Note to Self,  Short Story,  Something New,  Titik Terang

Catatan si Mama Naira #2 | Mama kuat itu yang…

Aku pernah tidak baik-baik saja, itu yang kuceritakan sebelumnya, tapi kemudian aku bisa bangkit kembali, itu yang kualami saat ini. Kenapa? Bagaimana caranya? Itu yang akan kuceritakan sekarang.

”Jadi mama itu susah-susah gampang ya?” Iya. Apalagi mama yang baru saja habis lahiran, anak pertama pula. Rasanya walau sudah dipersiapkan matangpun (fisik, mental dan segalanya) tetap saja kerasa beratnya, susahnya. Ya. Tapi ya tak mengapa, memang wajarnya begitu, memang begitu harus adanya. Namanya proses ga mungkin selalu mudah.

Hah, ini tidak mengada-ngada ternyata, dan kualami sendiri akhirnya. Dulu waktu masih belum menikah, suka berpikir saat temen bilang “stress” setelah lahiran. Ada yang bahkan jadi benci anaknya, ga mau menyusui anaknya karena puting susunya lecet-lecet. Saat itu aku selalu mengernyitkan dahi, “masak sih? Kan harusnya senang karena ketemu baby.” Sungguh saat itu aku begitu kurang ajarnya.

Ternyata menjadi psikologpun tidak serta merta membantuku untuk lebih mudah meregulasi emosi dan memanage emosiku saat itu. Ternyata psikologpun bisa merasa sebegitunya, yang kurasakan saat itu lebih ke selalu sedih, tertekan, merasa sendirian, merasa tidak dipahami, dan dipisahkan dengan anakku.

Saat itu, aku antara…
”Ingin yang menjadi pertama untuk naira, yang selalu bersama dan menggendong naira. TAPI juga masih merasa tidak nyaman dengan badan sendiri.”

Hasilnya aku banyak menangis, banyak overthinking, dan sering marah, membenci dan kecewa. Dan kuakui itu membuatku sangat-sangat tidak baik-baik saja. Kata-kata yang sebenarnya untuk kebaikanku saja bisa kusalah artikan.

istirahat ya, tidur aja, biar mamak yang jaga naira.”
”iya, kasi mamak aja, ma ambil naira ma.”

Dua kalimat itu sebagai pencetus kegelisahanku. Saat itu disuatu malam saat naira berusia 1 hari, aku merasa akan dipisahkan dengan anakku, aku seakan-akan tidak dipercaya menjadi mama untuk naira. Aku seakan-akan tidak becus mengurusnya. Dan sejak itu, kedua kalimat itu membuatku jadi membenci. Dan benci itu ternyata tumbuh-tumbuh dan semakin tumbuh sampai berhari-hari berikutnya.

Kalau sekarang kupikir-pikir lagi (setelah hampir 6 bulan) amaze juga sih. Kenapa saat itu aku bisa berpikir begitu dan mengeluarkan air mataku yang bejibun-jibun itu. Padahal ya memang aku perlu istirahat. Jahitanku masih nyut-nyut, perut rasanya terbakar, dan badanku lengket-lengket semua. Tidak nyaman sungguh. Akupun sebenarnya sangat kelelahan, dan mengantuk. Aku jadi bersumpah pada diriku sendiri, nanti kalau punya anak lagi, selagi aku diminta istirahat dan tidur, aku akan langsung melakukannya alih-alih berpikir yang tidak-tidak dan menghabiskan malamku dengan menangis.

Lalu, bagaimana kemudian aku bisa bangkit kembali? Akan kuceritakan di tulisan ini, semua ini pengalamanku semoga bisa menjadi titik terang juga untukmu. Kita sharing sama-sama ya.

Mama harus kuat! Iya ini harus. Tidak bisa dikurangi, apalagi ditiadakan. Lalu bagaimana sih memangnya mama yang kuat itu?

Penuhi kebutuhan pokokmu dulu ma!

”aku mencintai anakku, karena itu aku juga harus lebih dulu mencintai diriku sendiri. Bagaimana aku bisa membahagiakan anakku, kalau aku sendiri belum merasa bahagia? Bagaimana aku bisa mengurus anakku, kalau aku sendiri tidak terurus? Bagaimana bisa kau memberi rasa aman kepada anakku, kalau aku sendiri tidak merasa tenang dan aman? Bagaimana bisa, kalau kebutuhan dasarku saja, aku abaikan atau hilangkan?”

Hierarki Kebutuhan Maslow:

Foto dari Ayuningtyas Widari

Sebagai psikolog aku akrab dengan Hirarki Kebutuhan Maslow. Mengingat hirarki itu membuatku mengubah mindsetku yang sempat keliru.

Aku harus menjadi yang paling pertama bangun kalau naira nangis — menjadi, kalau aku masih sangat ngantuk karena dari tadi begadang, aku akan biarkan papanya yang bangun dan memberi naira susu. Sedangkan aku bisa melanjutkan tidur 10-15 menit lagi. 

Aku harus menjadi yang paling pertama dan paling sering menggendong naira, kebutuhanku yang lain kuabaikan saja, aku tahu beginilah mama yang kuat — menjadi, kalau aku sedang lapar, atau ingin ke toilet aku tidak apa-apa melakukannya dulu. Aku bisa makan dulu atau segera pergi ke toilet. Bukannya ditahan atau diabaikan. Naira bisa sama oma atau opanya dulu. 

Sebagai mamanya naira, aku harus yang paling sering di rumah, harus yang paling banyak menghabiskan waktu bersama naira — menjadi, tidak apa-apa kalau aku butuh 1-2 jam untuk keluar rumah melakukan sesuatu yang kuinginkan, me time, atau sekedar mengobrol dengan seorang teman. 

Ini pesanku untukmu:

Mama kuat adalah yang memutuskan untuk menahan laparnya dan lebih dulu menggendong anaknya yang menangis (jika tidak ada yang membantu), TAPI mama juga kuat jika memilih untuk makan dulu supaya lapar hilang dan titipkan anak pada yang lain (oma, opa, papa, atau paman dll). Atau bisa nyambi makan sambil menemani anak jika tidak ada siapapun dirumah yang membantu.

Mama kuat adalah ia yang rela menahan dirinya untuk tidak ke toilet dan lebih memilih memeluk anak yang tidur, karena kalau dilepas anak bisa bangun, TAPI, mama juga kuat jika memilih untuk ke toilet dulu dan biarkan anak sendiri dulu atau dititipkan pada oma, opa atau papanya.

Mama kuat kalau bisa menahan kantuknya dan semalaman begadang dengan anaknya, TAPI, mama juga kuat jika memilih tidur 10-15 menit lagi karena sebelumnya sudah begadang dan minta digantikan oleh papa untuk menemani anak.

Ini pengalamanku:
Saat kebutuhan pokokku belum terpenuhi, aku akan sangat kesulitan handle naira khsuusnya saat ia rewel atau menangis. 

Contoh: Aku sedang ngantuk, tapi naira belum mau tidur dan minta di gendong. Moodku tidak akan 100% oke untuk menggendongnya. Saat ia tidak tidur-tidur aku bisa jadi kesal. Naira akan merasakan perubahan detak jantungku, ia akan merasakan kekesalanku dan kemudian berdampak padanya. Ia jadi semakin rewel dan aku jadi tambah kesal.

Contoh 2: Aku sedang lapar, ingin pipis atau BAB misalnya, tapi naira rewel karena mau tidur tapi harus cari posisi yang nyaman dulu. Saat aku tidak sabaran dan ingin naira segera tidur supaya aku bisa segera makan atau ke toilet, saat itu juga naira akan makin rewel dan makin sulit tidurnya. Karena dia juga merasakan ketidaknyamananku yang membuatnya juga menjadi tidak nyaman dan susah mencari posisi enaknya. Hasilnya naira rewel, aku jadi makin tidak nyaman dan bisa jadi kesal.

JADI, lebih baik, aku memenuhi dulu kebutuhanku, menuntaskan dulu hal-hal mendesak yang kurang membuatku nyaman. Sungguh ma, saat aku mendengar ada mama-mama yang bilang “aku tu jaga anak sampai lupa makan, atau pipis BAB itu sampai hilang karena ya sudah dilupakan dan diabaikan saja.” Sungguh hebat kalau mama bisa seperti itu. Terkadang aku memang begitu, mengabaikan, melupakan, atau menunda, tapi hasilnya di aku tetap tidak baik. Maag kambuh, perut jadi tidak enak. Jadi lebih baik jika tidak bisa seperti itu, ya lebih dulu selesaikan kebutuhan kita ya ma.

Kunci keberhasilanku:
”nyamankan diri sendiri dulu, baru kemudian bisa dengan mudah menyamankan orang lain, disini khususnya naira, bayi kecil cantikku.”

Komunikasikan selalu ya ma!

Aku ingin membagikan satu hal disini yang sebenarnya satu kesadaran baru untukku, entah untuk kalian sudah menyadarinya atau belum, tapi kita sharing sama-sama ya.

Sebagai psikolog aku sering melihat postingan sebagian besar pasti mengatakan “ibu pasca melahirkan memiliki perbedaan hormon, pasti perlu adaptasi baru, pasti akan jadi stress dan sensitif, bisa jadi baby blues, bisa jadi gini atau gitu dan lain-lain.” Kebanyakan postingan itu hanya fokus dengan ibu-ibu-dan ibu.

Hal ini sungguh bagus sebagai pengingat bahwa ibu setelah melahirkan memang memiliki banyak perubahan (aku sendiripun mengalaminya). Banyakan postingan mengatakan, “pasca melahirkan jangan hanya fokus pada si bayi ya, tapi juga pada ibunya.” Memang benar juga begitu, tapi bagiku tidak bisa berhenti di sana saja, ada lagi kelanjutannya.

”pasca melahirkan jangan hanya fokus pada si baby ya, tapi juga pada ibunya, dan ayahnya, dan sekelilingnya.”

Memang mama yang baru saja habis lahiran, harus diperhatikan, karena mengalami perubahan-perubahan, jadi harus ditemani dengan baik dalam proses adaptasinya. Tapi kemudian ini yang kusadari lagi.

Tidak hanya aku, sebagai mama yang kemudian menjadi mama sungguhan. TAPI, suamiku pun begitu. Ia berubah dari calon papa, menjadi papa sungguhan. Tidak hanya aku yang akhirnya ada pada posisi “pertama kali” menjadi mama, suamikupun mengalami, ia pertama kali menjadi papa.

Papa mamakupun begitu, mereka juga sedang mengalami “pertama kali” menjadi opa dan oma sungguhan. Naira adalah cucu pertama mereka.

Dan ya, tidak hanya aku yang kemudian memiliki peran baru. Tapi begitu juga dengan suamiku, orang tuaku, bahkan mertuaku, yang pertama kali memiliki 2 cucu, yang perannya ya juga berubah, dari dulunya hanya mengurus 1 cucu, untuk ke depannya ada naira juga sebagai tambahan cucu yang mereka harus perhatikan dan pedulikan.

Sekali lagi, tidak hanya aku yang berubah, tapi juga orang-orang terdekatku, situasi dan sekelilingkupun berubah. 

Jadi, alih-alih hanya berfokus pada “berikan aku perhatian lebih dong! Aku kan baru saja habis lahiran, aku kan baru jadi ibu dan bla bla bla bla”. Lebih baik mulai bangun dan tingkatkan komunikasi dengan pasangan, dengan orang tua, dengan mertua, dengan sekitar. Supaya semua bisa berjalan dengan kendali yang baik.

Hal-hal yang ku komunikasikan adalah,

dengan suami: pengeluaran untuk biaya anak, popok, susu dll. Bagaimana cara mengatur uang kami untuk keperluan anak dan juga yang lainnya. Hal ini kulakukan karena aku paham bahwa aku sebagai mama memang mengalami perubahan, dari fisik dan mental, tapi aku sadar suamiku juga mengalami perubahan (keuangan, jam tidur dll). Ia juga pasti sedang berusaha untuk adaptasi dengan perubahan yang kami alami.

Jadi, daripada hanya minta fokus perhatikan aku, lebih baik SALING memperhatikan, SALING memperdulikan, dan cara kami adalah menyempatkan SALING cerita keadaan masing-masing seharian, dan membicarakan apa saja mengenai kebutuhan anak kami bersama-sama. 

dengan orang tua (sebagai pengasuh naira saat aku dan suami bekerja): jam-jam dan hari apa saja aku bisa menitipkan naira pada omanya. Berapa jam aku bisa bekerja, me time, dan tidur kemudian naira sama omanya. Karena tidak hanya aku yang perlu diperhatikan. Orangtuaku pun perlu juga dijaga kesehatannya dan keperluaan-keperluan yang lain juga masih perlu diperhatikan, apalagi mereka juga masih aktif bekerja.

Intinya: KOMUNIKASIKAN SELALU YA! Tidak hanya kamu yang sedang menjalani proses adaptasi dengan situasi dan peran barumu ma, sekelilingmu pun begitu!

Positive thinking selalu ya ma!

Ini yang kupelajari, kenapa stress ibu pasca melahirkan itu kerap terjadi sampai mengalami baby blues, atau postpartum depression. Selain kurang adanya dukungan dari sekitarnya, mama juga sering mengalami negative thinking.

Hal ini yang menyebabkan kita menjadi sering ketakutan, cemas, khawatir hingga marah, kecewa dan membenci. Seperti kasusku, niat baik orang lain pun bisa kuartikan salah. Belum lagi aku selalu cemas mengenai keadaanku. Aku mencemaskan ia yang harus di “tarik” untuk bisa keluar dari perutku, kepalanya jadi benjol. Aku cemas ia yang memiliki tanda merah di dahinya, bagaimana nanti ia besar, apa dia akan jadi malu dengan teman-temannya. Apakah pertumbuhan dan perkembangannya akan baik-baik saja karena dia lahir sesar dan maju lebih awal 3 mingguan. Belum lagi ini itu dan lain-lainnya, banyak sekali yang kukhawatirkan dan cemaskan.

Jadi sebaiknya, jika alarm itu muncul, jangan langsung bereaksi. Jeda dulu! Dan renungkan apa maksudnya.

Kemudian hal lain yang membuat jadi stress, sedih, sensitif sehingga cepat menangis adalah terlalu overthinking mengenai keadaan anak yang kemudian otomatis menimbulkan cemas dan khawatir berlebihan. Saat ini terjadi, kemudian mendapatkan nasihat yang sebenarnya pandangan positif dari orang lain, maka respon yang muncul adalah merasa tidak dipahami, merasa memikirkan anak sendirian, sedangkan yang lain tenang-tenang saja dan merasa tidak mendapatkan dukungan empati dari siapapun.

Waspada dan berjaga-jaga dengan pertumbuhan bayi memang sangat perlu, tapi kalau dilakukan dengan sangat berlebihan kemudian menimbulkan kecemasan maka kita yang akan rugi nantinya, karena sebenarnya ini yang terjadi saat itu, kita jadi tidak hadir secara nyata untuk bayi kita.

Kita lebih fokus pada hal-hal yang akan datang, pada hal-hal yang mungkin tidak ada atau tidak akan terjadi, sampai kita lupa, satu bulan, dua bulan, lima bulan, bahkan satu tahun itu begitu cepat berlalu dan kita bisa ketinggalan waktu-waktu itu jika tidak fokus dengan nyata pada bayi kita saat ini. 

Belum lagi ditambah dengan negatif thinking dan overthinking kepada suami. Merasa kita sudah tidak cantik, langsing, terawat lagi seperti dulu, kemudian merasa suami akan melirik wanita lain. Belum lagi hubungan seksualitas yang tidak bisa selalu terpenuhi sejak kehadiran anak, hal-hal seperti ini juga sangat mudah dengan cepat dialami, jadi saat alarm itu muncul, jeda dulu, ambil nafas, renungkan dan pikirkan lagi sebelum bereaksi, kemudian komunikasikan dengan pasangan ya!

Nikmati dan jalani keseruan ini ya ma!

Aku ingat sekali hal ini, saat aku kedokter untuk imunisasi naira yang ke dua, aku bertemu dengan mama-mama lain yang bercerita juga mengenai pengalamannya dan adaptasinya menjadi mama. Ada satu mama yang tak sungkan (mendekati heboh) bercerita mengenai pengalamannya merawat anaknya yang usianya tidak terlalu jauh dengan naira.

Satu hal yang menarik dari mama itu adalah ia menceritakan mengenai anaknya dengan wajar yang selalu berbinar, selalu tersenyum kadang tertawa. Ia tampak sangat bahagia. Kemudian di tambah lagi dengan kalimat yang diucapkannya,

”seru ya ternyata jadi ibu itu. Kayak kemarin mbak, dia ini (nunjuk anaknya) lagi bobo kan, terus papanya lagi kerja keluar, aku sendiri lah dirumah. Jadi, waktu itu aku lari-lari gitu dari dapur ke kamar untuk liatin dia, kira-kira bangun atau ga. Hah seru banget pokoknya, yah itung-itung mamanya olahraga juga, menghilangkan perut buncit ini.”

Bertemu dengannya dan melihat raut wajah cerianya apalagi mendengar kata-katanya membuatku jadi tersadar, aku melupakan kata itu, “SERU”, sebaliknya yang ada di kepalaku hanya “lelah” dan “marah”. Yang mana jadinya kehadiran naira seperti sesuatu yang tidak menyenangkan untukku. Padahal sebenarnya ya tidak begitu.

Sejak saat itu semuanya berubah. Aku mulai menumbuhkan keikhlasan dan ketulusan dalam diriku saat bersama naira. Hasilnya, ya memang seseru itu dan semenyenangkan itu menjadi seorang mama. Dan jadi bukan beban, sebaliknya kehadiran naira adalah hal baru yang membawa pelajaran baru dan keseruan baru untuk kami.

Yuk terus belajar ma!

Yang terakhir ini yang selalu kulakukan sebagai lawan yang tangguh untuk segala kekhawatiran, kecemasan, overthinking, negatif thinking, benci, lelah dan lain-lain sebagainya saat aku baru saja menjadi mama.

BELAJAR, BELAJAR dan terus BELAJAR!

Saat kepalaku penuh dengan kekhawatiran mengenai keadaan naira, bagaimana nanti tumbuh kembangnya sebagai bayi yang dilahirkan sesar dan sangat maju dari HPL, aku kemudian dengan segera membuka buku perkembangan, membaca artikel-artikel yang terpecaya, mendengar dari pengalaman-pengalaman dari orang lain yang base on teori.

Hal ini sangat membantu karena aku jadi tidak fokus dengan overthinking dan negative thinking itu. Dan juga kalaupun ternyata kecemasanku ada benarnya, aku bisa segera mendapatkan solusi dan melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa cemas itu karena sudah dengan lebih cepat ku cari sesuatu untuk memperbaikinya.

Hal ini juga membantuku untuk menjawab segala nyinyiran atau hal-hal negatif yang diberikan oleh orang lain. Misal, saat aku cerita naira suka aku gendong, seorang ibu mengatakan “hah bau tangan itu, manja anaknya.” Hal-hal itu menyakitkan btw, tapi kemudian kudapatkan ilmu baru mengenai bau tangan dan gendong menggendong ini setelah aku membuka buku dan literatur lain. Nanti akan kuceritakan di edisi berikutnya ya mengenai bau tangan ini. Nantikan!

Amaze kan..

Yuk bisa yuk ma, kalahkan segala yang negatif dari dalam diri dan juga dari lingkungan dengan belajar, belajar dan terus belajar. Tidak ada yang bisa mengalahkan segalanya itu kecuali ilmu dan tetap percaya bahwa Tuhan pasti selalu menyertai.

Semoga pengalamanku ini juga bisa menyadarkan dan memberi titik terang ya buat mama-mama hebat yang anak-anak dunia miliki.

-andiniayu-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *