Marriage Care,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru #7 (Harapan yang Tidak Realistis)

(saat menulis ini akupun sedang berharap untuk tidak membuat pembukaan yang super panjang)

Kita semua punya harapan, siapapun yang bernafas pasti pernah memiliki harapan. Mulai dari harapan yang sederhana, sampai pada harapan yang besar dan megah. Karena memiliki harapan adalah sesuatu yang normal, maka jadi wajar juga setiap kita memiliki harapan dalam bentuk apapun.

Setiap orang pasti memiliki harapan, tapi tidak setiap orang bisa meraih, menerima, atau memiliki harapannya. Ada beberapa faktornya, bisa jadi harapannya yang tidak direstui oleh Tuhan, bisa jadi karena ia belum berhak mendapatkannya di waktu-waktu sekarang, atau mungkin ia yang berhak mendapatkan yang jauh lebih besar dari harapannya, atau bisa jadi juga karena usahanya yang tidak maksimal untuk mengusahakan dan mewujudkan harapannya itu menjadi bentuk yang nyata. Ada lagi satu faktornya, yang akan lebih banyak dibahas pada tulisan kali ini.

Memiliki harapan sah-sah saja, normal, wajar, bahkan dalam kondisi tertentu kita memang wajib dan harus berharap. Kita harus punya harapan dan mimpi agar hidup menjadi lebih baik. Namun, banyak yang tidak tahu, bahwa memiliki harapanpun harus realistis. Harapan yang tidak realistis apalagi disertai dengan tuntutan yang juga tidak realistis dan masuk akal, malah akan membuat harapan kita menjadi semakin jauh.

Tapi sayangnya, banyak dari kita malah tidak tahu ada harapan yang tidak sepatutnya kita miliki. Karena harapan atau keinginan atau mimpi itu tidak cukup realistis, sulit dan mustahil diwujudkan atau bahkan mungkin tidak perlu untuk diharapkan.

Sebagai seorang istri atau suami, kitapun pasti memiliki harapan-harapan, tapi tidak banyak dari kitapun menyadari bahwa kadang harapan kita jauh dari kata normal dan wajar apalagi realistis kepada pasangan. Sehingga yang awalnya tujuan kita memiliki harapan agar hidup menjadi lebih baik dengan pasangan, malah mengirim kita ke jurang penuh pertengkaran dan juga perasaan yang tidak terpenuhi oleh masing-masing kita. Sudah begitu, kita menyalahkan pasangan yang tidak mau berusaha melakukan sesuatu, kita menyalahkan keadaan yang tidak sejalan dengan harapan kita. Kita sering kali lebih mudah menyalahkan orang lain.

Kita lupa, bahwa penyebab dan alasan huru-hara yang terjadi dalam pernikahan kita, ya karena kita sendiri yang menciptakannya. Kebanyakan berasal dari tuntutan-tuntutan yang tidak wajar kepada pasangan dalam mewujudkan harapan-harapan yang dibuat. Sayangnya, harapan-harapan itu bukan atas dasar kesepakatan bersama, melainkan harapan dari satu pihak yang ditanggung jawabkan kepihak satunya. Yang sayangnya lagi, harapan itu hanya untuk kepentingan satu pihak saja, tapi dibebankan kepihak yang lain.

Sudah pasti hal itu tidak cocok dengan dunia pernikahan, kehidupan dua individu yang berpasangan. Tidak akan jadi pas, tidak akan seimbang, dan sudah pasti perjalananpun menjadi lebih sulit ditapaki.

(aku rasa, harapanku membuat pembukaan yang pendek tidak menjadi nyata, besok berusaha lagi!)

Processed with VSCO with g3 preset

Harapan yang tidak realistis dalam pernikahan

Berharap pasangan selalu membahagiakan kita

Ada beberapa dari kita memiliki harapan setelah menikah hidup akan menjadi bahagia. Kita membayangkan memiliki teman seumur hidup yang bisa memuaskan dan menambahkan bahagia ke dalam tangki kita sampai penuh. Punya harapan itu sah-sah saja, toh memang benar, menikah menjadi salah satu sumber untuk memenuhkan tangki bahagia kita. Namun, akan jadi tidak sah, jika kita hanya menuntut satu pihak sedangkan kita tidak melakukan apa-apa dalam memenuhkan tangki bahagia pasangan. Bagi kita, semua itu adalah tanggung jawabnya, dan kita hanya perlu menerimanya saja.

Ada lagi satu cerita, ia mengatakan bahwa “seharusnya” pasangannya segera membuat moodnya kembali baik ketika dia bertengkar dengan teman kantornya lalu sampai di rumah ia menangis dan marah-marah. Ia berharap dan sebenarnya lebih menjurus menuntut pasangannya untuk mengembalikan lagi sukacitanya dan menjauhkannya dari kemarahan dan kesedihan yang diberikan oleh orang lain di luar rumah.

Ketika pasangannya tidak bisa memberikan atau melakukan sesuatu sesuai harapannya, maka ia akan memulai drama yang lain. “kenapa kamu tidak bisa membuatku bahagia? Kenapa kamu malah semakin membuatku marah dan sedih?” begitu katanya sambil berlinang air mata. “kamu harusnya membuatku bahagia bukan menangis,” begitu lagi katanya dengan nada suara yang semakin meninggi.

Ada tiga hal yang bisa terjadi kalau hal ini terus menerus dilakukan oleh salah satu pasangan, atau bahkan keduanya memiliki harapan seperti diatas.

  • Pasangan kita akan melakukan usaha-usaha yang juga tidak realistis sama seperti harapan kita yang tidak realistis itu, dalam memberikan bahagia kepada kita.
  • Ia akan dengan mudah berkecil hati, memandang negatif dirinya, dan merasa tidak mampu menjadi seorang pasangan yang bisa membahagiakan pasangannya. Saat lagi-lagi usahanya tidak berarti apa-apa untuk kita, dan terus-terus saja ia mendapatkan kalimat “kenapa sih kamu tidak bisa membahagiakanku?” padahal ia sudah mengerahkan lebih dari usaha maksimalnya.
  • Kesabaran ada batasnya, usaha-usaha ada akhirnya, dan menyerah bisa saja terjadi. Bisa jadi pasangan akan menyerah dan memilih lepas tangan. Pergi dari kita, agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan lain yang tidak bisa diberikannya kepada kita.

Begitu yang terjadi dari kebanyakan pasangan yang memiliki harapan tidak realistis ini. Mau diteruskan?

Berharap pasangan mengikuti segala definisi dan sudut pandang yang kita yakini.

Yang namanya berpasangan, aku selalu tidak bosan mengatakan ini, artinya bersama-sama. Tidak hanya yang satu mengikuti yang lainnya, atau yang satu menjadi pengarah dan penentu yang mutlak. Kalimat-kalimat ini sering terdengar, “begini saja, ini yang benar, udahlah kamu ikutin saja. Kamu kan tidak bisa melakukan yang lain,” begitu bunyinya meremehkan. Atau, “aku kan sudah bilang, definisi sayang atau cinta itu, kamu harus selalu puji aku atau kasi aku hadiah. Kamu ga pernah gitu, kamu ga sayang sama aku,” begitu terdengar kalimat curiga, tanpa mau terbuka mendengarkan apa definisi pasangan mengenai sayang dan cinta itu.

Dalam perpasangan, kita tidak bisa hanya mengikuti, sama halnya kita tidak bisa hanya selalu menjadi pengatur dalam mengarahkan pasangan kita untuk berpikir, bicara dan melakukan sesuatu sesuai dengan definisi dan sudut pandang kita.

Sebagai dua individu yang berbeda, kita juga memiliki definisi akan apapun dan sudut pandang akan hal-hal tertentu yang berbeda dengan pasangan kita. Tapi percayalah itu bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dan diyakini akan menjadi perusak hubungan. Disitulah seninya, disitulah asyiknya, bagaimana kita belajar hal-hal baru mengenai definisi dan sudut pandang yang pasangan kita miliki.

Duduk bersama-sama, minum minuman dan makan makanan kesukaan bersama, tegakkan kepala, saling menatap mata kemudian bicarakan. Sampaikan apa definisi dan sudut pandangmu akan sesuatu, tapi juga dengarkan, terima dan pahami bagaimana definisi dan sudut pandang pasangan akan satu hal.

Kemudian, buatlah definisi dan sudut pandang bersama, yang didapatkan dari kesepakatan bersama. Hal itu bisa sebagai penerang atau pedoman perjalanan kehidupan rumah tangga kita kedepannya. Kesepakatan itu bisa menjadi penolong kita dalam melakukan kepentingan bersama. Yang nantinya juga bermanfaat untuk kita berdua.

Berharap pasangan (segera) berubah menjadi yang kita mau

Kamu berubah dong! Kamu itu harus gini… harus gitu…” dan bla bla bla, begitu kita seperti memiliki harapan yang baik kepada pasangan. Agar dia berubah menjadi sesuatu yang berbeda, melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukannya. Kita memintanya untuk melakukan sesuatu yang kita mau, tapi sering kali kita tidak mau melakukan sesuatu yang ia mau. Harapan yang tidak realistis yang hanya dari satu pihak, kemudian memaksa (secara halus atau kasar) kepada pasangan untuk segera melakukannya.

Dalam pernikahan, tidak ada yang namanya bahwa suami akan terus-terus harus mengatur istrinya. Istri harus terus-terusan hanya menurut saja, mengikuti saja. Atau istri yang terus menerus dominan, dan sang suami menjadi follower setia dalam hal apapun.

Saling. Itu kata yang kusukai setelah menikah. Saling bekerja sama, saling sayang, saling memberi, saling menerima, saling membahagiakan bahkan saling menyamakan langkah. Tidak ada namanya “kamu harus ikut mauku!”, karena kita berpasangan, jadi yang ada adalah “maunya kita.” bukan hanya “maumu” atau “mauku”.

Sudah sering rasanya aku menulis ini. Bahwa berpasangan harusnya saling mengimbangi. Saling menyamakan langkahnya agar terus beriringan. Bukan yang satu mendahului kemudian meninggalkan yang lain jauh di belakang. Atau yang lainnya lagi tidak berusaha mempercepat langkahnya, padahal ia mampu, untuk menyusul atau hanya sekedar supaya bisa sedikit lebih dekat dengan pasangan di depannya.

Baiknya, si suami yang jalannya pelan bisa mempercepat, si istri yang jalannya cepat bisa memperlambat, kemudian akhirnya bertemu di titik pas di tengah-tengah keduanya.

Lihatkan, yang ada keduanya saling berjuang, bahkan saling mengorbankan sesuatu untuk kepentingan bersama. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang bisa menyatukan kita yang berbeda?

Banyak mitos-mitos atau pendapat-pendapat masyarakat konvensional yang mengatakan bahwa istri harus selalu nurut suami, harus selalu lembut, legowo, menjadi seseorang yang harus nerimo, menunggu dll. Sedangkan suami diharapkan (yang jatuhnya diharuskan) kuat, tidak boleh lemah, jangan menangis, menjadi pemimpin, pekerja keras, tidak boleh mengeluh, bahkan tidak boleh sakit.

Sudah waktunya kita meninggalkan pendapat-pendapat yang sudah tidak lagi relevan dengan kemajuan jaman dan juga cara berpikir kita sekarang.

Memang, suami adalah nahkoda kapal pernikahan, tapi ada juga di waktu-waktu tertentu kemudi harus diambil alih oleh istri sementara. Tidak mungkin kan kapal kita berikan kepada nahkoda yang sedang sakit, yang sedang lelah atau bahkan yang sedang terluka. Mau kapal ternggelam?

Ya, memang benar istri harus selalu mendukung problem solving dan cara-cara suami dalam memecahkan masalah pernikahan, tapi ada disituasi tertentu, istri juga bisa memberi gambaran dan pendapatnya mengenai jalan lain yang juga bisa mereka tempuh, pintu lain yang harus mereka buka untuk memecahkan masalah-masalah bersama.

Bukannya yang bersama jauh lebih menyenangkan dan melegakan dan meringankan untuk kita?

Berharap hak yang berlebihan tapi tidak bersedia melakukan kewajibannya

“Kerja lebih keras dong, jangan malas, supaya bisa kasi uang bulanan yang lebih pas,” begitu kata si istri di suatu sore di tanggal muda, karena si suami bawa gaji yang segitu-segitu saja setiap bulannya. “kenapa sih kita ga bisa liburan ke luar negeri seperti yang mereka lakukan? Kamu sih gajinya selalu ga cukup,” begitu lagi kata si istri yang melihat tetangganya sedang siap-siap pergi kebandara untuk liburan tahun baru. Ada lagi, “kamu itu kenapa sih mukanya kusam banget, pulang-pulang suami bukannya dimanja-manja karena lelah seharian. Bukannya disayang-sayang dan dilayani dengan tepat, itu kan sudah tugas istri.” begitu kata suami di suatu malam saat istrinya sedang menyusui bayinya yang dari tadi rewel karena ngantuk.

Harapan-harapan tidak realistis itu disembunyikan dengan kata “itu hakku. Itu kewajibanmu!” Sayangnya, banyak dari kita hanya berfokus pada hak yang harus kita terima, tapi melupakan kewajiban yang harus kita lakukan lebih dulu. Apalagi salah satunya menuntut hak yang harus sama dengan hak yang didapatkan oleh orang lain.

Ada hal-hal yang harus diperhatikan sebelum kita hanya fokus pada hak saja. Apalagi dengan membandingkan dengan hak orang lain.

  • Seberapa kemampuan pasangan kita untuk melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan sesuatu sebagai hak kita
  • Apakah kita sudah melakukan kewajiban kita agar kitapun mendapatkan hak yang kita harapkan?

Meminta suami bekerja keras agar menghasilkan uang yang banyak, supaya bisa liburan atau membeli barang-barang mahal, tapi tidak pernah memberikan semangat kepada suami, jarang mendoakannya dengan tulus agar bisa bekerja dengan baik dan selalu sehat kuat.

Meminta istri selalu cantik, berpenampilan menarik dan melayani suami dengan sangat baik di rumah, tapi si suami tidak pernah memberikan waktu luang kepada istri untuk melakukan treatment diri. Tidak pernah mengambil alih sementara mengajak anak bermain dan biarkan istri istirahat dan membersihkan diri. Tidak pernah memberikan uang untuk membeli skin care atau ke salon.

Antara hak dan kewajiban, sudah pasti harus seimbang. Tidak bisa hanya satu yang difokuskan, tidak bisa hanya satu yang diharapkan, atau bahkan tidak bisa hanya satu yang dilakukan. Ketika kita melakukan sesuatu yang baik, maka kita akan mendapatkan hasil yang baik. Begitu yang benar, kan?

Berharap kita menerima sesuai dengan apa yang kita beri, seketika itu juga setelah kita memberi.

Terlalu idealis juga ternyata bisa membawa kita ke kepedihan yang tidak seharusnya. Terlalu idealis membuat kita menciptakan sendiri luka yang tidak semestinya ada. Tidak selamanya apa yang kita beri akan kita terima juga sebanyak itu, dan sesegera mungkin, secepat kilat, sedetik kemudian setelah kita berikan.

Tidak juga bisa apa yang sudah kita korbankan bisa dikorbankan juga oleh orang lain walaupun itu pasangan kita. Sebaiknya sudah waktunya kita sepakat bahwa kita memiliki pilihan-pilihan untuk memberi bahkan untuk menerima. Sudah waktunya kita sepakat bahwa tingkat bahagia kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak atau cepatnya kita menerima kembali apa yang sudah kita berikan sebelumnya.

Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam tema ini.

  • Tanamkan dalam hati: memberi itu harus ikhlas, berkorban itu sebaiknya harus benar-benar tulus. Jika keduanya dilakukan harapan mendapatkan kembalian tidak akan merusak hati suci kita yang sebelumnya telah bersedia memberi atau berkorban untuk orang lain, apalagi untuk kepentingan bersama.
  • Ingat juga selalu ini: setiap orang memiliki cara-cara mereka sendiri dalam menunjukkan terima kasihnya. Punya waktu yang mereka yakini untuk mengembalikan belas kasih orang lain kepadanya. Ada juga kemampuan yang berbeda dari kita dan orang lain dalam membalas budi yang telah diterimanya. Sadari itu, dan renungkan lagi. Toh, kalau memang keinginan untuk dibalas sangat besar, selalu ingat, pemberian kita yang tulus akan dibalas akhirnya oleh Tuhan di waktuNya yang tepat. Kita tidak akan rugi apapun.

Aku kan sudah kasi uang bulanan terus ke mama mertua, tapi kok rasanya aku ga dapat merasakan kalau dia sayang aku ya?” begitu kata si menantu. Atau ada lagi, “aku lho udah cape kerja, udah ngasi kamu uang bulanan yang cukup, aku lho selalu menunjukkan aku sayang kamu, cium kamu setiap hari, bilang sayang setiap hari, tapi kok kamu ga sih?”

Panjang banget ya kalimatnya, dan dalam kalimat itu banyak sekali kata-kata harapan yang tidak realistisnya. Harapan yang sebenarnya sedikit lagi akan berubah menjadi tuntutan yang membabi buta.

Yuk hentikan yuk, diubah ke yang lebih baik yuk.

______

Kusadari, tulisan kali ini sangat panjang. Siapa sangka juga akupun menulisnya dengan nyicil selama 2 mingguan. Kerja yang sudah mulai setiap hari kemudian kelelahan pikiran yang membuat kata-kata tak beraturan, tak indah dan tidak beriringan sejalan. Dihapus lagi diketik lagi begitu sampai hari ini.

Dan syukurnya, jadi juga dan bisa di publish juga hari ini.

Happy reading, good people

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *