Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Mama Naira #4 | cara kami mengatur ‘uangnya Naira’

Disclaimer : kami bukan ahli keuangan, jadi ini adalah ala-ala kami saja, papa mama Naira yang sesaat setelah Naira lahir bersepakat untuk tidak ‘memakai’ uang yang memang itu untuk Naira. 

Sebenarnya sepakatnya kami mengenai ‘uang Naira’ ini muncul begitu saja sesaat setelah lahir, di mana ada beberapa om tante kami, datang untuk menjenguk di rumah sakit. Kami sangat bersyukur kado untuk merayakan kehadiran Naira di dunia ini, bertemu kami, sangat bermacam. Ada yang memberikan keperluan newborn, pakaian, popok, hingga amplop.

Sebelumnya, kami tidak benar-benar membahas mengenai uang yang seperti ini, hanya sesekali saja memang sudah bersepakat untuk menyisihkan uang (sejak tahu hamil) setiap bulannya untuk biaya sekolah Naira nanti. Tapi emang dasarnya ya, jiwa emak-emak langsung muncul ketika melihat beberapa ratus ribu yang Naira dapatkan sebagai bentuk syukur orang-orang akan kehadirannya.

”tabung aja pa, kan punya rekening yang ga dipakai, masukkan kesana saja.” Begitu kalimat pertama yang langsung muncul dari pikiran dan bibir ini. Papanya setuju, tentu saja. Dan sejak saat itulah Naira memiliki tabungan sendiri.

Dadakan memang sebenarnya ide dari papamama Naira itu, tapi bersyukurnya ya idenya positif jadi ya diteruskan sama saat ini sudah 6 bulan berlalu. Puji Tuhan, Astungkara, uang Naira tetap aman di rekening itu, dan bertambah juga setiap bulannya. Tuhan memang baik ya.

“Semua uang itu adalah punya Naira, jadi sudah pasti harus disimpan untuk dia”. Begitu kami berdiskusi. Bukan untuk papa atau mamanya, sudah pasti, tak ada bantahan, tak perlu dijelaskan, titik harus begitu.

Sekarang setelah menulis ini jadi banyak kepikiran juga mengenai ‘uang anak’ ini. Kok bisa-bisanya ya dadakan memiliki ide seperti itu setelah tahu, merasakan dan mendapatkan berkat berbentuk uang itu dari keluarga kerabat dan teman-teman yang menjenguk Nai.

Baru keinget juga sekarang, banyak sekali ditemukan (aku pribadi) ada beberapa orang tua yang tidak memiliki ide ini dari awal. Kebanyakan mereka merasa, anak lahir membawa berkat dan rejeki untuk orang tuanya, sehingga saat ia lahir kemudian ada yang menjenguk dan memberikan berkat dalam bentuk uang, maka itu adalah rejeki orang tuanya. Salah atau tidak? Ya tergantung bagaimana orang tua melihatnya saja. Tapi kalau aku dan suami melihatnya, itu adalah uang anak, dan sudah sepantasnya ia yang memilikinya.

Jadi ya sekarang, dan sejak dulu sih, suka gemes sama orang tua yang mengambil “uang anaknya”. Ada yang berdalih “papa/mama simpanin dulu, biar ga ilang,” – heh ujung-ujungnya ilang karena ulah papa mamanya sendiri.

Ada juga yang bilang “buat beliin kamu susu ya,” atau “buat beliin kamu pampers ya.” kalau ini aku setuju tidak setuju. Begini, aku pernah tahu ada orang tua yang memang kekurangan, jadi ketika ada pemberian dari orang lain untuk anaknya, ya itu dipakai untuk keperluan anaknya. Aku bisa terima.

Tapi ada orang tua yang masih sehat secara fisik, harusnya bisa bekerja, mencari kerja, usaha pokoknya, apa aja. Tapi malah memakai uang itu untuk keperluan anaknya. Ibaratnya anaknya mendapatkan uang untuk menyambung hidupnya sendiri. Padahal kan itu tugas kita sebagai orang tua. Merawat, membesarkan, mengasihi. Yang sedikit banyak didalam perjalanannya bisa dicapai dengan uang.

Ada lagi ni orang tua kurang ajar menurutku. Uang pemberian dari orang lain untuk anaknya malah di ambil untuk dibelikan keegoisannya sendiri. “Nak, kasi papa uangnya, biar dipakai beli rokok”. Pengen namplok ga tu mukanya si bapak?!

Terus ada lagi, “nak, kasi nenek uangnya, kan dia yang jaga kamu, biar dibeliin kopi” hemmm! Gimana-gimana? Konsepnya gimana sih? Yang ini malah menjadikan anak sebagai sumber mendapatkan uang, kemudian dipakai untuk memenuhi yang bukan untuk si anak. Sayang ya! 

Ini menurutku, begini kami berpikirnya,

Anak tidak minta dilahirkan ke dunia. Kitalah sebagai orang dewasa, sebagai calon orang tua yang meminta dan berusaha agar ia hadir di tengah-tengah kita, sebagai anak kita. Kemudian setelah Tuhan merestuinya usaha kita dan kita mendapatkannya, lalu apakah sudah berhenti sampai di sana. Ada tanggung jawab orang tua (setelah meminta dan berusaha) kepada anak yang telah direncanakan kehadirannya. Kita sudah ada rencana, permintaan dan usaha yang maksimal, dapat dikatakan sudah siap menjadi orang tua. Sudah siap dengan kehadiran anak dengan segala konsekuensinya. Kasarnya, sudah siap menambah satu mulut lagi untuk diberi makan. 

Kewajiban kita sebagai orang tua tentu tidak sampai di sana. Ada perutnya yang harus diberikan susu agar kenyang, semakin besar diberikan makanan dan minuman agar bisa bertumbuh sehat dan kuat. Ada badannya yang harus dipakaikan pakaian agar tetap hangat. Ada perlengkapan sekolahnya, dan uang sekolahnya, bahkan juga ada uang untuk menunjang pertumbuhannya. Ke dokter untuk imunisasi, ke sekolah, ke taman bermain dll. Semua itu tentu perlu uang. Kemudian siapa yang mencari dan memberikannya? Yang pasti ya bukan anak itu sendiri. Bagaimana ia bisa menghasilkan uang sendiri, padahal ia masih sangat-sangat bergantung dan membutuhkan orang tuanya. 

Kesiapan orang tua, tentu diimbangi dengan pikiran jangka panjangnya. Tak perlu muluk-muluk sampai 10 atau 20 tahun ke depan (kalau sampai ke sini ya juga bagus sekali), coba pikirkan 1 tahun sampai 3 tahun ke depan saja, sudah dipersiapkankah segala keperluannya itu? 

Memang, merawat dan membesarkan anak tentu bukan 100% hanya membutuhkan uang, ada hal-hal lain juga. Hah, kalau dijabarkan, berat juga ya? Ya, memang. Karena itu, sebelum meminta dan berusaha untuk mendapatkannya, ya memang harus benar-benar dipikirkan dan dipersiapkan segala halnya. Fisik, mental, spiritual, bahkan keuangan orang tua. 

Kita pasti bisa, semangat ya.

Okay, balik lagi ke uang Naira ya. Apa dan bagaimana saja sih bentuknya uang Naira ini?

Pertama, uang saat ia dilahirkan. Banyak yang datang menjenguk dan memberikan amplop, besarannya sangat-sangat beragam (bukan itu yang mama papa lihat), dan konsistennya kami adalah seberapapun besarannya kami konsisten memasukkan uang itu ke rekening yang sudah kami siapkan. Sekali lagi ya, seberapapun besarnya. Jadi tidak ada alasan ‘hah, cuma seribu ni, pakai beli permen deh ya.’ Atau ‘pinjem dulu deh nak 10ribu buat mama beli lauk.’ Big no ya pa ma!

Kedua, saat Naira 3 bulanan. Saat Naira 3 bulanan ini ada yang namanya ‘beli rambut’, nah pas itu ada beberapa keluarga, memberikan uang itu untuk membayar rambut Naira pas tiga bulanan nanti. Pada saat ini juga lumayan nih dapatnya. Besarannya juga ya beragam, tapi ya pasti langsung dimasukkan ke rekening juga. Itu adalah uangnya Nai.

Ketiga, uang bulanan untuk Nai. Jadi selama Nai punya rekening opanya bilang akan mengirimkan Nai uang bulanan. Nah, sejak saat itu papa dan mama juga jadi terinspirasi. Cuman papa dan mama masih belum tentu nomimalnya seperti opa. Kalau mama lebih kepada isi aja, tidak peduli deh nominalnya berapa, tak apa-apa, yang penting sudah mengisi setiap bulannya.

Aku dan papanya menyebut uang itu adalah “uangnya Nai”, jadi uang itu tidak akan dipakai apapun. Tidak dipakai untuk beli susunya, beli pampersnya, atau nanti beli makanan, pakaian, minuman dllnya. Karena menurutku keperluan Nai itu adalah kewajiban aku dan papanya untuk memberikan kepadanya dari uang hasil kerja kami. Karena ini bentuk tanggung jawabku dan kesiapanku yang telah menerima ia sebagai anak pertamaku dengan segala resikonya tentunya.

Ini sebagai renungan aja ya. “Yang mau punya anak siapa? Yang berusaha buat punya anak siapa? Terus sekarang saat anak sudah hadir, sudah diberikan kepercayaan kepada Tuhan memilikinya, trus si anak harus menghidupi dirinya sendiri? Si anak berkewajiban mencari atau mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri?” Semoga bisa menjadi bahan pemikiran papa dan mama juga.

Kitalah yang harus mengeluarkan uang untuknya, kitalah yang harus berusaha payah mendapatkan uang untuk pertumbuhannya, untuk membesarkannya. Dan pikiran-pikiran itulah uang seketika tercetus dan memberikan ide untuk mengelola dengan benar uang pemberian orang lain, yang diberikan sebagai rasa syukur semua orang atas kehadirannya. 

Dan begitulah akhirnya,

NAIRA PUNYA TABUNGAN SENDIRI! 

Lalu, tabungan itu nantinya buat apa? 

Naira yang tentuiin saat ia besar nanti. Dia punya banyak pilihan mau diapakan uang itu. Yang tentu akan dipantau oleh kami sebagai orang tuanya. Dia akan mendapatkan pandangan dan pendapat mengenai mau diapakan uang itu, agar bisa terpakai dengan benar. 

Lalu, apa tabungan itu juga akan jadi tabungan pendidikan dia kelak? Jawabanku ‘mudah-mudahan tidak’. Mengenai tabungan pendidikan ini kami sebagai orang tuanya yang harus berusaha memenuhinya, dengan menyisihkan sedikit demi sedikit dari sekarang. Begitulah rencananya, dan semoga terjalani dengan sangat baik ya untuk Naira. 

Sekali lagi aku dan papanya Nai bukanlah ahli keuangan. Mengurus keuangan kamipun sebenarnya masih carut marut. Tapi bersyukurnya untuk urusan uangnya Nai ini kami cepat mendapatkan ide bagus ini dan ya, akan kami terapkan dan terus lakukan sampai nanti-nanti.

Mungkin ide dari tulisan ini bisa menjadi inspirasi, pengingat bahkan kesadaran mengenai pengelolaan uang si kecil (aku ga bilang caraku paling benar dan tepat ya). Mungkin bisa dicontoh untuk calon papa dan mama di luar sana. Sebelum si Baby lahir bisa nih dipersiapkan dulu rekeningnya. Karena siapa tahu nanti amplop buat si kecil ya lumayan tebel. Hehehe.

(untuk manfaat menabung sejak dini dan bagaimana mengajarkan kepada anak akan aku tuliskan di edisi berikutnya ya! Stay tune!)

-andiniayu-

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *