First Pregnancy,  Parenting,  Titik Terang

Catatan si Calon Mama #13 (pa, ma, jangan sebut aku ’bodoh & nakal’)

Sebagai seorang calon mama yang sebentar lagi akan menjadi mama, membuatku membuka dan membaca-baca lagi buku-buku tentang pengasuhan yang berjubel-jubel di rumah. Belum lagi artikel-artikel yang sebenarnya sudah sangat-sangat banyak banget di posting oleh psikolog anak, dokter anak atau orang-orang yang sudah ahli dalam bidang pengasuhan anak.

Namun ternyata ya, walau buku-buku parenting sudah banyak, bukan berarti semua orang tua memiliki keinginan untuk membacanya, atau bahkan hanya sekedar sadar bahwa pengetahuan mengenai parenting itu penting untuk merawat dan membesarkan anak yang lebih baik. Oke baik, ada beberapa orang tua yang tidak mengalokasikan dananya untuk membeli buku, tapi bukan jadi alasan untuk tidak sama sekali mau belajar, seperti yang kukatakan di atas, banyak sekali artikel-artikel atau bacaan-bacaan sederhana, ringkas, padat dan jelas mengenai parenting ini untuk orang awam agar mudah terpahami.

Pa, ma, punya quota dan smartphone, yuk digunakan untuk menambah dan memperkaya diri dengan ilmu-ilmu dan pelajaran-pelajaran baru. Toh, kita juga nanti yang kemudian mendapatkan manfaat positifnya. Yuk, quota melimpah dan smartphonenya jangan dipakai atau dihabiskan hanya untuk buat status-status yang kurang berfaedah di sosmed, memposting kemarahan dengan pasangan, mengutarakan kekecewaan pada perkembangan anak, sampai pada memposting hal-hal untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Yuk, bisa yuk berubah! Jadi orang tua yang melek parenting positif untuk pertumbuhan anak-anak menjadi lebih baik lagi ke depannya!

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Tulisan ini juga sebenarnya tercetus dari beberapa kejadian yang kutemui selama aku hamil ini. Makanya masuk ke dalam seri ini, sebagai catatanku juga sebagai calon mama yang sebentar lagi menjadi mama tentunya. Aku percaya kita akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik jika mau terus belajar, baik dari kesalahan kita sendiri atau bahkan dari pengalaman orang lain.

Ada beberapa jenis parenting yang kita tahu, dan ada banyak keluarga yang menerapkan jenis-jenis parenting yang berbeda kepada anaknya. Tentu ada alasannya, bisa jadi jenis itu sudah turun temurun di lakukan, atau bisa jadi karena sudah melek parenting yang lebih baik dan tepat digunakan. Namun, di tulisan kali ini aku akan lebih memfokuskan pada parenting yang diterapkan oleh ibu-bapak-nenek-keluarga besar kepada anak kecil berusia 18 bulan, yang sudah terbiasa mendengarkan kata ’nakal nih dia!’ atau ‘bodo sekali ini ga mau salim’ dll.

Banyak sekali label-label, yang sayangnya negatif, kepada anak itu kepada perilaku yang ditunjukkannya. Nakal, bodoh, sampai dipukul tangan dan pantatnya saat ia menunjukan perilaku yang kata versi orang dewasa itu perilaku yang nakal dan bodoh. Sebagai psikolog anak, apalagi sebagai calon mama cuma bisa melihat dengan senyum dan elus-elus dada. Kasihan!

Tapi kemudian, melihat kejadian itu aku juga jadi mendapatkan pelajaran, ingatan dan kesadaran kembali mengenai bagaimana seharusnya kita menjadi orang tua yang lebih baik dan tepat untuk perkembangan anak. Dan inilah yang kudapatkan, semoga juga menjadi pengingat untuk papa dan mama yang membaca tulisan ini :

- Melihat parenting itu, membuatku tersadar bahwa itu keliru dan tidak tepat diterapkan, karena itu aku tidak akan pernah menirunya. Aku harus memutus rantai parenting itu dan tidak menerapkannya kepada anak-anakku kelak. Dan ini juga kubagikan kepada suamiku. Agar parenting kami jadi konsisten.

- Bagi anak, orang tua atau bahkan orang dewasa yang dekat dengannya sebagai sosok yang memahami dirinya. Namun, jika saat melakukan sesuatu yang diinginkannya, karena memicu rasa ingin tahunya (yang wajar saat usia 18 bulan) malah selalu disalahkan, dipukul kemudian dikatai nakal dan bodoh, lalu kemana ia akan mencari seseorang yang bisa memahaminya? 

- Bagi anak, rumah adalah tempat teraman baginya untuk eksplore lingkungan. Ia sedang ingin berjalan, berlari, melompat, menekan tombol, mengejar ayam, memetik bunga dll, kalau orang tua menstop eksplore itu dengan kata ’heh jangan!’ atau ’stop, nakal ya kamu!’ lalu bagaimana perkembangannya jadi normal sesuai usianya. 

- Keyakinan diri pada anak atau disebut dengan core belief dimana anak mendefinisikan dirinya, ini akan terbentuk signifikan di usia kurang dari 7 tahun. Contohnya, ’saya pintar’ , ’saya pemalu’ , atau bahkan ‘saya bodoh & nakal’. Dan ini tentunya di kuatkan oleh parenting yang diterapkan oleh orang tuanya. Kemudian keyakinan diri ini akan selalu dibawanya sampai dewasa jika terus-terusan dikuatkan oleh orang tua. 

- Yang terakhir, tidak ada jalan lain, orang tua harus mulai melek ilmu parenting! Baca-baca dan terus baca ilmu-ilmu mengenai pengasuhan anak, dan juga bacaan-bacaan mengenai perkembangan anak menurut usianya, supaya orang tua juga paham bagaimana cara mengasuhnya sesuai dengan perkembangannya. 

Tergelitik untuk menjelaskan sedikit tentang keyakinan diri atau core belief ini, supaya juga kita semakin paham dan jadi bahan sharing sama-sama (penjelasan ini juga kulihat di tulisan Dr. Nicole Lepera).

Core belief ini terbentuk dari pengalaman-pengalaman signifikan yang kita alami kemudian hal itu akan mempengaruhi bagaimana kita menilai diri sendiri dan dunia. Dan core belief ini akan semakin teryakinkan atau menjadi dasar karena terus di validasi dan di tekankan oleh orang terdekat kita, misalnya orang tua atau pengasuh utama kita. Sejak bayi lahir dan otak bayi mulai aktif, saat itulah core belief ini mulai terbentuk. Bayi yang baru lahir tentu saja membutuhkan orang tuanya untuk menjadi ’pegangan’ dalam menghadapi dunia yang asing ini untuknya. Karena tentu saja bayi belum berdaya dari berbagai aspek. Ia membutuhkan orang tuanya sebagai pemandunya untuk melihat dunia ini. Apakah dunia ini aman untuknya? Apakah kehadirannya dicintai oleh orang lain?

Core belief seorang anak terus bergantung terhadap bagaimana orang tua atau pengasuh utama memberikan definisi, validasi, dan berespon kepada anak karena sampai usia 4-5 tahun, kemampuan berpikir anak masih egosentris, yang mana artinya masih berpikir bahwa semua hal terpusat pada dirinya. Jika ada suatu hal terjadi, anak pasti merasa itu karenanya.

Contohnya pada anak 18 bulan ini. Ia dibentak, dikatai ’nakal’ kemudian di pukul tangannya karena mengeluarkan barang-barang di dalam laci. Bentakan nakal dan tangan yang dipukul itu akan membekas dalam dirinya kemudian memberikan definisi padanya, untuk membentuk core beliefnya, bahwa ia nakal, yang dilakukannya sesuatu yang buruk dan itu membuat papa atau mamanya marah. Hal ini kemudian akan lebih berkembang menjadi, ’aku nakal, dan aku tidak layak berada di dunia ini. Papa dan mama tidak sayang padaku, karena perilakuku yang buruk.’

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Papa dan mama harus tahu dan mengakui bahwa setiap perkembangan anak itu unik. Dan yang paling penting juga adalah papa dan mama harus menyadari se sadar-sadarnya bahwa anak kecil tetaplah anak kecil. Tentu kita tidak bisa memaksa ia untuk memahami bagaimana orang dewasa bersikap atau bertindak. Anak kecil tetaplah anak kecil, maka ia akan bersikap dan berperilaku seperti anak kecil.

Egonya masih tinggi dan ingin segera mendapatkan dan melakukan apa yang diinginkannya, apa yang membuatnya penasaran. Yang hanya bisa menangis dan merajuk ketika membutuhkan sesuatu karena belum benar-benar bisa menjelaskan dengan tata bahasa yang jelas seperti kita orang dewasa. Itu hal yang wajar, dan memang anak kecil harus begitu. Tugas orang tualah (lagi dan lagi) harus belajar untuk mengarahkan perilaku anak, dan juga untuk menenangkan diri agar hati dan pikiran bisa tenang dan terbuka menghadapi perilaku anak kecil. 

Sedikit penjelasan mengenai perkembangan anak usia 18 bulan:

Secara garis besar, kemampuan motorik anak usia 18 bulan sudah bisa berjalan bahkan berlari walau belum dengan tempo yang cepat, bahkan ada anak yang sudah bisa melompat keluar dari boxnya. Anak juga sudah bisa naik turun tangga dengan berpegangan. Bisa dikatakan, anak usia 18 bulan ini sedang berada di fase-fase sedang suka-sukanya melakukan eksplore lingkungan. Hal ini karena ia sudah mulai lebih ’ngeh’ dan sadar dengan lingkungannya, sehingga keingintahuannya juga semakin besar. Yang bisa dilakukan orang tua atau pengasuh utama disekitarnya adalah, biarkan anak bereksplorasi saat ia sedang membangun dunianya sendiri.

Sedangkan pada perkembangan sosial emosionalnya, pada usia 18 bulan ini anak sudah mulai menyadari dan tahu mana papa atau mamanya, atau pengasuhnya. Dan sudah mulai sadar saat mereka sedang pergi. Namun si kecil belum menyadari kalau mereka hanya pergi sebentar kemudian akan kembali lagi. Perilaku yang muncul saat itu mungkin saja anak akan menangis dan tidak ingin ditinggal.

Pada fase ini juga anak sudah mulai paham untuk bermain dan berbagi dengan orang lain. Namun terkadang akan ada anak yang sedang tidak ingin berbagi dan keukeh tidak ingin memberikan kepunyaannya kepada orang lain, dan itu wajar adanya. Ketika anak menunjukkan perilaku seperti ini, seharusnya orang tua tidak cepat-cepat melabeli anak dengan sebutan ’pelit’ atau ’bodoh’ karena tidak mau berbagi.

Lalu, apa saja yang bisa dilakukan orang tua dalam menemani dan mendukung perkembangan anak usia 18 bulan ini :

Beri kesempatan anak untuk eksplore lingkungan

Saat ini, orang tua atau pengasuh utama harus menyiapkan tenaga dan waktu yang lebih karena anak usia 18 bulan ini sedang aktif-aktifnya. Akan lebih baik untuk perkembangannya jika anak dibiarkan jalan-jalan, lari, menyentuh benda-benda yang membuatnya penasaran, naik atau turun dari tempat tidur, daripada hanya difasilitasi dengan gadget dan duduk atau berbaring seharian menonton video di youtube.

Contoh aktivitas yang bisa dilakukan:

  • Bermain bersama teman-teman sebaya
  • Berlari, main bola, lompat-lompat di atas matras
  • Jalan-jalan di taman, menyiram tanaman, memberi makan hewan peliharaan

Awasi, arahkan dan beri contoh melakukan sesuatu dengan lebih baik dan tepat

Karena anak usia 18 bulan sedang aktif-aktifnya, kemudian dibarengi juga dengan pemahaman yang belum optimal mengenai aktivitas-aktivitas yang tidak boleh dilakukan karena bahaya atau merugikan, maka orang tua wajib memberikan pengawasan saat anak melakukan sesuatu.

Orang tua bisa mengarahkan dengan memberikan contoh yang lebih tepat dan benar. Misal, anak sedang gemas dan tertarik dengan ayam, namun cara dia dengan melempari ayam dengan batu. Melihat perilaku itu, orang tua harus segera mengarahkan untuk tidak di lempar batu. Tapi berikan makanan ayam, dan biarkan anak memberi makan ayam-ayam itu.

Ketika anak penasaran dengan isi lemari dan membongkarnya, biarkan ia melakukannya dulu, karena itu adalah bentuk rasa penasarannya dan harus difasilitasi. Setelah ia selesai membongkar, ajak bersama-sama untuk merapikan kembali, sambil orang tua bisa menstimulasi benda-benda apa saja yang dibongkarnya itu.

Saat anak suka memencet kran air galon karena ia suka airnya mengucur keluar, atau saat anak sudah mulai suka lompat-lompat segera awasi itu dan lakukan pencegahan. Seperti siapkan bantal-bantal agar ia tidak terjeduk saat jatuh, atau ajak anak melap air yang tumpah agar anak tidak jatuh karena ada air di lantai.

Memberikan waktu kepada anak eksplore lingkungan bukan berarti anak bebas melakukan apa saja. Orang tua tetap sebagai pengawas yang memberikan pengawasan ekstra kepada anak. Saat ia sudah mulai melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, saat itulah orang tua segera mengarahkan dan memberi penjelasan bahwa hal tersebut tidak baik dilakukan dan mencari alternatif lain, melakukan sesuatu yang lebih aman dan tepat dilakukan. Eksplore lingkungan dapat, dan anak tetap aman dalam melakukan apa yang membuatnya penasaran, keingintahuan anak juga terfasilitasi dengan baik.

Berikan apresiasi atau pujian saat anak melakukan yang kita arahkan

Anak usia 18 bulan sudah tahu dan paham ekspresi-ekspresi sedih atau marah yang ditunjukkan oleh orang-orang disekitarnya, karena dengan emosi atau ekspresi itu mereka berkomunikasi. Perbanyak ekspresi senyum dan tertawa saat ia berhasil melakukan sesuatu. Misalnya, saat anak merapikan mainan, lap air yang tumpah, dll. Barengi juga dengan tos atau pelukan agar ia lebih paham bahwa perilaku-perilaku itu positif dan membuat orang lain senang.

Tidak cepat-cepat melabeli anak karena perilakunya

Sebelumnya orang tua harus tahu dan memahami apa saja perkembangan anak usia 18-24 bulan ini. Dengan begitu kita akan tahu bagaimana menemani dan mendukung perkembangannya. Namun, realitanya banyak orang tua malah abai dan tidak mau belajar mengenai hal ini. Parahnya lagi, ada orang tua yang menganggap anak usia 18 bulan harus tahu segalanya, tanpa di kasi tahu terlebih dahulu. Ada orang tua yang menempatkan anaknya sama seperti ia menempatkan dirinya yang sudah dewasa. Mana bisa, pama, ayo sadar diri!

Hasilnya, ketika anak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan orang tua, padahal ya memang anak usia 18 bulan akan melakukan hal-hal demikian (seperti melempar bola atau benda-benda, membongkar baju-baju dilaci, memencet kran air, melempari ayam, atau bahkan tidak mau cium atau salim kepada orang lain karena lagi asik dengan mainannya), mereka akan cepat marah, memukul, hingga melontarkan kata-kata yang tidak tepat, seperti label-label negatif.

______

Dan inilah yang sering kusaksikan yang dilakukan oleh orang tuanya kepada anak usia 18 bulan ini.

  • Dipukul tangan atau pantatnya saat melempar sepatu-sepatunya
  • Ketika ia tidak mau ’daaadaaa’ dan salim dikatai bodoh
  • Ketika dia lari-lari dan tidak mendengarkan orang tuanya saat memintanya duduk, lalu segera dibilang nakal

Miris dan kasian, karena tentu saja label-label negatif itu dan juga pukulan-pukulan itu akan membekas di alam bawah sadarnya yang kemudian akan mempengaruhi perkembangannya sampai dewasa nanti. Yang rugi juga siapa akhirnya, ya orang tua. Yang repot juga nantinya siapa, ya orang tua juga. Karena dari itu aku belajar untuk mengetahui dengan benar perkembangan anak dan parenting yang lebih tepat untuk anak.

______

Semoga tulisan ini bisa sebagai bahan diskusi kita dengan pasangan mengenai pengasuhan yang lebih tepat untuk anak kita ya, papa dan mama. Semoga juga bermanfaat dan memberikan kesadaran dan pengingat kembali untuk kita untuk menerapkan parenting yang seharusnya kepada anak dalam menemani dan mendukung setiap perkembangannya.

Selamat membaca dan belajar lagi ya papa mama hebat yang dunia punya.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *