First Pregnancy,  Marriage Care,  Note to Self

Catatan si Calon Mama #5 (mamil harus tetap kuat, pamil harus tetap waras)

Judulnya ampun deh ya, tapi memang begitu adanya, begitu kesimpulan yang kudapatkan saat menjalani awal-awal kehamilan atau yang biasa di sebut dengan trimester 1. Sebagai calon mama, mamil, yang baru pertama kali menghadapi dan merasakan kehamilan membuatku kelabakan di awal menjalaninya.

Kalau ditanya bagaimana pengalaman kehamilan pertamaku ini, jawabannya adalah ”aduhaaiiii….”

Aduhaii beratnya, aduhaii juga gembiranya…

Aduhaii penuh tangisnya, aduhaii juga penuh takjub dan semangatnya…

Pokoknya yang paling pas kata-kata untuk menggambarkannya adalah “aduhaiii…”

Setiap mamil -dan juga pamil-, memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam menjalani dan menghadapi kehamilan. Begitu yang kubaca di bejibun artikel di internet dan juga beberapa teman yang sudah pernah hamil sebelumnya. Pengalaman mereka berbeda-beda, karena itu tidak bisa disamakan dan tidak bisa juga diambil mentah-mentah informasi dari mereka kemudian digunakan juga di diri kita.

Walau ada beberapa juga mengalami ini dan itu, namun ada juga yang tidak. Dan lagi yang membedakan, walau mereka mengalami ini dan itu, tingkat keparahannya berbeda, dan juga tingkat kesiapan dan juga tingkat kekuatannya yang berbeda. Karena itu, ya tetap tidak sama.

Bagiku trimester 1 ini, awal kehamilan sampai di bulan ketiga, adalah masa-masa adaptasi yang sangat menegangkan dan penuh dengan pergolakan emosi di dalamnya. Karena itu judul yang akhirnya ku pilih adalah ”calon mama harus tetap kuat, calon papa harus tetap waras”. Aku rasa begitu lah yang benar adanya untuk menggambarkan keadaan kami saat itu.

Namun sekarang, saat aku menulis ini, aku bersyukur karena ternyata kami saat itu dan sampai saat ini tetap dan telah semakin kuat, dan juga semakin waras menjalaninya.

Apa sih perbedaan sebelum dan setelah hamil yang terjadi padaku? Kali ini aku akan mulai dari topik ini. Karena juga topik ini yang membuatku terkejut juga, “oh ya ya, seberubah ini ya keadaanku saat ini”.

Perbedaan sebelum dan sesudah hamil:

  1. Makanan yang kusukai sebelum hamil, jadi sangat kubenci saat hamil, dan sebaliknya. Melihat nasi atau bahkan hanya membayangkannya saja sudah membuatku sangat mual dan muntah. Sebaliknya, apel yang sangat kubenci sebelumnya, sekarang malah sangat kuinginkan.
  2. Aku jadi mudah lelah dan mager banget. Rasanya lebih baik tiduran dan rebahan seharian daripada beraktivitas. Hal ini juga karena mual dan ga enak makan, jadi tubuh terasa lebih lemah dan lemas.
  3. Emosi semakin bergejolak. Kalau ini, karena perubahann hormon juga, begitu yang kubaca di artikel. Aku jadi lebih-lebih-lebih mudah menangis dan sensitif. Kadang jadi lebih mudah marah juga.
  4. Lebih sering buang air kecil. Sebelum hamil, aku tipe orang yang malas buang air kecil, bisa-bisanya sehari palingan 2-3 kali doang. Tapi setelah hamil ini, aku harus rela ke toilet lebih dari 5 kali sepanjang aku bekerja di kantor. Hal ini sebenarnya agak membuat kewalahan sih, karena kebiasaan yang berubah dan mau tidak mau harus dilakukan.
  5. Payudara terlihat membesar dan terasa sangat sakit. Pokoknya kalau bicara mengenai ini ”senggol bacok” deh sama suami. Kesenggol sedikit saja, sudah pasti mengundang kemarahan, karena aduhaii sakitnya bundo.
  6. Kadang jadi overthinking akan sesuatu atau saat orang mengatakan sesuatu. Mudah tersinggung iya, tapi lebih ke menerka-nerka dan curiga kepada maksud-maksud dari perkataan orang lain.

Yang paling banyak terasa sih perubahan fisik, mental dan kebiasaan sehari-hari, namun itu saja kadang membuat kewalahan juga dan kadang juga jadi ngerasa ”duh kok gini amat ya,”. Ini yang kusesali sekarang ini, yang kutahu dan kuingat, sepertinya awal-awal kehamilan aku agak gimana ya, hemmmm, kadang seperti ingin menyerah atau menyesal. Jadi terkesan tidak sungguh-sungguh ini sampai di tahap ini.

Tapi kemudian ku ingat lagi, ketika pikiran-pikiran seperti itu mulai muncul, aku akan kembali lagi ke waktu-waktu di mana aku sangat menginginkannya. ”hah payah, begini saja sudah ingin menyerah, apalagi jadi merasa menyesal. Padahal sebelumnya sangat ingin mati-matian memilikinya,”. Dan begitulah pemikiran-pemikiran itu menjadikanku lebih kuat dari yang seharusnya.

Dukungan suami dan orang terdekat sangat bermanfaat di masa ini

Pamil, calon papa harus tetap waras menghadapi si mamil atau calon mama dalam menjalani adaptasi kehamilan ini. Apalagi di trimester pertama, di kehamilan pertama, dengan kondisi perubahan seperti di atas, seperti yang kualami. Dan lagi-lagi ya, bukan bermaksud terus memuji suami, tapi memang benar adanya, aku bersyukur sekali karena suami mau berusaha juga untuk belajar hal-hal baru dalam menjalani adaptasi ini.

Ia yang memang awalnya sabar jadi terasa lebih sabar menghadapiku, dan aku rasa dia juga mengatakan dalam dirinya harus menjadi lebih sabar. Bayangkan apa yang akan terjadi saat semua perubahan fisik, mental dan kebiasaanku yang berubah drastis, kemudian si suami tidak sabar menghadapinya dan ikut-ikutan menjadi tidak waras, sudah pasti rumah ini akan dihiasi dengan kemarahan dan tangis setiap harinya.

Sekali dua kali aku memang menangis, apalagi saat badan rasanya sangat tidak enak dan tidak nyaman, dan lelah sekali, namun kemudian aku merasa bahwa suami sibuk sendiri, padahal sebenarnya suami sedang menggantikanku mengerjakan pekerjaan rumah, atau sedang memasak untukku. Fisik yang tidak nyaman, kemudian emosi yang tak karuan, karena overthinking itu membuatku meledak-ledak dan menangis. Bersyukurnya, bukan malah menyuruhku berhenti menangis, si suami datang menemaniku dalam diamnya sambil mengelus-ngelus tangan dan perutku.

Mamil memang butuh menangis, jika memang sudah tidak terasa kuat dan rasanya ingin menangis sejadi-jadinya, sebaiknya lakukan saja. Karena setelah melakukan itu, kondisi fisik dan mental akan menjadi lebih baik, sehat dan lega. Aku mengalaminya. Saat aku menahannya, aku akan semakin terkurung dengan pikiranku yang kemana-mana, dan perasaanku yang tidak karuan. Tapi setelah aku memberi waktu untuk diriku membiarkan merasa dan melakukan yang seharusnya, kemudian pikiranku jadi lebih terbuka, dan kesadaran-kesadaran barupun jadi lebih gampang muncul di kepalaku.

(selain dari pasangan, orang-orang terdekat juga butuh untuk tetap waras dan mau serta mampu mendengarkan keluh kesah para mamil. No judging. Dan begitu yang kudapatkan dari sahabat terdekatku, dan juga orang tuaku.)

Lebih bijak saat mendengar kata-kata perempuan lain

Banyak yang bisa berempati, tapi tidak sedikit juga yang tak tahu bagaimana caranya menunjukkan simpati dan empati itu kepada para mamil. Judging sudah pasti, apalagi dengan membanding-bandingkan keadaannya dulu dengan keadaan kita sekarang. Apalagi waktu dulunya itu, 10-15 tahun yang lalu. Yang sudah pasti segala sesuatunya pasti sangat sangat berbeda. Sangat disayangkan saat hal ini terjadi kepada mamil, karena seperti yang kukatakan sebelumnya, setiap pengalaman masing-masing mamil itu berbeda-beda, jadi tidak bisa disamaratakan.

Dan sayangnya beginilah yang sering dialami oleh para mamil di luaran sana, dan tidak kupungkiri juga, akupun mengalaminya sekali dua kali selama masa kehamilan pertama ini. ”aku sih dulu ga gitu, makanya kamu jangan gini dong!” begitu yang sering terdengar. Dan sebagai calon mama yang hormonnya sedang mengalami perubahan, kata-kata itu jadi terdengar sangat menyakitkan.

“hah gitu aja nangis, lebay sekali,”

“heh,heh, lagi hamil kok makan begituan, nanti anaknya begini begitu…”

“cengeng banget sih kami, pasti ni anakmu perempuan,”

“ya ampun kamu males banget ya, nanti anakmu juga jadi malas lho,”

“hah kamu itu, rugi dong nunggu lama, sekarang udah dikasi malah cengeng begitu,”

Daann masih banyak lagi, judging hingga bulian yang ternyata dihadapi mamil. Mungkin kalau tidak hamil, kata-kata seperti itu bisa kita anggap guyonan ya, tapi saat hamil, apalagi mamil yang memiliki kondisi perubahan yang seperti kualami, rasanya mendengar itu semuanya rasanya sangat berat.

Begini yang kurasakan:

Tidak dipahami dan dimengerti, tidak mendapatkan dukungan yang memang diperlukan, disalahkan, semua hal rasanya kok salah, dan aku merasa tidak memiliki teman yang kupercaya untuk mengutarakan gundah gulana dan resahku dalam menjalani kehamilan karena takut akan disalahkan, di nilai yang tidak-tidak sampai di bully. Aku takut dan cemas menghadapi itu semua, karenanya hanya bisa memendam kemudian mencari tahu sendiri hal-hal yang kuinginkan.

Satu yang pasti dan yang seharusnya kulakukan adalah : cerita sama suami saja, atau orang tua, atau kalau beruntung sahabat yang paling dekat yang bisa netral, atau lebih baik lagi bertanya ke dokter. Kalau mau menangis, ya udah berdoa saja, cerita ke Tuhan.

Yang kuinginkan -aku yakin juga mamil yang lain-, saat menjalani dan menghadapinya awal-awal kehamilan ini adalah: dukungan, didengarkan, tidak dinilai secara berlebihan apalagi salah, tidak dianggap remeh, apapun yang kurasakan saat ini adalah valid, nyata dan tidak sedang kubuat-buat sama sekali.

Karena sungguh, sangat lelah rasanya mendengarkan ocehan orang lain yang tidak benar-benar mencoba merasakan apa yang kita rasakan, yang tidak benar-benar memiliki keinginan untuk mendengar apalagi memberi pandangan dan pendapat baru yang positif untuk kemajuan kita.

______

Melewati masa-masa ’kewalahan’ di trimester 1, aku jadi tersadarkan akan beberapa hal yang kupelajari agar tidak kulakukan atau kukembalikan ke perempuan lain yang sedang hamil dan dengan kondisi yang hampir sama denganku.

Tidak judging, memberi penilaian apalagi membandingkan

Kita tidak bisa melakukan 2 hal itu kepada mamil, siapapun dia. Karena lagi-lagi kukakatakan, tidak ada yang mengalami sama persis dengan yang kita alami. Jadi jangan disamakan, ingat dan akuilah bahwa setiap mamil memiliki pengalaman yang berbeda. Tidak perlulah rasanya membandingkan apa yang kita lakukan saat hamil, apalagi yang dulu sekali, 10-15 tahun yang lalu. Kita tidak benar-benar tahu apa saja usaha yang sudah mamil lakukan sebelumnya untuk mendapatkan kenyamanan dari kehamilannya.

Be wise, dalam memberikan komentar dan pendapat

Memberi pandangan atau pendapat baru untuk kemajuan mamil sangatlah baik dan memang itu yang dibutuhkan. Tapi, ingat berikanlah komentar dengan baik, dengan bahasa yang pas dan lembut serta netral. Bukan malah mengumbar cerita bahwa dirimu lebih baik daripada mamil yang lain. Yang sebenarnya tujuan bercerita adalah ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Bukan juga menjelek-jelekkan apalagi menyalahkan cara-cara yang dilakukan oleh mamil guna mendapatkan keadaan yang lebih aman untuk dirinya dan calon buah hatinya.

Tidak ada yang 100% sama, jadi sekali lagi, be wise. Kalau nyatanya komentar dan pendapat kita tidak membangun dan tidak sama sekali membuat mamil menjadi lebih nyaman, lebih baik urungkan niat itu, atau lebih baik tidak berkata apapun.

Keadaan setiap mamil berbeda, begitu pula kemampuannya

Selama menghadapi adaptasi kehamilan ini, dan dari membaca artikel dan bertanya, aku jadi tahu bahwa tidak hanya pengalaman hamil yang berbeda, ternyata kemampuan setiap mamil juga tidaklah sama. Dari segi pemenuhan gizi, seberapa sering checkup ke dokter, kemampuan menahan sakit atau ketidaknyamanan -dari segi kekuatan-, sampai pada kemampuan meregulasi emosi yang juga dipengaruhi oleh hormon-hormon kehamilan dan perubahan fisik ini. Ini yang pasti terjadi, tidak ada yang sama 100% dalam hal ‘besarnya kemampuan’ dari masing-masing calon mama atau mamil ini.

Jadi sekali lagi, jangan disamakan. Karena sungguh sangat menyakitkan jika mendengar sesama perempuan berkata-kata yang meremehkan dan menjatuhkan usaha-usaha dan cara mamil dalam menghadapi kehamilannya. Sangat semakin tidak nyaman rasanya mendengar ocehan orang lain yang tidak bisa merasakan apa yang benar-benar kita rasakan, yang tidak memiliki tingkat kekuatan yang sama dengan kita dalam menahan sakit dan ketidaknyamanan ini.

______

Satu hal lagi yang ingin kubagikan, aku ingat kata-kata ini dari setiap artikel yang kubaca, dari setiap orang-orang yang berbicara denganku,

“mamil harus selalu happy ya!”

Harus selalu, seperti tantangan yang sangat besar dan juga keharusan yang sebenarnya sangat sulit untuk diraih. Seperti aku yang sebenarnya sangat menginginkan kehadiran keturunan, kami yang membutuhkan waktu cukup lama untuk berusaha mendapatkannya, tetap juga merasa kewalahan untuk selalu kuat, waras apalagi happy. Tetap juga terkaget-kaget dengan perubahan yang terjadi. Tetap juga merasa harus berusaha keras untuk menjalani adaptasi kehamilan ini.

Hingga akhirnya, aku mendapatkan kata-kata baru yang sebenarnya mungkin jadi lebih masuk akal pada diriku sendiri.

“mamil harus menerima perubahan ini dengan hati dan pikiran terbuka, kemudian nikmati dengan hati damai, karena itu akan membuat kekuatan dan kewarasan semakin mudah dirasakan!”

Tidak apa-apa merasa sedih, lemah, tidak nyaman, takut, cemas, gelisah hingga terkadang seperti sangat marah dengan keadaan yang membuat tidak nyaman. Terima semua emosi, rasa, pikiran dan juga keadaan itu dengan tangan dan hati terbuka. Kemudian nikmati segala pasang surutnya emosi, terjal landainya perubahan fisik yang terjadi. Setelah menerima dan menikmati kemudian kita akan menjadi lebih mampu kuat dan waras dalam menjalani adaptasi awal-awal kehamilan pertama ini.

Begitulah yang kurasakan kemudian kusadari lalu ku ambil sebagai pelajaran berharga yang kugunakan nanti ketika kuhamil lagi dan juga kugunakan dalam mendukung mamil-mamil di luar sana.

Semoga artikel ini juga bermanfaat untuk kamu dan kamu ya 🌻

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *