Marriage Care,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru #2 (Aku kira… eh ternyata!)

Aku ingin berbagi sedikit lagi mengenai adaptasi yang sedikit melelahkan tapi juga sangat menyenangkan ini. Temannya masih sama, catatan si pengantin baru. Catatanku, setelah menjadi seorang istri. Bulan ini bulan agustus, bulan yang sangat berarti untukku dan suami. Bulan kami. Dan di bulan ini, kami sudah menjalani 21 bulan kehidupan pernikahan. Sebenarnya tulisan ini sudah jadi berbulan-bulan yang lalu. Namun kembali disempurnakan di bulan ini.

Sekarang-sekarang ini aku mulai tersadar bahwa hal yang diperlukan dalam pernikahan, dan mungkin juga hubungan manusia secara global, adalah “mampu melihat kebaikan dalam hal-hal yang mungkin tidak pas dengan kita.”, dan aku bersyukur punya kemampuan untuk menyadari hal itu di awal-awal.

Jadi, balik lagi ke cerita tentang adaptasi setelah menikah. Satu sampai dua bulan di awal pernikahan kami, aku diharuskan menyerahkan seluruh tenagaku untuk melakukan adaptasi. Adaptasi dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang cukup pelik. Sekali lagi, hal yang cukup berat dalam dunia pernikahan adalah saat kita menjalani adaptasi. Setidaknya begitu yang kurasakan, kalau yang lain ternyata gampang-gampang saja atau ga ada hambatan yang sangat berarti, aku mau dong dibagikan resepnya.

Dari melihat bagaimana cara suami makan, cara dia bicara, seberapa lama dia mandi, sendawanya, candaannya yang asli jauh dari kata lucu tapi anehnya selalu bikin aku ketawa, kemudian lagi dengkurannya, dan caranya tidur, hingga bagaimana cara dia menghabiskan waktu liburnya, dan cara-cara ia memandang segala sesuatu sampai cara dia memecahkan masalah. Diawal-awal pernikahan aku selalu menghabiskan banyak waktuku untuk menghela dan bergumam (baru kusadari saat menulis ini). “kok gini sih?” atau “kok beda sih dengan sebelumnya?” atau “aku kira begini, yah ternyata begitu!

Tiga pertanyaan itu adalah pertanyaan pertentangan. Seharusnya begini, tapi ternyata begitu. Itu adalah pernyataan kebalikan dan juga ada sedikit keterkejutan di dalamnya. Begitulah aku waktu itu. KAGET. Ya, dan itu sebagai proses adaptasi yang kujalani, dan kurasakan. Aku yakin begitu juga dengan suamiku. Diapun mungkin kaget dengan respon-responku yang tidak terduga terhadap sesuatu yang mungkin dianggapnya remeh. Dia juga mungkin kaget dengan hal-hal baru yang baru dilihatnya dariku selama menjadi seorang istri, yang mungkin tidak keperlihatkan padanya saat kami berpacaran dulu.

Awalnya, aku hampir selalu tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh suamiku. Menentukan jenis semprotan air kranpun bisa jadi perdebatan. Aku juga tidak cocok dan tidak terbiasa dengan sebagian kebiasaannya. Dan akupun tahu, begitupun sebaliknya dia kepadaku. Kami ternyata berbeda, bahkan sangat berbeda. Seperti kutub utara dan kutub selatan, 180 derajat. Begitu aku menilai hubungan kami saat itu.

Beberapa perbedaan itu cukup mencolok. Dia terlalu berhati-hati, bagiku terkesan sangat lamban dalam melakukan sesuatu. Sedangkan aku terlalu aktif dan dengan lebih cepat menyelesaikan sesuatu, namun aku tahu dimata suamiku, aku terlalu grasa-grusu, kurang sabaran. Sebenarnya kuakui karena ingin segera merespon dengan cepat membuatku terlihat grasa-grusu, kurang hati-hati dan tidak jarang menjatuhkan sendok, atau menyenggol meja. Tapi walaupun begitu, tetap saja merespon segalanya dengan cepat lebih cocok dengan kebiasaanku. Begitulah awalnya, aku yang begitu kaku dan tertutup dengan perbedaan kami.

Tapi kemudian, semuanya berubah setelah kusadari satu hal. Aku tidak bisa berbalik kemudian segampang membalikkan tangan mengatakan tidak ingin lagi menikah dengannya dan kembali ke orang tuaku. Dan akupun tidak ingin begitu. Aku masih ingin mencari cara untuk memperbaiki ketidakcocokan ini, supaya menjadi pas diantara kami. Aku mencintainya, itu alasan yang klise tapi memang begitu adanya. Karena aku mencintainya, aku tidak ingin kemana-mana meninggalkannya, aku lebih ingin sama-sama mencari jalan untuk menjawab ketidakpasan ini. Dan bersyukurnya dia juga merasa dan berpikir yang sama denganku. Satu yang terpenting dan yang paling pertama kami lakukan diawal-awal, adalah mengobrol dari hati ke hati. Apa mauku, apa maunya, dan bagaimana yang terbaik untuk kami. Satu hal yang kami sepakati adalah “jangan langsung marah” ketika menemukan ketidakcocokan. Sabar dulu, lihat dulu, jangan langsung bertikai. Oke kami setuju!

Kemudian, setelah itu, di sepanjang perjalanannya, di bulan-bulan berikutnya, tanpa sadar, aku mulai terbiasa dengan jenis semprotan kran air pilihannya. Karena saat aku membuka kran dan mendapatkan semprotan yang tidak kusukai, aku tinggal menggantinya dengan yang kumau, tanpa teriak, tanpa marah-marah. Dan yang paling penting, jadi membuat hatiku lebih damai. Namun kadang juga, kubiarkan diriku untuk tidak mengganti semprotan itu dan menikmati saja hal yang kurang pas atau tidak kusukai. Lama-lama aku menemukan dan menyadari satu hal, “begitu juga, ternyata tidak apa-apa ya,” atau “begini juga ternyata bagus!” atau lagi, aku menjadi lebih berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu agar tidak menjatuhkan sesuatu agar tidak menjatuhkan sesuatu lagi, atau tidak menyenggol meja lagi. Sakit.

Dan begitupun sebaliknya dia kepadaku. Ada kalanya dia akan lebih cepat tanggap, lebih cepat mengerjakan beberapa hal. Dan masih banyak lagi hal-hal yang sama percis dengan itu. Dia berusaha mempercepat responnya terhadapku. Sadar tidak sadar, sedikit demi sedikit aku berubah, dia berubah, kami berubah.

Intinya, selama berbulan-bulan kemudian dan kini kampun sudah hampir dua tahun menikah, kami jadi semakin belajar bahwa, “aku kira, tapi ternyata..” tidaklah selalu menjadi buruk. Bukanlah hal-hal yang selalu memecahkan, menceraiberaikan.

Ada proses belajar dari keterbalikan itu, dan kami belajar hal-hal baru dari masing-masing kami, kemudian kami gunakan sebagai bumbu-bumbu dalam perjalanan pernikahan ini, agar menjadi masakan yang nikmat dan menyehatkan. Semua yang kami alami, hal-hal baru yang kami temui sebagai pengalaman-pengalaman baru yang bisa menjadi kemampuan-kemampuan baru yang kami punyai karena hasil dari proses belajar.

Ohya satu lagi pengalaman mengenai perbedaan yang sangat mencolok ini. Aku adalah orang yang suka sekali menyetok sesuatu. Misalnya, minyak sudah tinggal sedikit misalnya, aku akan langsung membeli yang baru walau belum ku masukkan ke tempatnya, yang penting aku sudah lebih tenang karena sudah ada stok gitu loh, jadi nanti kalau misalnya masak dan minyak kurang, udah enak aja tinggal buka yang sudah beli. Sedangkan pasanganku kebalikkannya. Dia tidak suka membeli sebelum habis. Dia bilang itu malah buang-buang uang. Sedangkan aku berpendapat tidak buang-buang uang, toh juga nanti akan beli karena pasti akan habis. Dia jawab lagi, bisa beli setelah habis saja, uangnya kan bisa dialokasikan ke yang lain yang lebih perlu dulu. Kemudian argumen berlanjut, kutanyakan padanya lalu bagaimana kalau di tengah-tengah masak minyak habis. Dan dia selalu mempunyai jawabannya. Katanya, aku harus mengatur masakanku di awal, aturlah banyaknya bahan yang ada dengan masakan apa yang akan kita buat. Mantap ga tuh?! Kemudian aku cuma bisa diam dan dalam hati setengah setuju, walau di kepala masih setengah tidak setuju.

Perbedaan ini juga tidak jadi perdebatan lagi sekarang-sekarang ini. Aku mulai terbuka dengan cara pikirnya, mulai 50% setuju juga dengan pendapat dan sudut pandangnya. Jadi akupun belajar, tidak semua barang bisa aku stok, tunggu sampai habis dulu baru beli. Keuntungannya, uang juga bisa dialokasikan ke hal lain, yang kedua ya jadi lebih irit aja, kalau kita bisa mengatur bahan masakan kita sebelum kita membuat sesuatu. Intinya, makna yang kudapat darinya adalah tidak harus semuanya berlebihan. Gunakan yang masih ada, pakai yang masih dimiliki dulu sampai habis kemudian baru mencari atau mengusahakan yang baru.

Dia juga aku tahu 50% pasti menyetujui juga sudut pandangku mengenai menyetok barang sebelum habis. Kadang aku masih saja keceplosan membeli sebelum barang itu habis. Namanya kebiasaan kan tidak bisa serta merta kita ubah menjadi kebiasaan yang lain. Apalagi kebiasaan itu yang membuat kita sangat nyaman seumur hidup kita. Kadang aku akan menyebutkan apa saja yang ingin kumasak selama seminggu kedepan (walau masih sering tidak selalu tepat dengan plan juga sih), kemudian aku akan membeli sekali bahan untuk seminggu itu. Kadang dia masih sih bergumam, kulkas penuh sekali, tapi lebih sering juga dia menyetujui planku dan membantuku malah membeli bahan yang tidak kudapatkan.

Hidup pernikahan jauh menjadi lebih tenang dan nyaman saat selalu kita tumbuhkan rasa pengertian dan saling memahami sudut pandang, kebiasaan dan kenyamanan masing-masing ya.

Dan inilah hal yang kami dapatkan dalam proses belajar ini:

“..kadang kala kita terlalu cepat mengambil keputusan, mengenai apa saja yang dilakukan oleh orang lain. Yang dibicarakannya, yang dipikirkannya, bahkan yang dirasakannya. Kitapun terkadang dengan mudahnya memberikan penilaian : oh, ini tidak baik ; hah, itu tidak bagus ; wow, dia hebat sekali. Penilaian-penilaian itu terkadang muncul dengan sangat cepat, karena kita mengukurnya dengan apa yang ada di dalam diri kita, apa yang kita sukai, apa yang kita benci. 

Satu hal yang penting, kita mengabaikan tanya “kenapa” mereka melakukannya, membicarakannya, memikirkannya dan merasakannya. Kita seakan-akan lupa bahwa mereka pasti memiliki alasan-alasan kenapa mereka seperti itu. Kitapun seperti kekurangan waktu untuk mencoba memahami kebiasaan-kebiasaan orang lain dan memahami jalan pikirnya, juga tujuannya melakukan sesuatu. Kita lebih merasa hal-hal itu tidak perlu, bahkan tidak penting untuk kita, buat apa melelahkan diri. Lebih baik tetap ngotot dengan apa yang kita anggap paling baik. Yang selalu kita lakukan sebelumnya yang menjadi kebiasaan kita seumur hidup. 

Padahal, kalau kita mau mencoba memahami dan mencari tahu terlebih dulu, bisa jadi kita akan memiliki pemikiran baru : hoh, ternyata seperti ini bagus juga ya ; wah, cara seperti ini ternyata lebih cepat, dan lain sebagainya. Dan kemudian bisa jadi kita memperoleh hal-hal baru dari segi pandang yang berbeda untuk kita pakai dalam menjalani kehidupan kita..”

Catatan

Jangan buru-buru menyalahkan orang lain apalagi pasangan kita saat melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang biasa kita lakukan. Ingat, kita saja melakukan sesuatu kebiasaan karena kita tahu dan selama ini kita baik-baik saja walau selalu melakukannya. Begitu juga orang lain atau pasangan kita. Kita tidak akan melakukan hal-hal buruk untuk diri kita kan? Itu pemikiran yang penting!

Jangan mengatakan orang lain ‘tidak baik’, hanya karena ia tidak memiliki definisi ‘baik’ yang sama sepertimu. Mungkin definisi kebaikannya juga sama baiknya denganmu walau dengan cara yang berbeda, atau bahkan definisinya jauh lebih cocok atau lebih tepat darimu, hanya saja kamu yang tidak menyadarinya, karena terlalu terpaku dengan definisimu sendiri.

(Pemikiran diatas itu berlaku untuk banyak hal dalam bicara mengenai perbedaanmu dengan yang lain).

Intinya

Jangan bosan-bosan untuk belajar hal-hal baru, hal-hal yang berbeda dengan punya kita. Karena sudah pasti akan membuat kita mendapatkan hal-hal baru. Hal-hal yang menambah wawasan-wawasan kita akan hal-hal lain, yang sudah pasti berguna untuk hidup kita.

Selamat bersemangat keluar dari zona nyaman untuk melihat hal-hal baru dari orang lain untuk kemajuan hidup kita ya!

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *