First Pregnancy,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Calon Mama #12 (bekerja bersama si Mungil)

Dulu sebelum hamil pernah berpikir, ”nanti kalau hamil bisa kuat ga ya sambil kerja gini?”. Karena memang ada alasannya kenapa berpikir begitu. Sebagai psikolog klinis yang lebih banyak bekerja di dunia anak berkebutuhan khusus (ABK), apalagi jarak kantor dan rumah yang cukup jauh (1.5-2 jam perjalanan), membuatku harus ekstra keras menguatkan, menyamankan dan menyehatkan diri.

Mulai dari speech delay, autism, ADHD, ADD, hingga syndrome tertentu pun pernah menjadi klienku. Perbandingannya, sebelum hamil saja sudah menguras tenaga melakukan terapi sepanjang harinya, apalagi dengan kehamilan dan perut yang semakin besar. Hal ini tentu akan membatasi gerak. Belum lagi hormon yang berubah, ini sih yang paling kurasakan, sepertinya sebelum hamil, stok sabarku menghadapi mereka lebih banyak daripada saat hamil. Hehehe 🙂 Ini yang membuatku lebih ekstra keras mengusahakan dan menggunakan manajemen emosi dengan tepat.

Harus STOP dulu, jeda dulu, menjauh dulu, tenangkan diri dulu, atur nafas dulu, baru kemudian bisa kembali menangani anak-anak yang kepatuhannya kurang maksimal, memukul dan menyubit hingga tantrum yang dalam waktu yang cukup lama dan tidak terkendali.

Menjadi terapis ABK merupakan tantangan tersendiri untukku. Apalagi selama hamil ini. Sekali lagi kukatakan, butuh badan yang super-super fit, kesabaran yang berlipat-lipat dari sebelumnya. Dan dua ini yang benar-benar harus diusahakan dengan kondisiku sekarang ini. Perbandingan jelasnya, sebelum hamil sampai di rumah aku masih bisa masak dan melakukan hal-hal lain, namun setelah hamil sampai di rumah, badan terasa sakit semua, dan sangat-sangat lelah rasanya. Bekerja seharian dan juga duduk dalam posisi yang sama selama hampir dua jam di mobil membuat badan pegal-pegal semua.

Hah, pokoknya nikmat banget dah rasanya !

Hehehe, kuawali tulisan ini dengan banyak keluhan dan rasanya penuh derita ya, padahal sebenarnya setelah sekarang ini kusadari kembali, ternyata banyak juga hal-hal yang membuatku jadi happy saat-saat bekerja bersama si Mungil yang semakin aktif di dalam perutku.

Ada si Mungil, mama jadi punya teman dan merasa selalu ditemani

Perjalanan yang cukup panjang (PP) kadang membuatku bosan. Biasanya sebelum hamil, sesekali pasti bernyanyi, atau jadi memikirkan banyak hal, jatuh-jatuhnya nanti jadi overthinking kemudian malah jadi cemas sendiri.

Namun sekarang berbeda, aku memilik teman, dan merasa ditemani sepanjang jalan ini. Bernyanyi, berkata-kata sambil mengelus-ngelus perut menjadi hal yang wajar sekarang karena memang di dalam perut ini ada si Mungil sahabat mama :). Jadinya berasa saat bernyanyi dan mengatakan apapun itu bukanlah sesuatu yang sia-sia apalagi memberikan hal negatif nantinya. Sebaliknya saat mengobrol bersamanya dan bernyanyi bersamanya, membuatku juga mengisi diriku sendiri, tidak hanya menstimulasinya.

Mulai dari sapaan ringan dan pemberitahuan singkat padanya, menyanyikan lagu-lagu di radio yang kami dengar, sampai obrolan agak berat dan bermakna. Lebih banyak aku membicarakan hal-hal yang kami temui di sepanjang perjalanan kami.

“selamat pagi anak mama, sekarang kita ke kantor mama ya. Temani mama kerja dulu ya,”

“selamat sore nak, sekarang kita pulang ya, mau ketemu papa di rumah.”

Kemudian, ketika ada yang menyalip atau sembrono di jalan, aku akan mulai refleks menekan bel, kesal. Kemudian teringat kembali keberadaan si Mungil, dia mungkin kaget dan kesal juga, karena itu cepat-cepat ku konfirmasi ulang, bahwa memang aku sedang kesal karena kaget ada yang tiba-tiba menyalip dan sembrono. Alasannya harus jelas. Kemudian ditambah lagi dengan pemberitahuan bahwa hal itu tidak baik dilakukan di jalan raya. Selain membayakan orang lain, juga dapat membahayakan diri sendiri.

Pernah juga ban mobil kami pecah. Hal itu membuatku harus segera berpikir secepatnya apa yang harus dilakukan. Tentu panik, tentu was-was dan bingung di awal harus melakukan apa. Tapi kemudian aku harus ingat bahwa aku sedang bersama si Mungil, dan itu membuatku harus tetap tenang, agar dia juga tenang di dalam sana.

Sambil menunggu montir memperbaiki ban, ini juga menjadi kesempatan yang baik untuk mengobrol dengannya, sahabatku. Kesulitan-kesulitan di jalan pasti akan selalu saja ada, atau di manapun, kalau sudah Tuhan ijinkan, pasti kita akan menghadapi beberapa rintangan. Tapi ya pasti kita juga punya cara-cara untuk mengatasinya, asal sabar dan berusaha mencari caranya.

Adanya si Mungil dalam perutku selama aku berada di jalan raya, mengemudikan mobil, membuatku merasa di temani dan memiliki teman yang kuajak berbicara dan mengobrol. Jadinya aku tidak merasa seorang diri, jadi tidak bosan dan jauh dari overthinking. 

Dan ia juga menjadi pengingat segeraku, ketika aku mulai lepas kendali, kurang sabaran atau kesal akan sesuatu, atau bahkan ketika aku mulai cemas, keliyengan dan pusing. Saat aku mulai pusing atau keliyengan, aku ingat ada dia, dan aku tersadar bahwa mamil tentu wajar kalau sesekali pusing. Pusing ini menjadi pertanda baik untukku, ada alasan yang jelas dan baik kenapa aku pusing dan keliyengan, karena ada dia di dalam diriku, kemudian cemasku jadi tidak semakin parah. Aku jadi lebih tenang dan lebih mampu mengontrol diri dan emosiku. 

Menstimulasi anak-anak terapi, sekalian menstimulasi si Mungil

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Hah, belakangan ini kenapa aku selalu ingat dengan pepatah ya. Hehehe 🙂 ini menjadi salah satu pepatah yang kualami saat ini. Saat aku bekerja, aku lebih banyak menstimulasi anak-anak untuk duduk tenang, mendengarkan, sabar sampai pada melakukan identifikasi benda-benda sekitar untuk latihan berbicara dan menambah kosakata.

Menurut penelitian, janin sudah bisa mendengar suara-suara di luar sejak usia kandungan 17 minggu. Karena itulah kusadari, saat aku menstimulasi anak-anak terapiku, saat itu juga si Mungil pasti juga mendengarnya. Seperti ketika aku mengucapkan ”ayo lihat, warna apa ini? — merah!” aku tahu si Mungil juga sedang mendengar suaraku itu dan juga terstimulasi dengan kata-kata yang kusebutkan.

Dengan begitu, aku juga semakin semangat untuk bekerja, karena aku juga bisa sekalian menstimulasi janinku.

Kemudian saat anak terapiku menjadi tidak terkontrol, aku juga semakin cepat teringat ada si Mungil bersamaku, jadi aku harus lebih sabar dan mengontrol emosiku. Karena aku tahu, saat aku marah atau kesal, itu akan mempengaruhinya, dia tidak akan menjadi tenang, nyaman, dan happy. Timbal baliknya, aku jadi lebih mampu mengontrol anak-anak terapi agar lebih tenang karena aku lebih dulu menenangkan emosiku dan tidak mengikuti emosinya yang meledak-ledak.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Nak, terima kasih ya, karena mau menemani mama melakukan aktivitas dan pekerjaan mama dengan tenang, dan nyaman. Sesekali tendanganmu membuat mama kembali disadarkan untuk semakin menjaga diri, baik fisik dan emosi karena mama tidak hanya berjuang untuk menguatkan dan menyamankan diri mama sendiri, tapi juga untukmu nak. Terima kasih karena mau berjuang bersama-sama dari pagi sampai sore bahkan hampir malam kadang-kadang.

Banyak hal yang kita lewati bersama sepanjang hari, selama mama bekerja. Mungkin mama lelah lalu mengaduh, atau jadi emosi lalu sedikit berteriak dan melenguh, atau juga sangat bersemangat akan sesuatu lalu kita tertawa bersama, kamu merespon tawa mama dengan tendangan-tendangan mungilmu itu. Semakin membuat mama sangat sangat bersemangat dan happy.

Terima kasih ya nak, untuk semua itu 💕

Yuk, semakin kita buktikan bahwa kita adalah sahabat sejati, partner yang mampu berjuang sama-sama sampai selama-lamanya ya nak. 

-aa-

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *