Marriage Care,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Mama Naira #3 | Jadi papa yang selalu waras hadapi mama pasca melahirkan

Seorang anak tumbuh dan berkembang di dalam perut calon mamanya, dan lahir dari rahim seorang mama, tapi ia tidak hanya memiliki mama, tapi juga seorang papa. Tidak hanya mama yang sedang di posisi ‘pertama kali’ menjadi mama, tapi papa pun juga begitu.

Edisi sebelumnya, aku cerita apa saja yang kulakukan agar bisa menjadi mama yang kuat, berdaya dan ujung-ujungnya jadi semakin happy menemani tumbuh kembang si baby mungil aku. Kali ini, di edisi ini aku akan menceritakan apa saja yang dilakukan oleh suamiku dalam proses menjadi suami yang siaga, berdaya, dan akhirnya ya juga jadi lebih happy untuk bersama-sama kemudian menjadi orang tua yang terus bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik demi perkembangan anak kami yang juga astungkara akan menjadi lebih baik.

Memvalidasi dan memprioritaskan kenyamananku

Tidak dipungkiri, ini yang menjadi sumber bahagia dan rasa syukurku. Suamiku mau mendengarkan pilihan-pilihan dariku dan memikirkannya lalu memutuskan dengan objektif. Dia tidak meremehkan sama sekali apa yang aku rasakan dan pikirkan, tidak pernah terucap dari bibirnya mengatakan bahwa aku “berlebihan dalam memikirkan sesuatu,” atau “lebay dalam merasakan apapun,”.

Seingatku sejak 6 bulan yang lalu, saat aku menangis di kamar karena merasa ia ingin menjauhkanku dari Naira, (dan sampai sekarangpun), kata-kata ia tetap sama,

”aku hanya ingin kamu istirahat dulu, pulih maksimal dulu, ketika sudah benar-benar sehat dan happy, yuk sama-sama rawat dan besarkan Naira.”

Kata-kata itu yang membuatku berhenti menangis saat itu dan ikhlas tidur kemudian membiarkan Naira dijaga oleh dia dan mamanya. Sekarangpun saat masih ada sisa-sisa perasaan yang dulu menghantui, atau bahkan ada pikiran-pikiran baru yang sebenarnya memang berlebihan dan lebay, ia sama sekali tidak meremehkannya. Ia selalu bilang, “kenapa bisa berpikir begitu? Oh pasti karena a,b,c atau d. Yuk, cari jalan keluarnya supaya pikiran itu hilang atau jadi lebih positif.

Salah satu contoh nyata ia memprioritaskan kenyamananku adalah ia tidak memaksaku untuk tinggal sendiri di rumah kami atau tinggal di rumah mertua. Ia bertanya jauh hari sebelum aku melahirkan. Nanti kamu lebih nyaman tinggal di mana?”

Dengan cepat kujawab, “dirumah papa dan mamaku,” dan tanpa basa basipun ia menjawab, “oke, kita tinggal disana,”. Ia tahu proses adaptasi yang kami jalani mungkin akan cukup berat (dan ternyata memang begitu), jadi ia bisa memutuskan dengan objektif bahwa aku akan jauh jauh jauh lebih nyaman dan terbantu untuk sembuh secara fisik dan mental ketika aku bersama papa mamaku sendiri. Dan sampai saat inipun, aku masih sangat bersyukur atas ini, karena ia lebih dulu memikirkan kenyamananku.

Sebenarnya jika memang dipaksakan, bisa saja tinggal bersama mertua, dan bisa saja ia tidak perlu bertanya padaku, ingin tinggal di mana, tapi ia tidak melakukannya. Ia memilih mengutamakan aku, dan itu yang sangat-sangat kusyukuri. Kemudian inilah, yang menjadi kesadaranku atas pengalaman kami ini,

”mama pasca melahirkan memang harus berada di tempat yang ia rasa memberi rasa aman dan nyaman yang sesungguhnya baginya. Dan tinggal bersama orang-orang yang ia rasa memberi dukungan dan yang ia bisa mintai bantuan tanpa harus merasa tidak enak atau sungkan. Biarkan mama yang memilih tinggal dengan siapa dan di mana tempatnya. Karena proses adaptasi mama baru (3-6 bulan) amatlah berarti, amatlah berat, karena itu bantu ia menjalaninya lebih mudah.”

Suami tidak bisa (harapannya ya, jangan dan tidak boleh) melarang atau memaksa istri, saat ia lebih memilih untuk tinggal bersama ibu dan ayah kandungnya, di rumahnya yang ditempatinya sejak kecil sampai sebelum menikah.

Ada juga mama baru yang malah ingin tinggal dengan mertua, itu sah-sah saja. Ada yang malah ingin tinggal sendiri, di rumah sendiri dan mengurus baby sendiri, ini juga tak masalah. Atau ada juga yang ingin mengasuh anak dibantu dengan baby sitter, pilihan ini juga baik.

Intinya, apapun itu pilihan istri, pilihan mama baru, suami atau papa barupun harus ikut terlibat, dengarkan dan temani mama dalam menentukan pilihan ya, tentu sangat boleh memberikan pandangan-pandangan kepada mama baru dalam menimang-nimang pilihannya, menentukan untung-ruginya, namun juga tidak memaksakan kehendak. Sampaikan segala hal ide, pikiran, dan perasaan papa juga dengan ramah, lembut dan positif ya. Communication is a key! Jadikan komunikasikan bersama-sama apapun yang ingin dan akan dilakukan.  

Kalau sudah dipikirkan dan diputuskan bersama-sama dengan tenang, damai dan positif, percaya deh semua terasa akan lebih mudah.

Papa yang selalu hadir

Hampir 6 bulan sudah, dan selama ini suamiku belum pernah berpisah tidur dengan aku dan Naira. Sesekali aku biarkan dia tidur di rumah kami, tapi dia selalu menolak, walau harus bolak-balik rumah-kampung, selalu dijalaninya dengan terus happy, begitu terlihat di wajahnya.

Sampai di rumah kampungpun ia selalu langsung gendong dan ajak Naira main. Bukan malah langsung tidur atau bersantai HP an, padahal ya aku tahu ia pasti lelah bekerja seharian. Ada saatnya ia tidak bisa handle Naira saat nangis, atau rewel mau tidur, ia pasti akan langsung menyerahkan Naira ke aku atau omanya, tapi kemudian tidak membuatnya pergi ke kamar atau ke beda ruangan. Dia akan tetap ada di sana menemaniku dalam proses menidurkan Naira. Setelah itu akan menawarkan air minum atau pijitan.

Tanggung jawab yang ia perlihatkan padaku adalah ada secara fisik dan mental untukku. Dan itu yang kuperlukan, karena dengan begitu aku merasa lebih nyaman dan aman.

Papa yang selalu terlibat dan bekerja sama dalam pengasuhan

Ini yang kukatakan tadi, kami sadar bahwa kami adalah orang tua baru, jadi sudah sepatutnya merelakan diri dan tenaga dan waktu untuk sama-sama belajar dan terus belajar. Sering sekali saat kami berdiskusi atau mengobrol mengenai Naira, ia selalu mengatakan “dari artikel yang kubaca, katanya begini begitu, jadi ga apa-apa,” atau, yang paling membuatku amaze adalah, “aku tadi nanya sama dokter di aplikasi tanya dokter online itu, katanya rentang bayi bisa tengkurap itu 4-6 bulan, jadi ya masih ada waktu Naira untuk belajar,”

Yang sangat-sangat kusyukuri dari suamiku adalah ia menyadari bahwa Naira adalah anak kami berdua. Bukan hanya anakku. Jadi sudah sepatutnya ia juga terlibat dan kami saling bekerja sama untuk merawat dan membesarkannya.

Ia tidak sedang “membantuku” karena Naira bukanlah hanya anakku, tapi kami saling bekerja bersama sebagai satu kesatuan yang utuh, papa-mama Naira kemudian bersama-sama belajar, bertanggung jawab dan bersusah, berlelah untuk memberikan perhatian penuh kepada Naira.

Kalau aku ngantuk, ia yang mengganti popok Nai, atau memberinya susu. Kalau aku yang sedang menggendong Nai, atau memandikannya atau menidurkannya, ia yang akan cuci baju, menyapu atau cuci dot Nai.

Perlu dikomunikasikan, ia sudah pasti, apalagi di awal-awalnya. Tapi kesadaran masing-masing juga perlu ditumbuh kembangkan.

Rumah tangga ini milik kami berdua, jadi kami berdualah yang harus menjaganya. Naira adalah anak kami berdua, jadi kami berdualah yang sama-sama merawatnya. Kalau suami hanya membantu istri mengurus rumah, itu artinya rumah hanya milik istri. Sama dengan, kalau papa hanya membantu merawat anak, itu artinya anak hanyalah milik mama. 

Semoga para suami-istri, papa-mama yang dunia ini miliki tidak seperti itu ya. Yuk bisa yuk!

Make time atau ‘buat waktu’ berduaan dengan pasangan

Setelah punya Nai, berasa banget waktu, tenaga, pikiran dan perasaan hampir 85% tertuju kepadanya. Aku rasa memang begitu setelah menjadi orang tua. Tapi beruntungnya kami masih punya 15% tersisa untuk dihabiskan bersama pasangan. Lalu, bagaimana kami menggunakan waktu itu bersama-sama,

Biasanya, kami akan mengobrol dulu sebelum tidur, setelah nidurin Nai. Dari ngobrol tentang bagaimana dengan pekerjaan, seharian bersama Nai, sampai pada plan-plan yang masing-masing kami sudah buat untuk pekerjaan atau hal-hal lain seperti me time atau bertemu teman-teman.

Memang tidak setiap hari begini, tapi ada saja waktu-waktu 10-15 menit untuk setidaknya cerita pengalaman masing-masing seharian saat tidak bersama dan rencana-rencana esok hari yang sudah dirancang sebelumnya. Bisa di meja makan saat makan bersama, saat cuci piring setelah makan, atau bisa saja sambil ngajak Nai main atau mengobrol.

Intinya, sempatkan, harus, buat ada waktunya.

Selain itu, biasanya kami juga buat waktu untuk pergi berdua saat malam minggu, sekedar ke clandys untuk beli keperluan Nai. Apapun itu, bagaimanapun itu, kemanapun itu, yang penting kami menghabiskan beberapa jam untuk bersama, berdua mengobrol santai mengenai diri masing-masing, mengenai kami berdua, mengenai Nai dan kemudian harapan-harapan atau plan di masa depan. Hah, indah sekali rasanya sudah bisa seperti ini. Dengan melakukan ini jadi kerasa tambah dekat plus tambah romantis sih menurutku, karena ya sekarang sudah bicaranya tentang plan-plan ke depan yang ada naira di dalamnya.

Selain itu, ini juga penting, jangan lupa memberikan afeksi ya kepada pasangan. Yang paling sederhana adalah peluk dan cium saat mau kerja dan pulang kerja. Kalau suami sih juga rutin bilang “selamat malam, selamat tidur.” Dan kasih night kiss sebelum sama-sama tidur.

Hal-hal ini sebagai pengingat juga bahwa kita tidak sendiri dalam hal apapun termasuk mengurus anak. Bahwa kita tidak hanya sibuk memberi segala hal untuk merawat naira, tapi kita juga sama-sama saling mengisi kebutuhan afeksi yang nantinya juga jadi sumber semangat dan memupuk pohon bahagia kita.

______

Itu dia semua hal yang dilakukan oleh suamiku saat aku habis melahirkan.

Intinya, yang dia lakukan adalah tetap waras dan memastikan bahwa aku baik-baik saja, anaknya baik-baik saja, begitupun dia juga harus baik-baik saja. Sehingga dengan begitu kami juga akan bisa bertumbuh lebih sehat bersama-sama.

Sharing ya, kalau menurut kalian apa lagi yang dilakukan oleh pasangan masing-masing atau menurut kalian ada tambahan dari yang aku sampaikan di atas.

Tetap semangat para papa mama yang anak-anak hebat miliki 🙂

-andiniayu-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *