God is Good,  Note to Self,  Short Story

Catatan si Calon Mama #6 (hal-hal baik dalam kepedihan dan luka)

Part #6 dalam seri ini adalah bagian tersedih dan tersulit selama kehamilanku. Saat itu usia kandunganku 20-21 weeks atau sekitar 5 bulanan. Tuhan ijinkan emosi dan fisikku tidak senyaman dan selega yang seharusnya. Semua hal seperti pasang surutnya air laut. Seperti naik roller coaster. Terkadang mungkin memang harus begitu, kehidupan membawa kita naik turun, menuruni lembah dan menanjak bukit, berjalan di jalan yang landai atau kadang-kadang harus terantuk-antuk karena jalanan yang terjal berbatu.

Sebenarnyapun, untuk kembali menuliskan ini hari ini juga kembali membuatku tidak nyaman. Aku diharuskan kembali mengingat setiap hal yang terjadi saat itu. Segala tangis itu, kesedihan, kekecewaan, dan luka yang teramat sakit rasanya. Bukan hanya harus menanggung yang kumiliki, tapi juga menanggung kesedihan dan luka papa mama dan adikku.

Aku tahu sampai kapanpun aku tidak akan pernah lupa segala hal yang terjadi saat itu. Tapi untuk sengaja mengingatnya kembali setiap detik dan setiap detailnya, sudah pasti aku tidak akan pernah sanggup lagi.

Hal-hal buruk terjadi

Saat itu, di pagi hari yang sebenarnya saat itu aku dengan penuh semangatnya setelah sekian lama selama kehamilan mengalami lemas, mudah lelah, tidak ingin makan apapun dan selalu mual dan pusing. Tapi sudah 2-3 hari ini aku kembali bersemangat untuk melakukan kebiasaan lamaku. Bangun pagi dengan badan yang rasanya lebih fit, bersemangat pergi ke kantor, bahkan aku sudah punya rencana untuk membeli bahan makanan untuk nanti sore. Ya, akhirnya aku kembali ke dapur. Bau makanan dan butir-butir nasi sudah tidak terlalu menggangguku belakangan.

Tapi, memang ya benar adanya, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, bahkan 1-2 detik berikutnyapun bukanlah kuasa kita. Saat aku dalam perjalanan, telpon dari mama mengubah segala semangatku menjadi tangis yang tak tertahankan. ”CE, AMMA MENINGGAL!” kalimat itu membuatku sesak dan hanya bisa menangis dan berteriak setelahnya. Begitu seterusnya seharianpun air mataku tidak pernah kering dan habis di pipiku.

Namun, goncangan yang menyakitkan tidak hanya sampai di sana. Ternyata Tuhan masih ingin mengatakan ini pada kami, ”Aku tambahkan lagi ya, supaya kalian semakin bertumbuh. Ku ijinkan ini terjadi karena Aku tahu kalian sanggup menerimanya,”

Saat kami mempersiapkan pulang ke Sumba, dan melakukan swab antigen, ternyata papa positif covid. Sedangkan, aku, mama dan Gipong negatif. Itu tandanya kami tidak bisa kemana-mana. Karena seharian bersama, akupun tidak bisa pulang kerumah, kami berempat harus melakukan isolasi mandiri di rumah papa. Papa, mama, Gipong, aku dan si Mungil yang berusia 5 bulan di rahimku.

Inilah pukulan-pukulan berat yang menimpa kami dalam satu hari itu :

1. Amma meninggal ; 2. Papa sakit ; 3. Kami harus isolasi mandiri, sehingga tidak bisa ke Sumba menghadiri pemakaman Amma, ; 4. Aku dan si Mungil harus berpisah dengan suamiku, agar dia tidak terseret dan bisa terus bekerja.

Perumpamaan ”sudah jatuh tertimpa tangga pula,” memang benar adanya, dan kami sedang mengalaminya sekarang. Begitulah keadaan kami.

Hal-hal itu sungguh sanggup membuatku kelimpungan, dan aku yakin tidak hanya aku, khususnya untuk papa. Ini pasti pukulan terberat dalam hidupnya. Dan sudah pasti ia lebih bersedih dan terluka dari yang diperlihatkannya (seperti yang dilakukannya sudah-sudah). Kesedihan dan luka papa yang terlihat sekali di tahannya membuatku sangat bersedih dan juga terluka. Apalagi aku tahu dan yakin, dia pasti sangat kecewa dengan dirinya sendiri.

Setelah 2 hari, di sore hari setelah kami menyaksikan lewat zoom pemakaman Amma yang benar-benar menguras emosi, adikpun mulai demam. Kami kembali kelimpungan, setelah ke dokter dan tes antigen, ternyata ia juga positif. Kemudian setelah 5 hari, aku dan mama juga menyusul positif covid. Dan akhirnya kamipun harus melakukan isolasi mandiri selama 20 hari di rumah.

Belum selesai rasanya usaha kami menghilangkan kesedihan karena ditinggalkan oleh Amma kami tersayang, kamipun langsung dipaksa untuk menerima, menghadapi bahkan menikmati gejala dari covid ini. Belum lagi karena hanya tinggal di rumah, rasa sumpek dan bosan membuat emosi kami tidak stabil antara satu sama lain. Rasanya benar-benar, hemmm akupun tidak begitu benar-benar menemukan istilah yang paling tepat untuk itu.

Hah, kusadari kuawali tulisan ini dengan hal-hal negatif yang ternyata masih terasa sangat-sangat menyedihkan dan menyakitkan sampai detik ini. Kita sudahi sampai di sini ya, selanjutnya aku akan lebih fokus dengan hal-hal baik, yang ternyata juga menyertai di belakang, di balik, di samping kepedihan, luka dan juga kesakitan yang kami rasakan.

Hal-hal baik pun mengikuti

Segala sesuatu yang terjadi ada tujuan dan pasti mendatangkan kebaikan, begitu kalimat yang sering ku dengar, dan jujur sering juga kuucapkan untuk memenangkan hati dan pikiran. Tapi untuk saat ini aku benar-benar menyadari bahwa kata-kata itu memang benar adanya.

Ada banyak jawaban yang kami katakan satu sama lain untuk pertanyaan, kenapa harus sekarang, saat Amma meninggal kami malah menderita covid?”

Dan inilah jawaban-jawaban baik yang kami dapatkan, dan kami berusaha untuk yakini kebenarannya bahwa memang inilah tujuannya kenapa Amma meninggalkan kami dan Tuhan juga mengijinkan kami untuk menderita covid ini bersama-sama.

#1 kembali dikumpulkan setelah 11 tahun saling berpisah. kami (aku, mama, papa dan adik) adalah keluarga yang selalu berpisah satu sama lain. Setelah menikah, aku tinggal berdua dengan suami, adik bekerja di Jakarta, papa bekerja di Sumba dan mama menetap di rumah sendiri. 11 tahun belakangan ini kami sudah tidak pernah tinggal bersama di rumah, lengkap berempat. Dan inilah jawaban pertama yang kami dapatkan. Amma meminta kami untuk tidak berangkat ke Sumba, mungkin juga karena kehamilanku, dan meminta kami untuk tinggal di rumah berempat selama 20 hari untuk membalas 11 tahun kami yang berpisah-pisah.

#2 kami jadi semakin menghargai kebersamaan. Selama kami harus berada di rumah, kami jadi lebih banyak bercerita, lebih banyak tertawa. Bahkan menjadi penopang satu sama lain. Yang satu demam, yang lainnya membantu menyamankan, begitu seterusnya sampai kami akhirnya benar-benar sembuh dan terbebas dari yang namanya covid itu. Kami jadi semakin menghargai kebersamaan. Dan inilah yang membuat kami kembali siap untuk melanjutkan kehidupan lagi, walau dengan setiap member yang saling merantau ke luar pulau.

Tidak hanya kebersamaan aku dan keluargaku, akupun semakin menghargai kebersamaanku dengan suami. 20 hari dipaksa untuk berpisah sementara dengannya membuatku semakin merindukannya setiap harinya. Walau dia selalu ke rumah untuk membawa makanan dan obat-obat yang kami perlukan, namun aku tidak bisa memeluknya, menciumnya atau hanya sekedar bergandengan tangan. Itu membuatku semakin sadar bahwa akupun tidak ingin berpisah dengannya.

#3 aku jadi semakin mencintai suamiku. Selama kami isolasi dia membuktikan bahwa dia adalah suami dan menantu dan kakak ipar dan calon papa yang siap siaga dalam kondisi apapun. Aku tahu dan yakin dia juga pasti kesepian di rumah sendiri, dia pasti juga lelah karena seharian bekerja, tapi dia selalu ada untuk kami. Dia rela mengantar kami ke rumah sakit, dia rela menyiapkan makanan untuk kami setiap harinya, bahkan dia rela membelikan kami obat seketika itu juga dan membawakannya untuk kami. Aku melihat sisi lain dari dirinya, dia laki-laki yang bisa diandalkan dan aku merasa sangat nyaman dan aman karena adanya dia.

#4 pertama kalinya si Mungil memberitahukan keberadaannya. Selama hampir 5 bulan ini aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya di tendang oleh si baby dalam kandungan. Dan saat isolasi itulah aku pertama kali merasakan tendangan lembutnya di dalam rahimku. Rasanya benar-benar sangat lega. Seakan-akan dia mengatakan padaku bahwa dia baik-baik saja walau kami sedang isolasi dan mengalami sakit ini. Aku tahu dan yakin dia kuat, dia akan menjadi anak kami yang sehat dan kuat karena hal-hal yang telah dia dan kami lewati bersama.

#5 ini juga ga kalah penting, kami harus semakin menghargai kesehatan. Kami jadi tersadarkan bahwa kami tidak boleh meremehkan kondisi saat ini dengan adanya pandemi ini. Kami harus tetap memperkuat diri dengan makan makanan yang sehat, cukup istirahat dan juga minum vitamin. Lebih baik mencegah daripada mengobati, benar kan? Lebih baik menamengi diri dengan imun tubuh yang terjaga baik daripada harus menderita sakit yang sudah pasti tidak mengenakkan.

#6 aku tidak akan lupa yang satu ini, hal terbaik dari segala hal baik yang ternyata terjadi, kami diingatkan kembali untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan,untuk apapun yang Ia beri, yang kami miliki dan hadapi. Tuhan, Ia yang menciptakan, memberikan, mengambil dan mengijinkan segala hal terjadi dalam kehidupan kita. Saat Ia memberikan, Ia tahu kita pantas mendapatkannya. Saat Ia mengijinkan, Ia tahu bahwa kita sanggup menghadapinya. Karena itu kami selalu dan akan selalu berterima kasih dan bersyukur atas segalanya kepada Tuhan.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Selalu ada hal baik dibalik hal-hal buruk, selalu ada hal-hal baik yang menyertai hal-hal buruk. Sesuatu yang menyakitkan dan yang buruk terjadi dalam satu hari bukanlah karena kehidupan kita yang buruk, tapi kita hanya sedang mengalami hari buruk saja. Kita tetap harus melanjutkan hidup. Hari ini boleh menangis, teriak, marah dan kecewa, tapi esok harinya, kita harus tetap melanjutkan hari-hari berikutnya, walau masih dengan air mata yang belum kering, walau dengan kekecewaan yang tak kunjung pergi, bahkan sampai sakit yang belum mengering sepenuhnya. Kita tetaplah harus kembali melangkah maju dan melanjutkan hidup. 

Amma, terima kasih dan maaf.

Terima kasih untuk segala kasih sayang dan maaf belum bisa selalu membahagiakan dan selalu ada. Kami mencintaimu, aku sangat sangat sangat mencintaimu dan menyayangimu. I Love you and miss you already.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *