Marriage Care,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru

Sebenarnya sudah hampir dua tahun, tapi masih berasa sebagai pengantin baru. Tanpa alasan, karena memang masih merasa segala sesuatu yang dirasakan, dipikirkan, yang dilakukan dan tentu saja yang dihadapi adalah sesuatu yang sangat-sangat baru. Bisa dibilang, hampir dua tahun ini akupun masih melakukan adaptasi dengan peran baruku ini sebagai seorang istri.

Kalau ditanya, bahagia ga? Jawabannya sudah pasti bahagia. Menyesal tidak? Ya ga dong, sudah jelas. Kemudian pertanyaan selanjutnya, berarti bahagia setiap hari dong, memangnya tidak pernah berselisih? Tidak pernah bertengkar? Nah, menjawab pertanyaan ini yang membutuhkan jawaban yang agak panjang. Dan mungkin juga perlu banyak banget bahasannya.

Sebagai pengantin baru, ataupun sebagai penyandang status baru, apapun itu, dari mahasiswa kemudian jadi pegawai, dari suami istri kemudian menjadi ayah dan ibu atau bahkan menjadi seorang pensiunan yang awalnya menjadi seseorang yang menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja. Apapun perubahan status kita, semua itu membutuhkan adaptasi, penyesuaian diri. Dan perlu diterima, adaptasi itu bukanlah proses yang bisa diremehkan begitu saja, waktunya bisa pendek bisa juga sangat panjang. Prosesnya bisa mudah tapi juga bisa juga sangat sulit. Setiap orang mungkin akan berbeda dengan proses ini, tergantung kondisi dan kemampuan dirinya sendiri. Tapi walaupun begitu tetap saja, yang namanya perubahan status membutuhkan adaptasi atau penyesuaian diri yang tidak sangat-sangat-sangat mudah, yang tidak bisa seinstan membalikkan telapak tangan atau secepat mengedipkan mata. Terlepas seseorang itu terpaksa atau tidak dalam merubah statusnya, tetap saja proses ini tidak mudah. Sekali lagi, tidak mudah.

Bukan menakut-nakuti, tapi begitu adanya. Okay, sekarang coba kita cari tahu, kenapa tidak mudah. Proses adaptasi adalah proses belajar. Yang namanya belajar tentu tidak akan begitu sangat mudah.

Kita diminta untuk bersiap

Disadari atau tidak, dalam belajar kita diminta untuk bersiap, untuk menghadapi segala sesuatu yang awalnya kita tidak tahu menjadi tahu, yang awalnya kita tidak bisa kemudian menjadi bisa, atau bahkan yang awalnya tidak biasa kita lakukan akhirnya akan terbiasa. Dan rentang dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa kemudian bisa, dan tidak biasa akhirnya terbiasa inilah yang dinamakan proses belajar. Sekali lagi, ini tidak mudah. Kita dituntut untuk menjadi tahu, menjadi bisa dan terbiasa melakukan hal-hal yang awalnya kita tidak ingin terlalu tahu, tidak ingin terlalu mendalami sampai bisa melakukan atau bahkan tidak terbiasa kita lakukan. Bayangkan kita diminta untuk berubah, dari kita yang semula atau kita yang biasanya, semua itu pasti akan sangat melelahkan. Tapi berita baiknya adalah, proses belajar disini sudah pasti akan membuat kita berubah menjadi yang lebih baik. Kalau memang ada hal-hal yang tidak cocok, atau tidak pas dengan kita saat prosesnya, kita hanya perlu temukan makna positifnya. Pasti ada, dan temukan!

Namanya menjalani proses, pasti perlu ketekunan

Proses itu pasti ada rentangnya, ada pendek dan panjang, tidak sekaligus dapat dirasakan, dapat diterima, atau dapat dilihat hasilnya. Jadi sangat dibutuhkan ketekunan dalam menjalaninya. Tekun agar cepat tahu, cepat bisa dan jadi cepat terbiasa.

Yang tak kalah penting, perlu penerimaan

Sebelum kita memiliki komitmen untuk menjadi tekun menjalani prosesnya, sudah pasti kita perlu yang namanya penerimaan. Kita perlu menerima kondisi, menerima hal-hal baru yang kita hadapi, dan tidak langsung menutup segala indra yang kita punya ketika kita menerima dan menghadapinya. Contohnya, mungkin ada kebiasaan suami yang setelah menikah kenapa jadi sangat berbeda saat pacaran dulu, bisa jadi pemikirannya tidak sama dengan yang biasa kita pikirkan, atau hal-hal lainnya yang ternyata jadi sangat berbeda dengan kita, yang baru terlihat setelah menikah.

Bayangkan, ketika kita tidak bisa menerima itu semua dan menolak untuk berusaha mempelajarinya, lalu kita juga tidak tekun dengan perubahan-perubahan yang kita komitmenkan, kelamlah hari-hari pernikahan yang sebenarnya kita dambakan agar selalu bahagia. Dan ketika kita gagal melewati proses adaptasi diawal-awal pernikahan ini, aku tidak yakin bagaimana pernikahan kita kedepannya. Sorry to say, persiapan pernikahanmu belum matang, dan perlu usaha yang berlipat-lipat lebih keras dari yang lainnya untuk menyelamatkan hubungan dengan pasangan. Jangan sampai seperti ini ya!

Ini pengalamanku dengann suami, diawal pernikahan

Tidak dipungkiri, dan jujur, kami sering berselisih di awal-awal pernikahan. Satu sampai tiga bulan di awal selalu saja ada yang kami selisihkan, bahkan hal-hal kecil nan remehpun menjadi bahan argumentasi. Banyak kebiasaan suami yang ternyata tidak bisa kuterima dengan mudah, begitu sebaliknya. Lalu apakah hanya karena hal itu harus mengatakan menyesal? Harus pergi dari rumah dan tidak ingin lagi bersama? Apa hanya karena hal-hal kecil itu membuat kita menghilangkan sukacita dan bahagianya pernikahan? TENTU TIDAK. Dan tentunya aku tidak ingin itu terjadi dalam kehidupan pernikahan kami.

Dan inilah yang selalu kusyukuri tentang diriku sendiri, aku selalu suka mencerna, selalu suka menganalisis, selalu suka berpikir, selalu suka mencoba mencari makna positif dari hal yang terjadi, dan berusaha untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Dan hal lain yang kusyukuri adalah aku dan suami selalu bersedia untuk duduk tenang dan diam, mendengarkan apapun pendapat kami lalu mencari jalan tengah dalam menghadapinya. Walau tentu saja, untuk sampai duduk tenang dan berkomunikasi perlu waktu yang tidak sebentar, kami perlu menjauh dulu, perlu sendiri-sendiri dulu, sampai akhirnya kembali saling berhadapan dan menghadapi apa yang kami hadapi.

Menurutku, menikah adalah menyatukan dua insan yang awalnya berdiri di jalan masing-masing. “menyatukan”, tidak lantas langsung menjadi satu, tidak lantas semua hal menjadi sama, berbaur. Dua insan tetaplah dua, dengan dua pemikiran, sifat dan sikap yang berbeda. Lantas bagaimana bisa menjadi satu? Jawabannya, harus selalu rela dan berani, melihat segala sesuatu dari sudut pandang pasangan, dari berbagai sudut pandang yang lain. Bukan hanya dari satu sudut pandang, sudut pandang kita saja.

Tidak kaku dengan satu sudut pandang, adalah kuncinya.

Selain itu kita juga harus mencari alasan yang tepat dari sudut pandang pasangan. Berusaha menerima sudut pandangnya, mempelajarinya dan mencari makna positif dari sudut pandang itu. Pasti ada, karena ia tidak mungkin memiliki sudut pandang yang merugikan dirinya, yang ada hanya sudut pandang itu belum cocok dengan yang kita punya. Kalau kita bersedia mencari tahu mengenai sudut pandang itu, kita akan memiliki pemahaman yang baru, dan sudah pasti akan memberi dampak atau hal yang baik juga untuk kita. Sangat menguntungkan bukan, saat kita sudah punya satu sudut pandang yang baik, kemudian kita menambahnya satu lagi dari sudut pandang pasangan kita. Yang rugi adalah, ketika kita kaku dan memaksakan sudut pandang kita saja, maka yang kita dapatkan hanyalah bertengkar, tetap saling berselisih karena tidak akan pernah bisa saling menyatu dengan pasangan. Buang-buang waktu, menghabiskan tenaga, dan bahagia lari semakin jauh.

Setelah kita mencari tahu, menerima kemudian memahami, kita kemudian akan menemukan kesadaran bahwa bisa jadi pandangan pasangan “sama” dengan yang kita punya, hanya saja tersampaikan dengan cara dan kata yang berbeda, atau malah bisa jadi lebih baik dari pandangan yang kita punya. Dalam hal ini, sebagai satu indiuvidu, kita malah bisa berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya, karena kita menemukan pandangan yang baru, yang ternyata lebih baik yang kita yakini sebelumnya.

Aku sadar, teramat sadar bahwa semua ini adalah proses belajar, dan aku harus menerima apa saja yang datang kepadaku, menghadapi apa yang memang harus kuhadapi, kemudian tidak dengan mudah menutup mata dan telingaku darinya. Aku harus mempelajarinya kemudian mencari “titik terang” dari segala sesuatu yang sama sekali tidak biasa untukku, yang tidak pernah kutahu sebelumnya, atau bahkan yang tidak bisa kulakukan awalnya.

Dan, BERHASIL!

Perselisihan tidak lagi terjadi sesering sebelumnya, dari sejak itu sampai sekarang, yang mana sebenarnya proses adaptasi masih berlangsung, aku selalu menggunakan 5 hal ini dalam menghadapi hal-hal atau sesuatu yang baru dalam pernikahan kami.

  1. Menerima,
  2. Mau atau bersedia menghadapi,
  3. Mengalisa – apa cara suamiku yang lebih baik dariku, atau apa pemikirannya sebenarnya sama saja denganku hanya saja tersampaikan dengan cara yang berbeda.
  4. Diskusikan, obrolkan – dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih di waktu dan situasi yang lebih baik dan tepat.
  5. Tekun dengan perubahan baik yang kami sepakati dan berkomitmen untuk itu.

Setelah ke lima hal itu kulakukan, membuatku lebih nyaman menjalani perjalanan pernikahan kami. Menjalani proses belajar dari perubahan status yang kami jalani.

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa hanya aku yang melakukannya? Suami melakukannya juga? Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa yang kusyukuri adalah suamiku juga bersedia berubah, bersedia mendengarkan, bersedia menyampaikan apa yang dipikirkan dan dirasakannya, walau sebenarnya dia bukan orang yang seterbuka itu. Tapi dia selalu mencoba, walau tidak dengan sangat terang-terangan mengatakan bahwa cara pandangku lebih baik darinya, atau lebih cocok dengan tantangan yang sedang kami hadapi, tapi sering kali dia melakukan apa yang menjadi pendapatku.

Dan, pada akhirnya, kami memang akan saling membiasakan diri. Saling meniru kebiasaan baik, pemikiran, dan cara-cara pemecahan masalah yang lebih tepat dilakukan. Nanti kubahas sendiri bagian ini.

Semoga apa yang kubagikan ini, bisa memberi inspirasi kepada pasangan-pasangan muda yang ingin menikah, sedang berjuang dalam proses adaptasi di awal pernikahan, atau pengantin yang telah cukup menikah namun belum nememukan “click”nya menaklukkan proses adaptasi yang sangat melelahkan. I know, thats hard, i feel you. Tapi memang harus mau berubah dulu, agar bisa menemukan titik terang dan jalan yang lebih tepat dalam menghadapi tantangan hidup. Dan kita selalu bisa untuk itu!

Aku berharap pada calon pasangan tidak begitu takut untuk melangkahkan kakinya ke jenjang baru seperti pernikahan. Kuatkan persiapan diri, mental dan segalanya sebelum mengikat janji suci, aku rasa setelah itu semuanya akan jadi lebih baik-baik saja. Satu lagi, jangan menggampangkan dunia pernikahan ya, jangan sekali-kali meremehkan, hah, nanti juga bisa! hah, gitu aja gampang! Jangan lakukan. Kalau kamu tidak memiliki persiapan yang matang dan belum kuat dalam menjalaninya, sebaiknya jangan dulu. Persiapkan diri dulu lebih matang agar lebih tangguh saat melangkahkan kakimu di jalannya.

Dunia pernikahan, ada pahitnya, pasti. Ada asamnya, iya. Ada asinnya, tentu. Asal jangan sampai hambar, jangan sampai mati rasa. Dan juga harus ingat, bahwa selalu ada manisnya, selalu ada keseimbangan rasa dari banyaknya asa. Jadi jangan takut, tapi jangan juga meremehkan.

Dalam dunia pernikahan, sebagai pengantin baru, akan ada saatnya kegelapan menghampiri, akan ada kelam yang menyelimuti, tapi selalu ada setitik cahaya yang akan menjadi titik terangmu, dan itulah yang kamu gunakan sebagai suluh di sepanjang perjalananmu.

Selamat menjalani proses baru dalam fase hidupmu,

kita pasti selalu memiliki kekuatan, dan titik terang pasti selalu ada.

aa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *