Books Review,  Parenting,  Tumbuh Kembang

Book Review | The Whole-Brain Child

  • Penulis : Daniel J. Siegel and Tina Payne Bryson
  • Penerbit : Delacorte Press, New York
  • eISBN : 978-0-553-90725-4
  • Rating : 5/5

overview

Aku mendapatkan info mengenai buku ini di postingan rabbit hole di instagram. Karena memang butuh banget buku ini untuk panduan terapi anak berkebutuhan khusus, dan juga untuk bekalku menjadi ibu nanti, membuatku segera mencari-cari buku ini di toko buku import yang biasa kubeli. Namun sayangnya, nihil. Habis kata mereka. Kecewanya kecewa banget sih ini. Lalu, ga habis akal, aku cari-cari di internet ebooknya dan singkat cerita nemulah di salah satu web buku rekomendasi dari anak bos di kantor. Kemudian, tidak perlu banyak mikir langsung baca buku ini. 2 hari langsung selesai.

Secepat itu. Karena saking penasarannya dengan bahasan mengenai otak anak dan juga cara menangani yang lebih tepat agar perkembangan emosi anak juga bisa berkembang dengan baik dan semestinya.

kenapa harus baca buku ini?

Buku ini salah satu buku parenting yang paling aku suka, karena sangat praktis dan juga ringkes. Walaupun bahasa inggris, tapi sangat mudah dipahami dan tidak membuat stress karena banyak kosakta yang tidak familiar. Selain itu, buku ini memberikan banyak banget sudut pandang baru (khususnya untukku) yang saat itu baru saja menetapkan hati untuk lebih mendalami psikologi klinis anak, khususnya anak-anak berkebutuhan khusus. Banyak klien anak yang kutemui, dan yang menjadi klienku, memiliki emosi yang meledak-ledak. Tantrum, membuang-buang badan, berteriak, memukul, menjambak dan lain sebagainya (lain kali kujelaskan mengenai tantrum ini). Semakin banyak klien yang kutemui dengan karakteristik yang sama, semakin mantap buatku untuk mempelajari mengenai hal itu.

Buku ini juga enak sekali di baca, dan membuat kita paham dengan lebih cepat bagaimana menerapkan ke 12 strategi yang ditawarkan oleh buku ini. Sangat mudah, karena disertai gambar-gambar yang tidak tepat dan tepat dilakukan oleh orang tua dalam menghadapi perilaku yang tidak tepat anak dan emosinya yang belum bisa ia kontrol sendiri. Ada gambar-gambar menarik seperti komik, ada penjelasan atau kalimat-kalimat yang seharusnya dilontarkan oleh orang tua dalam memahami emosi dan menemani anak dalam mengekspresikan emosinya itu.

Yap, seperti yang kukatakan di atas. Buku ini menawarkan pendekatan revolusioner untuk membesarkan anak dengan 12 startegi kunci yang mendorong perkembangan otak yang sehat, yang bertujuan agar anak lebih tenang dan bahagia.

Anak bahagia, orang tua juga pasti jauh bahagia. Ya kan?

review

Buku ini terdiri dari beberapa bagian penjelasan. Yang akan kucoba bahas satu persatu. Semoga review ini dapat menginspirasi dan mendorong teman-teman, para terapis anak atau orang tua untuk lebih mendalami penjelasan mengenai the whole-brain child ini melalui bukunya juga. Karena review ini tentu saja tidak bisa merangkum seluruh isi bukunya. Jika akhirnya nanti teman-teman kemudian menjadi tertarik dan terdorong membaca bukunya, akan membuatku lebih senang dan bahagia. Karena tujuanku membuat review ini adalah itu. Tentu saja membaca bukunya akan membuat kita semakin memahami keseluruhannya daripada hanya membaca reviewnya saja.

Bagian pertama, dijelaskan mengenai otak manusia terdiri dari bagian-bagian yang memiliki fungsinya masing-masing. Agar anak lebih bahagia dan memiliki kondisi psikologis yang sehat diperlukan integrasi dari seluruh fungsi otak. Integrasi disini maksudnya bagaimana seluruh bagian otak tersebut bekerja sama dengan baik. Salah satu cara mengintegrasikan otak anak adalah dengan membantu anak memahami suatu peristiwa yang dialaminya.

Bagian ini juga menyebutkan bahwa 4 bagian otak anak belumlah terkoneksi dengan baik, bahkan sampai usia remaja. Karena itu banyak kita temukan, remaja yang sebenarnya sudah memiliki usia yang matang dalam menentukan benar dan salah namun masih saja melakukan kesalahan dalam hal itu. Ada remaja yang masih belum bisa mengontrol emosinya, meledak-ledak dalam menghadapi suatu peristiwa, atau bahkan impulsive dalam menginginkan sesuatu. Karena itulah, dalam buku ini, kita sebagai orang tua atau bahkan tenaga profesional dalam bidang anak-anak, diberitahukan bagaimana cara mengkoneksikan ke 4 bagian otak tersebut, agar semuanya berjalan dengan tepat, sehingga segala hal informasi yang kita sampaikan kepada anak, juga dapat dicerna dan diterima oleh anak sebagaima mestinya.

Bagian kedua, menjelaskan mengenai pembagian otak kanan dan kiri. Otak kanan lebih banyak mengatur emosi, kenangan, pengalaman dan juga perasaan. Sedangkan bagian otak kiri mengatur hal-hal logis dan runtutan peristiwa serta keteraturan. Pada 3 tahun pertama usia anak, ia akan lebih banyak memakai otak kanannya, sehingga yang terlihat akan lebih banyak emosi yang diekspresikan anak, bagaimana ia mengenang pengalaman yang dialaminya kemudian bagaimana dia merasakan suatu hal. Akan sulit bagi anak untuk meruntutkan suatu peristiwa agar dapat dilogikakan olehnya sehingga dapat mengatur emosinya. Hal inilah kenapa anak memerlukan orang tua untuk membahasakan dengan lebih mudah dimengerti oleh anak mengenai pengalaman atau hal-hal yang berada di luar pemahaman anak.

Tips yang dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan anak pada fase awal yaitu “connect with the right brain” kemudian “redirect with the left brain”. Hal lain yang dapat dilakukan adalah “name it to tame it”. Peran otak kanan dan kiri haruslah seimbang. Agar anak dapat menunjukkan emosi yang tepat keduanya harus berjalan beriringan, tidak bisa hanya menggunakan satu sisi saja. Keseimbangan diantara keduanya membuat kita memiliki kendali, untuk tidak terlalu larut dalam emosi dan bisa tetap berpikir logis saat menghadapi sesuatu.

Sebagai contoh, saat anak terjatuh karena lari-lari di ruangan dan tersenggol kaki meja, kemudian anak menangis kesakitan. Bukannya memarahi kaki meja, seperti mengatakan “uh, sakit ya, mejanya nakal ya, mama pukul ya,” atau malah memarahi anak dengan mengatakan “makanya kalau di ruangan jangan lari-lari dong, hati-hati dong!”, akan lebih baik orang tua mendekati anak dan menunjukkan bahwa kita memahami emosi (yaitu rasa sakit) yang ia alami seperti mengatakan “sakit ya nak, mana yang sakit, kakinya ya?”. Orang tua diharapkan lebih tenang dan hadir saat anak mengalami emosi negatifnya tapi juga berusaha agar anak tidak larut dalam emosi tersebut.

Kata-kata alternatif yang bisa dikatakan orang tua adalah “sakit ya nak, tadi kamu lari-lari trus tersandung ya,”. Kata-kata pancingan itu diharapkan memancing anak untuk berpikir logis dan bercerita secara runtut mengenai kejadian tersebut. Kemudian setelah itu orang tua kembali bisa menutup percakapan dengan “ya, sekarang mama sudah elus-elus kakinya, udah baikan?”

Pola komunikasi yang diterapkan adalah membantu anak dalam membangun pikiran logisnya tidak hanya berfokus pada emosi yaitu rasa sakitnya saja. Jika terbiasa dilakukan, hal ini diharapkan akan membantu anak dalam menghadapi kejadian-kejadian emosional yang dialaminya, anak juga bisa berpikir logis.

Bagian ketiga, bagian ini menjelaskan mengenai pembagian otak dari sisi atas dan bawah. Sisi bawah berperan dalam emosi, fungsi kontrol dasar (berkedip, bernafas dll) dan respon terhadap ransangan. Sedangkan otak atas untuk analisa, empati dan moral. Perlu dibuatkan “tangga” untuk menghubungkan keduanya, disinilah peran orang tua sangat besar dalam membantu anak membangun tangga tersebut. Perlu diingat, bahwa otak bagian bawah anak sudah terbangun dengan sempurna, sedangkan otak bagian atas sedang dalam proses pembangunan.

Dalam bagian ini juga dijelaskan mengenai fungsi salah satu bagian otak, yaitu amigdala. Fungsinya adalah memberi respon cepat terhadap suatu kejadian. Jika amigdala ini berfungsi terus menerus atau membajak otak bagian bawahnya, maka anak akan lebih sering bergerak dulu sebelum berpikir. Hal ini menyebabkan anak banyak meluapkan emosinya yang tidak terkontrol.

Pola komunikasi yang digunakan oleh orang tua hampir sama dengan bagian yang kedua yaitu membantu anak membangun tangga agar mampu mencapai otak bagian atas. Dengan pola komunikasi yang tepat, anak mampu merespon kejadian emosionalnya dengan pikiran-pikiran logis dan anakpun dapat melakukan analisis sederhana dalam menggambarkan suatu kejadian. Hal ini dapat mengurangi tantrum anak ketika menemukan peristiwa yang tidak menyenangkan untuknya.

Bagian keempat, dalam bagian ini membahas hal-hal yang implisit dan eksplisit yang dapat menyebabkan anak mengalami ketakutan atau trauma akan suatu kejadian. Contoh kasus, anak takut berenang karena pernah hampir tenggelam. Hal yang dapat dilakukan adalah orang tua meminta anak menceritakan kembali kenangan itu karena dengan mengingat pengalaman tersebut secara eksplisit, trauma implisit yang dialami dapat berkurang sedikit demi sedikit.

Bagian kelima, membahas mengenai cara mengenali berbagai emosi (positif dan negatif). Anak diajari mengenai emosi-emosi yang ada dalam dirinya, senang, sedih, cinta, marah dll. Sehingga ketika anak mengalami emosi negatif, anak juga akan mengingat bahwa ia juga memiliki emosi positif, sehingga mampu mengalihkann fokusnya kepada hal-hal positif sehingga tidak terpuruk pada hal-hal negatif yang sedang dialaminya. Langkah awal yang dilakukan adalah, anak diajak mengenali dirinya sendiri. Setelah itu, tujuannya kelak dia juga bisa mengenali emosi orang lain dan dapat berinteraksi dengan tepat dengan orang lain kelak.

Contoh kasus, anak begitu marah kepada kucingnya karena kucingnya merusak gambar yang telah dibuatnya. Orang tua dapat mengajak anak untuk mengingat hal-hal menyenangkan yang pernah dilakukannya dengan kucingnya, sehingga kemarahan anak bisa berkurang dan berfokus pada hal-hal positif dan menyenangkan terhadap kucing. Hal ini mengajari anak juga tentang kompleksitas perasaan terhadap orang lain atau suatu objek, dan mengajarkan anak untuk lebih berfokus kepada hal-hal positif.

Bagian keenam, hal ini adalah hal tersulit, setelah anak memahami dirinya sendiri, kemudian memahami perasaan orang lain, maka anak sedikit demi sedikit sudah mampu menerapkan empati dalam dirinya. Sering sekali kita menemukan anak yang bersifat egois, tidak memikirkan perasan teman bermainnya, dan tidak mau berbagi saat bermain dengan yang lain. Hal ini perlu diatasi agar anak dapat melakukan interaksi yang baik dengan orang lain.

Mengajari anak agar memiliki kepribadian yang hangat dan bersahanat adalah dari rumah, dimulai dari interaksi dan hubungan yang hangat antara orang tua dan anak. Anak yang terbiasa memiliki hubungan yang hangat dengan orang tuanya, juga akan menunjukkan hubungan yang hangat dengan teman sebayanya. Misalnya, mau dan mampu berbagi dengan yang lain, mau bergiliran saat melakukan aktivitas tertentu, dan memahami perasaan dari teman sebayanya.

Hal lain lain yang dapat diajarkan oleh orang tua selain mengajak anak berpikir logis dari sisinya, adalah memasukkan sudut pandang orang lain kepada anak. Sehingga tidak hanya kaku terhadap pemikiran dan sudut pandangnya, anak juga mampu memahami sudut pandang orang lain dan mampu mengambil sisi positif dari sudut pandang tersebut.

Contoh kasus, saat anak merebut mainan temannya dan membuat temannya menangis. Orang tua tidak hanya mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh anak, namun juga membuat anak memahami kenapa temannya menangis dan sedih, dan coba di gambarkan bagaimana jika posisi temannya tersebut dialami oleh anak.

Bagian penutup, dalam bagian ini terdapat rangkuman mengenai whole brain strategi untuk 3 kategori usia yaitu, 0-3 tahun, 3-6 tahun, dan 6-9 tahun yang dapat dibaca dan dicoba praktekkan dalam komunikasi dengan anak.

Pengalamanku menghadapi anak-anak, semua anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda, jadi perlu diketahui bahwa pendekatan yang kita lakukanpun harus berbeda-beda. Cara A mungkin tepat untuk anak A namun kadang perlu ada tambahan ketika menghadapi anak B. Begitu seterusnya. Jadi, kita sebagai orang tua juga perlu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai anak, karakteristiknya seperti apa dan pendekatan atau strategi yang mana yang dapat digunakan dalam menghadapi anak.

Selain anak, orang tua juga harus tetap belajar.

Begitulah review buku parenting kali ini. Ini salah satu buku parenting yang aku rekomendasikan untuk calon ibu, atau ibu-ibu muda atau bahkan tenaga profesional yang berkecimpung dengan dunia anak-anak, yang tertarik dengan pengasuhan anak yang dilandasi dari pembagian fungsi otak anak.

HAPPY READING!

aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *