First Pregnancy,  Note to Self,  Something New,  Titik Terang

Catatan si Calon Mama #9 (belajar membuat batasan dari menghargai privasi)

Agak ekstrim sedikit bahasan di part ini. Ide ini muncul saat usia kandungan ke 5 bulanan, saat si mungil sudah mulai terasa menendang lebih sering. Agak ekstrim pula ngajarin dia tentang tema ini, hanya saja ingin menuliskan catatan ini di bagian ini karena tercetusnya pada saat ia masih di dalam kandungan. Saat nanti dia sudah lahir kemudian sudah mulai memahami mengenai bahasan ini, mama pasti akan mengulangnya kembali.

Saat itu, ada acara di rumah kami. Dan kesadaran ini muncul ketika seseorang dengan lantangnya dan percaya dirinya mengatakan ini kepada anaknya, ”sana tidur di atas, angin di atas kan sejuk, istirahat gih.” Dan aku yang mendengar kalimat itu diucapkannya setelah baru beberapa detik masuk ke rumahku hanya bisa terdiam, mengelus dada, mengatur nafas, dan bersabar walau gondok juga sih.

Kenapa begitu gampangnya menyebutkan kalimat itu di rumah orang lain? Ya walau keluarga, tetap saja itu bukan rumahnya, sekali atau dua kali selama setahunpun belum tentu ia sambangi, lalu kenapa menyebutkan kata itu begitu terasa tidak sulitnya, atau sesuatu yang memang harus terkatakan tanpa rasa bersalah, dan (malu?).

Aku lahir, hidup dan besar pada keluarga yang menghargai privasi setiap anggota keluarga. Aku diajarkan untuk minta ijin dulu ketika mengambil bahkan memakan makanan orang lain, walaupun itu adalah punya orang tua atau saudara kandungku sendiri. Tidak sulit mengatakan, ”pa, ce minta kacangnya ya?” dll. Aku juga dibiasakan untuk mengetuk pintu dulu kalau mau masuk ke kamar yang lain, dua hal itu sangat sederhana dan kami tidak pernah tidak mematuhinya.

Kemudian ketika aku menemukan seseorang dengan mengatakan kalimat di atas dengan entengnya, aku kemudian merasa tidak nyaman. Lantai dua rumahku, menurutku adalah tempat privasi bagiku. Di sana ada tempat tidurku dengan suami, dan tempat tidur anak kami nanti, dan itu artinya tidak boleh ada orang lain yang masuk ke sana tanpa ijinku. Dan sekarang ada kalimat yang tidak menghargai privasiku dengan seenaknya mau naik ke atas tanpa terlebih dulu meminta ijin padaku. Aku kesal, tentu saja, bahkan papa mama dan saudara kandungku saja bisa meminta ijinku dulu sebelum akan naik ke kamarku.

Karena itulah alasannya, kenapa kali ini di part ini aku akan membahas judul di atas, ”belajar membuat batasan dari menghargai privasi”.

Dari judulnya sudah jelas terlihat bahwa penting untuk menghargai privasi kan? Hal itu digunakan sebagai cikal bakal kita mampu membuat batasan. Lalu untuk apa batasan itu? Atau memangnya batasan itu apa sih?

Secara sederhana saja, batasan-batasan atau boundaries ini kita perlukan, atau anak kita nanti perlukan untuk mengajarkan anak dapat menjaga dirinya, membuat anak lebih nyaman dengan dirinya sendiri, mencegah sifat narsistik pada anak, mengajarkan anak agar lebih mampu menghargai orang lain dan menghindari konflik dengan orang lain. 
Manfaat memiliki batasan diri atau boundaries ini tentu sangat baik dan bagus untuk anak-anak kita nanti, salah satu cara mengajarkan batasan diri yang sesuai pada anak ini adalah dengan menaati aturan-aturan yang ada dalam keluarga, contoh kecilnya adalah menjaga privasi diri sendiri dan menghargai privasi orang lain, yang saat kecil bisa dimulai dari lingkungan keluarga inti. Untuk selanjutnya, menghargai privasi ini akan aku coba bahas di bawah ini, check this out ya!

KAPAN ?

Bahasan awal aku akan bagikan mengenai kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan anak mengenai menghargai atau menjaga privasi dirinya dan orang lain. Waktu atau usia yang pas untuk anak mengenal privasi ini adalah saat ia berusia 2 tahun. Karena pada usia ini, lingkup sosialisasi semakin luas, dan anak sudah cukup memahami perkataan orang tua, dan mencontoh dari tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa.

Saat inilah orang tua diharapkan untuk konsisten terus menerus mencontohkan secara tindakan nyata mengenai menjaga privasi diri sendiri dan menghargai privasi orang lain. Dengan begitu, anak jadi mencontoh pelan-pelan kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan karena sudah memahami konsepnya dan terlatih kemudian untuk melaksanakannya.

CARANYA ?

Berikut adalah contoh-contoh sederhana yang bisa orang tua terapkan secara konsisten di rumah agar anak dapat mencontohnya kemudian menjadikan kebiasaan baginya untuk dilakukan. Contoh-contoh di bawah ini juga adalah hal-hal yang diterapkan oleh orang tuaku sejak aku kecil sampai sekarang ini.

Biasakan mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar orang lain. Orang tua bisa mengatakan ini untuk mengajarkan anak kebiasaan mengetuk pintu, ”ketuk pintu dulu ya sebelum masuk ke kamar papa mama, supaya papa/mama tidak kaget.” atau bisa juga anak di minta untuk memanggil nama dulu sebelum membuka pintu, ”papa/mama, adik boleh masuk ga?

Tidak sembarangan mengambil makanan orang lain. Papa atau mama bisa mengajarkan hal ini kepada anak, ”kalau adik mau makanan di piring mama, harus ijin dulu ya. Boleh atau tidak. Karena makanan di piring mama ini punya mama, bukan punya adik,”

Tutup pintu saat di toilet & tidak melepas dan memakai pakaian di depan anak. Ajarkan kepada anak bahwa segala aktivitas di kamar mandi adalah hal yang privat dan bersifat sangat pribadi, sehingga tidak boleh diketahui atau dilihat oleh orang lain.

Beri tahu anak untuk tidak membiarkan orang lain menyentuh area tubuhnya. Beritahu anak bahwa ada bagian-bagian tertentu di tubuhnya yang hanya boleh di sentuh atau dilihat oleh mama dan papanya saja. Katakan ini pada anak, ”orang lain hanya boleh memegang kepala, leher, pundak, betis dan kaki. Kalau ada orang lain memegang bagian yang lain, beri tahu mama ya!”

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Papa mama, sekali lagi kusampaikan bahwa belajar untuk menjaga privasi diri sendiri dan menghargai privasi orang lain sangat dibutuhkan agar anak dapat tumbuh remaja hingga dewasa dengan tahu sopan santun dan bisa menempatkan diri dengan tepat dan baik di manapun ia berada. Jangan sampai nanti ia masuk ke rumah orang lain langsung nyelonong saja, langsung masuk ke kamar orang lain tanpa ijin, atau bahkan dengan beraninya mengambil bahkan merampas kepunyaan orang lain tanpa rasa bersalah. Hal-hal itu hanya akan mendatangkan konflik dan masalah untuk ia nantinya.

Karena itu lebih baik kita ajarkan ia sedari kecil untuk mengenal kemudian terbiasa menjaga kemudian menghargai privasi dirinya sendiri dan orang lain.

Semoga tulisan ini (yang sebenarnya berasal dari curcolnya mama) bisa juga menyadarkan dan mengingatkan kita semua mengenai hal penting ini ya. Semangat belajar dan mengajarkan kembali ke anak-anak kita ya papa dan mama 🙂

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *