Note to Self,  Titik Terang

Cemas dan Takut Menghilangkan Hidup

Banyak. Kuulangi, banyak. Bahkan banyak sekali. Kita menemukan bahkan mendengar bahkan mungkin kita sendiri yang mengalami kecemasan atau ketakutan akan sesuatu. Yang membedakan dari kita dengan yang lain hanyalah levelnya saja. Ada yang mengalami kecemasan dan ketakutan dengan tarap, stage atau level yang masih wajar-wajar saja, tapi ada juga yang sudah merasakan gangguan yang amat mengganggu dari kedua hal tersebut, sehingga mempengaruhi kehidupan sehari-harinya. Membuat ia enggan melakukan sesuatu, bahkan untuk makan minum tidur yang sebenarnya adalah kebutuhan pokok untuk kita. Ada yang bahkan sampai mempengaruhi kesehatan fisik dan juga mentalnya. Menarik diri dari sosialisasi, sering sakit kepala, maag selalu muncul membuat kelimpungan, pekerjaan terhambat dan lain sebagainya.

Cemas dan takut merupakan dua hal yang lumrah ada dan setiap orang pasti pernah mengalaminya. Bahkan dikatakan bahwa cemas dan takut itu merupakan dua hal yang membantu kelangsungan hidup. Membantu kita sebagai manusia dalam menentukan respon apa yang akan kita berikan kepada sesuatu. Apakah harus menghadapinya atau fight? Apakah harus abaikan saja atau flight?

Lantas, kenapa hal yang lumrah bahkan memiliki fungsi untuk kelangsungan hidup manusia malah bisa menghilangkan hidup itu sendiri? Nanti akan kubagikan bagaimana menurutku. Tapi pertama-tama aku ingin kita kenalan sedikit lebih dalam dengan kecemasan dan takut itu dulu.

Tidak kenal maka tidak sayang, kalau tidak sayang maka tidak akan bisa menerima, kalau kita tidak terima dan hidup berdampingan dengannya, sudah pasti kita tidak akan mampu mengpntrol apalagi mengatasinya agat tidak terlalu mepengaruhi kehidupan kita, apalagi dapat menghilangkannya. 

Apa sih cemas itu?

Cemas atau kecemasan merupakan salah satu gangguan psikologis yang ditandai dengan rasa takut, kekhawatiran terhadap masa yang akan datang, kekhawatiran yang berkepanjangan sampai-sampai menimbulkan rasa gugup atau panik.

Seperti yang kukatakan di atas, semua orang pasti pernah merasakan cemas ini. Cemas mau ujian, cemas ketemu calon mertua, cemas hari pertama kerja, cemas besok hari pernikahan dan masih banyak lagi. Ada begitu banyak derajatnya juga, ada yang rendah dan bisa segera diatasi seketika itu juga, hingga ada yang mengalami tingkat kecemasan yang tinggi sehingga butuh waktu dan usaha dan bantuan dari orang lain untuk mengatasinya. Rasa cemas ini dapat dikatakan gangguan psikologis ketika rasa cemas menghalangi seseorang dalam menjalani kehidupannya dan menunjukkan sikap yang pasif, atau tidak produktif lagi.

cemas perlu dirasakan agar kita juga bisa melakukan antisipasi terhadap sesuatu. Dengan merasa cemas kita bisa menentukan respon apa yang sebaiknya kita berikan terhadap sesuatu yang genting. Apakah kita harus menghadapinya? Lalu caranya seperti apa? Atau apakah bisa kita abaikan saja? Tapi jika begitu apakah cemas itu bisa hilang dengan sendirinya?

Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan, yang menentukan kecemasan itu dapat menghilangkan hidup adalah ‘KEKUATAN UNTUK MENGHADAPI’ dari seseorang yang mengalaminya.

Respon yang kita berikan juga harus pas, kekuatan kita menghadapinnya juga harus tepat, tidak boleh lebih tidak bisa kurang, agar cemas itu juga bisa kita atasi dengan semestinya. Namun, ada beberapa orang yang malah merespon berlebihan terhadapnya, jika terjadi seperti ini, maka dapat dikatakan seseorang tersebut sudah mengalami gangguan kecemasan. Ini gejalanya:

  1. Perasaan mudah marah, mudah tersinggung, sedih dan khawatir yang berlebih.
  2. Tidak fokus, tidak tenang
  3. Susah tidur,
  4. Ketakutan dan panik,
  5. Jantung berdebar tanpa alasan jelas
  6. Tangan kaki berkeringat dingin
  7. Rasa kecemutan di tangan dan kaki
  8. Otot-otot menegang
  9. Pusing dan mual, gangguan lambung,
  10. Mulut kering.

Apa sih takut itu?

Sama seperti cemas, takut adalah hal yang wajar terjadi dan setiap orang pernah mengalami emosi ini walau dengan pemicu yang berbeda-beda. Takut adalah salah satu emosi manusia yang paling dasar dan kuat. Emosi ini bisa sangat membuat terpuruk tapi juga harus ada agar manusia tetap bisa hidup. Faktanya, ketakutan dibutuhkan untuk melindungi setiap orang.

Namun, rasa takut juga bisa menjadi tidak rasional dan intens, yang dapat mengganggu kebahagiaan dan rasa aman, hingga berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari. Pada kondisi ini, ketakutan yang kita alami bisa seperti serangan panik, fobia, gangguan stress pancatrauma (PTSD).

Setiap orang memiliki pemicu atau penyebab ketakutan yang berbeda-beda. Perasaan takut ini muncul akibat pengalaman trauma di masa lalu, tapi juga bisa ada dengan sendirinya tanpa diketahui penyebabnya, mungkin dikarenakan kejadian trauma yang menumpuk-numpuk sehingga kesulitan mencari tahu secara pas penyebab pastinya. Berikut merupakan pemicu rasa takut:

  1. Benda tertentu, seperti balon, badut, kucing dll
  2. Situasi tertentu, sendirian, ditinggalkan, ketinggian, tempat gelap dll
  3. Peristiwa yang dibayangkan, seperti hantu yang dibayangkan, orang jahat yang dibayangkan mengikuti
  4. Acara yang akan datang, seperti hari pernikahan, ujian, dll
  5. Bahaya dari lingkungan, sedang terjadi perang, pandemi, bencana alam, dll
Setiap orang pasti pernah mengalami ketakutan akan sesuatu, untuk menentukan tingkat gangguannya sehingga sampai menghilangkan hidup kita adalah bagaimana ‘CARA KITA’ dalam menghadapinya. 

Kenapa kupilih judul di atas, bahwa rasa cemas dan takut yang berlebihan dapat menghilangkan hidup kita. Ini karena pengalaman orang lain yang sering kali kudengar, ketemui bahkan yang menjadi klienku belakangan ini. Karena pandemi, kita semua di ‘paksa’ untuk berjuang. Berjuang mengalahkan pandemi, sudah pasti, selain itu yang juga sangat penting adalah berjuang mengatasi rasa cemas dan takut kita kepada kehidupan kita sekarang. Besok apa bisa makan? Kapan bisa kembali bekerja dan mendapatkan uang untuk menyambung hidup? Bagaimana biaya sekolah anak-anak kita? Darimana mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarga, orang tua yang sudah sepuh, anak-anak yang masih bayi. Membayangkan situasi itu dari cerita mereka saja membuatku takut. Ya, psikolog juga bisa takut, bisa cemas, dan dampak pandemi ini ternyata sedikit banyak mempengaruhi hidupku juga.

Seharian, aku butuh mengosongkan pikiranku dari cerita-cerita klienku, dari kesusahan-kesusahan yang dihadapi oleh rekan-rekanku, terpaksa di rumahkan, terdampak virus dan harus melewati masa-masa sakitnya, bahkan kepiluan karena satu demi satu ditinggalkan oleh salah satu anggota keluarganya. Sedih, hancur, dan sangat menakutkan.

Dan dari waktu tenangku itu, aku kemudian memikirkan hal ini,

Rasa cemas dan khawatir yang kurasakan ini adalah awal dari ketakutan kronis yang membuatku hanya berfokus pada hal-hal negatif atau menakutkan yang ada di sekitarku. Ketika aku hanya fokus pada ketakutan (yang tidak langsung menyerangku), aku jadi melupakan hal-hal lain, yang sebenarnya lebih besar dan lebih banyak kumiliki. Seperti bahagia dan tawa yang masih setia terlihat di ujung bibirku. Memperlihatkan gigiku yang walau susunannya tidak rapi tapi kubangga memilikinya.

Ini cerita dari kondisiku saat ini, yang sedikit banyak terpengaruh oleh berita-berita, cerita-cerita dari klien, orang-orang yang tidak kukenal bahkan dari sahabatku. Sebenarnya aku tidak secara langsung mengalaminya, tapi secara tidak langsung sangat mempengaruhiku. Membuatku juga mengembangkan rasa cemas dan juga ketakutan dalam diriku.

Akhirnya seperti yang kukatakan tadi, aku jadi melupakan hal-hal lain, seperti adikku yang sedang bergembira karena emailnya di balas oleh perusahaan yang diimpikannya sejak lama, orang tuaku yang sehat dan selalu bersemangat melakukan aktivitas dan pekerjaannya, dan lagi yang paling dekat, aku jadi tidak fokus kepada suamiku yang sedang bersemangat belajar hal baru selagi dia WFH. Banyak hal-hal menyenangkan yang tepat ada di sampingku, hal-hal yang membahagiakan yang dialami oleh keluarga dekatku, hal-hal yang membuat imunku bisa melonjak tinggi, tapi kulupakan semua itu, karena terfokus pada ketakutan yang hanya kudengar, atau kulihat di media sosial.

Aku kehilangan hidupku yang seharusnya milikku.

Mungkin, ketakutanku ini akan berbeda dengan orang yang secara langsung mengalami dampak dari pandemi ini. mungkin level dan tarafnya juga sangat jauh berbeda. Seperti kehilangan orang terdekat yang sangat ia sayangi. Saat kehilangan itu, dia akan takut kedepannya harus seperti apa, melakukan apa. Tapi, yang dapat kukatakan adalah KAMI SAMA-SAMA MENCEMASKAN DAN MENAKUTKAN HAL-HAL YANG BELUM PASTI AKAN TERJADI. Aku bukan bermaksud mengecilkan kesusahan yang mereka alami, akupun tidak bisa menjamin aku tidak akan pernah mengalami hal yang mereka alami, itu diluar kuasaku. Tapi yang ingin kufokuskan adalah mengenai cemas dan takut itu sendiri.

Kunci dari cemas dan takut adalah BELUM PASTI TERJADI, tapi sudah sangat mempengaruhi kita. Karena kita terlalu fokus membayangkan scene terburuknya di dalam drama kehidupan kita. Itu yang seharusnya yang mulai kita pahami, terima dan atasi.

Aku merasakan, sangat sangat sangat merasakan bagaimana aku kehilangan hidupku selama beberapa hari ketika aku hanya fokus pada rasa cemas dan takut itu. Karena itu, ingin kubagikan juga bagaimana aku kemudian mengatasinya dan kembali membuatku membuka mata untuk menepis ketakutan dan kecemasan itu dari kepalaku, yang bergelantungan tepat di depan mataku, yang selalu membisikkan skenario terburuknya di telingaku. Dan aku bersyukur karena memiliki suami yang bisa segera mengetahui perubahanku belakangan dan bertanya dari hati kehati apa yang menimpaku. Beberapa cara dibawah ini juga kudapatkan dari kata-katanya, yang kemudian bisa membuatku ‘melek’ kembali kepada kekehidupanku yang sempat hilang.

Mengetahui Memahami dan Mengenali Penyebab dan Gejalanya.

Sebelumnya kita sudah belajar apa itu cemas dan takut. Dan apa saja gejala dan juga pemicunya. Dengan mengetahui penyebab ketakutan kita, kita akan tahu bagaimana cara menghadapinya dengan mengukur juga dari kekuatan yang kita punya. Jika tidak mampu dengan kekuatan kita, kitapun bisa meminta pertolongan dari orang lain. Aku sangat percaya bahwa apapun yang kita hadapi tidak akan melebihi kekuatan kita, nah, akan kutambahkan. Tidak melebihi kekuatan kita, bukan berarti hanya harus dengan kekuatan kita saja, tapi meminta pertolongan juga merupakan salah satu dari kekuatan kita.

Selain itu, mulailah mencari tahu gejalanya, atau respon tubuh kita terhadap kecemasan. Hal ini yang paling mudah dilakukan. Misal, sangat tangan dan kaki kesemutan atau keringat dingin, kita sudah mulai aware bahwa kita sedang cemas, segera tarik nafas dalam dan bernafas dengan tenang. Namun jika tidak mampu mengenali atau mengetahui apa yang membuat kita merasa cemas, bisa jadi kita menderita Generalized Anxiety Disorder, yaitu gangguan psikologis yang menyebabkan kita di kelilingi oleh rasa khawatir tanpa tahu apa penyebab pastinya.

Menerima dan Mengakui Keberadaannya kemudian Tidak Menunda.

Hal yang bisa kita lakukan adalah tidak mencoba mengabaikan keberadaannya atau malah menunda untuk mengatasinya. Lari dari kecemasan dan ketakutan malah akan membuat ia tinggal lebih lama dan akan lebih lama juga mengganggu kehidupan kita. Tidak ada cara lain selain berani mengatasinya dengan segera. Namun, untuk mengatasi rasa cemas yang terjadi karena hal diluar kuasa kita, melakukan hal-hal sebaik mungkin akan membantu meringankan cemas yang kita miliki.

Seorang motivator pengembangan diri, Akshay Nanavati mengatakan agar kita dapat menerima kecemasan dan ketakutan sebagai hal yang wajar dalam hidup. Merangkul dan memanfaatkannya membuat kita lebih mampu mengontrolnya, bukan malah membuat kita terpuruk olehnya. Salah satu bagian terburuk dari kecemasan adalah rasa takut dan rasa sakit atas kehilangan. Namun akan sangat lucu jika kita memulai kesusahan dan derita kita karena hal-hal yang belum atau tidak akan pasti terjadi.

Menjalin Hubungan dengan Orang Lain.

Ketika cemas dan ketakutan menguasai kita, segera ceritakan kepada orang lain dan jangan menyimpannya seorang diri. Menceritakan perasaan kita kepada orang lain akan membantu mengurangi rasa cemas dan ketakutan dalam diri karena kita mendapatkan sudut pandang yang baru dari orang lain akan sesuatu yang mengganggu kita. Kita bisa menceritakannya kepada orang-orang terdekat kita seperti pasangan, teman atau anggota keluarga kita, atau bahkan bisa kepada profesional.

Satu lagi yang penting yang ingin kubagikan, jadilah seperti suamiku. Walau kecemasan dan ketakutan itu tidak kita yang alami, tapi akan lebih baik kalau kita juga bisa lebih peka dan segera menangkap signal ketakutan dan kecemasan yang dialami oleh orang terdekat kita. Dekati ia, tanyakan apa kesusahan, apa yang sedang ia rasakan dan pikirkan, kemudian bantu ia untuk kembali kepada sukacitanya, agar iapun tidak kehilangan hidupnya.

Tingkatkan Pikiran Positif, Hindari berandai-andai Mengenai Hal Terburuk.

Fokus utamaku disini adalah kita harus kembali kepada kehidupan kita, kepada hal-hal baik, hal-hal positif yang terjadi dalam hidup kita dan yang sedang kita rasakan dan miliki saat ini. Seperti yang kulakukan, aku kemudian kembali kepada realita hidupku yang sekarang, bukan kepada kecemasan dan ketakutanku pada masa yang jauh di depan sana, yang sudah pasti belum pasti akan terjadi apa. Aku berhenti berandai-andai mengenai hal-hal terburuk kemudian kembali melihat hal-hal baik yang kumiliki saat ini.

Fokus pada hal positif yang kita miliki akan membuat kita tersadar bahwa kita cukup kuat, cukup mampu, dan tidak pernah sendiri jika suatu saat nanti mengalami hal-hal yang ternyata membuktikan kecemasan dan ketakutan kita saat ini. Hiduplah untuk saat ini! Kesusahan di hari nanti nanti, jangan dipikirkan di hari sekarang, karena sudah pasti tidak ada gunanya.

Menerapkan Gaya Hidup Sehat

Dimulai dari rajin berolahraga. Tidak perlu olahraga yang sangat ekstrim, kita bisa mulai dengan jalan santai, jogging, latihan mengatur nafas, melakukan yoga hingga meditasi. Olahragapun tidak perlu mahal atau ditempat yang khusus, cukup dirumah, bisa sambil bersih-bersih rumah, mencuci mobil, dll. Intinya, buat badan bergerak sesering mungkin. Ini yang kualami saat mengalami rasa takut itu, aku lebih banyak tidur, berbaring, badan semua rasanya mengkerut, karena itu kita jadi semakin stress dan takut. Kemudian setelah aku lebih banyak bergerak, keluar rumah, melihat betapa indah dan luasnya dunia ini, merentangkan tanganku ke samping ke atas ke bawah, membuat badanku juga lebih rileks, sepertinya jalan nafasku juga lebih lancar dan plong.

Makan makanan yang sehat dan minum banyak air putih juga dianjurkan dalam bahasan menerapkan gaya hidup sehat. Banyak makanan yang malah meningkatkan kecemasan, banyak minuman yang malah membuat badan tidak sehat dan menghambat oksigen yang masuk ke dalam tubuh. Kurangi, atau bahkan kalau bisa hindari. Asuapan makanan dan minuman yang baik dan sehat akan membantu kita memiliki kesehatan fisik maupun mental yang juga baik.

The last, tapi yang juga sangat penting adalah buat batasan penggunaan media sosial. Jangan terlalu banyak menghabiskan waktumu hanya memegang ponsel apalagi hanya untuk melihat dan mendengar berita-berita atau kisah-kisah menyedihkan diluar sana. Membaca dan mendengar kisah-kisah orang diluar sana boleh-boleh saja, tapi jangan terfokus pada susahnya, pada permasalahannya, tapi carilah bacaan, video atau kisah-kisah orang lain yang juga lebih memfokuskan pada keberhasilan cara-cara perbaikan yang telah mereka lakukan. Hal itu akan lebih menginspirasi kita. Jadi kita tidak akan fokus pada masalah mereka yang kemudian mempengaruhi kita, yang juga membuat kita takut, tapi kita bisa lebih merasa aman dan lega karena ada cara-cara yang telah berhasil mereka lakukan untuk mengatasi permasalahan dan kesusahan yang mereka alami. Perbanyaklah melihat, membaca dan mendengar berita-berita positif, menyenangkan dan lebih bermanfaat.

Lakukan Hal-Hal yang Disukai seperti Hobi.

Alihkan pikiran pada hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti melakukan hobi atau kesukaan. Seperti aku yang kemudian mengalihkan diri kepada lebih banyak belajar menulis dan mengisi blog baruku ini dengan tulisan-tulisan yang juga baru. Fokus pada ketakutan hidup pernah membuatku stuck dan tidak bisa menulis lagi. Tidak ada ide, dan rasanya tangan selalu kram dan sakit kalau sudah mulai menulis atau mengetik. Tapi setelah aku memutuskan untuk membuat dan menghempaskan jauh-jauh rasa cemas dan takut itu aku kembali kepada duniaku, hidupku, yaitu menulis dan membaca.

Tidak ada salahnya untuk memanjakan diri sendiri dengan hal-hal yang kita senangi, seperti membeli buku baru, bersih-bersih rumah, mencoba menu-menu baru, atau hal-hal lainnya yang membuat kita lebih merasa senang dan bahagia, sehingga bisa jauh dari cemas dan takut yang tadinya membelenggu.

Rasanya seperti hidup kembali, jika kita bisa menang dalam peperangan kita. Benarkan? Akupun telah menang dari pengaruh cemas dan takut yang hampir menghilangkan hidupku. Aku yakin kamu dan kita semua juga memiliki kekuatan yang sama untuk mengalahkannya.

Ini salah satu quote yang kutulis untuk @titik.terang_id mengenai cemas, takut dan khawatir. 

Kalau aku terus saja khawatir, 
Bukannya artinya aku bukan orang yang percaya? 

Aku tidak percaya diri bisa menghadapi apapun yang menghampiri, termasuk kesulitan dan keterpurukan.

Aku tidak percaya orang-orang yang kusayangi juga akan menjaga diri mereka, sebaik-baiknya aku menjaga diriku sendiri dan mendoakan kesehatan dan kebahagiaan mereka. 

Lebih disayangkan lagi,

Aku yang tidak percaya kepada janji Tuhan yang nyata. Bahwa aku memiliki kekuatan yang jauh melebihi kesulitan atau apapun yang hadir dalam hidupku. Aku tidak percaya, Tuhan tak pernah meninggalkan dan janjinya masih sama, bahwa ia akan selalu ada untuk menopang dan mendukungku.

Aku tidak mau menjadi orang seperti itu, dan tidak ingin lebih lama menjadi anakNya yang meragukan kuasa dan cintaNya. 

Sekarang,
Cemas dan khawatir boleh selalu datang, tapi ia tidak akan sangat mengganggu dan menyakitiku. Kepercayaan dan keyakinanku jauh lebih besar dan menenggelamkannya. Walau tak sampai dalam dan mungkin akan kembali ke permukaan tapi kuyakini ia akan kembali kutenggelamkan. 

Aku selalu bisa, 
Kita selalu sanggup ! 

Berani berkata STOP TAKUT, STOP CEMAS!

Jalani hidup yang kita miiki, jangan sampai kita kehilangannya.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *