First Pregnancy,  Note to Self,  Titik Terang

Catatan si Calon Mama #10 (pa, ma, sekedar harapan saja tidaklah cukup)

Semua orang tua pasti memiliki harapan-harapan untuk anaknya. Dan itu wajar. Sedari kecil, new born, batita, balita, orang tua sudah menyampaikan harapan-harapannya kepada anaknya, atau diselipkannya di dalam doanya. Hal itupun baik dilakukan.

Bahkan sekarangpun, saat aku sedang mengandung, aku dan suami sudah dan selalu memiliki harapan, ”sehat selalu ya nak, tumbuh normal dan lengkap di perut mama,”. Dan itupun tidak salah kami lakukan.

Namun lantas, ternyata, hal ini yang kemudian aku sadari belakangan, ternyata memiliki dan sekedar mengucapkan saja harapan-harapan kita, orang tua ke anaknya tidaklah cukup. Hah kenapa? Nanti akan kubahas ya!

Apalagi pernah kulihat postingan seorang bapak yang membuat status di sosmednya seperti ini,

“Nak, semoga kamu selalu sehat ya, dan jadi anak yang sukses,”

Kemudian ada lagi yang menulis harapannya seperti ini,

“Sukses ya nak nanti saat dewasa, supaya kamu bisa menaikkan derajat keluarga kita,”

Lalu, belum selesai sampai disitu, ada lagi kalimat penutup tambahannya,

“Supaya kamu bisa membahagiakan kami, orang tuamu, nak!”

Melihat status harapan itu, dari seorang bapak, yang mana aku tahu bagaimana ia menjadi seorang bapak untuk anaknya, membuatku pun jadi memiliki harapan, semoga ia segera sadar bahwa harapannya itu terasa dan terdengar kurang pas/tepat di telinga. Dan syukurnya anaknya yang baru berusia 18 bulan itu tidak atau belum memahami perkataan itu. Aku bisa bayangkan kalau dia mengetahui harapan bapaknya itu, mungkin dia tidak ingin menjadi dewasa, atau malah takut menjadi dewasa, karena berat beban yang harus dipikulnya nanti.

Tentu realitanya, seharusnya memang orang tua selalu berharap dan berdoa hal-hal baik terjadi pada anaknya.

  • Semoga kamu selalu sehat ya nak
  • Tumbuh dengan normal dan bahagia ya nak
  • Menjadi remaja yang baik, sopan dan cerdas
  • Menjadi orang dewasa yang sukses, bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan sewajarnya

Tapi, kemudian perlu diingat bahwa ada juga harapan-harapan orang tua kepada anaknya yang kurang atau bahkan tidak realistis sama sekali. Contohnya, seperti harapan-harapan yang disampaikan bapak yang tadi kepada anaknya.

  • Kamu harus sukses nak
  • Untuk menaikkan derajat keluarga kita
  • Agar bisa membahagiakan kami, orang tuamu.

Kenapa harapan-harapan itu jadi tidak realistis? Yuk kita sharing sama-sama 🙂

Orang tua harus ikut ambil andil dalam menentukan dan membentuk masa depan anak

Berharap anak menjadi sukses yang fokusnya memiliki uang, kekayaan dan menjadi orang berhasil (sayangnya dengan versi orang tuanya) tidaklah semudah itu. Tidak bisa orang tua hanya berharap, tapi anak sendiri yang berusaha. Realitanya, agar harapan baik itu terwujud atau terkabul, orang tua juga harus melakukan usaha dan menyiapkanhal-hal lain, selain berharap (saja) apalagi hanya mempostingnya di status sosmed.

Sudah pasti, berharap saja tidaklah cukup ya! Dan akan jadi harapan yang keliru atau tidak realistis kalau tidak ada fasilitas-fasilitas nyata lainnya dari orang tua dalam membantu anak untuk meraih harapannya itu di masa depan.

Memangnya anak bisa tumbuh sendiri tanpa orang tua? Memangnya anak bisa sukses dengan sendirinya tanpa campur tangan orang tuanya atau orang dewasa lainnya yang memberinya bekal sejak kecil? Tidak kan!?

Fasilitas nyata dari orang tua yang lebih realistis dari sekedar harapan

Apa saja fasilitas lain yang harus disiapkan dan diberikan orang tua kepada anaknya? Check this out ya :

Berdoa yang tulus dan baik untuk pertumbuhan anak

Sebagai orang tua, kita wajib mendoakan anak-anak kita. Yang kupelajari adalah sebaiknya kita, sebagai orang tua bisa berdoa dengan realistis juga. Fokuskan doa hanya untuk anak, tidak ada embel-embel supaya orang tua juga kecipratan, atau mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan baik anak.

Tanamkan dan urapi pertumbuhannya dengan ajaran agama, kebaikan dan kebiasaan baik

Hal ini akan membentuk pribadinya yang akan menjadi bagian dari dirinya, sebagai penuntun dan pengontrol hidupnya sampai ia beranjak dewasa, dan terlepas dari pengawasan kita, orang tuanya. Dengan kebiasaan dan ajaran baik itu, ia bisa gunakan untuk memilih cara-cara yang lebih tepat dan efektif ketika menemukan masalah dalam perjalanan kehidupannya.

Ajaran dan kebiasaan baik inipun harus ada andil dan usaha orang tua yang memberi contoh jelas dan nyata dan juga dilakukan dengan konsisten dalam penerapannya, sedari anak kecil. 

Mengawasi tumbuh kembangnya, menyadari dan memahami bakat dan minatnya

Sebagai orang tua kita diminta untuk belajar dan terus belajar. Bisa dimulai mengenal tumbuh kembang anak dari usia 0-remaja bahkan dewasa. Sampai pada memahami apa saja bakat dan potensi yang anak miliki. Dan kemudian orang tua juga mengetahui, menerima dan memahami minat dan kesukaannya. Minat inipun harus murni dari anak ya, bukan karena keinginan orang tua.. Orang tua boleh mengarahkan, tapi bukan menentukan minat dan keinginan anak.

Jadilah orang tua yang tidak memaksakan keinginannya kepada anak. Hanya karena menurut kita pilihan kita yang terbaik untuknya. Apalagi dengan alasan lain, anak harus menjadi yang ortunya mau, karena kita yang dulu selagi muda tidak bisa mencapai mimpi itu.

“Anakmu punya jalannya sendiri, dan sudah pasti berbeda dengan jalanmu sewaktu kamu muda. Jadi kata-kata, ’tahu apa kamu, papa lebih dulu makan asam garam kehidupan, udah nurut aja, papa lebih tahu yang terbaik untukmu!’ tidak berlaku untuknya. Dan lagi anakmu bukanlah orang yang harus bertanggung jawab atas kegagalanmu dulu. Jadi kata-kata, ’nak, kamu harus lanjutkan cita-cita mama yang tertunda itu ya. Supaya mama bisa hidup lebih tenang.’ bukan kata-kata yang baik diucapkan pada anak kita.”

Fasilitasi bakat dan minat anak

Apa saja yang orang tua bisa lakukan? Sediakan buku penunjang, tempat les bila perlu, alat-alat yang mumpuni, gadget, laptop, permainan edukatif, atau alat-alat lainnya yang benar-benar dibutuhkan anak untuk menunjang bakatnya dan meraih apa yang ia minati.

Orang tua dapat menanyakan atau mendiskusikan dengan anak apa saja yang ia butuhkan. Diskusi di sini orang tua memberikan pendapat dan sekaligus mendengarkan pendapat anak tentang alokasi dana dan waktu dalam menghadirkan fasilitas penunjang itu. Orang tua berusah sewajarnya dalam memenuhi kebutuhan itu, dan anak tidak menuntut orang tua harus menyediakan segala hal.

Kuncinya: Orang tua dan anak sama-sama terlibat dan sama-sama happy dalam diskusi ini.

Orang tua selalu ada di waktu-waktu penting atau yang dibutuhkan anak

Orang tua diharapkan siap mendukung secara fisik (hadir) dan mental (dukungan/suport) dalam pertumbuhan anak. Orang tua juga siap memberikan pandangan-pandangan atas pengalaman yang dilalui dan dialami orang tua tapi juga tidak bersikap memaksakan pandangan itu kepada anak. Orang tua harus menyadari dan mengakui bahwa waktu dulu dan kini sudah jelas berbeda karena adanya perkembangan teknologi.

Hadir secara nyata di sini maksudnya adalah orang tua dapat memberikan perhatian, fisik, tenaga dan waktunya seutuhnya kepada anak, apalagi saat-saat yang memang sangat dibutuhkan anak. Misalnya, pada saat anak sakit, sedih, marah, atau bahkan saat anak bergembira, bangga terhadap pencapaiannya dll. Orang tua bisa mulai sejak anak kecil, tidak sambil main HP saat anak meminta ditemani bermain, atau orang tua memberikan kontak mata dan fokus sepenuhnya kepada anak saat bercerita mengenai pengalamannya di sekolah bersama teman-temannya.

Kehadiran orang tua secara nyata ini akan memberikan keuntungan kepada anak, ia merasa didukung, selalu memiliki penopang atau rumah yang aman dalam keadaan apapun. Hasilnya ia juga akan semakin percaya diri untuk meraih kesuksesannya. 

Fasilitas untuk pemenuhan kesehatan fisik

Fasilitas yang terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah makanan yang bergizi dan bernutrisi, obat-obatan atau segera ke fasilitas kesehatan jika anak sakit, vitamin, vaksin yang diperlukan untuk pertumbuhannya, yang mana hal itu akan menunjang kesehatan fisiknya, agar tetap sehat dan bisa berusaha lebih maksimal untuk meraih mimpinya.

______

Jadi, sudah kebayang kan harapan agar anak jadi sukses saja tidaklah cukup, apalagi agar ia mampu mendatangkan banyak rejeki, yang mana diharapkan untuk memenuhi ego orang lain bukan malah untuk kebaikan anak itu sendiri.

Harapan seperti itu saja belumlah cukup, dan sudah pasti sangat sulit terwujud kalau kita, sebagai orang tua tidak membekali dan memberinya hal-hal penunjang yang memang sepantasnya dan sewajarnya diusahakan dan disediakan orang tua dengan maksimal sesuai versi dan kemampuan kita.

So, be wise ya papa mama! Dan tetaplah berusaha jadi orang tua yang penuh usaha untuk mencapai harapan-harapan realistis untuk anak-anaknya.

______

Bukan kewajiban anak untuk membahagiakan orang tuanya

Harapan agar anak tumbuh dewasa menjadi orang yang sukses memang sangat bagus tapi akan jadi sangat keliru kalau kesuksesannya itu ditujukan untuk membahagiakan orang lain, termasuk orang tuanya. Ingat, anak bukanlah sebuah alat untuk memuaskan orang lain, apalagi sampai mengesampingkan kebahagiaan dan hal-hal yang memang dibutuhkannya.

Kusadari hal ini saat aku dan suami sedang menjalani program hamil. Memang benar ya, bahwa tidak ada anak yang minta dilahirkan ke dunia ini, ia juga tidak bisa memilih untuk lahir dari rahim wanita yang mana, untuk menjadi bagian keluarga yang mana. Kitalah, sebagai orang tua yang sangat sangat menginginkan kehadirannya, kitalah yang selalu mendambakan kehadirannya, sehingga penuh usaha untuk mendapatkannya.

Dan hal inilah yang perlu disadari kembali, karena kita yang menginginkannya dan mendambakannya, sudah pasti kita yang harus menjaga, merawatnya sebaik-baiknya, dan juga membantunya mempersiapkan masa depan yang lebih baik sehingga ia bisa meraih bahagianya sendiri.

Berbakti kepada orang tua dengan menjaga sopan santun, menjaga nama baik orang tua dan keluarga, serta menghormati orang tua adalah kewajiban dan keharusan yang dilakukan anak. Namun, mengenai membahagiakan orang tua, apalagi orang tua yang berharap materi-materi dan materi dari anak sudah pasti beda cerita. Pasalnya berbuat baik & berbakti dengan membahagiakan itu dua perkara yang berbeda.

Kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing yang tidak bisa diserahkan kepada orang lain. Sebab, seseorang tidak akan bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan (khususnya emosi) orang lain. 

Jika ini tidak disadari, orang tua bisa seenaknya mengeksploitasi anaknya, apalagi dengan ancaman ”anak durhaka!” jika tidak menuruti keinginan orang tua. Hal ini akan membuat anak kehilangan jati dirinya, lalu penuh kecemasan dan tidak nyaman sepanjang hidupnya.

Ingat!

Melahirkan anak ke dunia, bukan berarti orang tua memiliki properti apalagi alat untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran diri dan memenuhi hasrat dan keinginan orang tua. Anak terlahir membawa jiwa dan dorongannya sendiri. Dan itu harus dihargai, orang tua tidak boleh merampas jiwa anak, yang menjadi identitasnya sebagai manusia. 

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Hah, lumayan panjang ya ternyata membahas hal ini. Padahal awalnya hanya tertriger dari status bapak-bapak di sosmednya, kemudian mengingatkanku kembali mengenai 2 hal besar ini.

#1 Orang tua harus ikut ambi andil dalam menentukan masa depan anak. Siapkan dan berikan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkannya, dan selalu hadir secara nyata (fisik dan emosi) dalam waktu-waktu emas anak

#2 Bukan kewajiban anak memenuhkan hasrat dan keinginan orang tua, apalagi untuk dijadikan alat menumpuk kebahagiaan orang tua.

Semoga juga mengingatkan dan memberi inspirasi kepada mama dan papa hebat di luar sana yang mau terus belajar dan belajar, untuk menjadi orang tua yang baik, tepat dan semestinya untuk perkembangan anak yang lebih baik.

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *