Parenting,  Tumbuh Kembang

Karakter Resiliensi pada Anak

Belakangan ini sering dengar dari pertanyaan para orang tua kepadaku. Kebanyakan pertanyaan mereka sebenarnya satu tema, walau sebenarnya disampaikan dengan deretan kata dan kalimat yang berbeda. Namun maksudnya dengan tema atau tujuan yang sama. Kurang lebih begini pertanyaan mereka,

anakku kok cepat sekali marah-marah dan teriak-teriak kalau tidak bisa pasang puzzle? Gemes banget pokoknya, nantinya puzzle di lempar! Apa itu berbahaya?” konsen orang tua yang pertama adalah anaknya cepat marah saat tidak mampu melakukan sesuatu. Ada lagi pertanyaan yang lain,

“anakku kemarin pulang-pulang dari main sama temannya malah nangis, di rumah mencak-mencak ga karuan. Katanya dia kalah main sepak bola,” Anak dari orang tua yang kedua menunjukkan ketidakmampuan menerima kekalahan. Kemudian ada lagi pertanyaan ketiga,

“anakku kayaknya lama banget pahamnya, kalau tidak bisa, dia pasti cepat-cepat minta bantuan, kurang mau berusaha gitu lho. Padahal menurutku, dia bisa, tapi kok cepat sekali nyerahnya ya. Gimana ya caranya? Seringnya sih, aku bantuin aja, aku gemes banget soalnya. Apa yang kulakukan bener ga mbak?” konsen yang ketiga adalah orang tua yang tidak sabaran dengan anaknya untuk berusaha menyelesaikan sesuatu, dan kesalahan yang dilakukan oleh orang tua ketiga adalah karena gemes jadi langsung bantuin anaknya. Padahal cepat-cepat memberi bantuan dengan menyelesaikan sesuatu untuk anaknya sama saja dengan menutup ruang untuk anak meningkatkan motivasi dia untuk melakukan sesuatu.

Dari segala pertanyaan itu, dapat kusimpulkan ada tema yang sama, diantara beberapa pertanyaan yang muncul, semuanya bisa dikatakan mengarah ke karakter resiliensi anak. Karena itu, jadinya tertarik juga bahas mengenai satu karakter anak ini. Kita awali dengan kenalan dulu ya, apa sih resiliensi itu?

Resiliensi

Photo by Daiga Ellaby on Unsplash

APA (American Psychological Association) menyebutkan resiliensi adalah kemampuan untuk bisa beradaptasi dan bangkit dengan baik dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang dihadapi. Resiliensi berkaitan erat dengan pengertian untuk bangkit kembali (bounce back) dari pengalaman yang sulit. Disebutkan juga anak yang memiliki resiliensi yang baik akan memiliki daya lenting yang baik. Self resiliensi akan membuat individu terus maju menjalankan hidup bahkan dalam keadaan tersulitpun. Pengertian lainnya menyebutkan bahwa resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan serta memiliki mental untuk bangkit jika menemui kegagalan. Sayangnya, karakter yang satu ini tidaklah diturunkan oleh orang tua, namun perlu dibentuk atau dilatih oleh orang tua sejak dini agar anak mempunyai karakter yang baik ini.

Catatan penting untuk orang tua : latihlah anak mengenai karakter-karakter positif di masa golden age anak atau pada periode emasnya. Hal ini merupakan tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang paling penting pada masa kehidupan anak. Pada masa ini sangat penting dan perlu diperhatikan khusus oleh orang tua. Pada masa golden age otak bertumbuh secara maksimal. Selain itu, pada masa ini juga terjadi perkembangan kepribadian anak dan pembentukan pola perilaku, sikap dan ekspresi emosi anak. Karena itu orang tua diharapkan untuk memberikan banyak stimulasi positif di masa ini, termasuk melatih anak untuk mengembangkan karakter resiliensinya. Jika sudah distimulasi sejak masa ini, dipastikan karakter resiliensi ini akan terbawa sampai anak dewasa nanti. Pada 5 tahun pertama kehidupan anak, ia juga akan mengembangkan dasar-dasar dari kepercayaan diri, keyakinan atas kemampuan dirinya, yang nantinya akan menjadi pondasi dalam menghadapi tantangan-tantangan tumbuh kembangnya.

Lima Karakter Resiliensi yang Wajib diterapkan orang tua kepada anak:

  1. Berani, kemampuan anak untuk siap menghadapi tantangan dengan mengalahkan rasa takut dan khawatirnya.
  2. Banyak akal, anak pandai mencari solusi untuk setiap masalah yang dihadapinya
  3. Adaptif, anak bisa beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya. Termasuk pada lingkungan baru dan segala hal di dalamnya.
  4. Mandiri, anak mampu mengandalkan kemampuannya sendiri dan tidak bergantung dengan orang lain
  5. Gigih, tekun dan teguh pada pendirian hingga mau mengerjakan pekerjaannya sampai tuntas.

Lalu, kenapa Karakter Resiliensi Penting?

Dunia ini semakin sering dan cepat berubah, kadang malah tanpa peringatan. Sudah pasti kalau tidak kuat, maka akan tergerus dengan jaman. Bahkan sekarang ada istilah VUCA WORLD. Dimana kita ketahui bahwa dunia ini selalu bergerak (volatile), tidak pasti (uncertain), kompleks atau beragam (complex) dan ambigu atau membingungkan (ambiguous).

Di era ini anak akan dihadapkan pada berbagi tantangan dari luar, apalagi sekarang ini kita tahu bahwa perkembangan jaman sangat dinamis dan berubah serba cepat, penuh ketidakpastian dan sangat kompetitif pastinya. Banyak sekali tantangan atau permasalahan yang dapat menghampiri anak kita, dimulai dari isu sosial, sampai kepada perubahan kebijakan-kebijakan yang sangat mempengaruhi kehidupan kita sebagai warga negara. Belum lagi banyak juga pertentangan dari dalam diri si kecil yang mempengaruhinya dalam melangkahkan kakinya di dunia yang semakin sulit untuk ditaklukan ini.

Di satu sisi, era saat ini memiliki dampak positif yaitu makin banyak pilihan yang ada, informasi semakin mudah didapatkan sehingga proses belajar juga semakin mudah. Namun, disisi lain juga ada dampak negatifnya, yaitu tantangan dan kesulitannya juga semakin banyak. Jika anak-anak kita tidak memiliki kemampuan adaptasi dan kegigihan yang baik dari dalam dirinya, yang dipelajarinya dari bimbingan orang tua, maka akan anak dapat mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan di masa depan dan perkembangan jaman yang serba cepat ini.

Tidak hanya diperlukan kemampuan kognitif atau kompetensi saja untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan dan tantangan di masa depan, namun juga kita perlu memiliki karakter positif agar bisa menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan dan kesulitan jaman sekarang. Dan hal ini harus dilatih sejak kecil agar anak-anak kita bisa menjadi orang dewasa yang kuat dengan karakter resiliensi yang kita miliki.

Karena itulah perlu dilatih atau diajarkan mengenai karakter resiliensi pada anak. Karena anak yang tangguh dan memiliki resiliensi akan tidak mudah menyerah dan bisa bangkit kembali saat menemukan kesulitan dan tantangan.

Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengembangkan karakter resiliensi pada anak?

  1. Terima anak apa adanya dengan tulus dan ikhlas. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda, mereka unik sebagaimana adanya ia. Pahami kemampuan dan karakteristik anak, agar mama dan papa juga mampu menerapkan pola asuh yang tepat dan bagaimana cara melatih karakter positif pada anak.
  2. Memberi ruang kepada anak untuk merasakan segala emosi yang dirasakannya. Misalnya menangis karena gagal atau marah karena kalah. Tapi juga berikan motivasi anak untuk kembali percaya diri dan dorong anak kembali memiliki motivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya.
  3. Tidak langsung mengambil alih pekerjaan atau aktivitas yang seharusnya ditanggung jawabkan ke anak untuk diselesaikan saat anak mengalami kesulitan. Orang tua boleh membantu, tapi tidak serta merta menggantikan posisi anak 100%. Berikan klue atau contoh diawal, namun anak harus tetap menyelesaikan sendiri aktivitasnya.
  4. Bisa katakan ini untuk anak yang mengalami kesulitan dan segera minta bantuan : “kamu mengalami kesulitan ya, mana coba mama lihat yang mananya sulit nak? Mama coba bantu ya, yuk kita selesaikan sama-sama” | “sepertinya kamu sudah lelah dan lapar, makanya sulit ya jadinya fokus? Mau istirahat dulu, nanti kita coba lagi..” | “Mama lihat kamu sudah berusaha ya, ayo kita coba sedikit lagi pasti bisa. Yang bagian mana yang belum kamu yakin bisa nak?”
  5. Berikan apresiasi atau pujian kepada anak saat anak menyelesaikan aktivitas yang diberikan. Namun juga berikan konsekuensi yang pas dengan kesalahan yang dilakukan anak. Misalnya, merapikan kembali mainan yang dilempar-lempar oleh anak. Atau anak diajak untuk mengelap meja atau lantai karena ia menumpahkan makanannya.
  6. Berikan aktivitas sesuai dengan kemampuan anak. Sesuaikan dengan tahapan perkembangannya dan juga kemampuan anak dalam memilih permainan edukasi untuk melatihkan ketangguhan anak.
  7. Berikan pengertian kepada anak bahwa di dunia ini pasti adalah kalah-menang, menangis-tertawa, sedih-bahagia, sukses-gagal. Namun juga berikan pengertian bahwa walaupun kadang kita bisa kalah tapi dengan kemampuan yang kita miliki kita juga bisa memenangkan sesuatu.

Catatan penting

Melatih anak menjadi tangguh dan kuat dengan memiliki karakter resiliensi bukan berarti anak harus menyelesaikan segala sesuatunya seorang diri ya. Anak termasuk tangguh jika dia tahu dia sedang mengalami kesulitan, mampu mencari cara untuk menyelesaikan kesulitan itu termasuk meminta bantuan kepada orang lain. 

Semoga informasi ini bisa membantu ya mama dan papa hebat!

-aa-

One Comment

  • Hairstyles VIP

    Thanks for the posting. My partner and i have always observed that many people are desperate to lose weight as they wish to appear slim plus attractive. Having said that, they do not always realize that there are other benefits just for losing weight also. Doctors declare that obese people are afflicted with a variety of illnesses that can be directly attributed to their excess weight. The good news is that people that are overweight along with suffering from a variety of diseases can reduce the severity of their illnesses by means of losing weight. It’s possible to see a steady but identifiable improvement with health when even a bit of a amount of losing weight is attained.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *