First Pregnancy,  God is Good,  Titik Terang

Catatan si Calon Mama #7 (masa-masa kehamilan mengajarkanku…)

Selama kita hidup dan bernafas, pasti selalu ada yang namanya ’pertama kali’ di dalam perjalanan kita. Seperti pertama kali menginjakkan kaki di sekolah, pertama kali masuk bangku kuliah, pertama kali jatuh cinta, pertama kali menjadi seorang istri, bahkan sekarang pun aku sedang mengalaminya, pertama kali menjadi calon mama, memiliki ia yang tumbuh di dalam rahimku.

Bahkan selama masa kehamilan inipun masih saja banyak hal pertama kali yang kualami. Bahkan dari sejak awal kehamilan sampai detik ini saat aku menuliskan part #7 ini. Banyak hal baru terjadi, yang harus kurasakan dan kualami, tapi semua itu juga mengajarkanku banyak hal-hal baru. Yang kembali lagi menyadarkanku tentang hal-hal yang mungkin sempat terlupa atau tidak sengaja kulupakan.

Jujur, banyak ketidaknyamanan, tapi lebih banyak juga hal-hal baik yang kualami dan kurasakan. Dan kedua hal itulah yang kemudian bersatu untuk kembali menyadarkanku akan banyak hal.

Dan inilah yang diajarkan masa-masa kehamilan kepadaku:

Lebih mendekatkan diri pada Tuhan, Sang Pencipta

Ketidaknyamanan fisik dan mental pasti terjadi dan pasti aku alami di awal-awal kehamilan. Namanya juga hal-hal baru, dan proses penyesuaian diri pasti ada rasa tidak nyaman dan sebagainya.

Hal yang pasti dilakukan adalah berdoa dan terus berdoa. Meminta kenyamanan kepada sang pemberi ketenangan dan kenyamanan yang seutuhnya. Aku semakin merasa dekat dengan Tuhan, karena merasa dan yakin bahwa hanya Dialah yang mampu memberikan kesehatan yang ingin kuterima dan diberikannya juga kepada janin di dalam rahimku.

Menerima dengan tulus iklhas segara proses adaptasi dari kehamilan

Kata papa, ”semakin kamu menolak ketidaknyamanan bahkan rasa sakit yang menghampirimu, maka rasa ketidaknyamanan dan sakit itu akan bertambah 7 kali lipat dari yang seharusnya”. Hal itulah yang membuatku juga ‘dipaksa’ untuk menerima segala hal yang terjadi dan yang kualami dalam proses kehamilan ini, khususnya di awal-awal di dalam proses adaptasi.

Aku belajar untuk lebih tulus dan ikhlas menerima sakitnya, ketidaknyamanannya dan juga keresahan demi keresahan yang mengikutinya. Lama-lama setelah itu, aku jadi terbiasa kemudian jadi lebih menjadikan segalanya menjadi teman seperjalananku sampai nanti di waktu yang tepat aku bertemu dengan si Mungil, dan semua itu melebur hilang menjadi satu dengan kebahagiaan, tawa dan kelegaan yang kurasakan.

Dan memang,

Menerima segala hal yang terjadi, yang menghampiri kita, adalah satu-satunya jalan agar apapun itu yang terjadi tidak terlalu memberi dampak sengsara kepada kita yang sebenarnya sudah cukup membuat tidak nyaman atas kehadirannya. Hanya dengan menerimanya kita bisa kemudian menjabat tangannya, memeluknya, menganggap ia bagian dari kita dan berjalan bersamanya. Dengan begitu ketidaknyamanan atas kehadirannyapun akan menjadi lenyap digantikan oleh hal-hal baik yang ternyata ia bawa. 

Berdiam diri sejenak tak jadi masalah

Masa kehamilan ini, apalagi awal-awal kehamilan, memaksaku untuk menerima bahwa tidak semua hal harus segera dilakukan. Aku tidak bisa dan tidak harus selalu bergerak saat kondisi tubuhku yang tidak terlalu nyaman dan fit.

Aku adalah tipe orang yang harus segera melakukan sesuatu. Aku terbiasa harus cepat, harus sekarang juga. Namun selama hamil ini, aku benar-benar diminta untuk rehat dulu, diam sejenak, dan itu tidaklah masalah untuk dilakukan. Dan itu juga membuatku menjadi pribadi yang lebih terkendali, lebih sabar dan tidak grasa-grusu seperti di awal.

Meningkatkan pengendalian emosi

Pengendalian emosi ini yang sebenarnya susah-susah gampang. Karena ada pengaruh hormon yang diluar kuasaku, aku jadi lebih sangat sangat mudah sensitif, kadang cepat tersinggung bahkan marah. Selama hamil ini, aku harus lebih sabar, tidak cepat marah-marah atau tersinggung.

Untuk mengatasi ini aku pasti menggunakan metode STOP. Saat ada hal-hal lain yang mengganggu dan membuatku rasanya ingin marah dan kesal, aku akan segera menjauh dulu, ngelus dada, ambil jeda, tarik nafas, kemudian menenangkan diri. Aku rasa semua itu sangat berguna untuk mengendalikan emosiku.

Lebih terbuka dan jujur dengan suami, no drama, no kode-kodean

Saat badan tidak nyaman, aku harus segera memberitahu suami, dan juga memberitahukan apa yang harus dilakukannya untuk membantuku agar lebih nyaman lagi. Saat ternyata aku jadi sangat sensitif, dan menangis tanpa sebab yang jelas, aku juga tidak harus membesar-besarkan sesuatu sehingga menjadi drama yang pelik.

Aku harus lebih terbuka dan jujur mengenai sebenar-benarnya perasaanku, pikiranku dan keadaan fisikku, tanpa mengurangi ataupun melebihkannya. 

Bukan waktunya membuat drama atau kode-kodean di masa-masa kehamilan. Karena bukannya kebaikan dan kenyamanan yang kita dapatkan, malah jadi nambah masalah yang seharusnya tidak harus ada. Hindari kata-kata, ”harusnya kan dia tahu keadaanku, tanpa harus kuberitahu.” atau ”harusnya dia sudah tahu harus melakukan apa untuk membuatku lebih nyaman, tanpa harus kuberitahu sejelas-jelasnya,” atau yang paling tidak boleh dilakukan, ”kamu ga sayang ya sama aku, aku gini kamu kok gitu,”

Tidak egois dan mementingkan diri sendiri

Menjadi calon mama membuatku sadar bahwa aku memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menjaga diriku sendiri, tapi aku juga harus menjaga janin yang ada di dalam kandunganku. Aku tidak bisa hanya melakukan hal-hal yang hanya memberikan kenyamanan padaku, tapi tidak kenyamanan bagi janinku. Misalnya, aku tidak ingin makan, maka aku tidak makan seharian. Aku hanya ingin tiduran, ga mau mandi, maka aku ga mandi seharian. Dua hal itu tentu membuat janinku menjadi tidak nyaman, dan aku tidak harus melakukannya.

Sebagai calon mama yang sedang menjalani awal-awal kehamilan akupun harus mengendalikan pola makanku. Aku berusaha untuk tidak makan makanan yang memang tidak dianjurkan di makan oleh ibu hamil walaupun aku sangat menyukai makanan itu sebelumnya. Demi si Mungil, akupun harus rela untuk menahan diri.

Aku harus tetap makan walau tidak ingin, walau mual dan akhirnya muntah. Aku harus tetap semangat untuk bangun, bergerak, bahkan mandi dua kali sehari, agar janinku di dalam perutku juga bisa merasa nyaman. Awalnya kau orang yang malas berolahraga, hanya sekedar jalan-jalan depan rumah saja rasanya berat sekali dilakukan. Tapi setelah hamil, setelah kubaca bahwa itu memberi manfaat untuk janinku, maka akupun melakukannya.

Mengisi dan memenuhkan diri dengan hal positif dan orang-orang terdekat

Perasaan sensitif dan juga perubahan hormon kadang membuatku menjadi mudah curiga dan cepat tersinggung. Pikiran rasanya penuh dengan pikiran negatif dan hal itu membuat perasaan jadi tidak tenang dan jadi mudah cemas.

Aku tidak boleh terjebak dengan pikiran-pikiran dan perasaan negatif itu. Makanya, kemudian kuisi dengan hal-hal yang lebih positif, seperti membaca artikel tentang kehamilan, pengasuhan anak, sampai menuliskan segala isi kepala dan hatiku di blog ini. Aku berusaha untuk lebih banyak menghabiskan waktu dan tenagaku untuk melakukan hal-hal yang lebih berguna dan bermanfaat positif untukku dan juga janin di dalam kandunganku ini, si Mungil.

Satu hal lagi yang perlu ditingkatkan, fokus dan mendekatkan diri dengan orang-orang terdekat yang memang benar-benar tulus untuk membantu dan mendukung masa-masa kehamilanku. Suami sudah pasti, kemudian keluarga sampai sahabat-sahabat terdekat yang memang tidak pernah lost contact denganku. Bercerita mengenai keadaanku dan mendengar juga cerita mengenai pengalaman mereka selama hamil membuatku jadi lebih merasa terisi, dan yang paling penting merasa di dukung untuk menjalaninya.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Sekali lagi kusampaikan, walau aku sangat menginginkan kehadiran si Mungil, bukan berarti aku tidak boleh menunjukkan bahwa memang kehamilan memberi dampak-dampak untuk si calon mama. Walau setiap mamil memiliki gejala-gejala yang berbeda, tapi dampak-dampak yang kuterima memang cukup menguras tenaga, pikiran dan hatiku. Dan aku tidak perlu takut untuk mengungkapkan apapun yang kurasakan, baik dari fisik ataupun mentalku.

Jangan sampai kata-kata, ”kamu harusnya kuat dong, kan kamu sendiri yang pengen hamil, sekarang sudah dikasi hamil kok malah ngeluh terus?” membuat kita menekan apalagi sampai membohongi diri sendiri bahwa kita sedang baik-baik saja, padahal sebenernya tidak. Menekan perasaan dan menutup-nutupi ketidaknyamanan dan sengaja berlagak kuat, itu artinya kita sedang memupuk bom waktu yang suatu saat nanti bisa saja meledak dan memberikan kerusakan yang jauh lebih besar dari yang seharusnya. 

Tetap kuat ya! Its okay, not to be okay.

Dampak atau apa saja hal-hal yang kualami selama awal-awal kehamilanku dan proses adaptasi bisa dibaca di ”Catatan si Calon Mama #5 (mamil harus tetap kuat, pamil harus tetap waras)” kuceritakan semuanya di sana tanpa dikurangi ataupun dilebihkan.

Tapi kemudian mengingat semua itu, proses adaptasi di awal yang cukup mengejutkan membuatku jadi kembali menyadari hal-hal di atas. Aku diingatkan kembali mengenai kesadaran yang sempat terlupakan atau tidak sengaja kulupakan.

Dan pembelajaran yang diberikan pada masa-masa kehamilanku (poin-poin di atas) memberikan kembali kekuatan baru untuk semakin menjadi pribadi yang lebih baik, sebagai bekalku juga menjadi mama satu anak nantinya.

Wish me luck, sudah tidak sabar bertemu si Mungil di waktunya nanti yang tepat ya nak.

Sehat-sehat dan bahagia selalu untuk kita ya, untuk mama, kamu, papa dan juga semuanya yang sayang dan selalu mendukung kita. Dan salam hangat dan sayang juga untuk seluruh mamil dan pamil di luar sana yang juga sedang berjuang dalam peperangannya masing-masing mengenai proses adaptasi masa kehamilan ini.

Untuk para calon mamil dan pamil yang masih berjuang untuk menciptakan garis dua di testpack, aku juga selalu berdoa untuk kalian, semoga apa yang kalian damba-dambakan selama ini bisa segera terwujud atas ijin Tuhan dan juga dengan usaha yang sudah maksimal yang kalian bisa lakukan.

Godbless 🙂

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *