First Pregnancy,  God is Good,  Note to Self

Catatan si Calon Mama #1 (harapan dan usaha si calon mama)

Sudah sangat lama, tidak bermaksud dan tidak ingin meremehkan perjuangan calon mama dan papa lainnya yang juga sedang berjuang mendapatkan keturunan, melihat garis dua di testpacknya. Tapi menurutku dan juga suami, penantian kami selama 2 tahun ini sangatlah berat dan menjadi semakin bersyukur karena Tuhan hanya menguji kami selama waktu itu. Aku, pribadi, tidak bisa membayangkan jika Tuhan bilang ”ayo bersabar lebih lama lagi,”. Ya, Tuhan tahu, Ia yang paling tahu seberapa kemampuan sabar kami, dan paling penting seberapa besar harap, ingin dan usaha kami untuk menjadi mama dan papa kelak. Dan akhirnya ia berikan sebagai kado terindah tepat di usia pernikahan kami yang ke 2. Terima kasih dan rasa syukur saja rasanya tidak cukup, kami sangat bahagia, walau air mata berlinang tak henti di pipi.

Seri ”Catatan si Calon Mama” ini sangat kuharapkan sejak lama, setelah aku bergumul dengan seri ”Catatan si Pengantin Baru”, dan akhirnya Tuhan ijinkan aku menuliskannya sekarang ini. Di seri ini akan banyak cerita-cerita mengenai perjalanan kehamilanku selama 9 bulan hingga melahirkan nanti. Hah, ga sabar rasanya bertemu si Mungil, janin dalam perutku yang kunamai sesuai julukan tendangan pertamanya yang kurasakan. Tenang, pelan, mungil.

🌻🌻🌻🌻🌻

Di bagian pertama ini, aku ingin banyak cerita ”persiapan” kami untuk menjadi mama dan papa. Bagaimana perjalanan program hamil yang kami jalani, hingga usaha-usaha lainnya yang juga mengisi setiap jengkal pikiran dan perasaan kami. Dan ternyata persiapan yang kami lakukan berbeda dengan yang lainnya. Dengan pasangan lain yang dengan mudah, sangat mudah mendapatkan harapnya mendapatkan keturunan.

Ada beberapa orang mengatakan, ”sudahlah tunggu saja, buat apa promil juga. Baru juga sebentar menikah,”. Kami memilih untuk tidak mendengarkan kata-kata itu, apalagi mengikutinya. Kami memiliki tujuan dan misi sendiri. Kami ingin memiliki keturunan, kalau memang harus dengan usaha yang lebih keras dari yang lainnya, maka akan kami lakukan, sekarang juga.

Sejujurnya aku pernah melakukan kesalahan di awal pernikahan, aku berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk memberikanku keturunan setelah 3 bulan menikah, ”jangan langsung dikasi ya Tuhan,” begitu kataku. Permintaan itu juga kuutarakan kepada suami. Ia kesal, aku tahu. ”kita hanya bisa berusaha, kapan dikasinya harus diterima, ga boleh berharap begitu.” katanya. Kusadari beberapa bulan kemudian, permintaanku itu memang dikabulkan oleh Tuhan. 3 bulan menikah, aku masih mendapatkan tamu bulanan. Dan ternyata tidak hanya 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, hingga 7 bulan, ternyata Tuhan juga belum mengijinkan testpack itu berubah menjadi garis dua. Akupun mulai frustrasi.

6 bulan menikah, sudah ada percakapan bahwa kami harus kedokter, memeriksakan kondisiku dan melakukan program hamil. Kami sama-sama setuju dan sama-sama memiliki harapan setelah beberapa kali ke dokter kamipun mendapatkan titik terangnya. 7 bulan usia pernikahan akhirnya program hamil terealisasikan.

Setelah mencari tahu dan bertanya-tanya, aku memutuskan untuk pergi ke dokter A. Namun aduhai antriannya. Kami selalu tidak mendapatkan nomor antrian, karena malas menunggu akhirnya aku beranjak ke dokter B. Mulus, tanpa embel-embel harus menunggu atau tidak mendapatkan antrian, akhirnya aku bertemu dokter. Itu kali pertamanya aku kedokter kandungan, dan jujur sampai saat inipun setiap akan checkup, masih deg-degan.

Dokter B melakukan prosedur USG perut, tapi katanya karena perutku tebal, jadinya kesusahan untuk melihat rahim dan sel telur, maka setiap ke dokter, aku selalu dilakukan prosedur USG bawah (USG transvaginal). Hasil yang didapatkan adalah sel telurku ternyata kecil-kecil.

Di bulan kedua, dokter menyarankanku untuk mengecek hormon, karena takutnya ternyata ada gangguan di hormon sehingga bisa mengetahui dengan jelas apakah ada indikasi lain atau tidak. Itu kali pertamanya aku mendapatkan suntikan. Selama 30 menit perawat mengambil darahku sebanyak 1-2 tabung, begitu sampai 3 kali. Aku ingat waktu itu keadaanku tidak baik-baik saja.

Satu bulan sebelumnya, aku tidak mengalami menstruasi selama 1 bulan, saat itu aku mengira aku sedang hamil, dengan gembira dan senang hati kemudian ke dokter, tapi ternyata…. dokter mengatakan bahwa aku tidak sedang hamil. Karena itu aku diberikan obat agar mens, baru kemudian bisa mengecek hormon itu.

Itu kali pertamanya aku merasakan sangat sakit ketika menstruasi. Entah karena obatnya yang memicu aku mens atau apa. Semalaman aku tidak bisa tidur, merintih kesakitan, sampai berguling-guling, sampai nungging-nungging, keringet dingin dan rasanya hampir pingsan. Aku kesakitan, tidak tidur semalaman, dan besoknya harus ke lab untuk diambil darahnya sebanyak 6 tabung, setiap 30 menit sekali dengan perut yang masih mules dan mata yang berat ingin tidur, dan tanpa suami. Saat itu dia tidak bisa menemaniku karena harus ke proyek ada meeting penting. Walau keadaanku tidak baik-baik saja, ditambah dengan kecemasan yang tiada henti dengan hasilnya, tapi aku merasa jauh di dalam lubuk hatiku, aku bangga dengan diriku sendiri. Aku menjadi kuat, aku menjadi berani karena aku memiliki usaha dan mau berusaha untuk mendapatkan apa yang benar-benar kuharapkan.

2 hari kemudian hasil tes itu keluar, dan bersyukurnya semua normal. Aku menjadi lebih tenang setelah dokter pun bilang bukan karena PCOS. Saat itu aku tidak tahu apa itu PCOS, tapi rasanya bersyukur sekali karena ternyata tidak ada indikasi yang terlalu parah. Kemudian program selanjutnya, aku diminta untuk mengecek masa suburku, dengan alat yang seperti testpack. Kalau dua garis nyata terlihat maka itulah masa suburku dan dokter menjadwalkan waktu berhubungan dengan suami saat itu. Kamipun dengan senang hati melakukannya, tidak pernah melewati waktu-waktu yang diberikan dokter.

3 bulan sampai 5 bulan aku rutin setiap bulan, setelah 2-3 hari menstruasi ke dokter B, rasanya kurang memuaskan. Lagi dan lagi hanya USG transvaginal dan lagi dan lagi sel telur masih kecil, ada yang sudah besar namun jumlahnya hanya 1 atau 2. Aku tidak puas dan sebenarnya lelah dengan hanya begitu saja. Aku merasa tidak mendapatkan kepastian dan program hamil yang kujalani ini berjalan lambat.

Akhirnya aku membicarakan ini kepada suami dan ingin mencoba kembali ke dokter A. Setelah mencoba menelpon dan pergi langsung ke tempat prakteknya akhirnya kami mendapatkan nomor antrian. Sekali lagi rasanya ada harapan, sekali lagi aku bisa melihat titik terang di ujung sana. Semoga saja.

Pengecekan pertama, masih dengan USG transvaginal karena memang perutku katanya agak tebal jadi susah hanya melalui USG perut. Kali ini dokter mengatakan rahimku normal, baik-baik saja, sel telurku cukup bagus, ada yang besar dan banyak juga yang kecil, Bagian kiri dan kanan semuanya berisi sel telur dan cukup baik. Senang dan lega rasanya. Dokter memberikanku obat untuk memperbesar sel telur, ia juga menjadwalkanku untuk mengecek saluran sperma di bulan depannya. Dokter juga berpesan untuk tetap melanjutkan program, tidak boleh terputus sama sekali.

1 bulan kemudian, dengan lebih deg-deg an dan tingkat kecemasan yang semakin besar dari sebelumnya, aku kembali ke dokter untuk melakukan prosedur pengecekan saluran sperma. Sebelumnya aku bertanya apa rasanya akan sangat sakit, kata dokter kalau salurannya tersumbat maka akan sangat sakit, kalau tidak, maka akan baik-baik saja. Lalu pertanyaan selanjutnya, kalau tersumbat lalu bagaimana, jalan satu-satunya ya dengan prosedur bayi tabung kalau masih ingin memiliki keturunan. Rasanya lemas kaki dan tubuh ini mendengar jawaban itu, tapi suami menggenggam tanganku dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tahu saat itu dia juga sama cemasnya denganku, tapi bersyukurnya dia masih bisa bersikap tenang dan malah menyemangatiku.

Saat masuk, aku diminta untuk tidur dengan kaki terbuka lebar, dokter mengatakan akan memasang kateter, aku tidak tahu itu apa tapi aku tetap melakukannya dengan ketakutan yang sudah pasti belum hilang, mungkin lebih membesar dari sebelumnya. Setelah itu aku diminta untuk berpindah ke tempat tidur dan diminta juga untuk membuka kaki lebar. Prosedurnya adalah, dokter dan perawat menyemprotkan air melalui kateter ke rahimku.

Oh TUHAN, sakitnya seperti ada yang memisahkan perut dari pinggulku, ada yang menarik kakiku agar terpisah dengan badanku. Akupun berteriak. Walau dokter bilang, ”oh bagus ini, airnya masuk ke rahim, jadi salurannya tidak tersumbat” akupun tetap teriak, entah karena memang karena sesakit itu, atau perasaan lega yang teramat sangat. Aku meminta dokter untuk berhenti melakukan prosedur itu, sumpah tidak kuat rasanya menahan sakitnya. Walau dokter mengatakan ”tenang, harus kuat, sedikit lagi,” tapi akupun tetap teriak. Kalau diingat-ingat lagi saat itu, aku sekarang jadi malu kenapa harus selebay itu, padahal sebelumnya kata dokter kalau salurannya baik-baik saja, tidak tersumbat maka tidak akan terasa sakit.

Sampai saat inipun aku masih bertanya-tanya, kalau memang seharusnya tidak sesakit itu, kenapa aku malah merasakan sebaliknya? Kenapa aku malah berteriak kesakitan dan hampir pingsan pula? Kemudian sampailah kepada kesimpulan, ”oh, toleransi sakitku sangat kecil ternyata”

Setelah itu, saat kembali duduk, akupun merasa mual dan pusing lalu keliyengan dan rasanya akan pingsan sehingga dokter meminta perawat untuk mengajakku ke UGD, tinggallah suami yang mendengarkan penjelasan dokter. Ternyata ada yang jauh lebih sakit daripada harus merasakan menstruasi yang “dipaksakan” dan disuntik 3 kali setiap 30 menit. Kemudian aku bersyukur kepada Tuhan, bahwa pengalaman mengecek saluran sperma ini hanya akan sekali aku rasakan, dan bersyukurnya lagi, samar-samar masih kuingat dokter mengatakan bahwa saluran itu baik-baik saja.

Kemudian setelah itu, kujalani kembali program hamil rutin. Setiap bulan kedokter untuk melakukan pengecekan sel telur, yang ternyata sudah mulai membaik. Semuanya berjalan normal, program hamil juga sudah berjalan hampir 60persen dengan kemajuan yang baik di sisiku.

Saat itu bulan Maret 2021, lalu kenapa kau harus menunggu sampai 7 bulan lagi baru kemudiam hamil? Yang ini akanku ceritakan di part #2 seri ini ya. Di tunggu 🌻

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *