God is Good,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Calon Mama #4 (tak semua didapatkan dengan mudah)

Sebagai calon mama, sebagai seseorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan harapan terbesarnya, aku mendapatkan satu pelajaran penting di dalam hidup. Kesadaran ini semakin mengingatkanku, bahwa aku hanyalah seorang manusia yang kekuatannya juga tak seberapa dibandingkan dengan Sang Pencipta. Proses dalam menjalani program hamil ini dimana sangat menyita banyak waktu, tenaga, bahkan pikiran dan perasaan membuatku -aku tahu suamiku juga begitu- menyadari bahwa sebesar apapun kita berusaha, hasil akhirnya sangat-sangat dipengaruhi oleh ijin Tuhan.

Selama hampir 2 tahun kami berusaha melakukan segala hal yang seharusnya untuk mendapatkan keturunan ini, ada satu hal yang kusadari, bahwa:

“Tidak semua hal bisa langsung kita dapatkan seketika itu juga saat kita menginginkannya. Ada hal-hal yang memerlukan niat, keinginan hingga usaha yang lebih besar lagi dri yang biasa kita lakukan sebelumnya. Setelah semua itupun, ada satu hal wajib lainnya yang perlu dilakukan dengan lebih kuatnya, berserah.”

Memperbesar niat, harap dan usaha hingga memperkuat rasa berserah kepada Tuhan sangat-sangat kurasakan dan kualami selama proses ini. Pengalaman inipun adalah pengalaman pertamaku merasakan bagaimana kuasa kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kuasa Tuhan, sang pencipta kita. Ia yang menentukan, Ia yang mengijinkan, Ia yang memberi dan Ia yang merestui setiap niat, ingin dan usaha kita untuk mendapatkan atau memiliki sesuatu.

Sebelumnya, kuakui, semua hal yang kumiliki sampai usiaku 30 tahun ini, tidak sesulit dan sesusah ini kudapatkan. Mendapatkan sekolah (SD-SMA), memiliki rangking dan nilai yang memuaskan -dan aku yakin membanggakan kedua orang tuaku-, mempunyai benda-benda atau barang-barang yang kuinginkan, hingga menjalani study di perguruan tinggi (S1-S2). Semua kudapatkan dengan cukup mudah. Aku tidak perlu memaksimalkan usahaku, tidak juga terasa sangat meminta dengan kyusuknya kepada Tuhan, dan jreng-jreng-jreng, Tuhan selalu memberikannya, aku selalu mendapatkannya. Untuk bekerjapun, tidak butuh drama dan waktu yang lama, aku langsung mendapatkan pekerjaan pertamaku dengan gaji yang cukup, dan langsung merasakan jenjang karir, di mana aku langsung dipercaya menjadi SPV divisiku hanya setelah 2 tahun bekerja.

Tuhan baik, sungguh baik, berkatnya selalu ada dan selalu ada untukku, walaupun aku tak terlalu perlu berusaha dengan sangat kerasnya. Semua berkat itu benar-benar bisa ku terima walau tidak benar-benar ku harus menguras tenaga untuk mendapatkannya.

Kalau diingat-ingat lagi, begitu besarnya kemurahan Tuhan dalam hidupku, menjadikanku semakin merasa bersyukur dan lebih teryakinkan kembali, bahwa:

“Dengan usaha yang tak seberapa saja, Tuhan merestui keinginanku, apalagi saat aku mengusahakannya, meniatkannya dan menginginkannya sekuat-kuatnya tenagaku, maka Tuhan pasti juga akan merestuinya. Aku hanya perlu mempercayaiNya, dan menyerahkan semuanya itu kepada Tuhan. I will do my best, and He will do the rest.”

______

kita tidak pernah bisa mengubah atau memaksakan takdir,” begitu kata orang-orang. Ya, dan aku juga termasuk orang yang mempercayai itu. Bagiku, kelahiran -mendapatkan keturunan-, kematian -dengan cara sakit atau kecelakaan-, jodoh hingga hari kiamat adalah takdir yang tidak bisa kita ubah apalagi kita paksakan. Semua ini sudah pasti ada di tangan Tuhan, atas kuasanya, dan juga atas ijinnya.

Dengan takdir yang tidak dapat kita ubah dan paksakan itu, Tuhan ingin mengajarkan kita bahwa, kita butuh Tuhan melebihi segala usaha yang telah kita lakukan dan kekuatan yang telah kita curahkan. Dengan adanya takdir itu, Tuhan ingin memberitahu kita bahwa Ia lah yang lebih besar dari segala rancangan manusia, dan sudah pasti rencana dan rancanganNya dalam hidup kita adalah yang terbaik.

Apa sih yang bisa manusia lakukan? Selain berusaha dan berserah?

Karena itu juga aku dan suami menyadari bahwa harapan mendapatkan keturunan ini harus kami lakukan dengan seimbang. Kalau orang bali -Hindu- bilang secara niskala dan sekala. Sekala, kami berusaha melakukan pengobatan, rajin check up ke dokter, berolahraga dengan rutin, dan menjaga pola makan. Niskala, kami melakukan tugas-tugas kami yang seharusnya kami lakukan kepada Tuhan, membuat pelinggih di rumah, membersihkan dan mengupacarai rumah, melukat hingga rajin bersembahyang meminta restu kepada Tuhan untuk menjadi orang tua kelak untuk anak-anak kami yang tumbah dengan sehat, normal dan lengkap.

Hidup ini butuh keseimbangan. Kalau menangis terus tidak akan baik, begitu juga kalau tertawa sepanjang hari. Butuh adanya tangis-tawa, bahkan tentang usaha-berserahpun. Semuanya itu haruslah seimbang, agar hasil yang didapatkan juga jadi baik seperti yang diinginkan.

______

Aku punya salah satu Quote tentang keseimbangan hidup ini dan juga yang ia ajarkan kepada kita, aku bagikan di bawah ini ya:

Suka dan duka pasti bergantian, dan pasti hanya sementara. Karena itu, terima dan nikmati saja saat waktunya tiba. Kita tak akan selamanya sakit dan menangis, pun tawa suka saat ini bisa juga berkurang atau hilang pada waktunya.  

Hal ini mengingatkan kita, tentang:

Menjadi lebih kuat _ ”aku pernah ada di waktu yang lebih sulit dan sedih dari sekarang, yang ini juga pasti bisa kulewati.”
Menjadi lebih bersyukur _ ”Tuhan selalu tidak pernah lupa memberi berkat dan bahagia ini, aku bahkan pernah mendapat yang lebih dari sekedar yang kuusahakan. Sudah sepatutnya yang kudapatkan sekarang dengan penuh usaha ini harus kusyukuri bukan malah membuatku sombong dan mengatakan ini karena usahaku yang sangat besar,”

Semoga pengingat ini menetap selalu di hatiku dan tersampaikan juga kepadanya kelak. 

Semoga apa yang kubagikan di part 4 seri ini bisa juga mengingatkan dan menyadarkan kalian betapa pentingnya berserah, menyerahkan segala usaha yang telah kita lakukan kepada Tuhan, kemudian menunggu janjinya untuk mengijinkan dan merestui harapan yang kita inginkan dapat kita miliki.

Ingat selalu ya, dengan usaha kecil saja Tuhan pernah mengabulkan, apalagi dengan usaha yang jauh lebih besar. Seimbangkan kemudian dengan berserah dan percayakan segala sesuatunya kepada Tuhan ya.

Kalau toh Tuhan bilang ”nanti dulu,” atau bahkan, ”bukan yang itu, ada yang lain yang ingin kuberi padamu,”, percayalah bahwa semua itu demi kebaikan kita, karena Tuhan percaya kita bisa menanggungnya, karena Tuhan yang sangat mencintai kita, anak-anakNya.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *