Marriage Care,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru #9 (Perlunya sepikir-serasa dengan Pasangan)

“yang jariku keiris pisau, sakit sekali,” begitu si istri meringis memperlihatkan jarinya yang terluka kepada suaminya.

Sang suami melihatnya sebentar kemudian berkata, “hah, begitu saja lho, itu lho ga apa-apa,”.

Ada lagi percakapan lain, “yang aku ga suka sama si A, tadi dia ngejek aku, masak dia ketawa-ketawa waktu aku bilang kalau aku ga bisa makan apel,”

Si suami membalas dengan sama tertawa, “lagian kamu juga sih lucu, masak ga bisa makan apel. Itu lho mereka cuma bercanda, kamu terlalu sensitif ah,”

Ini yang terakhir, “yang, badanku rasanya sakit semua hari ini, bisa minta tolong pijitin ga?”

Sang istri melengus, “ya namanya juga kepala keluarga pasti cape, aku juga cape kerja seharian sampai rumah masak pula, aku mau tidur nih.”

Dan masih banyak lagi percakapan-percakapan lain seperti di atas antara suami dan juga istri. Terdengar remeh ya, terlihat biasa juga karena sering sekali kita dengar kata-kata seperti di atas, baik kita yang mengalaminya atau mendengar orang lain mengalaminya. Saking biasanya dilakukan, jadinya dianggap tidak memberi dampak apa-apa dan jadi hal yang “biasa dan wajar” saja terjadi dan dilakukan.

Tapi pernahkah kita menyadari bahwa, hal-hal remeh dan kecil pun bisa memberi dampak besar kepada diri kita sendiri dan juga kepada orang lain. Kalau mau diselami lebih dalam lagi, sudah pasti percakapan di atas minum sekali simpatinya, apalagi empatinya, tidak ada sama sekali. Antar pasangan bahkan tidak mau sedikit saja memposisikan diri mereka di posisi pasangannya. Bagaimana mau memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan pasangan, mencoba untuk menginjakkan kaki di sepatu pasangan saja sudah enggan.

Jari yang teriris pisau memang tidak akan membuat korbannya serta merta meninggal, tidak juga akan membuatnya pingsan kemudian koma, tidak juga membuatnya kehabisan darah kemudian tak sadarkan diri, tidak, memang tidak akan seperti itu. Tapi bukan berarti respon kita terhadap pasangan yang mengeluhkan itu jadi meremehkan kesakitan yang dialaminya. Ingat, tidak semua orang memiliki toleransi sakit yang sama. Bisa jadi, kita baru merasa sakit jika jari kita hampir putus, tapi juga ada yang sudah merasa sangat sakit saat jarum menusuk jari atau tangannya. Jadi, respon meremehkan dan bilang “itu lho ga apa-apa, lebay ah kamu,” adalah pilihan respon yang sudah pasti tidak tepat dan seharusnya tidak diucapkan oleh kita ke pasangan atau sebaliknya.

Pasangan kita tidak bisa makan apel, dia akan menghindar kalau ada yang mengupas atau memakannya, karena sensasi ngilu yang dia rasakan karena suara gigitan apel sangat mengganggunya. Atau mungkin pasangan kita takut dengan balon, dia akan menghindar jika ada yang meniup balon atau memegangnya, karena takut balon itu akan meletus di depannya. Balon yang meletus itu baginya adalah ledakan yang sama menakutkannya dengan ledakkan gunung meletus.

Bisa jadi, buat kita suara kriukan apel biasa saja, bisa jadi bagi kita balon yang meletus tidak ada apa-apanya. Balon itu bukan bom yang ketika meledak akan meratakan bumi. Ketahuilah dan ingatlah ini, tidak semua orang seberani kita akan banyak hal. Ada beberapa orang yang memiliki ketakutan, ketidakbiasaan akan sesuatu yang mungkin kita anggap itu remeh dan juga aneh. Tapi sudah pasti respon kita yang juga menertawakannya karena menganggap ketakutannya itu lucu, adalah hal yang keliru dan salah, yang sudah pasti tidak seharusnya dilakukan oleh kita kepada pasangan. Hindari kata-kata, “masak sama apel aja takut, masak sama balon aja takut, lucu ih kamu.” sumpah, itu tidak lucu sama sekali!

Belum lagi saat suami minta di pijit karena badannya pegel-pegel habis kerja seharian. Dan lagi-lagi respon “aku juga cape, kamu gitu aja ngeluh, aku lho juga kerja,” kurang tepat kita berikan kepada pasangan. Ya, kita juga lelah, kita juga cape, kita mungkin juga bingung dan pusing akan sesuatu, tapi bukan berarti kemudian kita mengabaikan juga lelah, kebingungan dan juga pusingnya pasangan.

Bukannya akan lebih baik kemudian kita baurkan semua itu menjadi satu dengan punya pasangan kita, kemudian kita bersama-sama menghilangkan semua hal-hal negatif itu bersama-sama. Alhasil lelah, pusing, bingung dan segala emosi negatif kitapun berkurang bersama punya pasangan.

Bukannya begitu lebih baik daripada menggerutu dan saling menyalahkan? Bukannya begitu lebih menyenangkan daripada saling menganggap diri lebih ini lebih itu dari pasangan?

SEPIKIR-SERASA itu perlu dimiliki oleh kita dan pasangan dalam menjalani kehidupan pernikahan. Saat kita menjadi istri atau suami, apalagi saat kita menjadi mama dan papa nantinya. SEPIKIR-SERASA akan membuat kita lebih dekat dengan pasangan, kita merasa sama dengan pasangan, kitapun akan merasa lebih aman karena memiliki keyakinan bahwa apa yang kita pikirkan dan rasakan, pasangan akan juga memikirkan dan merasakannya sama percis dengan kita. 

Walaupun begitu, ternyata masih banyak pasangan yang mengabaikan ini, hasilnya cekcok sering terjadi, karena sudah pasti yang satu merasa tidak dimengerti, yang satunya merasa yang lain terlalu berlebihan akan satu hal. Tidak ada pemahaman yang baik, nol empati dan sudah pasti tidak akan menemukan jalan tengah, titik pas untuk yang satunya membantu yang lain dalam kesakitannya, kewalahannya dalam memikirkan sesuatu yang mengganggu.

Sudah ada beberapa manfaat sepikir-serasa dengan pasangan yang kusampaikan di atas, akan kurangkum kembali agar semakin klik dengan kita dan akan lebih membuat kita termotivasi lagi untuk terus mengasah dan menajamkan sepikir-serasa kita dengan pasangan. Karena, bener deh, sepikir-serasa itu PERLU dalam hubungan kita dengan pasangan.

Kenapa seperlu itu? check it out!

#1 Membuat kita jadi lebih MEMAHAMI pasangan

Pasangan kita mengatakan kalau dia sedang sakit, bingung atau kesulitan akan sesuatu. Tapi kita tidak akan bisa memahami itu kalau kita tidak berada di garis yang sama dengan pikiran dan perasaannya saat itu. Kita perlu mengasah sepikir-serasa kita agar lebih tajam untuk mengetahui dengan pasti seberapa sakit lukanya, seberapa pusing ia memikirkan suatu hal, bahkan seberapa takut dia menghadapi kesulitan dalam hidupnya sebagai individu. Ketika kita memahami pasangan, begitupun sebaliknya, kita akan merasa dekat dan saling mengenal satu sama lain. Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika kita bisa mengenal secara dalam dan dekat dengan pasangan kita yang mana menjadi sahabat kita dalam satu rumah.

#2 Kita bisa jauh lebih BEREMPATI dengan pasangan

Ketika kita berada di garis dan titik yang sama dengan pikiran dan perasaannya kita akan lebih mudah merasakan juga apa yang sedang dirasakannya dan juga mampu berada di pikirannya. Sebagai suami-istri, empati ini sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan pernikahan. Dengan empati yang tinggi antar pasangan akan membuat kita merasa sama dengan pasangan. Merasa sama dengan pasangan membuat tidak ada lagi yang harus dirahasiakan. Kita bisa menjadi diri kita sendiri, jujur terhadap diri sendiri dan menjadi individu yang apa adanya, tidak ada yang di tutup-tutupi karena takut kalau pasangan mengetahuinya.

#3 Kita jadi lebih MUDAH MEMBANTUNYA

Ketika sudah memahami dengan baik, kemudian bisa berempati dengan pikiran, perasaan dan keadaan pasangan, akhirnya kita akan lebih mudah membantu pasangan untuk mengatasi kesulitannya, untuk mengurangi sakitnya, atau menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Bantuan kitapun akan jadi lebih tepat guna dan benar-benar bermanfaat karena memang dibutuhkan oleh pasangan. Ketika kita bisa lebih mudah membantu pasangan dari kesulitannya, pasangan kitapun akan lebih merasa aman dengan kehadiran kita, begitupun sebaliknya. Karena ia dan kita tahu bahwa pasangan kita bisa membantu mencerahkan jalan kita yang gelap, menemukan titik terang dalam kita mengatasi kegelapan atau kesuraman yang sedang kita hadapi.

Contohnya, saat pasangan kita merasa sakit jarinya teriris. Jika respon kita masih meremehkan dengan mengatakan itu tidak apa-apa, menyuruh pasangan untuk tidak berlebihan, kita tidak akan bisa menyampaikan padanya bahwa kita memiliki kepedulian dan perhatian walau sekecil apapun karena kita mencintainya. Ia bisa jadi merasa bahwa kita tidak peduli terhadapnya, bisa jadi dia akan berpikir tidak akan mengatakan dan menyampaikan segala hal dengan kita, karena respon kita yang seperti itu.

Tidak perlu aku mengatakan ini itu dengannya, toh dia juga tidak peduli. Kalau aku kesulitan, aku akan mengatasinya sendiri. Toh dia juga tidak akan membantu apa-apa.” bisa jadi pikiran itu akan muncul di pasangan kita.

Tapi kalau kita bisa sepikir-serasa dengan pasangan, walaupun hanya perkara jari teriris, kita bisa membantunya mengambilkan obat merah, atau setidaknya memintanya mencuci jarinya agar darahnya hilang kemudian memberikan obat untuknya. Tidak perlu seperti di film-film kok, kamu langsung mengambil jarinya dan menghisap darahnya. Atau bisa jadi cukup dengan katakan “ohya, itu teriris, sakit pasti ya. Besok lebih hati-hati lagi ya,” dengan senyum yang menenangkan dan kata-kata yang adem di dengar.

Akan jauh berbeda kan dampaknya? Pasangan kita bisa berpikir bahwa kita peduli dengannya walau dalam kesulitan yang remeh dan kecilpun kita ada untuknya, membantunya mengatasi hal-hal itu. Hal-hal kecil saja bisa kita lewati bersama, yakin deh hal-hal besarpun akan ditaklukkan dengan mudah.

Kalau dilakukan bersama-sama dengan SEPIKIR-SERASA yang lebih tajam.

Lalu bagaimana cara mengasah dan menajamkan SEPIKIR-SERASA dengan pasangan?

  • Menjadi pendengar yang baik. Hadir secara nyata saat pasangan bercerita, bukan malah sibuk dengan gadget kita atau mengabaikan ceritanya. Walaupun ia menceritakan hal kecil sekalipun, pandang matanya dan tunjukkan bahwa kita hadir secara fisik dan mental mendengarkan ceritanya.
  • Tidak kaku dan memaksakan sudut pandang kita kepada pasangan. Kita memiliki sudut pandang sendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh pasangan, begitupun sebaliknya. Alih-alih memaksakan pasangan untuk selalu mengikuti cara merasa dan berpikir kita, lebih baik kita amati dan pahami sudut pandangnya juga. Dengan begitu kita juga bisa lebih memahaminya.
  • Mau belajar menerima dan memahami pikiran dan perasaan yang sedang dialami oleh pasangan. Mau belajar kuncinya. Ada banyak hal-hal di luar diri kita, di alam semesta ini, bahkan di dalam diri pasangan yang berbeda dengan kita. Ada banyak hal-hal baru yang bisa kita pelajari, apalagi yang dimiliki oleh pasangan. Mau belajar menerima dan memahami ia yang apa adanya dirinya, akan membuat kita lebih mudah menumbuhkan sepikir-serasa kita.
  • Mau keluar dari zona nyaman. Jika ingin kehidupan rumah tangga yang harmonis, kita harus menemukan titik pas, jalan tengah antara kita dan pasangan. Kita mungkin diharuskan menurunkan ekspektasi, atau malah menaikkan lagi kemampuan dan usaha kita. Disinilah kita diharapkan untuk keluar dari zona nyaman dan kebiasaan kita agar bisa sampai pada titik pas itu. Yang mana juga akan menumbuhkan sepikir-serasa kita dengan pasangan.
  • Tidak memaksa pasangan untuk mengikuti definisi (akan apapun) kita. Seperti yang kukatakan, ambang sakit pasangan bisa berbeda dengan ambang sakit kita. Kita tidak bisa menyamakannya. Menurut kita tidak sakit, bisa jadi menurut dia sangat sakit. Menurut kita itu mudah, tapi menurut dia mungkin sangat sulit. Tidak memaksakan definisi itu bisa membuat kita mengembangkan sepikir-serasa dengan lebih mudah.

((Ada lagi cara-cara lain? Share di comment ya!))

______

SEPIKIR-SERASA itu penting ternyata ya, yes sudah pasti! Ayo makanya diasah dan dipertajam lagi ya, sebagai senjata kita dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan dalam perjalanan rumah tangga kita. Dengan sepikir-serasa ini aku yakin tantangan apapun yang kita temukan dalam perjalanan itu akan lebih mudah diatasi bersama. Baik itu tantangan untuk kita bersama dengan pasangan, atau tantangan yang tertuju kepada diri kita (atau pasangan kita) sebagai individu.

Jadilah sahabat bagi pasangan, jadilah penolong yang baik bagi pasangan kita. Begitulah seharusnya kita sebagai suami-istri.

Aku yakin, jika hal-hal remeh, kecil dan sepele seperti di atas saja bisa kita atasi bersama dengan baik dan tepat, makan hal-hal besar atau yang lebih besar lagi akan bisa juga kita atasi dengan mudah bersama-sama pasangan.

Good luck!

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *