Marriage Care,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru #8 (menjaga keharmonisan bersama pasangan)

Setiap pasangan, suami dan istri, akan selalu mengharapkan dan mengidamkan rumah tangga mereka baik-baik saja. Kalau bisa harmonis-harmonis saja, langgeng-langgeng saja, dan selalu bahagia. Kalau bisa, kenapa tidak? Iya kan.

Satu hal yang pasti adalah menjadi harmonis saja, langgeng selalu dan bahagia selamanya bukan berarti tidak pernah berselisih atau tidak pernah bertengkar atau tidak pernah menemukan kesulitan di dalam dunia pernikahan. Karena yang namanya hidup pasti selalu saja di waktu-waktu tertentu kita menemukan tantangan atau kesulitan yang sebenarnya keberadaannya untuk meningkatkan kelas kita sebagai manusia. Membuat kita belajar dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Bukan mengenai kesulitannya, atau tantangannya atau masalahnya, tapi mengenai bagaimana kita sebagai pasangan, selalu bekerja sama menghadapi waktu-waktu sulit bersama, dan menaklukkan situasi-situasi yang penuh huru hara berdua. Ketika pasangan tercerai berai sebenarnya bukanlah karena masalah yang datang, tapi karena duanya tidak tahu bagaimana menggunakan potensi yang mereka miliki bersama sebagai pasangan.

Yang mana, bisa dikatakan, kehamornisan suami istri di dalam rumah tangganya saat menjalani jalan kehidupan bersama adalah ketika mereka selalu berjalan beriringan, berpegangan tangan dan melangkahkan kaki selaras satu sama yang lainnya.

Lalu bagaimana penerapannya dalam dunia pernikahan? Ada 5 tips yang akan kutuliskan dibawah ini sebagai catatanku kemudian kubagikan kembali kepada kalian yang dengan setia membaca “catatan si pengantin baru” ini. Comment untuk sharing tips apa lagi yang bisa dibagikan untuk manusia-manusia hebat lainnya yang juga sedang belajar menjaga kehamornisan bersama pasangannya.

Daripada berasumsi dan menebar kode, lebih baik selalu komunikasikan

Hal pertama yang ingin kubahas adalah hindari membuat drama yang tidak perlu. Hal ini juga termasuk selalu memandang dan menerima masalah sesuai porsinya, seberapa besarnya ia, seberapa merusaknya ia, agar kita juga bisa menyiapkan strategi bersama dan cara-cara dalam mengalahkannya. Ini juga menjadi sangat penting, jangan membesarkan masalah yang kecil, atau sebaliknya, jangan mengecilkan masalah yang sebenarnya cukup besar.

Katanya sayur tidak akan enak kalau tidak diberi garam, tapi jangan kebanyakan juga nanti keasinan, yang mana malah jadinya dibuang, tidak enak dimakan, tidak menyehatkan juga. Katanya bertengkar adalah bumbu-bumbu pernikahan, jadi terkadang harus ada yang mananya perselisihan dan argumen yang menantang, tapi menurutku, kalau tidak perlu sampai bertengkar, atau adu argumen menghabiskan tenaga dan membuang waktu, kenapa harus dilakukan? Bumbu-bumbu pernikahan juga harus seimbang sesuai porsinya, agar rasa masakan kitapun jadi seimbang dan nikmat dimakan.

Berasumsi sendiri mengenai apapun, apalagi yang berhubungan dengan pasangan dan kepentingan bersama, pasti akan menumbuhkan. curiga, ketidakpercayaan dan pikiran-pikiran negatif yang nantinya akan mengambil alih seluruh hidup kita. Yang kemudian menyebabkan kehidupan pernikahan tidak tenang dan terasa aman nyaman untuk ditempati. Kita selalu akan memandang negatif pasangan, masalahpun jadi tidak selesai karena selalu tidak bertemu titik tengah kenyamanan antara kita dan pasangan.

Selain itu, tidak adanya niatan untuk kroscek terlebih dahulu mengenai apa yang kita pikirkan dan rasakan terhadap pasangan, karena waktu dan tenaga telah habis untuk berpikir dan berasa sendiri.

Belum lagi, kode-kodean banyak dilakukan oleh kita, suami atau istri. Sayangnya, yang namanya menebar kode ini sebenarnya memiliki banyak kekurangannya. Bagus kalau pasangan kita langsung paham, kalau tidak? Pasti yang memberi kode mulai menimbulkan skenario di kepalanya, atau menerbitkan dialog-dialog yang mendramatisir situasi. Mulailah membuat kesimpulan sendiri, yang sudah pasti tidak dipastikan lagi kepada pasangan, “dia tidak sayang aku,” atau “dia tidak memahami aku,” atau lagi, “harusnya dia kan begini… begitu…”

Terlalu panjang untuk membicarakan bahwa berasumsi sendiri atau main kode-kodean memiliki sejarah panjang yang kelam di dunia pernikahan. Dan memang sebanyak dan sepanjang itu kekurangannya. Lalu buat apa lagi dilakukan?

Dua kata yang selalu kusuka, terlebih setelah menikah, “ayo komunikasikan!” atau “ayo bicarakan!” Kata-kata selanjutnya adalah, “dengan tenang dan nyaman!”

Apapun itu, bagaimanapun itu, seburuk apapun itu, sesulit apapun situasinya akan jauh lebih meringankan beban kita kalau kita sediakan waktu dan tempat dan diri untuk komunikasikan dengan pasangan kita. Budayakan bicara dari hati kehati dengan pasangan, dalam situasi yang tenang dan hati yang nyaman damai.

Kita pasti bisa!

Saling memberi ruang melakukan quality time masing-masing

Aku ternyata cukup sering mengatakan ini, walaupun suami dan istri telah menjadi satu, tapi tetaplah mereka adalah dua orang yang berbeda. Dua orang yang berhak diberi ruang dan waktu untuk melakukan apapun yang ia sukai sebagai satu individu.

Pesanku untuk para suami: jangan hanya menuntut istri melayani suami, menjaga dan mengasuh dan menyusui anak, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, tanpa pernah ada keinginan sedikitpun untuk membagi beban itu bersama. Tanpa pernah memberikan waktu untuknya menikmati tidur (yang mungkin hanya 1 jam saja) tanpa diganggu, dan memberinya ruang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan diinginkannya. Memberi hadiah kepada istri dengan waktu tidur 1 jam saja, sedangkan suami mengambil alih menjaga anak sudah merupakan hadiah yang besar untuknya. Ada lagi contoh hadiah lainnya, “kamu istirahat deh, nonton dulu gih, kamu kan suka acara di tv itu, biar hari ini aku yang masak.”

Lagipula, rumah tangga kan milik berdua. Anak kan milik berdua. Tidak ada yang namanya mengasuh adalah 100% kewajiban istri, dan suami boleh membantu sekali-sekali. Suami tidak membantu menjaga anak, tapi itu adalah kewajibannya sebagai orang tua. Kalau suami membantu pekerjaan rumah tangga, maka rumah tangga itu hanyalah punya istri, suami tidak termasuk di dalamnya, dan sudah pasti itu tidak benar.

Pesanku untuk para istri: selain bekerja dari pagi sampai malam, mencari nafkah untuk anak, istri dan kebutuhan rumah tangga, suami juga adalah satu individu yang memiliki kesukaan dan keinginan yang sesekali ingin diberikan ruang dan waktu untuk melakukannya. Kalau dari senin sampai sabtu ia sudah menghabiskan pagi sampai malam untuk bekerja, boleh sesekali di hari minggu ijinkan dia istirahat dan tidak melakukan apa-apa di rumah. Atau biarkan dia melakukan sesuatu yang diinginkannya, untuk pemulihannya sebagai seorang individu yang nantinya juga akan bermanfaat untuk kepentingan bersama.

Pesanku untuk suami dan istri: lakukan dan manfaatkan waktu yang diberikan untuk kita mengisi diri sebagai individu. Komunikasikan dan sepakati berapa kali dan seberapa lama waktu untuk sendiri kemudian waktu untuk bersama. Jangan kemudian terlalu berlebihan menggunakan waktu sendiri jadi waktu dan ruang untuk kebersamaan dengan pasangan dan anak jadi tidak ada.

yuk bisa yuk!

Menjadi “rumah” yang nyaman, untuk menjadi diri sendiri

Ada beberapa pasangan tidak merasa nyaman di rumahnya sendiri, merasa tidak aman karena banyaknya tuntutan oleh pasangannya. “kamu gini dong, kamu gitu dong.” Belum lagi banyak paksaan-paksaan agar agar yang satu selalu menjadi seseorang yang diinginkan oleh yang lain, “kamu jangan gini, jangan gitu.” dan masih banyak lagi.

Ada beberapa klien yang datang dengan keluhan bahwa ia tidak nyaman berada di rumah, rumah bukan lagi menjadi tempat yang menyenangkan apalagi yang membuatnya merasa aman. Ada yang mengatakan, setiap hari bertengkar dengan pasangan karena tidak suka melihat cara makannya. Ada juga yang cerita kalau setiap hari istrinya ngomel terus dan selalu menyalahkan kelalaian suami yang sehabis mandi meletakkan handuknya di tempat tidur, walaupun hanya sebentar.

Rumah adalah tempat mengistirahatkan beban fisik dan mental karena seharian berada di luar rumah, bertemu dengan orang lain yang kadang membuat tidak nyaman dan aman. Kalau sampai di rumah, kemudian kembali di tuntut harus begini dan begitu, lalu kapan kita bisa aman menunjukkan apa adanya kita kepada pasangan kita yang menerima kita apa adanya. Kalau ke apa adaan kita masih bisa di maklumi, dan tidak menjadi salah satu penyebab runtuhnya dunia, lalu buat apa selalu dijadikan sumber bertengkar dan kuat-kuatan urat?

Yang ada, rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk kita tempat langsung berubah menjadi tempat terseram. Tempat terpanas, bukannya teradem, tempat yang asing bukannya menjadi tempat yang menerima kita seperti kita adanya.

Siapa sih yang bisa tahan berubah menjadi orang lain apalagi dilakukannya dengan terpaksa? Jadinya lebih baik mencari tempat lain yang lebih aman dan nyaman. Bisa jadi satu pihak yang tertekan mencari tempat pesinggahan lain yang menurutnya lebih tenang karena lebih bisa menerinya apa adanya dan selalu memberikannya ruang dan kelegaan hati menjadi dirinya sendiri.

Mau pasanganmu begitu?

Saling bekerja sama menjalani kehidupan bersama

Untuk bisa saling bekerja sama secara selaras dan seimbang, suami dan istri harus tahu titik tengah diantara mereka. Titik tengah, titik pas yang mana menjadi titik tepat bagai keduanya dalam memahami masing-masing yang kemudian digunakan untuk kepentingan bersama.

Untuk mencapai titik pas itu, kitapun harus lebih dahulu mengetahui, memahami bahkan menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita (yang pasti dimiliki oleh setiap manusia) bahkan apa love language yang digunakan olehnya. Dengan begitu kita akan tahu bagaimana cara mengimbangi pasangan kita. Kita tahu dia tidak bisa bergerak cepat, maka kita bisa memperlambat sedikit langkah kita, selagi memberi motivasi kepadanya untuk bergerak lebih cepat, karena kita tahu dia mampu melakukannya. Seperti kita yang mampu memperlambat langkah kita untuknya.

Yang namanya berpasangan, harusnya selalu pas. Tidak satu lebih dari yang lainnya, atau yang satunya tenggelam dari yang lainnya. Keduanya harus saling mengimbangi kekurangan yang lain, harus saling mengisi untuk kepenuhan yang lain.

Ada lagi, kalau kita tahu love languagenya adalah sentuhan fisik dan pujian, kita akan memberikannya sentuhan-sentuhan yang membuatnya senang dan nyaman lalu memberikan apresiasi kepada dirinya yang melakukan sesuatu yang baik untuk dirinya dan kepentingan bersama. Genggam tangannya saat menyeberang, cium keningnya saat akan berangkat kerja, atau berikan pujian untuk masakannya yang enak. Dengan begitu jiwa kita dengan pasangan juga akan menjadi selaras, tombol klik akan lebih mudah ditemukan kemudian di tekan, kemudian untuk selaras hal yang lainnya bahkan menyelesaikan masalah dan tantanganpun akan menjadi lebih mudah.

Keduanya sama-sama saling berkorban dan berubah menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya, untuk kepentingan bersama. Saling menurunkan ego dan keluar dari zona nyaman untuk menjadi yang lebih dari sebelumnya.

Hilangkan mindset “aku sudah berikan, kenapa tidak kudapatkan?”

Cinta bukanlah sebuah lomba, yang mana keduanya saling berlomba-lomba memberikan sesuatu agar juga segera mendapatkan atau menerima sesuatu sebagai balasannya. Lalu sayangnya, ketika tidak didapatkan apa yang sudah diberikan, maka akan menjadi bahan untuk bertengkar dan saling menyalahkan. Take dan give pasti selalu ada dalam suatu hubungan, tapi cinta bukanlah kompetensi.

Saat satu pihak mulai merasa ia lebih berusaha atau merasa harus ada pembalasan atas sesuatu, maka hal tersebut dapat mengancam keberlangsungan hubungan. Jika kita memberikan dengan ikhlas dan tulus, maka sudah pasti kita tidak akan sangat mengharapkan balasannya, apalagi sesegera setelah kita memberikannya. Kita tahu bahwa balasan yang kita dapatkan tidak akan kita dapatkan segera mungkin seperti membalikkan telapak tangan, sedetik kita memberikan sesuatu itu.

______

Semoga 5 tips di atas bisa memberikan pencerahan kepada kita sebagai suami atau istri ya. Kalau ada tips lain yang bisa di tulis di comment ya. Ayo kita sharing bersama.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *