Marriage Care,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru #3 (Pasangan yang Baik)

Kita semua pasti pernah punya tipe-tipe pasangan idaman, tipe-tipe pasangan yang kita inginkan atau harapkan kita miliki dalam hidup kita, menemani kita selama-lamanya. Tipe-tipe pasangan itu menjadi landasan kita untuk mengiyakan menjadi pasangannya, atau untuk meyakinkan kita memilihnya menjadi pendamping seumur hidup kita nantinya.

Dulu, dulu sekali, saat aku masih SMA, 14 tahun yang lalu, bahkan mungkin sampai sesaat sebelum menikah, aku memiliki harapan-harapan atau menginginkan kriteria suami seperti apa ini:

  • Harus selalu ada untukku
  • Harus selalu jadi orang nomor satu dan hanya boleh sayang padaku
  • Harus bisa melakukan apa saja untukku
  • Harus selalu bisa membuatku bahagia.

Dan kusadari sekarang, saat menulis ini, banyak lagi keharusan yang kujadikan “syarat” untuk pasanganku. Kusadari lagi, semua harus itu tidak sangat sangat sangat realistis, egosentris, kekanak-kanakan. Begitulah aku yang dulu, kuakui sekarang, aku yang rapuh, ingin selalu bahagia tapi terkadang malah menggantungkannya kepada orang lain. Tanggung jawab untuk membuatku bahagia kulemparkan kepada orang lain, agar mereka saja yang susah-susah dan berusaha cari caranya agar aku bahagia. Sedangkan aku duduk-duduk saja, santai-santai saja, menerima bahagia yang melimpah.

Lalu, bagaimana ternyata mereka tidak bisa memberikannya? Bagaimana jika mereka tidak menemukan caranya? Atau bahkan, bagaimana kalau mereka tidak mau melakukannya untukku?

Kalau kuingat-ingat lagi 4 poin diatas, aku jadi malu sendiri, untuk menuliskannya saja butuh hapus ketik hapus ketik beberapa kali. Aku malu. Aku yang dulu, benar-benar sangat menyebalkan. Dari kata pertamanya saja sudah salah, apanya yang harus? Kenapa harus? Siapa yang mengharuskan? Dan kata-kata berikutnya yang kemudian membentuknya menjadi kalimat sama saja sangat salah. Apalagi kalimatnya. *apa kuhapus saja ya?

Kubayangkan kemudian, misalnya, suamiku bersedia melakukan ke empat poin itu, apa ya tidak kasian ya melihatnya begitu melakukan 4 keharusan yang sangat sangat berat itu. Aku saja rasanya kok ogah melakukan itu untuk orang lain. Aku yang sekarang kemudian menertawakan aku yang dulu. Dasar bocah, banyak maunya, ingin selalu menjadi yang utama diperhatikan, disayangi, dipedulikan, dasar bocah egois. Tidak, aku tidak mengutuki diriku sendiri, oke aku maafkan aku yang naif itu, kini aku bersyukur karena sudah bisa melihat sudut pandang yang lain, sudah bisa terbuka dengan hal-hal lain. Kusadari, bahwa dunia ini dan segala isinya tidak hanya berpusat kepadaku.

Sekarang setelah menikah, aku menjadi lebih realistis, pemikiranku jadi seperti ini:

Harus selalu ada untukku — trus hidup mau kayak apa?

Kalau suamiku selalu ada hanya untukku, segera hadir saatku memanggilnya, itu artinya dia tidak akan bisa kemana-mana, tidak bisa bekerja, tidak bisa melakukan hal-hal lain, hanya harus menempel denganku. Mungkin dia masih bisa pergi kerja, tapi pasti dia tidak akan tenang dan nyaman. Lalu bagaimana kami bisa hidup? Karena sudah pasti pendapatan kami pasti sangat terganggu.

Harus menjadi nomor 1 dan hanya boleh sayang sama aku — aku juga harus gitu dong!

Kalau aku menuntut ia harus menjadi yang nomor satu untukku, aku juga harus melakukan itu. Aku hanya boleh menyayanginya, padahal ada hal-hal atau orang-orang lain yang bisa kusayangi juga. Begitu juga dia. Dan lagi, kalau keharusan itu dikembalikan kepadaku, apa aku bisa? Apa aku sanggup? Ntar, ntar dulu, pertanyaan utamanya, apa aku mau?

Apa aku mau? Tentu saja tidak. Jawabanku pasti begitu. Dan mungkin dia juga begitu. Walau dia tidak akan langsung mengatakan “aku tidak mau!” sefrontal aku, tapi aku tahu dia akan mencari cara dan jalan yang halus untuk memberitahuku, atau untuk membuka pikiranku, dan begitulah yang dilakukannya, karena itu tulisan ini ada.

Harus bisa melakukan apa saja untukku — lalu apa yang bisa kulakukan di hidupku?

Ya, enak sekali dong kalau dia bisa melakukan segala hal, kuulangi segala hal. Aku bisa santai-santai saja, tidak susah-susah. Lalu muncul pertanyaan, lantas kalau dia harus pergi kesuatu tempat dan tidak bisa langsung hadir saat aku membutuhkannya, lalu bagaimana? Kalau dia tidak ada, lalu apa aku siap melakukan segala hal sendiri? Abaikan dulu kesiapanku, pertanyaan terpentingnya adalah apa aku bisa melakukan segala hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya karena dialah yang bertanggung jawab sepenuhnya? Apa bisa aku melakukan sesuatu tanpa kupelajari caranya terlebih dahulu?

Itu contoh gampang, dia hanya pergi untuk sementara, aku mungkin masih menunggu dia pulang untuk melakukannya. Tapi bagaimana kalau kepergiannya tidak untuk sementara? Bagaimana kalau dia meninggal? Bagaimana kalau ternyata kita harus dipisahkan oleh kematian. Dan tinggal kamu seorang diri di dunia ini yang kehilangan sumber ketergantunganmu?

Harus selalu bisa membahagiakanku — kalau bisa, kalau tidak? Mau jadi alasan untuk pisah?

Banyak dari kita menggantungkan bahagia kepada orang lain. Mungkin karena kita tidak ingin susah-susah mencari caranya, atau mungkin kita tidak tahu bahwa bahagia itu bukan untuk diberikan oleh orang lain kepada kita. Tapi kitalah yang menciptakan bahagia itu untuk diri kita sendiri kemudian kita bagikan lagi kepada orang lain, kepada sahabat, keluarga dan pasangan kita. Agar bahagia kitapun menjadi lebih melimpah lagi. Begitulah sebenarnya. Oke, aku memaklumi aku yang dulu, aku yang naif, bocah dan mengira bahwa bahagia itu hanya berasal dari luar diri. Dia begini, aku bahagia, dia begitu dulu baru aku bahagia. Padahal seharusnya, aku bahagia saat aku begini, karena aku begitu.

Lalu, kalau aku menggantungkan bahagiaku kepada suamiku, lalu bagaimana ia akan menambahkan bahagianya? Aku yang harus memberikannya dong? Pertanyaan yang sama, apa aku bisa? Apa aku mau?

(..aku harap kalian yang membaca pertanyaan-pertanyaan yang kugumamkan dalam hatiku dapat juga ditanyakan kepada diri sendiri..)

Kesadaran bahwa selalu ada timbal balik, selalu ada resiko-resiko atau sebab akibat dari segala sesuatu, membuatku berpikir berulang kali. Sekarang kuubah segala hal mengenai harapan-harapan atau karakteristik atau tipe-tipe laki-laki yang kuinginkan. Kenapa kuubah, kenapa berubah? Karena suamiku. Aku sadar yang dia lakukan malah sebaliknya dari yang kuinginkan sebelumnya, dari keharusan yang kuharuskan kepadanya. Walau dia tidak bilang “gini yang bener, kamu salah” tapi apapun yang dilakukannya benar-benar menyadarkanku bahwa memang poin-poin menyesatkan yang kubuat itu benar-benar salah.

Apa aku siap? Atau, apa aku bisa? Dan lagi apa aku mau? Pertanyaan itu membuatku tersadar bahwa aku tidak bisa memaksa orang lain_bahkan itu pasanganku, untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya kalau diukurkan kepadakupun aku juga belum tentu sanggup dan tidak bisa. Jadi, itu bisa menurunkan keegoisanku dan tipe-tipe laki-laki yang kuinginkan itu berubah, total.

Dan lagi kesadaran ini juga paling penting bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Pasangan kita sekalipun tidak akan bisa 24 jam penuh berada di samping kita. Yang mana itu artinya, dia tidak bisa selalu ada apalagi melakukan segala sesuatu untuk kita. Karena ketidakabadian itu membuat segala sesuatupun berubah-ubah, bisa ada bisa juga tidak, kalau kita gantungkan segalanya termasuk bahagia kita kepada ketidakabadian itu, bisa jadi bahagia kita juga akan berbeda-beda kadarnya. Apa mau, rasa bahagia ataupun rasa sayang kita naik turun seperti roller coaster? Apa mau bahagia kita timbul hilang, atau pasang surut seperti air laut? Sudah pasti hal itu juga membuat hidup kita setengah-setengah, tidak karuan.

Jadi, karena itu juga hilang sudah tanpa bekas, tipe-tipe laki-laki impian semasa remaja dan sebelum menikah itu. Sekarang setelah menikah jadi lebih lebih lebih realistis dan bersyukurnya sangat sangat sangat banyak kesadaran-kesadaran yang bisa segera dan cepat kusadari.

Setelah menikah, dan yang berulang kali kukatakan diatas, karena belajar dari proses dengan suami membuat banyak sekali hal didiriku jadi berubah menjadi hal-hal yang lebih baik dan tepat, termasuk mengenai apa dan bagaimana sih pasangan yang baik itu. Dan lagi-lagi, aku bersyukur karena memiliki suami yang mengajariku banyak hal walau dia tidak mendikteku secara langsung. Hanya dengan tindakannya saja yang mampu membuatku menyadari banyak hal.

Dan inilah yang kudapatkan selama menjadi seorang istri dari laki-laki yang selalu mampu membuatku belajar dan menyadari hal-hal baru. Dan beginilah pasangan yang baik menurut versiku dan suami:

Saling percaya dan menjaga kepercayaan dari pasangan

Sepanjang yang kutahu, mempercayai dan menjaga kepercayaan pasangan menjadi salah satu poin penting dalam menjalin hubungan pernikahan_atau bahkan masih pacaranpun, agar selalu bisa langgeng dan jauh dari perselisihan. Kecurigaan akan selalu menjadi batu sandungan atau bahkan jurang terjal antar pasangan yang sudah pasti membuat pasangan jadi terpisah. Hal yang harus dilakukan agar mereka bisa kembali disatukan adalah membuat jembatan yang kuat agar mereka dapat saling mencari lagi dengan lebih mudah. Mereka harus lebih dulu membuat palu kepercayaan untuk menghantam batu sandungan itu dan membuat jembatan kepercayaan yang bisa digunakan untuk menyeberani jurang terjal kecurigaan dan perselisihan antara mereka agar merekapun bisa kembali bertemu di satu titik yang sama, kemudian kembali melangkah maju menjalani jalan kehidupan dengan kembali bergandengan tangan.

Selama hampir dua tahun pernikahan kami dan selama 12 tahun kami pacaran, aku dan suami sangat bersyukur karena tidak ada sekalipun issue mengenai ketidakpercayaan ini. Aku harap untuk selamanya juga akan sama seperti ini. Apa resepnya?

Satu-satunya yang kutahu adalah kami masing-masing punya kepercayaan diri yang tinggi akan masing-masing diri kami. Aku percaya diri bahwa aku mencintainya dan mengasihinya dengan tulus, maka akan kudapatkan juga seperti itu. Aku percaya diri bahwa aku pantas menerima cinta darinya, karena itu aku jadi percaya bahwa ia memberi juga cinta yang tulus kepadaku.

Sebenarnya ini kudapatkan dari suamiku, walau dia tidak terang-terangan mengatakan bahwa dia percaya diri mencintaiku, tapi aku bisa menangkapnya seperti itu. Begini katanya, “kenapa aku percaya padamu? Ya, karena aku mencintaimu dengan tulus, karena itu aku juga percaya kamu akan memberiku cinta yang tulus juga. Aku percaya diri dengan segala yang kumiliki sehingga aku merasa pantas untuk mendapatkan juga cinta darimu. Ketika kamu mencintaiku dengan tulus, maka aku percaya kamu juga tidak akan menghianatiku dengan cara apapun,”

Tidak saling mengekang, tapi saling memahami ada batasan yang jelas.

Yang kusadari, pasangan yang baik, ia tidak akan pernah mengekang pasangannya. Ga boleh begini, harus begitu. Tapi sebaliknya, ia akan memberikan ruang untuk kita bertumbuh secara pribadi, dan dia juga memberi waktu kita untuk bebas melakukan sesuatu yang kita sukai, hal-hal positif yang kita ingin lakukan sebagai seorang individu. Dia tahu bahwa hal-hal positif yang kita lakukan untuk kemajuan kita sebagai individu juga akan berimbas baik sebagai pasangan. Dia tahu bahwa kita butuh kebebasan untuk berekspresi sebagai seorang individu yang memiliki kepentingan pribadi tapi juga tidak lantas tanpa batasan dan melewati tembok kita sebagai seorang pribadi yang memiliki pasangan yang mana juga bertanggung jawab untuk menjaga kepentingan bersama.

Pasangan yang baik, ia tahu sampai sebatas apa ia bisa mementingkan dirinya sendiri, ia tahu sampai batas mana ruang dan waktu yang tepat untuk ia melakukan kepentingan pribadinya, ia juga tahu sebatas mana ia melonggarkan, memberi ijin, atau bahkan menegur dengan kasih kalau salah satu dari kita ternyata terlewat batas.

Yang kutahu, selama ini suamiku tidak pernah melarangku atau apalagi mengekangku. “aku kesini ya?” boleh. “aku buat ini ya?” oke. Atau, “aku lakukan seperti ini ya? oh bisa begitu juga. Tapi dia akan langsung memberitahuku kalau ternyata yang kulakukan keliru, aku kebablasan dalam memakai waktu sendiriku. Lama kelamaan kami bahkan saling memberi target kepada diri sendiri dan menyampaikannya kepada pasangan, karena sudah tahu harus sebatas mana kami bisa menggunakan ruang dan waktu sendiri. “aku di ruang kerja ya, 2 jam.” atau “aku ketemu si A ya, sampai jam 8.”

Jadi, selain kita yang tidak mengekang pasangan, kita juga harus memahami dan menerapkan batasan-batasan yang jelas tidak hanya kepada pasangan dalam melakukan sesuatu, tapi juga kepada diri sendiri agar terciptanya keharmonisan dan keseimbangan hidup menjadi diri sendiri dan menjadi istri/suami dari pasangan kita.

Komunikasi yang baik dan sehat antar pasangan

Pasangan yang baik pasti memiliki keterbukaan dalam hal berkomunikasi dengan pasangannya. Ia tidak menutup-nutupi apapun dengan menyimpan segala pikiran dan perasaannya, tapi juga tidak asal ngomong dengan nada yang tinggi dan suara yang keras tak bersahabat.

Komunikasi yang dijalani harus pas, sehat, tepat dan baik. Kalau tidak sesuai dengan pemikiran pasangan, kita juga bisa mengutarakan pikiran kita. Kalau tidak cocok dengan cara pasangan, kita juga bisa sampaikan cara-cara kita. Kemudian setelah itu sama-sama mencari jalan tengah, dan sepakat untuk melakukan apa dengan cara apa, atau menyelesaikan apa dengan cara bagaimana. Tidak kaku dan ngotot dengan pikiran dan pendapat kita sendiri itu kuncinya.

———

Tiga poin itu yang sepertinya bisa membuat keharmonisan antar pasangan bisa terus terasa di dalam rumah dan keluarga kecil kita. Menurut kalian ada lagi kah poin-poin yang lain? Yuk sama-sama berbagi dan sharing sebagai sumber kesadaran untuk membina rumah tangga yang sehat dan bahagia.

-aa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *