Note to Self,  Short Story,  Titik Terang

Catatan si Mama Naira #7 | move on dari ‘owalah ga menyusui toh?!’

Disclaimer: bukan maksud mama untuk tidak mengikuti apalagi menyalahkan saran dan anjuran dari pemerintah mengenai ASI eksklusif minimal 6 bulan. Tapi setelah berusaha semaksimal mungkin dan ternyata ASI tetap seret, yuk kita beralih pada hal-hal yang lebih bisa dicapai. Misalnya, kebahagiaan dari mama sendiri. 

Sekali lagi bukan bermaksud tidak mengikuti himbauan baik itu, tapi apa daya ternyata usaha-usaha mama mungkin belum membuahkan hasil. Mamapun sedih sesedih-sedihnya. Mamapun menyalahkan diri, sejadi-jadinya. Keinginan dan kerinduan mama untuk memberikan ASI pun tidaklah kecil atau remeh temeh.

Mama sangat ingin mengASIhi Nai, itu tidak terbantahkan. Tapi apa daya mama ternyata memang tidak bisa sebanyak itu ASI yang mama hasilkan untuk Nai.

Awal-awal mompa, malah darah menggumpal yang keluar, malah lendir-lendiri transparan yang mengisi botol susu. Mama ngeri, tentu saja. Bahkan setelah pompa, pusing keliyengan bener-bener bikin tidak nyaman. Tapi mama tetap berusaha. Tapi ya kemudian memang tidak bisa banyak.

Maafkan mama ya Nai.

Menjadi seorang mama (di awal-awal) sudah sangat berat. Apalagi mama yang tidak bisa menyusui langsung dari payudaranya. Sebenarnya yang bikin terasa sangat berat itu ya celotehan-celotehan dari sesama mama di luar sana. Banyak yang sekedar bicara tanpa rasa empati dan sebagainya. Dan itu ternyata juga bisa menyakiti hati.

’duh kasiannya anakmu ga dapat ASI.’
’dulu harusnya kamu pijit laktasi saat akan lahiran, males ya?’
’makanya banyak-banyak makan kacang waktu hamil, biar lancar!’
’pasti kamu mau kayak masih muda ya, biar ga nyusu dan payudara kendor.’
’kamu mah ga mau nyusu biar bisa makan segalanya kan?’
’kurang usaha kali kamu, cepet nyerah sih.’
’pasti kamu ga bahagia ya? Aku dulu sih bahagia ya, makanya ASIku deres banget.’
sampai pada…
’nih ambil deh stock ASIku beberapa, kasian anakmu lho.’

Mungkinkata-kata itu akan tidak ada pengaruh apa-apanya jika diucapkan padaku saat sebelum menjadi mama. Tapi, ternyata kata-kata itu benar-benar besar pengaruhnya saat sekarang aku sedang di posisi ‘tidak bisa memberikan ASIku kepada Nai’.

Yang kurasakan saat itu adalah,
’aku bukanlah ibu yang sesungguhnya.’
’aku bukan ibu yang kuat dan hebat seperti ibu-ibu di luar sana’
’aku adalah ibu egois yang tidak mementingkan Nai.’
’aku bukan ibu yang berguna.’

Sampai akhirnya aku ikhlas dan rela menerima bahwamemang aku tidak bisa menyusui Nai langsung dari payudaraku. Bahwa hanya bisa kuberikan ASIku ini untuknya di bulan-bulan awal saja. Memang itu tidak cukup, tapi segitulah usaha maksimalku.

Ada banyak penyesan memang, dan itu sudah pasti, yang dipengaruhi juga oleh kata-kata mereka, seperti coba aku pijit laktasi waktu hamil, coba aku dulu banyak-banyak makan kacang, atau coba aku benar-benar dorong diriku untuk lebih bahagia. Tapi ya kemudian apa gunanya penyesalan-penyesalan itu sekarang?

Mengakui kemudian menerima keadaanku ini adalah cara pertama yang membuatku lebih baik, sehat secara fisik dan mental dan juga bersukacita dari sebelumnya. Satu hal yang kemudian menjadi pembesar hatiku,

‘aku tidak bisa seperti mama yang lain yang ASInya mengalir bermili-mili, bukan. Aku bukan mereka, itu yang pasti dan kuakui itu. Kemudian kuterima setelahnya.’

Membandingkan diri dan keadaan dengan yang lain kurasa tidaklah tepat dan tidak pernah bijak untuk dilakukan, apalagi dengan kondisiku ini.

Kemudian, apa yang kulakukan sebagai gantinya?

Yang utama dan yang paling penting adalah memastikan kandungan susu formula yang diminum oleh Nai sudah hampir menyamai ASI dan kandungan yang lengkap dan yang baik untuk pertumbuhannya. Rajin dan tak segan-segan untuk berkonsultasi dengan dokter anak adalah jalan ninjaku. Selain itu aku berusaha untuk lebih banyak waktu dengannya, untuk meningkatkan bonding dan attachment dengan sentuhan, gendongan dan sehari-hari melakukan aktivitas bersama.

Lama-lama, kemudian sampai sekarangpun aku jadi berubah. Dan pikiran serta perasaanku pun pelan-pelan terobati.

Ada hal-hal yang bisa kucapai, bisa sesuai dengan plan atau rencanaku, tapi tidak bisa dipungkiri, ada hal-hal lain yang berada di luar kendaliku, yang tidak bisa kuatasi dan tidak bisa kudapatkan dengan secepat kilat walaupun sudah dengan usahaku yang semaksimal mungkin. Satu hal yang pasti saat ini yang bisa kulakukan dan yang pasti sudah bisa membuahkan hasil yang lebih baik dan tepat.

Untuk semua mama di luar sana, semangat ya.

Dan semoga ini juga bisa menjadi penyemangat untuk kalian, sama halnya menjadi penyelamat untukku. “Menyusui ataupun tidak aku tetaplah seorang mama, mamanya Naira, dan aku bangga dengan itu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *