Marriage Care,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Calon Mama #3 (saling mengandalkan, saling dukung)

Di seri ini tapi di part sebelumnya (#2) aku menceritakan bagaimana usaha dan harapan suamiku dalam memiliki keturunan. Aku juga menceritakan bagaimana ia tidak pernah melepaskan tanggung jawabnya sebagai suami dan bersama-sama kami berdua saling bergandengan tangan, menguatkan, membantu dan selalu ada mendampingi dalam proses ini.

Karenanya, dibagian ini aku ingin lebih mengingatkan kembali mengenai hal indah itu, bahwa:

“…yang namanya suami istri, berpasangan, yang namanya rumah tangga, ya yang dibicarakan dan yang harus selalu di ingat adalah dua orang yang telah menjadi satu. Suami-istri, yang berasal dari aku-kamu kemudian menjadi kita/kami dalam proses perjalanan pernikahan itu..”

Aku benar-benar merasakan manfaatnya mengenai selalu menggunakan kata ’kita/kami’ ini dalam perjalanan di lintasan rumah tangga ini. Segala sesuatunya jadi semakin lebih mudah, jadi semakin lebih percaya diri, jadi semakin memenuhkan kebahagiaan kami juga.

Aku ingat, suamiku pernah berkata seperti ini,

“Ketika suami dan istri sudah tidak saling dukung, tidak saling mengandalkan satu sama lain, ya mau gimana bisa menyelesaikan masalah-masalah yang rumah tangga yang dialami. Masalah yang paling kecilpun akan terasa sangat sulit untuk diselesaikan.”

Ya, dia benar, hal-hal inilah yang sebenarnya paling dibutuhkan oleh pasangan suami-istri dalam menjalani gelombang pasang surut, jalanan terjal berliku rumah tangga mereka:

Saling dukung,
Saling mengandalkan, 
Saling menopang,
Saling memikul,

Saat kita melakukan hal-hal itu bersama-sama dengan pasangan, sudah pasti akan mempermudah kita melakukan apa saja. Kita jadi lebih mudah memandang masalah yang ada. Bukan bermaksud mengecilkan masalah yang besar, tapi setidaknya kita pasti lebih bisa bersikap lebih tenang saat menerima dan menghadapinya. Kemudian setelah itu kita bisa berpikir lebih jernih dan tepat dalam mencari solusi penyelesaiannya. Begitulah kenapa kukatakan menjadi lebih mudah untuk dijalani.

Setelah kuingat-ingat lagi, ternyata ”saling mengandalkan, saling dukung” ini sudah kami terapkan jauh-jauh hari sebelum kami menikah. Mulai dari persiapan pernikahan, mengisi rumah yang 100% kosong di awal, melakukan promil, checkup ke dokter hingga saat ini kami sedang melakukan persiapan menyambut si mungil. Kami selalu sangat mengusahakan untuk melakukannya dengan saling mengandalkan satu sama lain dan saling dukung dalam hal fisik, materi bahkan mental. Untuk melakukan segala hal itu sampai sekarang, ku akui dan kusadari bahwa kami membagi dua segalanya, dan begitulah semuanya bisa jadi terasa mudah baik secara keuangan, kesehatan fisik dan juga mental kami.

Processed with VSCO with m5 preset

Saling mengandalkan dan saling dukung di antara kami, sudah pasti membuat rasa aman, nyaman dan tenang di pikiran dan perasaan kami masing-masing. Aku dan dia tidak pernah merasa sendiri, tidak pernah merasa berjuang sendiri, tidak pernah menghadapi kebingungan, ketakutan seorang diri, apalagi merasa berkorban lebih banyak dari yang lainnya.

Bagaimana bisa begitu? Karena kami dengan sukarela, membagi dua segala halnya dengan sama rata. Baik kesedihan, kebingungan, ketakutan bahkan kebahagiaan yang kami rasakan. Semuanya terasa benar-benar PAS. Walau ternyata tak sangat berlebihan, kamipun merasa tidak sangat-sangat kekurangan.

Dan dalam hal ini, mengusahakan memiliki keturunanpun, kerja sama di antara kami – dari sudut pandang dan kacamataku sendiri – sangatlah baik dan patut di apresiasi.

Kami tak saling menyalahkan, kami tak saling melempar tanggung jawab, dan yang terpenting kami menangis bersama-sama, legapun akhirnya bersama-sama kemudian setelah itu kami bisa tertawa bahagiapun bersama-sama. Sekarang setelah kata ’saling mengandalkan dan saling dukung’ yang kusukai, ada lagi kata lain yang teramat kusyukuri akan hadirnya, ’bersama-sama’.

Sekali lagi ingin kembali kebagikan dan kuingatkan, bahwa:

Saat bicara mengenai rumah tangga, tidak bicara hanya istri saja, atau suami saja. Tapi dua-duanya. Yang kemudian menjadi satu dalam menghadapi, menjalani, memberi dan menerima apa saja yang ada, yang dihadapi dalam perjalanan pernikahan.

Baik dalam persiapan pernikahan, adaptasi dalam menjalani peran baru sebagai suami-istri, persiapan memiliki keturunan, mengurus anak-anak hingga dewasa nanti, hingga proses menghadapi hari tua dengan segala permasalahan fisik dan mental yang dialami oleh masing-masing.

Percayalah, jika semua itu dilakukan dan dilalui dengan bersama-sama dan saling dukung dan saling mengandalkan, maka tidak ada yang perlu ditakutkan dalam perjalanannya. Tidak mungkin jika tidak akan ada masalah, mustahil selama manusia hidup tidak ada kesulitan satupun yang akan menghampiri, tapi percayalah,dengan pasangan yang tahu bahwa ia berpasangan dan tahu bahwa bersama-sama saling dukung dan mengandalkan adalah senjata yang dimiliki, maka dengan cepat atau mungkin lebih lama dan lambat, masalahpun akan bisa teratasi dengan baik dan tepat. Dan bahagiapun rasanya tidak akan mustahil didapatkan.

“satu kekuatan sudah cukup, tapi jika ada dua kekuatan bergabung menjadi satu, maka apapun akan terasa lebih mudah, hasil yang didapatkanpun akan jauh mendekati sempurna,” – andiniayu

Semoga apa yang kubagikan ini kembali bisa menyadarkan dan mengingatkan kita sebagai pasangan suami-istri agar lebih mampu saling dukung dan saling mengandalkan satu sama lain, bersama-sama menghadapi segala hal yang terjadi di sepanjang perjalanan hidup pernikahan.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *