Marriage Care,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru #4 (Menjadi Contoh yang Baik)

Hi, ketemu lagi di bahasan mengenai kesadaran-kesadaran yang kudapatkan selagi menjalani adaptasi selama menjadi seorang istri. Entah kenapa, aku jadi suka sekali saat menulis bagian-bagian untuk tema ini, karena memang masih suka geleng-geleng sama banyak pelajaran baru, hal-hal yang tidak biasanya dilihat dan dirasakan apalagi dilakukan. Tapi anehnya, kok bisa tetap bikin seneng, tetap bikin menambah semangat dan tetap jadi semakin sayang dengan diri sendiri dan juga dengan pasangan.

Sebenarnya tulisan ini sudah kutulis di bulan ke delapan pernikahanku, tapi baru sekarang ku upload di blog ini di bulan ke 21 bulan pernikahan kami. Ada hal-hal yang kutambahkan dan juga ada beberapa kata-kata atau kalimat yang kuganti. Ini juga kesadaran baru sih untukku. Ternyata gaya dan cara menulisku 8 bulan yang lalu mengalami perubahan dengan yang sekarang.

Oke, kita mulai saja ya, bahasa mengenai judulku di atas. “menjadi contoh yang baik untuk pasangan.” Ah, aku senang sekali bahas tema yang satu ini.

Kita mulai dulu dari pemikiran ini ya, karena akupun memulai kesadaran ini dari kesadaranku mengenai bahasan parenting yang selalu kuperkatakan setiap hari kepada klien-klienku. “Tidak ada orang tua yang ingin anak-anaknya berbuat, berpikir atau berkata yang tidak baik” Setuju?

Tapi, tanpa disadari ada beberapa orang tua hanya memiliki keinginan, atau malah ada yang hanya bisanya menuntut anaknya untuk selalu melakukan hal-hal yang baik saja, nurut apa kata orang tua, pokoknya jadi anak yang super duper baik.

Sayangnya ada beberapa orang tua lupa, sebelum mereka bisa berpikir, berkata apalagi berbuat yang baik, anak-anak harus lebih dulu melihat dan dipaparkan sesering mungkin mengenai bagaimana berpikir dan berkata yang baik dan apa itu perbuatan yang baik. Bagi anak-anak, orang tualah orang pertama dan orang yang tersering dilihatnya setiap saat. Dengan begitu, secara tidak langsung, merekapun akan meniru dan melihat bagaimana orang tuanya, atau orang-orang terdekatnya berpikir, berkata dan berbuat.

Orang tua yang baik, ia akan tahu bahwa sebelum menginginkan anak sesuai yang diinginkannya, iapun harus melakukannya lebih dulu. Seperti yang kukatakan tadi, orang tua seharusnya lebih sering mencontohkan hal-hal baik terlebih dulu agar dapat di lihat, dipelajari dan ditiru pada akhirnya oleh anak.

Selain selalu memiliki komitmen untuk menjadi contoh baik, orang tuapun diberi tantangan untuk segera MEMPERBAIKI diri menjadi lebih baik lagi sehingga bisa selalu mampu menjadi contoh baik, yang mana orang tua menjadi semakin disempurnakan agar anak akhirnya dapat selalu belajar hal baik darinya. 

Begitulah orang tua yang seharusnya selalu memperbaiki diri dan memberi contoh baik secara nyata untuk anak-anaknya.

Sama dengan hubungan orang tua – anak, hubungan suami – istri pun seharusnya saling memberi pengaruh atau contoh baik untuk pasangannya.

Hal ini bermula dari, sadar atau tidak sadar, sebagai pasangan (baik yang sudah menikah atau yang masih berpacaran) pasti akan selalu mencontoh sesuatu dari pasangannya. Secara tidak langsung, tanpa kita sadari, kita mengikuti dan meniru beberapa perilaku, cara berkata dan berpikir dari pasangan. Setuju ga? Tanpa kita sadari saat kita melakukan sesuatu, kita akan ingat, “oh, ini kan suamiku selalu berkata-kata begini.” atau “ih, aku jadi ikut-ikutan nih melakukan ini, karena istriku selalu melakukannya,”

Ternyata, tidak hanya anak-anak kita ya yang akan meniru apa saja yang orang tuanya lakukan. Kitapun sebagai seorang istri bisa meniru juga hal-hal dari pasangan kita, begitu juga sebaliknya, pasangan kita meniru dan mengikuti sesuatu dari kita.

Ini yang perlu selalu diingat! Akan jadi berbahaya jika kita atau pasangan kita malah tidak menjadi contoh yang baik. Karena bahasan tadi, bahwa sadar tidak sadar kita akan mencontoh sesuatu dari pasangan, maka akan ada kemungkinan juga kita akan meniru yang kurang baik. Akan ada juga skenario bahwa kita terpengaruh oleh cara berpikir, berkata bahkan perbuatan yang kurang tepat dari pasangan. Skenario ini tentu saja tidak akan menguntungan, seharusnya tidak dilakukan dan tidak terjadi.

Yang namanya berpasangan, secara tidak langsung akan saling mempengaruhi, karena itu sebagai pasangan kitapun diharapkan untuk selalu menjadi contoh yang baik untuk pasangan.

Kemudian apakah sudah selesai sampai disana? Ternyata tidak. Pada kenyataannya sulit menjadi contoh yang selalu baik, karena kita manusia yang tidak sempurna. Akan ada saat-saatnya kita akan lelah dan lepas kendali, kemudian jadi berkata, berpikir dan berbuat yang kurang tepat. Wajar, karena kita manusia. Lain kali akan kubahas mengenai kita yang manusia tidak sempurna ini ternyata tidak mengapa.

Perlu diingat, walau sebagai manusia yang memang tidak sempurna, tapi kita selalu bisa berusaha dan belajar terus menerus untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, agar juga bisa dicontoh oleh pasangan kita. Namun ini pesanku, sebelum menjadi contoh yang baik untuk orang lain, baiknya terlebih dahulu,

“JADILAH CONTOH BAIK UNTUK DIRI SENDIRI”

Dengan terus memperbaiki diri menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya.

Menjadi contoh baik untuk orang lain akan menjadi sumber kebaikan juga untuk kita sehingga perlu sering kali dibagikan. Namun sebelumnya, yang paling penting adalah kita yang selalu BELAJARBELAJAR dan BELAJAR untuk MEMPERBAIKI diri sehingga secara langsung akan bisa menjadi contoh baik untuk orang lain.

Apa sih yang kita butuhkan agar bisa memperbaiki diri yang nantinya bisa menjadi contoh yang baik:

Tidak kaku dan terpaku hanya pada sudut pandang sendiri

Banyak pasangan yang akhirnya tidak lagi bisa meneruskan hubungan karena merasa kurang cocok, begitu sering alasannya. Ketidakcocokan ini biasanya terjadi karena sudut pandang yang berbeda diantara kita dan pasangan. Sebenarnya sah dan wajar saja memiliki perbedaan. Toh semua orang di dunia ini pasti berbeda, tidak akan pernah kita temukan dua orang yang 100% bisa sama dari segala aspek.

Yang kurang tepat adalah, kita yang kaku dan hanya meyakini bahwa sudut pandang kitalah yang benar dan tepat. Sudut pandang dan pendapat orang lain atau pasangan kita itu salah, buruk dan tidak harus diikuti. Kita jadinya menuntut dia yang berubah. Padahal kalau dilihat lebih dalam, mungkin kitapun juga harus berubah. Bisa jadi sudut pandang kita dan pasangan sama-sama kurang tepat jadi harus sama-sama diperbaiki. Atau bisa jadi sebenarnya sudut pandang kita dan pasangan sama-sama baik, hanya penyampaiannya saja yang berbeda.

Intinya, belajar untuk menerima, mendalami, memahami sudut pandang pasangan. Dengan begitu kita bisa belajar hal-hal baru juga dari sana.

Mampu terbuka menerima kritik dan saran

Hal yang menyebalkan di dunia ini salah satunya adalah disalahkan, dikritik atau di berikan saran oleh orang lain atas apa yang kita katakan, pikirkan dan lakukan. Yang bikin menyebalkan adalah kita yang sudah seumur hidup berperilaku dan berkata dan berpikir sesuatu yang kita yakini benar tapi ternyata menurut orang lain kurang tepat.

Menerima kritik dan saran yang membangun dari orang lain menjadi salah satu proses yang mesti kita lakukan dalam proses memperbaiki diri. Jangan tergesa-gesa untuk menolak kritik dan saran itu. Dengarkan dulu dengan seksama, buka hati dan pikiran untuk menerimanya, dengan begitu kita akan menemukan sesuatu yang baru yang bisa menjadi kesadaran baru juga untuk kita.

Mampu bedakan mana yang baik dan buruk

Untuk bisa memperbaiki diri, kita harus tahu mana hal-hal yang baik yang harus kita pertahankan untuk terus kita lakukan. Dan mana hal-hal buruk yang seharusnya kita buang jauh-jauh dengan sukarela dan kita ganti dengan hal-hal lain yang lebih baik dan tepat untuk mulai kita lakukan.

Terbuka menerima bahwa ada hal-hal buruk yang pernah kita pikirkan, katakan dan lakukan adalah awal mula kita bisa memperbaiki diri. Ketika kita tahu bahwa hal-hal tersebut buruk, maka kita bisa menggantinya dengan yang lebih baik.

Terbuka menerima perbedaan dan perubahan apapun

Seperti yang kukatakan tadi, perbedaan dan perubahan pasti selalu ada. Kita harus terbuka dengan kedua hal itu, agar kita juga tahu bahwa ada hal-hal lain diluar diri kita yang juga bisa kita pelajari dan ambil beberapa untuk kemajuan diri kita sendiri.

Ada banyak hal-hal baru yang bisa jadi lebih baik dan lebih tepat dari punya kita. Berani menerima dan belajar dari sana akan memberikan keuntungan bagi kita sendiri. Jika ingin memperbaiki diri, kita juga harus berani menerima segala perubahan yang memberi tantangan untuk keluar dari zona nyaman, dan berani menerima perbedaan yang sudah pasti tidak menjadi tantangan untuk kita berdampingan dengan hal-hal diluar kebiasaan kita.

Pada dasarnya jika kita ingin anak-anak mencontoh yang baik, kita bisa memulainya dari diri sendiri, kemudian dengan pasangan. Karena saat kita menjadi contoh baik kepada pasangan, kemudian pasangan mencontoh kita (walaupun secara tidak langsung dan tidak disadari), maka kita dan pasangan akan melakukan hal-hal baik yang sama, jadi anak akan lebih mudah mencontoh kita.

Kenapa sih anak kesulitan mencontoh hal-hal dari orang tuanya? Karena biasanya mama dan papanya menunjukkan perilaku dan berkata-kata yang berbeda-beda. Jadi, akan lebih mudahkan bagi anak-anak kita kalau orang tuanya menunjukkan perilaku (BAIK) yang sama. 

Lalu, kenapa sih penting sekali menjadi contoh baik bagi pasangan? Aku rasa manfaatnya ini banyak dan bagus.

  1. Kita dan pasangan bisa memiliki satu perilaku baik yang sama. Ini akan membuat anak lebih mudah meniru. Kita dan pasangan juga akan menjadi lebih kompak dalam segala hal. 
  2. Kita dan pasangan bergerak maju untuk proses perbaikan masing-masing.
  3. Setiap pasangan bisa lebih memahami cara-cara atau perilaku yang ditunjukkan oleh pasangan.
  4. Setiap pasangan bisa lebih terbuka dengan perilaku yang ada. Tidak merasa bahwa hanya dia saja yang paling baik, atau paling pantas menjadi contoh bagi yang lain. Keduanya mau terbuka untuk sama-sama belajar menjadi yang lebih baik lagi.  

Aku ingin berbagi pengalaman pribadi mengenai topik kita kali ini

Jadi, diawal-awal menikah ada keterkejutan khususnya dari aku, karena ada beberapa hal yang aku kira akan terjadi atau dilakukan setelah menikah, tapi ternyata tidak seperti pemikiranku. Ada beberapa hal yang “kok gitu sih?” atau “kok beda sih?”. Ada hal-hal baru lainnya yang membuat terkejut karena ada hal-hal baru yang benar-benar berbeda dari yang kumiliki atau yang sering kulakukan, dan kadangkala malah ada hal-hal yang tidak cocok dan tidak disukai.

(Bahasan ini kubahas sebelumnya di “Catatan si Pengantin Baru #2 (Aku kira.. eh Ternyata!” bisa dibaca ya.)

Ini termasuk juga untuk hal-hal kecil yang sebenarnya remeh, tapi terasa mengesalkan karena berbeda dengan kebiasaanku sebelumnya. Di awal-awal memang pernah menjadi tantangan dan bahan percecokan di antara kami, aku merasa yang dilakukan pasangan tidak tepat, sedangkan pasangan tidak menganggap hal yang dilakukannya hal yang salah, dan masih bisa dilakukan. Bersyukurnya karena aku memiliki waktu jeda untuk mempelajari lebih lama dan mencari tahu, tidak hanya sekedar dengan cepat mengatakan salah, aku jadi lebih memahami bahwa 

"..sebenarnya yang dilakukan oleh pasanganku tidaklah salah atau buruk hanya karena berbeda denganku."

Satu hal penting yang kusadari dan syukurnya cepat kusadari adalah aku HARUS TERBUKA dengan hal-hal baru yang kutemui dari pasanganku. Karena keterbukaan itu membuatku lebih memahami perilaku dan cara-caranya kemudian aku bisa dengan mudah melihat bahwa cara-caranya belum tentu salah atau belum tentu buruk. Bisa jadi sama-sama baik hanya saja dengan cara yang berbeda denganku. Atau terkadang malah cara-cara atau perilakunya lebih tepat dari punyaku. 

Dan disinilah adanya PROSES MENIRU yang kemudian membuat kami merubah perilaku yang lebih baik lagi hasil dari mencontoh perilaku baik yang baru dari pasangan.

Dari pengalaman itulah aku menyadari bahwa menjadi contoh baik untuk pasangan itu sangatlah penting. Kita bisa sama-sama belajar mengenai hal baru yang dilakukan pasangan dan juga bisa memperbaiki cara-cara atau hal-hal yang kurang tepat atau kurang baik yang kita lakukan sebelumnya menjadi cara-cara yang lebih baik dan tepat.

______ 

Ayo saling berlomba menjadi contoh terbaik untuk semua orang ya, untuk pasangan, untuk anak-anak kita, bahkan untuk diri kita sendiri. 

Tetap semangat dan terus mau belajar!

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *