saat kita membakar barang yang kita bencipun, akan menyisakan debu yang juga masih sangat membuat kotor, kemanapun kita membuangnya.

Luka masa lalu kita tidak akan semudah itu hilang dan lenyap, lalu kapan kita bisa menikah kalau menunggunya sampai benar-benar tersembuhkan? Kabar buruknya, dan yang memang harus kita terima adalah luka itu memang tidak bisa dihapuskan dalam satu waktu, bahkan ia akan selalu ada menjadi bagian dari diri kita seumur hidup. Tapi kabar baiknya adalah, kita bisa mencari cara dalam mengatasinya. Sehingga walaupun dia tetap ada dan menjadi bagian kita, ia tidak akan dapat sangat sangat mempengaruhi kita lagi seperti dulu. Luka itu tidak lagi memiliki kekuatan yang sama seperti awal kemuncullannya.

Menikahlah dikala siap, bukan berarti kita baru boleh menikah disaat semua luka telah kering sembuh. Nyatanya (lagi-lagi kukatakan, bukan untuk menakuti), luka tidak akan semudah itu hilang lenyap. Siap artinya kita yang sudah mengakui luka itu, berdamai dengannya, dan menerimanya sebagai bagian diri kita yang membentuk kita menjadi kita yang sekarang. Syukurilah keberadaannya, maka kita akan dapat banyak makna positif dan manfaat darinya. 

Lalu, menikahlah!

Sudah? Cukup sampai disitu? Belum, ada lagi lanjutannya.

Dalam kenyataannya, dunia pernikahan memang berat, tapi bukan berarti sangat kelam dan menakutkan. Dunia pernikahan memang penuh up and down nya tapi bukan berarti tidak bisa dilalui dengan baik.

Kalau kita tahu dengan baik bagaimana memulainya, kemudian menjalaninya dengan benar, maka semuanya pasti juga akan baik-baik saja. Memang, dalam perjalanannya, kita akan menemukan banyak hal yang mengejutkan, karena waktunya yang akan sangat panjang. Tapi, aku yakin kita pasti bisa menghadapinya, karena kita yang sudah tahu caranya dan mampu saling bekerja sama untuk tetap menyatukan ‘aku dan kamu’ menjadi kita.

Menjalani kehidupan pernikahan sama seperti menanam pohon berkayu yang memiliki bunga yang indah dan buah-buah yang manis. Jika kita melakukan apa saja yang seharusnya dengan benar maka akan selalu dapat melihat bunga yang indah itu dan menikmati buah-buahnya yang manis dan menyehatkan.

#1 Memilih bibit yang baik, benar dan tepat

Sebelum kata “yes, i do” terlontar dari bibir, coba renungkan lagi apa kita sudah menjadi bibit yang tepat untuk pertumbuhan yang baik di dunia pernikahan nanti. Apa kita sudah benar-benar siap? Apakah kita sudah benar-benar mampu mengatasi luka-luka kita. Supaya tidak ada alasan nantinya yang tercetus dari bibir kita. “aku memang begini, ya mau gimana lagi?” atau “semua ini karena orang tuaku, jadinya aku begini,” atau blabla blabla lainnya.

Luka kita dimasa lalu, memang bisa muncul kapan saja, apalagi jika ada pemicunya. Tapi yang terpenting adalah apakah kita sudah siap menghadapinya lagi dan lagi? Apakah kita sudah benar-benar punya jurus yang jitu agar kehadirannya tidak begitu sangat mempengaruhi kita? Jawaban dari pertanyaan ini sangat penting. Dengan begitu, kita bisa siap menjadi bibit yang baik dan tepat agar pertumbuhan pernikahan kita juga jadi lebih kuat.

Selain kita, renungkan dan pikirkan juga pasangan kita ya! Apakah kita sudah yakin bahwa ia adalah bibir yang benar, tepat dan baik? Bibit yang baik sudah pasti akan lebih mampu mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya, bahkan juga mengatasi luka masa lalunya yang akan terus menghantui perjalanan pernikahan kita. Jangan lupa juga lihat hal-hal ini, apakah dia pribadi yang berpikirkan maju? Apakah dia terbuka dengan kita? Apakah dia juga sudah bisa berdamai dengan masa lalunya? Dengan luka-lukanya? Yang tidak kalah pentingnya, apakah dia bisa berkomunikasi dengan baik.

Bibit yang baik, benar dan tepat adalah permulaan langkahmu untuk mencemplungkan dirimu ke dunia pernikahan. Kalau satu step ini sudah oke, menikahlah!

#2 Memilih tanah yang subur yang sesuai dengan bibitnya

Dunia pernikahan akan lebih menyenangkan, tipis hambatan kalau kita pun sebagai bibitnya berada di tanah yang subur. Di tanah yang tepat. Pijakan kita harus kuat. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kecocokan kita. pertanyaan yang harus kita komunikasikan dengan pasangan, setelah menikah akan tinggal dimana? Apakah tinggal sendiri? Kalau iya, apakah ngontrak atau beli cash? Atau KPR saja? Siapakah yang akan membayar, apa suami saja? Istri saja? Atau patungan? Kalau tidak, apakah tinggal dengan mertua? Apa saja yang harus disiapkan ketika tinggal dengan mertua? Apalagi juga tinggal dengan ipar.

Tanah atau pijakan sangat penting karena itulah landasan ia bisa bertumbuh dengan kuat dan menghasilkan bunga indah dan buah yang manis nantinya, yang bisa ia bagikan juga kepada orang lain.

Dalam rumah tangga, pijakan atau tanah ini maksudnya landasan kita sebagai suami istri, mengenai kebutuhan pokok kita, tempat tinggal, makan sehari-hari, termasuk di dalamnya fisik, mental, ekonomi, sosial dan juga spiritual. Hal-hal itu penting dikomunikasikan kepada pasangan. Jangan sungkan mengkomunikaskan mengenai keuangan. Uang istri untuk kebutuhan apa saja, uang suami untuk mengcover apa saja. Bagaimana dengan tabungan masa depan, uang untuk promil, untuk masa kehamilan, untuk lahiran sampai nanti tabungan untuk sekolah anak-anak. Berapa perbulan memberikan kepada mertua. Kalau tinggal dengan mertua, kebutuhan apa saja yang harus kita cover.

Kebutuhan-kebutuhan pokok harus di sepakati dengan kuat dan juga sama-sama memberikan kebahagiaan antara satu dengan yang lain. Itulah landasan yang membuat kita bisa terus berjalan di jalannya pernikahan.

Kesekapatan diawal mengenai tanah yang subur dan tepat ini sangat penting. Jangan sungkan atau menunda-nunda membicarakannya dengan pasangan. Ingat, kenyamanan, ketenangan, keamanan bahkan kebahagiaan kita, kitalah yang menentukan.

#3 Disiram setiap hari

Disiram setiap hari, apalagi di waktu-waktu atau musim gersang, sangat penting agar pohon yang kita tanam dapat tumbuh dan hidup semestinya. Dapat juga melakukan fotosintesis untuk kelangsungan hidupnya, dengan begitu juga bisa membagi okseigennya dengan makhluk hidup lainnya.

Disiram setiap hari di dunia pernikahan hampir sama dengan itu. kata kuncinya adalah YAKINKAN PASANGAN BAHWA KITA SELALU ADA DENGAN KASIH SAYANG YANG KITA MILIKI UNTUKNYA.

Coba bayangkan, saat kita tinggal di rumah yang sama dengan pasangan tapi tidak pernah saling sapa, tidak pernah bercanda, apalagi tidak pernah melakukan cuddling, bermesraan. Apakah rumah akan terasa menyenangkan? Komunikasi dalam hubungan sangat penting, itu cara yang bisa kita gunakan untuk menunjukkan kepada pasangan bahwa kita menyayanginya dengan tulus dan meyakinkannya bahwa kita selalu ada di sisinya dalam keadaan apapun.

Komunikasi disini memang bukan dengan hanya mengatakannya saja. Kita juga bisa menunjukkan dengan perbuatan-perbuatan yang paling sederhana sekalipun untuk menunjukkannya. Yakinkan pada pasangan, walau tidak setiap saat, kita akan selalu menjadi orang pertama, orang nomor satu yang berada di sampingnya disaat segala cuaca kehidupannya.

Walaupun tidak bercanda setiap saat, tidak terus-terusan mengobrol seharian, walaupun tidak bermesraan setiap detik, tapi yakinkan dia kalau raga dan jiwa kita tidak pernah sangat jauh apalagi berpisah dengannya.

Dengan disiram setiap hari, kita dan pasangan akan menjadi lebih tenang dan aman. Apalagi disiramnya dengan komunikasi positif, kasih sayang yang tulus dan kepercayaan yang tinggi terhadap satu sama lain.

#4 Diberi pupuk dalam waktu yang berkala

Selain disiram setiap hari, jangan lupa juga dipupuk dalam waktu berkala. Apa maksudnya?

Dalam dunia pernikahan, sudah pasti dijalani oleh dua orang sebagai suami dan istri. Sebagai pasangan. Tapi, walaupun kita telah disatukan dalam satu ikatan suami dan istri, jangan lupa bahwa kita adalah 2 individu yang memiliki minat, hobi, passion yang berbeda.

Sediakan waktu untuk diri sendiri melakukan apapun yang kita sukai, berikan ruang untuk diri kita dalam waktu-waktu tertentu untuk instropeksi diri dan memenuhkan isi kita sebagai seorang individu. Begitupun sebaliknya, berikan waktu dan tempat untuk pasangan kita memenuhkan dirinya sendiri dengan hal-hal yang diinginkannya, disukainya atau yang menjadi passionnya. Selagi itu baik, kenapa harus dilarang?

Ingat, pemenuhan masing-masing dari kita adalah pemenuhan untuk kita yang menjadi satu pasangan dalam pernikahan. Kita harus memenuhkan diri kita sendiri dulu untuk bisa juga memenuhkan yang lain bukan?

Tidak perlu khawatir atau merasa kita dan pasangan tidak lagi menjadi satu karena memerlukan waktu sendiri-sendiri untuk bertumbuh. Ketika kita disiram setiap hari dengan kasih sayang yang tulus dan kepercayaan, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Catatan: pembagian waktu untuk sendiri sebagai individu harus seimbang dengan waktu kita bersama pasangan, bersama keluarga. Makanya judul diatas diberi pupuknya secara berkala. Tidak bisa setiap hari waktu kita habiskan hanya untuk diri sendiri dan lupa bahwa istri harus melayani suami. Atau sebaliknya, lebih banyak waktu suami dihabiskan melakukan kesukaannya trus lupa harus melayani istri.

#5 Diletakkan sesuai kebutuhannya, perlu sinar matahari yang banyak atau di tempat yang sejuk.

Hal ini hampir sama dengan tanah yang subur dan tepat, tapi dalam poin ini aku akan hubungkan dengan perbedaan cuaca yang ada.

Sekali lagi, walau kita telah disatukan menjadi satu pasangan, jangan lupa bahwa kita juga adalah dua individu yang memiliki perbedaa. Tidak menutup kemungkinan bahwa perbedaan ini akan menjadi sama antara suami dan istri, tapi dengan begitu harus ada pengorbanan yang sama yang dilakukan oleh istri dan suaminya. Nanti akan kubahas di artikel selanjutnya.

Seperti cuaca yang beragam, kita sebagai individu juga memiliki keberagaman yang tidak pasti selalu sama dengan yang lainnya, termasuk dengan pasangan. Bisa jadi karakteristik kepribadiannya yang berbeda, bisa jadi kebiasaan yang berbeda, dan bisa juga love language yang berbeda. Apa itu love language? Bisa dibaca diartikel sebelumnya, tentang review buku the 5 language of love ya.

Nah, sebagai pasangan kita diwajibkan memahami bagaimana perbedaan kita dengan pasangan, dilihat dari hal-hal di atas. Pemahaman mengenai pasangan ini sangat penting, agar kita juga bisa mencari cara yang tepat untuk bertingkah laku atau menunjukkan kasih sayang kita dengan tepat kepada pasangan. Apa yang harus kita lakukan saat ia kesal atau ngambek atau uring-uringan? Apa dia lebih suka diberikan waktu sendiri, atau harus dipeluk. Saat ia kesusahan atau kelelahan mengurus pekerjaan rumah, apa yang harus dilakukan? Apa dia lebih suka dipijit atau lebih suka di ambil alih semua kerjaannya dan berikan waktu untuknya tidur?

Love language atau bahasa cinta dari satu orang dengan yang lainnya juga pasti berbeda. Beruntung saat memiliki pasangan yang memiliki bahasa cinta yang sama, kita dan pasangan akan dengan mudah saling memahami. Tapi tidak sedikit juga yang memiliki bahasa cinta yang berbeda. Ini yang perlu usaha sedikit lebih keras lagi untuk mencari tahu kemudian menerapkannya. Tidak sebegitu sulitnya, tapi juga memang butuh usaha. Untuk kebahagiaan kita dengan pasangan dalam menjalani rumah tangga, apa sih yang ga?

Ada bibit yang cocok dengan cuaca dingin, atau juga yang tidak. Ada yang harus dibawah sinar matahari langsung, atau juga yang harus dilindungi dengan sesuatu, sehingga sinar matahari tidak langsung menerpa tubuhnya. Begitu juga dengan rumah tangga. Ketika salah satu dari kita sedang ingin menangis bahkan teriak, pasangan harus memberi ruang, bukan malah menjudging apalagi menyalahkan. Kalau yang satunya ingin melakukan sesuatu dan tidak ingin diganggu dalam waktu tertentu, maka diberi kesempatan, bukan malah membuat drama yang tidak perlu apalagi sampai curiga.

Kalau salah satu bahasa cintanya adalah diberikan pujian atas apa yang dilakukannya maka lakukan, berikan pujian untuk mengapresiasi usaha dan keberhasilannya. Kalau bahasa cintanya adalah ingin dibantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah, lakukan. Bantu ia menyapu sebelum ia mengepel. Bantu dia mengupas bawang sebelum ia menumis sayur. Just do it, tapi sebelumnya harus dicari tahu dulu dan dipahami apa yang benar-benar diinginkan oleh pasangan ya. Apa bahasa cintanya. Dan kita sebagai pasangan juga, aktif komunikasikan apa bahasa cinta kita, apa yang kita inginkan atau butuhkan untuk dilakukan pasangan kita.

Dengan tahu karakter bibitnya, kita juga akan tahu menempatkan ia sesuai kebutuhannya. Begitu juga kita sebagai dua individu yang menjadi satu, harus masing-masing tahu cara menempatkan pasangan kita sesuai kebutuhannya. Kalau sudah dilakukan, alhasil dunia pernikahan tidak akan semenakutkan seperti yang dikatakan orang-orang di luar sana.

#6 Bersihkan gulma dan hama yang mengganggu

Salah satu penyebab dari gagalnya pohon bertumbuh apalagi menghasilkan bunga yang indah dan buah yang manis adalah karena adanya gulma atau hama disekitarnya, atau bisa juga yang membelit tubuhnya. Jika tidak dibersihkan maka akan membuat si pohon mati. Boro-boro memberi dampak positif untuk orang lain, menghasilkan untuk dirinya sendiri saja tidak bisa.

Gulma dan hama di dalam dunia pernikahan juga ada, bahkan banyak sekali jenisnya. Mulai dari salah satu antar pasangan malah merasa insecure dengan keberhasilan atau jabatan pasangannya, orang tua atau keluarga besar yang selalu ikut campur urusan rumah tangganya, suami yang lebih suka atau sangat sibuk kerja, sehingga tidak ada waktu untuk keluarga, istri yang suka menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting, sampai pada orang lain yang berusaha mematahkan cinta kalian. Dan masih banyak lagi bentuknya di dunia nyata kehidupan pernikahan.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Ada dua caranya, yang pertama membabat habis setiap gulma atau hama yang tumbuh atau terlihat. Jika mertua yang terlalu ikut campur mengenai cara pengasuhan anak kita, beri pengertian kepadanya bagaimana keinginan kita dalam mengasuh anak kita sendiri. Berikan ide-ide positif kita sehingga orang tua percaya bahwa anak-anaknya bisa mengasuh cucunya sebaik ia mengasuh anaknya dulu. Yang kedua, menguatkan tumbuhan pohon kita dari dalam agar gulma dan hama malah mati sendirinya. Kalau ada yang mencoba mengganggu hubungan kita dengan pasangan, menggoda kita dengan sangat menggiurkannya, kita harus yang kuat untuk menolak hal-hal negatif itu.

Kedua cara itu perlu usaha, tentu. Tidak bisa segampang menjentikkan jari seperti tanos. Kita bukan tanos. dan usaha itu juga perlu datang dari keduanya. Dari kita dan pasangan yang saling bekerja sama untuk menghilangkannya atau menguatkan hubungan pernikahan kita.

Permasalahan apapun yang terjadi dalam dunia pernikahan, diantara kita dan pasangan, sebaiknya diselesaikan oleh kita sendiri sebagai pasangan secara bersama-sama. Kita saling bergandengan tangan, bekerja bersama dengan dilandaskan oleh cinta dan kepercayaan dan kasih yang tulus. Bukan disebut pernikahan kalau hanya satu saja yang berusaha, kalau hanya satu saja yang berkorban, kalau hanya satu saja yang ingin memperbaiki atau mempertahankan.

Satu pesanku, sebaiknya kuatkan tumbuhan kita berdua, agar kita juga mampu membabat habis gulma dan hama yang muncul sehingga merekapun binasa karena kita sebagai tumbuhan yang kuat dari dalam. Biasanya si gulma dan hama ini juga sangat indah, menawarkan banyak hal yang menyenangkan, tapi kalau kita sendiri telah sangat kuat, semua itu akan terkalahkan dengan keindahan dan kesenangan yang telah kita miliki dengan pasangan kita.

Sirami setiap hari, berikan pupuk, tempatkan di tanah yang tepat dan di cuaca yang ia butuhkan, maka kita akan menjadi lebih kuat dibandingkan kita yang hanya sendiri-sendiri. Alhasil, apapun yang terjadi kita bisa menghadpinya dengan baik.

Kesimpulan dari aku untuk akhir tulisan ini:

Banyak hal terjadi di dunia pernikahan, kita bisa dibawa naik, bisa juga dihempaskan lagi turun. Jalannya bisa berlumpur, bisa berbatu, berpasir dan gersang atau bahkan bisa juga jalan yang mulus dengan pepohonan hijau di sekitarnya. Hal-hal yang kita temui disepanjang jalan kita bertumbuhpun sangat beragam. Bisa jadi ular berbisa atau hewan buas yang membuat luka, kesedihan, kehilangan, terpuruk, gagal, tapi bisa juga kita menemukan bunga-bunga indah bermekaran yang memberikan kebahagiaan, canda tawa kesuksesan dan lainnya. Bahkan juga tidak jarang kita akan menemukan gulma atau hama, manusia lain yang mencoba mematahkan cinta kita. 

Tapi aku yakin, selagi tahu cara membuat hubungan kita bertumbuh, maka hal-hal negatif apalagi penghianatan tidak akan pernah benar-benar bisa membinasakan dan mengalahkan cinta kita yang telah bertumbuh dengan kuat. Kita akan tetap tumbuh naik dan melambaikan tangan untuk gulma dan hama yang telah kalah oleh kekuatan kita. Kita bahkan bisa menumbuhkan tunas-tunas baru yang sama baiknya dengan kita juga bisa kuat bertumbuh seperti kita. Kita juga bisa menikmati sendiri bunga-bunga yang menghiasi kita, buah-buah yang ada disetiap ranting kita, bahkan oksigen yang kita hasilkan, yang kemudian kita bagikan kembali untuk orang lain yang membutuhkan. 

Jadilah kuat.

Jadilah pasangan yang kuat, sehingga rumah tangga pun menjadi lebih kuat lagi kemudian bagikan lagi kekuatan itu untuk yang lainnya. Anak cucu kita kelak, teman-teman kita atau bahkan orang-orang lain yang tidak kita kenal yang juga bisa terinspirasi dari kekuatan yang kita punya.

Kita pasti selalu bisa!

-aa-

2 Comments

  • Hi Hairstyles

    Thank you a lot for sharing this with all folks you actually realize what you are talking approximately! Bookmarked. Kindly additionally consult with my site =). We could have a link alternate arrangement among us!

  • 42 Hottest Chocolate Brown Hair Color Ideas of 2022

    I have noticed that in unwanted cameras, extraordinary detectors help to aim automatically. These sensors associated with some cameras change in in the area of contrast, while others start using a beam of infra-red (IR) light, especially in low light. Higher specification cameras often use a combination of both devices and may have Face Priority AF where the photographic camera can ‘See’ a new face while focusing only on that. Many thanks for sharing your opinions on this website.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *