First Pregnancy,  God is Good,  Marriage Care

Catatan si Calon Mama #2 (harapan dan usaha si calon papa)

Part 2, seperti yang kujanjikan sebelumnya, pada bagian ini aku akan menceritakan bagaimana harapan dan usaha yang dilakukan oleh suamiku, oleh si calon papa dari anak-anakku, dan tentu saja dari sudut pandang dan kaca mataku.

Yang kutahu dan yang kusyukuri teramat dalam adalah aku memiliki suami yang tahu persis bahwa rumah tangga ini kami bangun bersama-sama, karena itu kami juga jalani bersama, bertanggung jawab atas isinya bersama dan juga berusaha bersama-sama. Tanpa terkecuali. Tidak hanya ada ’aku’ atau ’kamu’ di dalam perjalanan kami ini, di bawah atap rumah kami ini, tapi selalu ada ’kita’ atau ’kami’ dalam setiap prosesnya, dalam setiap sudut dan jengkalnya. Khususnya dalam hal ’menciptakan’ garis dua pada testpack, khususnya dalam mendapatkan harapan kami bersama untuk mendapatkan keturunan. Dia, suamiku tercinta, calon papa dari anak-anak kami tidak pernah meninggalkan semua tangguang jawab di pundakku sendiri. Dia tidak pernah memandangku sebagai seseorang yang harus berusaha sepenuhnya untuk ini. 

Dan saat aku menulis inipun, detik ini juga, aku sangat berterima kasih padanya dan berharap dia akan membaca ini suatu saat nanti dan tahu dengan sangat pasti aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepadanya melalui tulisanku di seri ini.

Sejak awal pernikahan kami, aku tahu, sangat sangat tahu bahwa ia menginginkan keturunan. Ia membaca beberapa artikel apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan untuk itu. Aku sangat ingat bahwa ia terdengar dan terlihat ’kaku’ dengan mengatakan bahwa kami tidak boleh berhubungan setiap hari untuk menjaga kualitas spermanya. 2-3 hari sekali. Begitu katanya. Dan itu membuatku lucu dan kesal bersamaan. Saat aku menulis ini akupun masih tertawa, masih ingat saat ia menolakku untuk berhubungan setelah membaca artikel itu. Sedangkan aku langsung mengambek karena aku berpikir bahwa kami harus selalu ‘bermesraan’ sepanjang waktu, sepanjang hari karena kami adalah pengantin baru.

Sebenarnya baru kusadari beberapa bulan kemudian, betapa sebenarnya ia sangat ingin segera memiliki keturunan, saat dia kesal karena aku menyampaikan bahwa aku ingin hamil setelah 3 bulan menikah, semakin membuatku yakin kemudian merasa bersalah karena aku terlihat dan terdengar ‘main-main’ dalam hal menjadi calon mama.

Hingga akhirnya, hemmm, aku tahu bahwa suamiku tidak akan meninggalkanku, apalagi menyerahkan seluruhnya tanggung jawab itu dipundakku, tapi yang dilakukannya melebihi ekspektasiku.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Saat itu, setelah 3 bulan aku memeriksakan diri dan melakukan program hamil, dia memberitahuku kalau dia juga ingin memeriksakan dirinya. Lalu dokter menyarankan untuk memeriksakan sperma di lab, untuk mengetahui keadaan spermanya. Akupun membaca-baca mengenai prosedur itu dan membayangkannya saja sudah membuatku sedih. Suamiku harus melakukannya seorang diri membuatku merasa sangat bersalah. Tapi dengan tenangnya, begitu yang biasa dilakukannya, dia meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja.

Hasilnya keluar, aku membacanya semampuku dengan degup jantung yang tidak karuan. Dia tidak begitu bisa membaca hasil lab, karena itu aku tidak memberitahunya apa yang kutemukan. Kubiarkan dia mendengarnya langsung dari dokter.

Ada sedikit masalah dalam spermanya, itu yang pasti, selebihnya tidak perlu kuceritakan, karena bukan itu intinya. Memang seperti biasa, setelah pulang dari dokter, sesampai kami di rumah, kami akan saling berpelukan, duduk berdua di sofa dan saling memberikan energi semangat baru. ”semuanya akan baik-baik saja, kita jalani sama-sama ya.” begitu selalu kata-kata yang terlontar di antara kami. Tapi malam itu sedikit berbeda. Setelah mendengar dari dokter kondisi kami sebagai calon mama dan papa.

Saat itu, aku melihatnya sangat terpukul, kecewa dengan dirinya sendiri, saat aku memeluknya, iapun menangis dan meminta maaf padaku. Bukan mengenai hasil itu yang membuatku sangat sedih, tapi melihat suamiku menangis, kecewa dengan dirinya sendiri kemudian meminta maaf membuatku juga lemas dan sangat sangat sedih.

Tentu saja itu tidak perlu dilakukannya. Bukan salah siapa-siapa tentu saja. Kukatakan padanya bahwa kita bisa lewati dan jalani proses ini bersama-sama, jadi tidak perlu meminta maaf dan menyalahkan diri sendiri.

3 bulan hingga 5 bulan kemudian berlalu, aku meminum obatku dengan rutin, begitu juga suami meminumnya dengan lebih-lebih rutinnya dari aku. Kuakui aku melihat sisi lain dari suamiku saat itu. Ia yang sangat gigih, yang sangat teratur dan yang sangat patuh dengan segala hal yang seharusnya dilakukannya. Minum obat, olahraga teratur, dan menjaga makanan. Saat tahu sisi lainnya itu aku semakin percaya dan yakin bahwa dia akan menjadi papa yang sangat baik kelak untuk anak-anak kami. Karena sampai detik ini dia selalu membuktikan, tidak dengan hanya kata-kata tapi juga perbuatannya, bahwa dia adalah suami yang bisa kuandalkan, suami yang baik untukku.

Suatu saat, di siang hari, setelah 5 bulan kami melakukan program hamil, saat aku sedang bekerja wa darinya masuk dan aku menerimanya dengan kelegaan yang luar biasa. Terlebih dari itu, aku sangat terkejut karena dia memiliki inisiatif yang baru. Inisiatifnya yang pertama sudah sangat membuatku bersyukur, ditambah lagi insiatifnya yang kedua ini, benar-benar membuatku sangat lega, dan kemudian aku kembali memiliki harap bahwa ada titik terang di depan kami.

Dia mengatakan akan berkonsultasi dengan dokter Andrologi, dia sudah mendaftarkan diri dan mengajakku untuk sama-sama bertemu dengannya besok sore. Jujur, aku tidak tahu itu dokter apa, untuk apa kami kesana, tapi setelah kucari tahu, aku sadar bahwa suamiku itu sudah sangat berusaha banyak untuk mencari tahu sesuatu dan membuat tindakan nyata untuk itu.

Sekarang aku semakin percaya, bahwa memiliki keturunan tidak hanya harapan atau keinginanku saja, tidak hanya harapan atau keinginannya saja. Tapi memiliki seorang putra atau putri adalah harapan kami berdua.

Aku harap kelak kalau anak kami tahu bahwa kedua orang tuanya sangat mengharapkan dan mengusahakan kehadirannya, ia akan sangat merasa bahagia untuk itu. 

Lega, iya sedikit, setelah selesai pemeriksaan kami mendapatkan diagnosa dan juga bejibun obat untuk suamiku, yang harus diminumnya selama 3 bulan tanpa jeda. Seperti sebelumnya, suamiku sangat taat meminum obat itu, tak ada jeda, tak pernah lupa. Dia juga tetap berolahraga dengan rutin dan tidak makan sama sekali makanan yang tidak boleh ia makan. Melihatnya seperti itu membuatku juga sama semangatnya, untuk diet nasi dan juga lebih rutin meminum vitamin dan obat.

3 bulan berlalu, ternyata harus minum obat 2 bulan lagi, walau obat itu banyak dan mahal, suamiku tetap mengiyakan dan mematuhi segalanya. Kemudian setelah dua bulan, dokter menyarankan untuk kembali mengecek sperma dan juga hormon. Hasilnya?

Ternyata Tuhan bilang, ”ayo berusaha lagi, kalian masih sanggup.”

Hasilnya tetap sama, karena itu dokter Andrologi menyarankan kami untuk menempuh dan melakukan prosedur terakhir yang bisa dilakukan. Operasi. Mendengar kata itu saat itu, aku merasa… sedih, bukan mengenaiku, tapi aku sedih kenapa suamiku harus merasakan dan mendengar kata-kata itu setelah semua yang sudah dilakukannya sebelumnya. Aku benar-benar merasa bersalah dan merasakan bagaimana sedih dan kecewanya dia dengan hasil itu.

Setelah memikirkannya bersama-sama, saling menguatkan bersama-sama, akhirnya kami memilih untuk menjalaninya. Secepat mungkin.

Sebelum hari H yang menegangkan untukku dan juga untuk suamiku tentunya, kami bolak-balik kerumah sakit untuk konsultasi dan pemeriksaan lebih mendalam sebelum melakukan tindakan itu. Suamiku tentunya masih tetap semangatnya melakukan proses itu dan aku berjanji dan membuktikan bahwa selalu hadir di sampingnya, menemaninya. Pengecekan darah, pengambilan banyak darah, pengecekan anastesi dll, semua dijalaninya dengan pastinya dag dig dug, karena begitu juga denganku.

HARI H, 18 Juni 2021.

Kami bangun pagi sekali, pergi ke rumah sakit pagi-pagi, menunggu hampir 3 jam, kemudian prosedur dilakukan. Menunggu selama 2 jam sebelum namaku di panggil, membuatku sangat sangat deg-degan dan membayangkan bagaimana perasaan suamiku di dalam sana. Dia mungkin ketakutan, dia mungkin cemas, tapi aku tidak bisa menemaninya di dalam sana, membuatku tidak karuan, apalagi ini adalah kali pertamanya melakukan prosedur seperti itu. Kubayangkan dirawat di rumah sakit saja, atau berobat ke rumah sakit saja saat sakit ia belum pernah mengalaminya. Karena pikiran-pikiran itu aku semakin mempercayainya, semakin berterima kasih padanya dan sangat-sangat bersyukur kepada Tuhan.

Setelah prosedur itu, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan program hamilku, dan dokter mengijinkanku untuk hanya meminum vitamin, selagi menjaga makananku. Kondisi suamiku membaik, ia merasa lebih fit, merasa lebih bersemangat dan kami menjalani bulan-bulan berikutnya dengan sangat normal.

Hingga akhirnya, hari itu datang dan kami merasakan rasa terima kasih yang sangat besar di pagi hari itu. Aku sudah terlambat haid di bulan oktober. Dan baru 7 hari kemudian aku membeli testpack dan mengeceknya di pagi hari.

28 Oktober 2021, kami berhasil mengubah satu garis merah menjadi dua garis merah di alat itu. Kamipun akhirnya merasakan bagaimana rasanya sesenang dan selega itu melihat hasil testpack yang berbeda dari sebelum sebelumnya. Aku menangis, suamiku juga, dia langsung memelukku dengan sama leganya. Kami sangat bahagia walau dengan air mata yang tak berhenti mengalir di pipi kami dan goncangan rasa yang bercampur aduk di setiap organ tubuh kami. 

Kamipun bersyukur atas itu. Yang ini akan kuceritakan lebih dalam di part 3. See u..

Terima kasih Tuhan, terima kasih nak, terima kasih suamiku, dan terima kasih aku, kami berhasil melaluinya, kami berhasil dalam prosesnya. Perjalanan belum berakhir tentu saja, malah melihat garis dua itu barulah awalnya. Perjalanan kami masih sangat sangat panjang, dan sekarang kukatakan, aku, kami sangat siap untuk melaluinya.

-aa-

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *