Note to Self,  Parenting,  Titik Terang

Cara-cara pencegahan anak menjadi korban pelecehan/kekerasan seksual

Setelah menjadi mama dan memiliki Nai, putri kecil mama yang semakin tumbuh sehat, pintar dan cantik, membuatku juga menjadi semakin menyadari bahwa harus lebih banyak lagi belajar mengenai banyak hal. Salah satunya ya ini, bagaimana cara terbaik dan tepat untuk menghindari anak menjadi korban dari pelecehan atau kekerasan seksual.

Kenapa ini penting? Tulisan ini bermula dari banyak sekali berita mengenai kekerasan seksual yang dialami oleh anak di bawah umur, bahkan ada beberapa kasus memang terjadi di lingkungan terdekat, bahkan ada di dalam lingkungan keluarga. Banyak klienpun yang datang dengan keluhan trauma pasca mengalami kekerasan seksual yang dialami oleh seorang anak di bawah umur. Tidak hanya itu yang membuat hati ini deg-degan (bahkan psikologpun bisa begini), banyak pelaku dari kasus-kasus itu adalah orang terdekat mereka. Bisa paman, kakek, sepupu, ayah tiru bahkan ada juga dari orang tua kandung. Membuat hati ini terus dan masih bertanya-tanya, kenapa sih?

Karena itulah mulai kembali mencari bacaan-bacaan dan terakhir mengikuti seminar yang memiliki tema seperti ini. Langsung aja ya, apa saja sih yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membekali anak agar tidak menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual ini. Check this out ya!

#1 berikan seks edukasi sejak dini

Papa, mama, jangan berpikir bahwa ini tabu duluan ya, karena ini sangat penting jadi jangan lewatkan hal ini untuk dilakukan kepada anak. Seks edukasi ini dapat memberikan pengertian bagi anak bahwa tubuhnya merupakan ranah private atau pribadi yang tidak bisa disentuh oleh orang lain tanpa persetujuannya dan mereka berhak menolak dan merasa tidak nyaman saat orang lain menyentuh tubuhnya.

Berikut kiat-kiat memberikan seks edukasi sesuai dengan fase tumbuh kembangnya:

Usia 0-3 tahun

Pada fase ini, papa mama bisa memulai dengan memberikan pengenalan nama-nama anggota tubuh mulai dari kepala, tangan, kaki hingga vagina atau penis. Sebutkan nama-nama yang sebenarnya agar anak lebih paham ya. Hal ini bertujuan agar anak merasa nyaman menggunakan kata-kata ini dan mengetahui artinya dengan jelas dan tepat. Mengetahui nama-nama anggota tubuh dengan tepat juga bisa membantu anak berbicara dengan jelas jika sesuatu yang tidak pantas telah terjadi padanya.

Selain itu ajari anak perilaku yang boleh dilakukan di rumah dan di tempat umum. Misalnya, membuka pakaian di kamar mandi atau di kamar. Keluar dari kamar mandi pakai handuk.

Usia 3-5 tahun

Fase ini anak sudah bisa diajarkan mengenai bagian tubuh eksternal dan internal, khususnya bagian reproduksi. Saat usia ini papamama bisa mulai mengajarkan mengenai bagian-bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh orang lain tanpa persetujuannya. Ajarkan juga anak untuk tegas mengatakan ‘tidak’ jika ada tindakan seksual.

Beritahu juga anak bahwa ada bagian tubuhnya yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Jelaskan bahwa papamama atau pengasuh terdekat saja yang boleh melihat anak telanjang, sedangkan orang lain di luar rumah hanya boleh melihat ia berpakaian. Termasuk, paman-bibi, kakek-nenek, dll.

Pada usia ini orang tua juga bisa memberikan pemahaman bagaimana bayi bisa berada di dalam rahim seorang ibu. Namun, bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan usianya dan tidak vulgar.

Usia 5-8 tahun

Pada usia ini, ajarkan kepada anak mengenai sentuhan baik (good touch) dan sentuhan buruk (bad touch), agar anak bisa lebih memahami ini ketika berasa jauh dari orang tua atau di luar rumah. Beritahu anak mengenai batasan tubuhnya dan tidak basa-basi langsung mengatakan ‘tidak’ atau menolak saat orang lain menyentuh tubuhnya atau ia diminta untuk menyentuh tubuh orang lain. Termasuk beritahu anak bahwa tidak ada yang boleh memotret tubuhnya tanpa seijinnya.

Perbedaan sentuhan baik dan sentuhan buruk. Sentuhan baik adalah sentuhan yang membuat anak merasa nyaman dan aman serta tidak menyakiti. Misalnya, orang tua menggenggam tangan anak saat menyeberang, atau mengelus kepala dan punggung anak saat menangis atau memberikan apresiasi dan juga bersalaman. Bagian yang boleh disentuh adalah dari bahu ke atas dan dari lutut ke bawah.

Sedangkan sentuhan buruk adalah semua sentuhan yang diberikan oleh orang lain yang menimbulkan rasa tidak nyaman, membuat sakit, takut dan juga marah. Bagian yang tidak boleh disentuh adalah area yang tertutup oleh baju renang, mulai dari paha, dada, bagian dekat kemaluan dan mulut.

Kemudian ada juga sentuhan membingungkan, dimana sentuhan ini tidak menyakiti tapi membuat risih dan jijik. Biasanya muncul di daerah bahu dan lutut. Bisa jadi orang lain akan melakukan hal ini, mulai dari mengelus kepala, memeluk, kemudian meraba bagian tubuh di bawah bahu sampai atas lutut. Termasuk juga bisa dengan menggelitik, yang sebenarnya tidak menyakiti, namun jika dilakukan oleh orang lain maka anak diajarkan untuk patut mewaspadai.

Orang tua juga bisa mulai menjelaskan apa saja yang akan terjadi saat mereka mulai pubertas. Hal ini sebagai persiapan anak dalam menjalaninya.

Usia 8-12 tahun

Pada usia ini orang tua bisa mulai berbicara dengan anak terkait perubahan tubuh mereka dan hal-hal yang dialaminya. Hal ini dilakukan agar anak memahami kalau menstruasi, ereksi dan ejakulasi itu adalah hal yang normal.

Selain itu berikan pandangan pada anak bahwa tubuh mereka sangat berharga jadi harus dijaga baik-baik. Diskusikan juga mengenai keamanan diri ketika anak berada di situasi yang menakutkan atau tidak nyaman baginya. Contohnya, menjauh, bisa berdalih buang air kecil dll.

"berkata tidak, lari, berteriak minta tolong penting diajarkan jika ada orang lain ingin menyentuh bagian tubuh pribadinya"

Ajari juga bahwa tidak apa-apa memberitahu orang dewasa bahwa ia tidak suka, tidak mau atau tidak nyaman akan sesuatu. Hal tersebut tidak salah dan anak berhak untuk mengungkapkannya.

Usia 12-18 tahun

Pada tahap ini anak mulai tertarik dengan lawan jenis. Maka dari itu, orang tua dapat membahas mengenai cinta, keintiman dan cara mengatur batas dalam hubungan mereka dengan lawan jenis. Papamama, mulailah menjadi ‘teman’ dengan anak dan tidak memberikan penilaian atau menyalahkan pilihan anak.

Papamama bisa memberikan dukungan dengan memberikan pandangan-pandangan positif mengenai menjalin relasi lebih dekat kepada lawan jenis. Berikan juga contoh nyata mengenai apa saja hal-hal yang baik, tepat dan sehat dilakukan dan mana yang tidak.

#2 terapkan komunikasi yang baik dan hangat dengan anak sedini mungkin

Dengan komunikasi yang baik dan hangat, anak akan jadi terbuka dengan orang tua dan memahami bahwa tidak ada yang perlu dirahasiakan pada orang tua kususnya mengenai tubuhnya. Ajarkan pada anak bahwa tidak perlu merahasiakan saat orang lain memegang tubuhnya, dan segera beritahu orang tua jika orang lain meminta ia untuk merahasiakannya.

Hal penting lainnya, yakinkan dan beritahu anak bahwa mereka tidak akan dimarahi jika memberitahu mengenai tubuh mereka. Yakinkan dan beritahu mereka, bahwa apapun yang terjadi orang tua akan mendengarkan dengan baik dan tidak menyalahkan atau memarahi anak.

#3 ajarkan anak untuk aware dan mewaspadai orang yang tidak dikenal atau orang yang dikenal yang bertindak kurang nyaman padanya

Jika ada orang yang berusaha mendekatinya, termasuk memberikan barang dan makanan, ajarkan anak untuk tidak tergoda. Apalagi jika sampai diajak untuk pergi dengannya. Pastikan anak mengerti dan tidak mau menerima ajakannya tanpa sepengetahuan orang tuanya.

#4 menjalin kerja sama yang baik dengan guru dan tetangga di lingkungan rumah

Papamama, jangan lupa berkenalan, beramah tamah dan menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang dilingkungan rumah dan sekitar rumah, begitu juga jalin komunikasi yang konsisten dengan guru di sekolah ya. Hal ini dilakukan agar sama-sama membantu memantau anak saat bermain atau berlajar di sekolah di mana anak sedang terpisah sementara dari orang tuanya.

Saat teman anak kita main ke rumah kita, kita juga membantu menjaga dan memantau perilaku bermain anak, begitupun sebaliknya saat anak kita berkunjung ke rumah temannya. Hal ini sangat penting untuk membentuk lingkungan bermain yang aman, positif dan terhindar dari resiko pelecehan dan kekerasan seksual.

#5 deteksi dini tanda-tanda pelecehan seksual pada anak

Deteksi perubahan sikap anak karena ada beberapa anak tidak berani menceritakan apa yang dialaminya kepada orang tua. Orang tua harus mengetahui ciri-ciri saat anak sudah menjadi korban pelecehan seksual ini, seperti anak menjadi pendiam, tidak mau bersosialisasi, hingga mengalami kesakitan di beberapa bagian tubuhnya. Selain itu bisa jadi juga anak akan menunjukkan sikap menarik diri, memandang dirinya tidak baik, mungkin juga ada yang lari ke obat-obatan dan ketakutan untuk pulang ke rumah dan lebih senang di sekolah.

Itu dia 5 hal yang bisa dilakukan oleh orang tua agar dapat lebih menjaga anak dan menghindari anak menjadi korban dari pelecehan dan kekerasan seksual. Sebelum menutup tulisan ini, aku juga ingin sampaikan hal yang tidak boleh dilupakan karena sama pentingnya dengan 5 hal di atas, yaitu:

"orang tua juga perlu mencontohkan perilaku-perilaku menghargai dan menjaga tubuhnya sendiri dan anggota keluarga lainnya."

Hal-hal yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  • tidak telanjang di depan orang lain atau anak. Banyak orang tua mengabaikan hal ini dengan dalih anak masih kecil dan belum paham, jadi tidak apa-apa. Sebaiknya hal ini tidak dilakukan ya, papamama. Anak kecil memiliki rekaman dan rekaman itu tidak akan hilang dari ingatannya. Jadi bukanlah anak tidak paham ya.
  • Keluar dari kamar mandi pakai handuk dan pakaian lengkap
  • Meminta ijin terlebih dahulu saat menyentuh anak. Misal, mama bileh pijit kepalanya/tangannya/kakinya/perutnya?
  • Hindari berhubungan intim di depan anak tanpa edukasi dan penjelasan yang tepat mengenai hal itu
  • Papamama juga bisa saling menunjukkan perilaku menghargai tubuh pasangan. Misal, tidak melakukan kekerasan fisik/seksual apalagi di depan anak.

Ada lagi ga contoh lainnya? Share di kolom komentar ya papamama.

Salam, Ayu Andini, M.Psi., Psikolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *