Marriage Care,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru #6 (Move On dari Kalimat ini)

Tanpa disadari belakangan ini tulisan berfokus pada “Catatan si Pengantin Baru”. Karena itu kita ketemu lagi dibahasan dengan tema yang sebenarnya kusukai sejak belakangan ini. Mungkin karena itu tulisanku lebih banyak arah dan fokusnya kesana. Tak mengapa, akupun ingin lebih banyak menceritakan pengalamanku menjadi pengantin baru, dan juga ingin mencatatnya di sini (yang pasti sebagai pengingat untuk diriku sendiri) dan juga berharapnya ketika kubagikan seperti ini, juga akan menjadi inspirasi dan ‘penolong’ bagi kita semua. Setidaknya bisa sebagai pengingat atau pengetuk hati agar bisa menumbuhkan (walau sedikit) kesadaran kita sebagai individu yang juga berperan sebagai pasangan dari seseorang yang kita cintai.

Yang namanya berpasangan pasti harus saling membuat PAS. Bagaimana agar kita dan pasangan bisa pas satu sama lain? Saling berjuang, bekerja sama untuk menyeimbangkan segala hal dari masing-masing kita. Jika yang satunya bersedia menurunkan ekspektasinya, yang satunya juga harus berusaha meningkatkan usahanya untuk mencapai ekspektasi bersama yang disepakati. Kalau salah satu saja yang berusaha meningkatkan usahanya mencapai ekspektasi yang satunya, itu bukan berpasangan namanya. Atau hanya salah satu saja yang mengalah menurunkan ekspektasinya dan menerima saja sepenuhnya, itu juga bukan berpasangan namanya.

Kenyataannya susah untuk mengubah seseorang, iya kan? Pasti. Ada kebiasaan dan karakteristik yang sudah melekat sekian lama, seumur hidup kita dan juga pasangan tentunya, dan tidak jarang bahwa kebiasaan dan karakteristik itu bisa menghancurkan kesatuan antar kita dan juga pasangan, kalau salah satu dari kita tidak sepakat untuk mengubah sesuatu untuk kepentingan bersama. Komunikasi yang baik sangat diperlukan untuk sama-sama tahu dan memahami kebiasaan dan karakteristik setiap pribadi pasangan. Kemudian membuat kesepakatan bersama, mengenai hal-hal yang harus diturunkan-ditingkatkan atau malah dihilangkan-ditimbulkan.

Selain itu, karena begitu sulit untuk mengubah orang lain, dan juga memang tidak seharusnya kita merubah orang lain termasuk pasangan, maka kita lakukan yang paling mudah. Merubah diri sendiri. Ya, awali dengan diri sendiri. Ubahlah kebiasaan atau karakteristik yang tidak sesuai untuk kepentingan bersama sebagai pasangan. Ketika kita sudah tahu dan memahami karakteristik yang dimiliki pasangan yang mungkin bertolak belakang dengan kita, kemudian mulainya dengan mengubah hal-hal yang seharusnya, dari diri.

Ada begitu banyak hal-hal positif yang bisa kita lakukan, agar menjadi pribadi yang lebih baik, baik sebagai individu atau bahkan sebagai seorang pasangan orang lain. Merubah diri, apalagi untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa tidak?

Akan lebih menghabiskan waktu dan melemahkan badan untuk tetap kaku mempertahankan kebiasaan diri yang sudah pasti tidak cocok dengan pasangan kita. Hari-hari akan penuh ke-tidak-pas-an dengan pasangan yang sudah pasti membuat jiwa lelah, sudah pasti juga bahagia akan terasa sangat jauh. Daripada kita yang lelah dan menghabiskan waktu untuk bersedia berubah dan sepakat menge-pas-kan diri dengan pasangan agar tujuan bersamapun segera tercapai. Bahagia dan canda tawapun akan selalu menghiasi keseharian kita dengan pasangan. 

Move on dari beberapa kalimat yang seharusnya tidak terus menerus dipertahankan sebagai individu yang memiliki pasangan menjadi salah satu cara untuk menge-pas-kan hubungan. Move on disini bisa dengan membuang jauh-jauh kalimat ‘penyelamat’ yang sering kita ucapkan agar bisa tetap tak beranjak dari zona nyaman. Atau bisa juga berarti menggantinya menjadi yang lebih tepat dan pas agar hubungan tetap harmonis.

Apa saja sih kalimat yang sering (tanpa sadar) kita ucapkan, yang sebenarnya menyakiti pasangan, dan juga membuat hubungan kita tidak pas atau seimbang.

Selalu berucap “hah, kamu juga gitu kok,”

Selalu saling menyalahkan, terlalu sering mengucap “kamu juga gitu,“, kalau salah satu mulai complain mengenai kesalahan dalam berpikir dan berperilaku pasangannya. Dengan hanya fokus mengenai kesalahan itu dan pasangan yang juga mungkin pernah melakukan kesalahan yang sama, maka tertutuplah pintu kedamaian. Sibuk menyalahkan membuat lupa bagaimana cara minta maaf, bagaimana cara membalikkan keadaan menjadi lebih tenang dan happy. Sehingga bukan lagi damai sejahtera yang dirasakan tapi hal-hal yang penuh dengan kenegatifan karena kesalahan menjadi sesuatu yang wajar dan benar, karena merasa yang lain juga melakukannya. 

Alangkah lebih baiknya kalau masing-masing pasangan menyadari akan kesalahannya dan kemudian mengakuinya lalu meminta maaf. Kemudian berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Kata orang kalau kita benar-benar mencintai, memperdulikan dan menganggap pasangan kita penting, kita akan berusaha dengan sangat menjaga perasaannya dan melakukan yang terbaik. Nah, kalau sudah seperti itu, akan jauh-jauh pasti kata-kata “kamu juga gitu,” ketika pasangan complain mengenai kesalahan kita. Kita akan menjadi semakin sadar bahwa pasangan kita tidak nyaman dengan perilaku dan pemikiran itu dan berniat untuk kembali membuat ia nyaman dengan melakukan yang jauh lebih baik.

Bersembunyi di balik kata “terima aku apa adanya!”

Pernah dengar pasanganmu mengatakan hal ini, “terima aku apa adanya! Aku memang seperti ini, tidak bisa berubah. Terima saja!“. Ultimatum itu pasti terlahir dari kata-kata manis di awal pertemuan atau pada saat melakukan pendekatan. Kata-kata mesra nan romantis itu biasanya kurang lebih seperti ini, “ya, aku mencintaimu, aku akan menerimamu apa adanya.”. Hah, kalau diawal mendapatkan kata-kata seperti itu, rasanya seluruh dunia milik kita berdua ya. Tapi, akan jadi zonk banget kalau dalam proses menjalani kehidupan bersama, ada beberapa sikap, pemikiran bahkan nilai-nilai yang ternyata berbeda sekali dan sangat sulit rasanya “menerima apa adanya” pasangan kita. 

Kalau sudah begini, harus berbuat apa? Satu hal yang harus beberapa pasangan pahami adalah: Bedakan antara “menerima apa adanya,” dan “mencoba memperbaiki dan upgrade diri“. Jadi gini, kita memang harus menerima pasangan kita apa adanya, tapi ini hanya berlaku di situasi tertentu. Namun, jika ada pikiran dan sikap yang sebenarnya bisa diperbaiki, ya ayo dong diperbaiki. Bukan malah tetap terkungkung dan melakukan pembelaan diri dibawah kata-kata “terima aku apa adanya,“. Jaman sudah berubah, semuanya sudah semakin baru, kitapun harus begitu, upgrade diri menjadi jauh lebih baik lagi. Keluar dari zona nyaman dan perbaiki apa yang harus diperbaiki. Toh juga, pasangan kita tidak akan menuntut sesuatu diluar kemampuan kita. Kalau ia meminta kita berubah, itu artinya ia percaya bahwa kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan

Kadang kita sebagai istri akan menanyakan pertanyaan ini, “yang, kamu sayang aku ga?” Lalu dijawab oleh pasangan “kalau kamu sayang ga sama aku?” Dongkol ga? Kadang, sekali lagi terkadang, kita memang wajar kok bertanya (untuk kembali memastikan) mengenai perasaan pasangan ke kita. Tapi ada pasangan yang menganggap bahwa bertanya hal-hal seperti “kamu sayang ga sama aku?” Itu tidak perlu, karena jawabannya pasti “iyalah sayang!”. Si wanita terkadang ingin memastikan, ingin mendengar dalam bentuk kata-kata, walau sebenernya ia juga sudah pasti tahu jawabannya. Sedangkan si pria menganggap pertanyaan itu tidak ada gunanya ditanyakan dan kadang ada juga yang berpendapat pertanyaan itu adalah pertanyaan keraguan dan kecurigaan untuknya. 

Bukan, kami sebagai wanita tidak mencurigaimu, duhai pria. Terkadang kami hanya ingin mendengar saja cinta dan kasih sayang itu dari bibirmu. Apalagi jikalau si pria bukan orang yang romantis dan manis yang setiap saat bisa bilang “i love you” kepada pasangannya. Memperkatakan perasaan, terlebih bagaimana kita mencintai dan menyayangi pasangan memiliki efek yang signifikan baik untuk meningkatkan semangat dan kesukacitaan pasangan dalam menjalani hari-harinya yang sementara berpisah dengan pasangan karena pekerjaan masing-masing. Dan efek dari itu sudah pasti semangat kerja yang meningkat yang mana juga untuk kepentingan bersama sebagai suami dan istri. Hal ini juga berlaku sebaliknya ya.

Pertanyaan (yang mungkin remeh oleh sebagian orang) “kamu sayang ga sama aku?” wajar-wajar saja ditanyakan, jadi dijawablah dengan jujur dan tanpa beban juga. Tidak ada salahnya mengatakan “ya dong sayang, aku selalu sayang kamu,” walau harus dikatakan berkali-kali. Jawaban itu sebagai pengingat kita juga bahwa ada seseorang dihati ini yang selalu kita sayangi setiap hari dan juga memberikan sayang itu kepada kita setiap saat.

Kalimat merendahkan pasangan

Tidak jarang ada pasangan yang mengatakan kalimat ini ,”aku kepala keluarganya, jadi kamu harus ikutin aku” atau “aku yang lebih banyak pendapatannya jadi kamu harus nurutnya sama aku,”. Kalimat meremahkan ini sudah pasti menyakiti satu belah pihak, sudah pasti tidak harus menjadi kalimat yang diucapkan, walaupun hanya tercetus dalam hati.

Suami memang sebagai nahkoda kapal pernikahan, tapi bukan berarti hanya dia yang mengambil kendali. Seorang istri ada dengan tujuan menjadi navigasi untuk suami. Jika satu orang tidak ada atau tidak melakukan tugasnya, karena diambil alih semuanya kepada satu orang saja, sudah pasti kapal tidak akan melaju dengan benar dan mungkin juga, kemungkinan besarnya tidak akan sampai pada tujuan bersama.

Hidup perpasangan, sebagai suami istri dalam dunia pernikahan sudah pasti membutuhkan kerja sama. Itu artinya kedudukan suami dan istri haruslah seimbang. Tidak ada yang di depan yang lain di belakang, mereka harus berjalan beriringan. Tidak ada yang namanya satunya di atas, satu lagi di bawah, mereka harus selalu berdampingan dan bergandengan tangan. Pasangan harus saling mengimbangi dan melengkapi, itu yang pasti.

Kalimat tuntutan yang tidak realistis

Selalu ada kata “hah, kenapa sih dia ga bisa jadi seperti yang aku mau.” Atau “coba dia bisa lebih perhatian aja sama aku, pasti aku ga ragu lagi,” 

Ini pada saat sebelum kita memutuskan untuk menjalin ikatan pernikahan. Selalu ada keraguan yang tersampaikan atau malah disampaikan oleh orang lain atas keputusan kita untuk memulai hal baru seperti memulai hubungan. Dan sayangnya keraguan itu karena melihat ketidaksempurnaan orang lain atau pasangan.  Dan sayangnya lagi, kesempurnaan yang kita maksud adalah hal-hal yang harus sesuai dengan pemikiran kita sendiri, hal-hal yang sebenarnya hanya menjadi kebutuhan kita saja, bukan kebutuhan bersama sebagai pasangan. Jadinya, kesempurnaan yang kita inginkan hanya untuk memuaskan dan mencapai tujuan kita saja. 

Padahal sebenarnya yang harus benar-benar kita siapkan dalam suatu hubungan bukanlah pasangan yang sempurna. Kesempurnaannya bukanlah tanggung jawab kita, dan bukan kita yang seharusnya merubah mati-matian pasangan kita. Biarkan proses perbaikan dirinya menjadi tanggung jawabnya sendiri. 

Padahal sebenarnya yang harus benar-benar kita siapkan malah diri kita sendiri. Yang kita butuhkan adalah kemauan dari diri sendiri untuk selalu belajar dan belajar untuk menyempurnakan diri. Untuk memperbaiki apa yang harus kita perbaiki dalam diri. Dan untuk menerima proses perbaikan diri pasangan kita juga. Agar kita bisa sama-sama sampai pada perbaikan dan kesempurnaan yang kita pakai untuk mencapai tujuan bersama. Sekali lagi, tujuan bersama, bukan tujuan masing-masing ya.

______

Semoga setelah ini kalimat-kalimat seperti di atas sudah tidak menjadi kalimat yang menetap di dalam hati apalagi yang sering terucapkan dari bibir kita ya.

-aa- 

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *