God is Good,  Short Story,  Titik Terang

Catatan si Mama Naira #1 | ternyata aku (pernah) tidak baik-baik saja

Ada masa-masa dimana hari perhari hanya ada duka duka dan duka. Sedih, kecewa hingga marah, rasanya kenapa menjadi teman karib. Hingga hal-hal itu menyadarkan kembali bahwa memang hidup ini harus seimbang. Tidak bisa hanya senang, senang dan senang saja. 

Sama seperti duka sedih yang hanya sementara, pun begitu juga dengan suka senang yang bisa jadi tak akan selamanya menetap. Wajar, sudah semestinya begitu, dan juga memang harus diterima begitu adanya, dinikmati dan kemudian dijalani, jangan lupa juga untuk disyukuri. 

Katanya waktu akan menyembuhkan, tapi yang kutahu butuh usaha juga untuk menyamankan hati dan pikiran. Dan lagi-lagi, hal itu wajar, dan memang seharusnya begitu. Berdiam diri saja tanpa melakukan apapun, tidak akan menjamin besok, minggu depan, tahun depan, atau bahkan 10 tahun lagi luka dan kesedihan dan kondisi kita yang tidak baik-baik saja sekarang bisa tersembuhkan, hilang kemudian tak kembali lagi. Perlu usaha, perlu niat dan semangat untuk menggantikan duka itu dengan sukaria. 

Usaha untuk menyamankan diri ternyata banyak bentuknya, salah satunya seperti yang kulakukan saat menulis sesak ini beberapa hari yang lalu di note hp, kemudian kusadari ternyata metode bercerita tidak seefektif aku menulis untuk membuat dukaku tergantikan dengan kelegaan. Entahlah, aku yang tidak pandai menuangkan isi hati dengan perkataan yang kukeluarkan dari mulutku, atau aku belum memiliki seorang yang mampu mendengarkannya dengan seksama. 

Selain perlunya usaha, lebih dulu memang perlu adanya pengakuan. Mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja, bahwa kita sedang marah, sedih, dan terluka adalah awal dari usaha untuk menyamankan diri, dan menarik kelegaan mendatangi kita. Karena itu akan kutumpahkan semuanya saat ini di tulisan ini, agar setiap jengkal sesaknya hilang bersama tekanan jari-jariku pada setiap huruf di keypadku. Sampai nanti saat kutekan tombol ‘titik’ untuk mengakhiri, saat itulah aku menghabiskan stok marah dan kesalku kemudian kugantikan dengan senang dan bahagia. Aku yakin akan begitu.

Sepanjang hidupku, sampai sebelum aku melihat 2 garis merah yang kutunggu-tunggu, seingatku, rasanya hidupku selalu lebih banyak diwarnai dengan suka, senang, tawa dan bahagia. Entah itu bersama dengan suamiku, orang tuaku, saudaraku, bahkan teman-teman karibku.

Duka pasti ada, tapi rasanya tidak sepekat duka yang sekarang ini akan kutumpahkan. Kecewa dan kemarahan sering terjadi, tapi rasanya selalu ada pintu terbuka untuk kubukakan penuh maaf dan kembali kurasakan bahagia dan senang sebagai gantinya. 

Tapi berbeda dengan luka yang sekarang ini, luka yang ternyata, tidak hanya menoreh luka yang perih di tubuhku, tapi ternyata juga di dasar hati dan pikiranku. Yang kemudian melekat di sana, sampai-sampai rasanya tidak ada hal-hal yang bisa membuatku memaafkan, sampai-sampai rasanya tidak ada pintu terbuka yang bisa kubuka untuk kuambil bahagia dan suka itu supaya bisa menggantikan luka, duka, kecewa dan marah ini.

Tidak ada.

Sampai detik inipun, dipertengahan aku menuliskannya, marah dan kecewa itu masih pekat terasa.

BUKAN, bukan karena dua garis merah itu. Bukan karena janin yang sedang tumbuh di dalam rahimku, bukan karena calon bayi yang kunamai si mungil ini, yang membuat kecewa dan marahku bisa sebesar ini. 

Mempunyai ia yang sekarang tumbuh semakin cantik dan sehat dan hebat adalah salah satu syukurku yang terbesar kepada Tuhan. Justru marah dan kecewa ini menyadarkanku bahwa aku harus menjaga ia sekuat-kuatnya tenagaku agar tidak merasakan apa yang kurasakan ini. Ia tidak boleh terluka dan bersedih seperti yang pernah kurasakan. 

Menjadi seorang istri dari keluarga patriarki ternyata semenyebalkan ini. Tapi lagi-lagi, memang semenyebalkan apapun itu, aku memang harus menerimanya, kemudian menjalaninya, sialnya lagi harus juga selalu kusyukuri. Agak berat ternyata rasanya sekarang, ternyata aku kembali disadarkan harus menerima, menjalani bahkan mensyukuri apa yang kupilih 3 tahun yang lalu. 

“Ya, sudah terlanjur berani nyemplung, basah sekalian.” Begitu kata mama.

Aku yang sedari awal sudah tahu persis ke dunia apa akan kulangkahkan kakiku, kerumah seperti apa akan kupercayakan tempat istirahatku, aku yang sudah terlanjur memberanikan diriku untuk masuk ke dalamnya, dan memberi hati dan segala hal yang ada padaku, nyatanya kemudian tidak pantas untuk mengeluh apalagi menyesal. Yang nyatanya, harus kujalani ini untuk seterusnya. 

Pertanyaannya kemudian, sanggupkah aku kalau terus menerus begini keadaannya? Sampai kapan kekuatan itu habis stoknya?

Poor me, begitu yang selalu terlintas di kepalaku sejak aku melahirkan, sampai saat itu saat putri cantikku, naira berusia 1 bulan 8 hari. 

Poor me, begitu dua kata yang terucap dari mulutku yang sebenarnya tidak bisa didengar oleh siapapun. Apalagi saat aku melihat putri kecilku itu tertidur pulas dipelukanku, bukan karena kehadirannya sudah pasti, tapi lebih kepada aku yang kemudian menyadari, apakah dunia dan rumah yang saat ini menjadi tempatku cukup aman dan baik baginya untuk bertumbuh? Membuatku kemudian harus menjadi lebih kuat untuk terus bisa menjaganya, semaksimal mungkin. 

Lantas apa yang membuatku sesedih, semarah dan sekecewa ini?

Sebelum hamil, mereka selalu mengatakan, “anak kalian pasti cowok. Sudah pasti itu!

Yang kemudian deretan kalimat itu benar-benar membebaniku secara pribadi. Saat itu memang belum begitu terasa, tapi semua beban itu seketika menjadi sangat besar, tanpa sepengetahuanku, saat aku melahirkan. 

Sudah pernah kuceritakan kalau proses kami mendapatkan buah hati tidak semudah orang lain. Butuh hampir 2 tahun dengan penuh perjuangan, uang, tenaga, usaha dan juga doa tentunya. Dan masih saja aku mendengarkan celotehan seperti ini, “hah 2 tahun itu sebentar kok.” dari yang juga seorang perempuan, dan parahnya lagi seorang tante yang sangat dekat dengan kami. Sungguh tega. Namun kemudian, walau berusaha sangat keras, kuabaikan saja, kuanggap ia tidak tahu bagaimana perjuangan kami. 

Kami sudah sering menyampaikan, bahwa dengan kondisi suami, kata dokter, kemungkinan besar anak pertama kami akan lahir perempuan. Namun lagi-lagi, mereka mengatakan, “ga ah, kita yakinnya pasti cowok.” Atau “sudah mimpi-mimpi kok, orang cowok kok.” Dan masih banyak lagi yang sejenis itu. Rasanya seperti sia-sia, seberapa banyakpun aku menyebut cewek cewek cewek, mereka juga sama banyaknya menyebut cowok-cowok-cowok. 

Kenapa sihhh? Apa bedanya sihhhh?

Saat itu, ini masih jadi bahan bercandaku dengan suami. Kami sama-sama tertawa dan mengatakan bahwa mereka jauh lebih dokter dari dokter, bahkan seperti sudah bisa mengobrol dengan Tuhan dan bertanya jenis kelamin anakku apa nantinya. Seyakin itu, tapi sialnya juga, seaneh dan semiris itu. 

Tapi kemudian, sekarang setelah aku melahirkan, kata-kata seperti itu tidak lagi bisa kutertawakan, bahkan kata-kata yang dulu sangat lucu di telinga dan sangat mudah rasanya kuabaikan, berbalik menjadi pisau yang menikam setiap jengkal hatiku. Menjadikannya berkeping-keping, tak bersisa karena kemudian disebarkan kemana-mana. 

Rasanya sakitnya semakin mendalam, saat kudengar bahwa lagi-lagi ditanyakan jenis kelamin anakku, saat aku masih merintih kedinginan dan gatal seluruh tubuhku akibat anastesi di ruang operasi. 

Di depan ruang operasi sana seorang ibu bertanya kembali jenis kelamin cucunya apa, padahal ia tidak sadar bahwa cucunya telah melewatinya beberapa menit yang lalu untuk diajak ke ruang bayi. Saat ia tahu bahwa CEWEK, lagi-lagi ia berkata “hah cewek katanya, ya ga apa-apa deh, nanti anak kedua kan bisa cowok

Harus sejahat itukah? Disaat seorang mama masih cemas menunggu putrinya yang belum juga keluar dari ruang operasi sedangkan pasien sebelumnya hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk kembali ke ruang observasi. Harus segitu jahatkah? Dan rasanya aku tidak pernah mendapatkan perlakuan yang lebih jahat dari itu selama 30 tahun hidupku. 

Hatiku hancur, iya. Sakit sekali rasanya, sudah pasti. Tapi apa yang bisa kulakukan dengan amarahku itu? MENANGIS. Lagi dan lagi, seorang diri dengan putriku yang tertidur pulas dipelukankku. Di tengah malam yang gelap dan sunyi. 

Ternyata aku pernah tidak baik-baik saja, bahkan pernah di posisi yang tidak memberikan rasa aman, nyaman apalagi kebahagiaan. Tidak ada teman bercerita, tidak ada tempat yang aman untuk berbagi tangis, tidak ada. 

Ternyata aku pernah tidak baik-baik saja.

Ya kuakui itu sekarang dan kujalani sakitnya. 

Dan nyatanya selama proses itu, selama aku masih menangis seorang diri, ternyata stok garam untuk ditaburkan ke lukaku yang sedang merah-merahnya juga masih sangat banyak. Yang mana tidak akan kutuliskan lebih panjang apa saja kata-kata dan perlakuan yang membuatku sangat marah. Dan lagi-lagi, ternyata aku tidak baik-baik saja, oh tidak, ini lebih parah dari itu, aku rasanya hampir mati. Seperti di cekik sembari dikoyak-koyak agar tubuhku habis tak bersisa. 

Ternyata aku pernah tidak baik-baik saja. Dan benar memang begitu adanya. Pengakuan ini membuatku tersadar bahwa ya, aku hanyalah manusia biasa, mama yang tak sempurna. Yang bisa sedih, merasa terluka, marah dan membenci.

Ya, aku pernah tidak baik-baik saja, tapi kemudian kukalahkan semua itu dan kembali kulangkahkan kakiku keluar dari jurang gelap itu. Tidak mudah, pasti. Tapi sedikit demi sedikit, setapak demi setapak, aku semakin menemukan setitik cahaya, 1 titik terang yang kemudian semakin lama semakin membesar. Yang kemudian membuatku juga semakin tersenyum menyambutnya.

1 bulan 8 hari, bersyukurnya aku hanya butuh selama itu untuk “bangkit” kembali walau dengan segala macam perjuangan. Bersyukurnya hanya segitu lama yang kubutuhkan untukku bisa kembali waras menjalani hari-hari baruku menjadi seorang mama dari putri kecil cantikku, Naira.

Aku pernah tidak baik-baik saja, memang. Dan itu benar-benar berat, baru sekali ini kurasakan selama hidupku. Tapi kusyukuri itu sebagai pertanda baik dari Tuhan.

Ia percaya padaku untuk mengalaminya, ia percaya aku mampu memecahkannya. Ia percaya aku adalah hambanya yang selalu mengandalkan Ia dalam setiap jengkal langkahku untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Menjadi mama yang setiap hari selalu belajar memperbaiki diri.

Terima kasih Tuhan,

Terima kasih aku,

Terima kasih semesta,

-aa-

One Comment

  • 41 Trendiest Ways to Have a Short Blonde Bob Right Now

    Today, I went to the beach front with my kids. I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She put the shell to her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched her ear. She never wants to go back! LoL I know this is completely off topic but I had to tell someone!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *