God is Good,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Mama Naira #6 | panggilan baruku yang membanggakan, ‘mama nai’

Satu hal yang paling kentara berubah setelah punya anak adalah ‘panggilan’. Sebelumnya, aku bernama Andini, kadang di panggil Ayu kadang dipanggil Dini. Orang rumah memanggilku cece. Tapi setelah ada Naira, jadi bertambah lagi panggilan itu menjadi Mama Naira.

mama naira …

Bagaimana perasaanku dengan panggilan itu? Tentu sangat bangga. Ini tidak mengada-ngada dan belum berubah jawabanku menjadi yang lain, selain kata bangga dan bahagia untuk menggambarkan panggilan itu. Rasa bangganya bahkan melebihi saat aku menambah namaku dengan gelar atau title saat acara wisuda beberapa tahun yang lalu.

Menyandang predikat ‘mama’ dan dipanggil terus menerus dengan mama naira membuatku seperti naik kelas. Seperti telah berhasil menunaikan satu tantangan dan kemudian mendapatkan predikat baru yang sangat membanggakan dan memuaskan.

’hah, itu sih karena kamu baru aja jadi mama. Jadi ya masih menikmatilah sebutan barunya. Nanti lama-lama juga bosan dan jadi biasa aja, malah bisa jadi benci kayak aku.’ Celutak itu terdengar nyaring di telinga.

Mendengar kalimat itu diucapkan membuatku ‘jengah’ juga sebagai mama baru. Tapi hal-hal seperti itu ternyata sudah biasa masuk kekuping kananku dan secepat kilat keluar dari kuping kiriku. Setelah semakin direnungkan, kutemukan satu keyakinan yang saat ini keyakinan itu yang bisa menjadi jawaban paling tepat untukku. Kurang lebih gambarannya seperti ini.

Aku sebagai mama baru bangga dipanggil sebagai mama naira, kemudian di remehkan oleh mama lama 
sama dengan ketika,
aku bangga dan merasa bahagia menjadi istri dan pengantin baru kemudian ditertawakan oleh pengantin lama. 

Dan jawabanku saat itu, ternyata masih bisa kupakai untuk case yang sekarang ini. Aku sudah buktikan ternyata kebanggaanku menjadi istri saat baru 3 bulan menyandangnya masih sama setelah sudah 3 tahun kujalani. Let’s see 5 – 10 – 15 atau 20 tahun lagi. Aku selalu berdoa dan berusaha, kebanggaan ini tetap akan sama bahkan jadi bertambah-tambah. Aku selalu berdoa dan berusaha bahwa yang mereka katakan dan mungkin alami, bahwa ‘hah 5 atau 10 tahun lagi mah bosan dan jadi biasa aja’ tidak terjadi pada rumah tangga dan kehidupan kami.

Walau kata-kata ini tidak tersampaikan kepada si empunya pemberi kata-kata nyinyir atau penurun semangat itu, tapi kata-kata mujarab ini bisa menguatkan bahkan menyembuhkan lalu membuat motivasiku tetap ada sebagaimana seharusnya dan aku rasa itu saja sudah cukup.

“Aku bersyukur karena sudah tersadar dan belajar lebih dulu bahwa ternyata ada orang-orang seperti kalian yang ternyata tidak menikmati pernikahannya dengan semestinya dan ternyata ada yang merasa kurang bangga dan malah merasa diri hilang saat dipanggil dengan sebutan mama (nama anaknya).

Melihat dan mendengar dari kalian membuatku kemudian jengah lalu mencari-cari tahu bagaimana dan apa yang bisa kulakukan agar aku tidak seperti kalian. Aku rasa dan yakin aku sudah dapat jawabannya. Dan sekarang aku tinggal menjalani prosesnya. Mungkin aku bisa jadi mengarah pada hal-hal yang kurang menyenangkan seperti yang kalian alami atau rasakan, tapi aku sudah punya bekalnya. 

Jadi tinggal kubuka dan kupakai untuk kembali menyembuhkan dan mengembalikan ke tempat yang seharusnya. Terima kasih karena kalian membuatku jengah, jadi aku lebih matang untuk mempersiakan diriku di awal, sehingga tidak seperti kalian yang terkaget-kaget kemudian benar-benar hilang arah karena tidak punya persiapan apapun. 

Sekali lagi, terima kasih ya!”

Enam bulan ini aku masih sangat bangga dan bahagia dengan sebutan mama nai, bahkan jadi lebih terasa sweetnya saat dipanggil begitu oleh orang-orang terdekat, oleh suami, orang tua dan saudara. Saat suamiku memanggilku dengan mama nai, rasanya aku benar-benar spesial dan istimewa, aku merasa seperti wanita anggun yang memiliki putri cantik dan sehat dan semakin pintar.

Saat panggilan itu dari papa dan mamaku, aku merasa menjadi putri yang telah dewasa dan dipercaya untuk mengemban tugas istimewa sebagai perawat seorang bayi manusia. Tugas itu sangat besar dan berat dan aku merasa terhormat melakukannya.

Saat aku dipanggil begitu oleh saudaraku aku pun merasa sangat dihormati dan diberikan apresiasi bahwa aku telah menjadi manusia dewasa yang siap merawat dan membesarkan anak manusia.

Enam bulan ini aku masih sangat bangga menjadi mama nai dan dipanggil berulang kali seperti itu oleh siapapun. Teman kerja, atasan, bahkan oleh klienku sendiri. Tidak ada sama sekali perasaan atau pikiran bahwa ‘mama nai’ menggantikan apalagi menghilangkan jati diriku sebagai Ayu Andini atau sebagai psikolog Andini.

Malahan nama itu menjadi penambah kebanggaanku karena selain menjadi diri sendiri yang kuat, anak yang hebat dari orang tuaku, kakak yang bisa diandalkan dari adikku, istri yang mampu bekerja sama dengan suamiku, dan menantu yang berbakti kepada mertuaku. Selain menjadi aku yang sudah sangat nyaman dengan keberadaanku, akupun menambah kebahagiaan lain menjadi seorang mama dari putri cantikku yang pertumbuhannya semakin baik dan pintar. Tidak ada kata yang mampu mendeskripsikan dengan benar dan tepat betapa aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk itu.

Aku tidak kehilangan diriku, dengan menjadi seorang mama dan dipanggil dengan sebutan mama nai. Itu yang pasti! 

Walau sebagai mama, aku tetap bisa melakukan self care, bahkan self love untuk diriku sendiri. Walaupun menyandang banyak nama dan predikat apalagi dengan nama ‘mama naira’ yang menjadi pelengkap diriku agar lebih mendekati kesempurnaan dalam versi aku, aku juga masih bisa melakukan banyak hal untuk kepentingan diriku sendiri sebagai satu individu yang terpisah dari anakku dan mengisi diri sesuai dengan kebutuhan dan keinginanku sendiri.

Ada beberapa artikel yang kubaca, dan juga hampir sama mungkin dengan yang dirasakan oleh orang yang memberi statemen di atas, bahwa setelah melahirkan dan punya anak beberapa mama merasa kehilangan dirinya, apalagi dengan sebutan dan dipanggil dengan nama yang berbeda. Aku harap mereka juga sama bangganya seperti aku setelah dipanggil dengan nama yang sekarang disandangnya.

Mama Naira, kamu mama yang hebat, karena kamu sudah lebih dulu menjadi pribadi yang kuat dan mau terus belajar. Tetap dan selalu begitu ya.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *