Marriage Care,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Pengantin Baru #10 (Memilihnya adalah Tanggung Jawabku)

Banyak yang setelah menikah kemudian menyalahkan keadaan, atau bahkan menyalahkan diri dan pasangan, ketika ia menemukan situasi-situasi sulit di dalam pernikahan kemudian tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi bahkan menyelesaikannya.

Banyak skenario seperti ini,

“..kenapa sih keadaanku terus-terus saja seperti ini, tidak pernah rasanya merasa bahagia dan sejahtera.”

atau,

“..dulu waktu masih pacaran kamu udah janji akan berubah, kamu juga bilang kalau menikah akan jadi pribadi yang seperti aku mau, tapi mana buktinya? KAMU TETAP SAJA KAYAK DULU.”

atau bahkan ada yang begini,

“..ini semua salahku, andai saja dulu sebelum menikah aku mendengarkan kata papa dan mama untuk mengurungkan niatku menikahinya, pasti hidupku akan jauh lebih baik dari sekarang.”

Skenario di atas atau kata-kata yang sering kita dengar, yang kurang lebih tidak akan jauh-jauh dari deretan kata-kata itu mengandung banyak sekali keluhan, penyesalan, kekecewaan sampai keputusasaan. Lantas, kalau diawal pernikahan saja sudah begitu banyaknya kalimat keluhan dan penyesalan, lalu apa masih bisa pernikahan ini dilanjutkan dengan perasaan sebaliknya? Kalau ditengah-tengah usia pernikahan saja kemudian muncul kekecewaan dan keputusasaan lalu apakah bisa kemudian kita tetap bergandengan tangan dengan senyum yang menguntai di bibir kita bersama menuju hari tua yang tanpa beban dan bahagia?

Tentu tidak bisa kalau perasaan-perasaan negatif itu tidak segera dirubah.

Tentu tidak bisa kalau diri masih saja terkungkung dengan pikiran-pikiran negatif yang sudah pasti membuat kita juga tidak bisa melangkah maju. Melangkah untuk memperbaiki diri, apalagi untuk memperbaiki keadaaan rumah tangga dengan pasangan.

Lalu, bagaimana cara melepaskan diri dari situasi yang tidak menguntungan itu?

Dengan mengembalikan kesadaran bahwa : MEMILIH PASANGAN ADALAH TANGGUNG JAWAB KITA SENDIRI.

Jika kita sadar bahwa itu tanggung jawab kita, maka kita akan menanggung segala hal di dalamnya. Baik buruknya, susah senangnya atau bahkan tawa tangisnya. Namun, jauh di awal sebelum kita menyatukan dua hati ini di dalam ikatan pernikahan yang sah, kitapun harus tetap sadar bahwa tanggung jawab ini AMATLAH BESAR, dan kita tidak boleh main-main untuk itu.

Pilihlah dengan benar, karena itu adalah tanggung jawab kita.

Walau rasanya kita sudah memilih dengan sangat benar saat sebelum menikah pun, akan ada ‘kejutan-kejutan’ lain saat kita sudah menjalani rumah tangga. Yang mana kita akan selalu bersama dia dan dia lagi, dari pagi hingga datangnya pagi kembali. Ia orang yang kita lihat sebelum tidur, diapun orang pertama yang kita lihat saat membuka mata di pagi hari. Akan ada banyak sekali peluang untuk melihat hal-hal yang belum kita lihat saat kita pacaran dulu. Lalu, kalau sudah begitu, apa mau bilang ”yah, memilih dengan benarpun ternyata ga ada gunanya ya?!”

Tunggu dulu, sebelum mengatakan itu, coba katakan ini dulu dalam hati,

”hah, untung saja dulu benar-benar kudalami dengan sebaik-baiknya ia, sehingga akupun tidak terlalu salah-salah banget milihnya. Sekarang ternyata ada hal-hal baru lainnya, ya memang begitu adanya. Setidaknya aku sudah benar-benar tahu setengahnya, untuk cari tahu dan mempelajari setengahnya lagi, why not?

Ya, saat pacaran, karena memilihnya adalah tanggung jawab kita sendiri, maka kenali dia sedalam-dalamnya kemampuanmu. Pelajari dia sebisa-bisanya akal sehatmu. Kemudian padukan apapun miliknya dengan milikmu semaksimalnya keserasian yang ada.

Tidak semua hal bisa dipadukan seserasi mungkin, tidak semua hal bisa dipadukan menjadi satu kemudian berubah menjadi lebih indah dibandingkan saat mereka sendiri-sendiri, namun itulah proses yang harus dilewati. Jika tidak serasi, lalu bagaimana? Apa yang harus dilakukan?

Pilihan tentupun ada di kita, mau melanjutkan dengan mencari hal-hal lain untuk menyerasikannya, atau tinggalkan kemudian dengan suka rela mencari belahan atau potongan lain yang menjadi pasangannya yang lebih pas, yang lebih utuh, yang akan menjadi lebih mengindahkan keduanya saat bersatu.

Kemudian ada pertanyaan lain, “karena sudah menjadi tanggung jawab kita, lalu kita tidak boleh mengeluh ketika sudah menjalaninya?”

Jawabannya, ”ya tentu! Tidak boleh!”

Saklek sekali ya, memang begitu, memang mau nyalahin siapa? Mau ngeluh ke siapa? Kan kita yang memilih, kita yang memutuskan kemudian, lalu kita yang dengan sukarela menjalaninya. Lalu mau menyalahkan siapa? Mau minta tanggung jawab siapa?

Makanya agar tidak mengeluh di kemudian hari, sebaiknya memang memilihnya dengan tepat dan benar, karena itu adalah tanggung jawab kita. Selengkapnya bagaimana cara memilih dengan tepat, bisa dibaca di artikel dengan judul ”persiapan (wajib) sebelum menikah”

Tapi yang ingin kusampaikan lagi sekarang adalah aku ingin mengingatkan kembali, atau menyadarkan lagi bahwa menjalani kehidupan pernikahan kita sekarang adalah kita yang memilihnya, adalah kita yang dengan sukarela, selalu tersenyum dan tertawa di sepanjang upacara pernikahannya, maka kitapun harus lebih menerima dan bertanggung jawab dengan apapun yang kemudian kita rasakan dan temukan di sepanjang perjalanannya.

Kalau kita akhirnya merasa bertanggung jawab atas hal itu, kitapun akan ;

  • Dengan wajah yang penuh kegembiraan dan rasa syukur untuk baiknya ia yang kemudian juga memberi bahagia pada kita bersama, namun juga dengan tangan terbuka, merangkul dan bersama-sama mencari pintu terbuka untuk mengatasi buruk yang ada sehingga bisa bersama-sama dirubah menjadi sesuatu yang lebih baik untuk kepentingan bersama.
  • Menerima senangnya dengan bentuk rasa syukur, dan mencari jalan keluar terbaik bersama-sama untuk mengurai susahnya.
  • Menikmati waktunya saat senyum tawa hadir di tengah-tengah keluarga, tapi juga sukarela menerima tangis sedih saat waktunya

Dengan kesadaran bahwa apapun itu dalam perjalanan pernikahan adalah tanggung jawab kita, maka kitapun akan memiliki usaha yang lebih besar untuk mengatasi dan menerima segala hal yang terjadi, baik secara tiba-tiba atau tidak. Kita akan memiliki tenaga untuk memperbaiki, memiliki kemauan untuk berubah, dan juga memiliki komitmen untuk menjalaninya bersama-sama dengan penuh penerimaan.

Kalau sudah begitu, rasanya sesusah apapun pasti bisa diatasi bersama kan? Sesulit apapun pasti bisa diurai bersama kan? Belajar untuk meningkatkan kemauan diri untuk belajar dan belajar lagi mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan pasangan, dengan diri kita sendiri dan juga yang berhubungan dengan ”kita” sebagai dua individu yang berbeda menjadi satu.

Selamat belajar ya ^^

-aa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *