First Pregnancy,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Calon Mama #11 (mengajarkan kemandirian pada anak)

Tulisan kali ini terinspirasi dari tayangan yang lagi populer dari Jepang, “Old Enough”. Pada tayangan itu, anak-anak usia 2-5 tahun dilatih melakukan tugas-tugas atau tanggung jawab dari orang tuanya. Latihan ini jadi salah satu latihan untuk melatih kemandirian pada anak.

Dan ternyata, anak-anak itu mampu lho melakukan tugas atau tanggung jawab yang diberikan oleh orang tuanya, seorang diri. Padahal, ini menurutku, tugas-tugas yang diberikan oleh orang tuanya itu juga bukannya tugas yang sederhana, mudah bahkan memang tugas yang bisa dilakukan oleh anak seusianya. Mulai dari mengantarkan pesanan tetangga, sampai berbelanja ke toserba atau swalayan. Mereka harus berjalan jauh meninggalkan rumah, dan salutnya, tanpa ditemani oleh orang tuanya.

Nah, kalau itu di Jepang, lalu bagaimana di Indonesia? Hemmm, aku secara langsung jadi flashback, saat aku dan adikku berusia 2-5 tahun lalu. Kami ngapain ya? Aku ingat, kami termasuk aktif bermain dan melakukan kegiatan, baik sendiri atau bersama-sama teman-teman. Tapi yang pastinya, di dalam rumah dan seingatku kami tidak pergi keluar rumah seorang diri apalagi melakukan tugas-tugas seperti anak-anak di Jepang.

Berbeda dari Jepang, di Indonesia masih jarang atau bahkan tidak ada orang tua yang akan melepas anak mereka yang baru berusia 2-5 tahun untuk keluar rumah, pergi ketetangga apalagi belanja ke swalayan sendirian. Belanja di warung di depan rumah saja, aku rasa setiap orang tua pasti merasa was-was.

Banyak alasan dan penyebabnya, yang pasti mulai dari ketakutan orang tua (sepertinya aku juga deh), mulai dari takut kecelakaan, anak di copet, pelecehan sampai penculikan. Membayangkan bahwa jalanan Indonesia tidak seaman itu juga membuatku ngeri sendiri.

Kalau begitu bagaimana ya cara kita orang tua Indonesia mengajarkan kemandirian pada anak? Yap, jangan sedih dan bingung dulu ya mama papa, kita juga bisa memberikan latihan kemandirian melakukan tugas-tugas dan tanggung jawab pada anak-anak kita yang berusia 2-5 tahun sesuai dengan perkembangannya.

Bahkan menurut jurnal dan penelitian, anak yang baru berusia 1 tahunpun sudah bisa kita ajarkan untuk melakukan tugas-tugas sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang sudah pasti berkaitan dengan meningkatkan kemandirian.

Dan yes, meningkatkan kemandirian anak usia dini memiliki banyak manfaatnya untuk perkembangan anak nantinya. Dan sebaliknya, kalau kemandirian itu tidak dilatih sejak dini, maka akan menimbulkan kerugian-kerugian bahkan masalah bagi anak ke depannya.

Manfaat latihan kemandirian pada anak

  1. Memiliki kemampuan berpikir obyektif. Anak akan mampu meningkatkan profesionalismenya ketika dewasa dan menghadapi dunia.
  2. Tidak mudah dipengaruhi. Anak memiliki prinsip dirinya sendiri dan juga pendirian. Memiliki pandangan dan pendapat sesuai dengan norma yang ada. Tidak akan mudah digoyahkan oleh hal-hal negatif
  3. Berani mengambil keputusan. Anak dapat memilih satu dan banyaknya pilihan yang ada di kehidupan sehari-hari untuk kemajuan hidupnya sendiri. Kemudian setelah memilih, anak mampu bertanggung jawab dengan pilihannya dan siap menghadapi resiko dari keputusan yang diambil. Anak jadi terlatih untuk menghadapi tantangan dalam hidup dan meningkatkan kemampuan untuk bertahan hidup.
  4. Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Karena sudah mampu mengatasi masalah dan melakukan sesuatu secara mandiri, hal ini akan membuat anak memiliki kepuasan dan kebanggaan terhadap dirinya.
  5. Tidak bergantung dengan orang lain. Anak mampu menggunakan kecakapan dan potensi yang ia miliki selama ia masih bisa melakukannya sendiri. Karena bisa melakukan sesuatu secara mandiri, anak juga jadi belajar untuk menjadi pribadi yang otonom.
  6. Meningkatkan rasa ingin tahu. Karena rasa ingin tahu ini membuat anak selalu melakukan percobaan-percobaan dalam mengamati dan menyelesaikan sesuatu dengan segala resiko yang ada. Ini akan membuat anak mampu menemukan alternatif-alternatif yang lebih tepat.
  7. Meningkatkan kemampuan dalam mengendalikan emosi. Karena kemandirian yang dimiliki anak jadi lebih memiliki emosi yang stabil dan terkontrol. Tidak mudah menyerah, marah, putus asa ketika menghadapi kesulitan.
  8. Belajar menentukan batasan-batasan untuk diri sendiri. Dengan begitu anak juga jadi menghargai batasan yang ia miliki juga yang dimiliki oleh orang lain.

Banyak manfaatnya kan, jadi semakin besar keinginan untuk melatih kemandirian ini sedari kecil kepada anak nantinya.

Lalu, apa saja aktivitas atau kegiatan atau tugas-tugas atau tanggung jawab yang bisa kita berikan kepada si kecil untuk meningkatkan kemandiriannya (dan juga masih sesuai dengan kebiasaan di Indonesia), check this out ya !

Usia 1-2 tahun

  • Meletakkan pakaian kotor di keranjang
  • Membawa piring kotor ke dapur
  • Memilih baju dari 2 pilihan
  • Membantu merapikan mainan
  • Mengelap tumpahan sesuatu

Usia 2-3 tahun

  • Menyiapkan cemilan sendiri
  • Mengupas pisang
  • Mencuci buah
  • Mengelap meja
  • Menyiram tanaman
  • Memilih baju
  • Membersihkan tumpahan makanan
  • Memberi makan hewan peliharaan

Usia 3-4 tahun

  • Merapikan tempat tidur
  • Memakai baju sendiri
  • Mengambil bahan makanan untuk di masak
  • Melipat handuk
  • Menyapu menggunakan sapu ukuran kecil
  • Menata garpu, sendok dan piring di atas meja
  • Menuang air atau susu

Tapi ingat ya papa dan mama, walaupun memang sudah bisa diberikan tugas-tugas tersebut kepada anak, bukan berarti yang dilakukan anak bisa 100% tepat, bagus dan sesuai dengan yang kita orang dewasa harapkan. Perlu latihan terus menerus dan juga konsisten diberikan arahan dan contoh dari orang tua ya.

Ini yang bisa dilakukan orang tua untuk melatih kemandirian anak

  1. Buat daftar tugas yang jelas kepada anak, agar anak lebih memahaminya.
  2. Jangan berekspektasi berlebihan pada anak. Jika anak belum mampu melakukan dengan baik dan tepat 100% jangan cepat-cepat mengkritik dan menyalahkan anak.
  3. Berikan contoh yang nyata dan jelas dan dengan konsisten dari orang tua supaya anak juga bisa menirunya.
  4. Berikan waktu yang cukup dan temani anak dengan sabar. Jangan terlalu memaksa anak dan menarget anak dengan waktu yang tidak realistis.
  5. Kembangkan rutinitas secara konsisten
  6. Berikan semangat dan pujian atas perilaku (motivasi dan usaha yang dilakukan dalam melaksanakan tugas yang diberikan) anak.

Hah, senang rasanya bisa berbagi hal ini kepada mama dan papa hebat di luar sana melalui tulisan ini. Yuk sama-sama belajar lagi ya papa dan mama 🙂

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *