Books Review,  Parenting,  Titik Terang

Book Review | The Danish Way of Parenting

Judul Buku : The Danish Way of Parenting (rahasia orang Denmark membesarkan anak)
Penulis : Jessica Joelle Alexander & Iben Dissing Sandahl
Penerbit : Penerbit B First (PT Bentang Pustaka)
Penerjemah : Ade Kumalasari & Yusa Tripeni 
Catakan : Pertama, April 2018
ISBN : 978-602-426-095-8
Bahasa Indonesia | Ebook didistribusikan Mizan Digital Publishing 

Overview

Selama hamil ini aku rasanya menjelajah beberapa tempat untuk mempelajari bagaimana mereka melakukan pola pengasuhan. Dari Amerika, trus kemarin belajar di Prancis, kemudian sekarang kita akan belajar bagaimana orang Denmark mengasuh anak-anak mereka.

Buku ini menceritakan tentang penulisnya yaitu Jessica Joelle Alexander & Iben Dissing Sandahl yang pindah dari Amerika serikat ke Denmark. Jessica sendiri adalah asli orang Amerika, kemudian ia menikah dengan suaminya yang asli orang Denmark. Setelah mereka pindah ke Denmark, mereka kemudian mempelajari dan mendalami cara pengasuhan orang Denmark, karena yang dunia tahu bahwa gaya pengasuhan orang Denmark sangat terkenal, sampai membuat Denmark mendapatkan predikat menjadi negara paling bahagia di dunia.

Kata kunci dalam buku ini adalah BAHAGIA. Mulai dari informasi mengenai negara Denmark yang dinobatkan menjadi negara yang orang-orangnya paling bahagia di dunia. Banyak juga artikel menyebutkan bahwa Denmark adalah negara yang memiliki indeks kebahagiaan yang tertinggi di dunia yang sudah disandangnya selama 40 tahun lamanya. Ternyata setelah dilakukan penelitian, yang menyebabkan orang-orang Denmark mendapatkan predikat itu adalah terletak pada gaya pengasuhan mereka. Gaya pengasuhan ini diturunkan secara turun temurun dari orang tua mereka.

Inilah yang juga jadi alasanku untuk ingin baca buku ini, aku ingin mendapatkan pelajaran baru mengenai menjadi orang tua yang bahagia, dengan begitu bisa membesarkan anak-anak yang bahagia, lalu kemudian anak-anakku bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia lalu akan membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang bahagia pula. Lalu begitulah selanjutnya, gaya pengasuhan yang bahagia ini akan terus mereka turunkan kepada generasi mereka selanjutnya. Aku membayangkan, akan sangat indah rasanya kalau seluruh negara di dunia ini seperti Denmark.

Pa ma, anak yang dibesarkan dengan bahagia sudah pasti akan tumbuh dengan bahagia juga. Ia akan menjadi pribadi yang tangguh, memiliki kestabilan emosi yang bagus, empati yang tinggi, tegas dan siap menghadapi tantangan di zamannya. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, dan akan terus semakin canggil di tahun-tahun berikutnya.

Isi Buku

Pada bab yang pertama, kita disuguhkan bab untuk lebih mengenali dan memahami apa yang menjadi pembawaan alami kita, atau yang disebut dengan ‘default setting’. Maksudnya di sini adalah kenali dulu diri kita sendiri dan darimana sebenarnya kita belajar mendidik anak-anak kita. Secara alami, kebanyakan dari kita akan mengikuti cara pengasuhan dari orang tua kita. Banyak yang mengatakan ini, ”orang tuaku dulu mendidikku seperti ini, jadi ya aku juga mendidik anak-anakku begini,” atau ”lah, dulu juga orang tuaku menghidupiku seperti itu, aku hidup dan sehat-sehat aja, emang kenapa kalau kuterapkan juga kepada anak-anakku? Kan ga ada salahnya.” itulah contoh dari pembawaan alami atau default setting itu.

Namun, pertanyaan selanjutnya, yang menjadi pertanyaanku juga setelah membaca bab pertama ini, ”emang bener begitu?” atau ”emangnya gaya pengasuhan orang tuaku dulu sudah benar dan tepat ya? Memangnya itu yang paling bagus untuk anak-anak kita?” dan karena itulah kuputuskan untuk terus membaca buku ini.

Kemudian bab-bab berikutnya akan lebih banyak menjelaskan mengenai gaya pengasuhan orang Denmark ini, yang disingkat dengan ”PARENT” :

P : Play (bermain)
A : Authenticity (autensitas / keaslian)
R : Reframing (memaknai ulang)
E : Empathy (empati)
N : No ultimatum (tanpa ancaman)
T : Togetherness and Hygge (kebersamaan dan kenyamanan)

Yang kemudian akan banyak dibahas di bukunya dan juga akan kujelaskan secara singkat di review ini. check this out ya!

P untuk Play (bermain)

Dalam bab bermain itu ini aku jadi teringat ada lagi nih perbedaan pola pengasuhan yang kebanyakan orang Indonesia lakukan dengan orang tua di Denmark lakukan untuk anak-anaknya. Yang aku tahu kita, orang tua di Indonesia biasanya ingin cepat-cepat menyekolahkan anaknya. Bahkan sekarang usia sekolah anak sudah semakin awal, 3 tahun sudah bisa menyandang status menjadi siswa.

Banyak orang tua yang berusaha keras untuk memulai sekolah anak mereka lebih dini. Kebanyakan orang tua jadi bangga sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya secepat mungkin. Alasannya, anakku harus lebih dulu bisa ini itu, dan juga ada ketakutan dari orang tua jika anak teman-teman atau tetangganya lebih dulu bisa ini dan itu.

Mengenai ’bermain’ ini juga menjadi pertanyaan besar dari orang tua anak-anak terapiku. Sebagai psikolog klinis anak dan terapis ABK, kami sering menggunakan terapi bermain dalam meningkatkan kemampuan anak-anak terapi, namun mendengar kata itu orang tua banyak mengerutkan dahinya. Hah hanya bermain? Begitu pertanyaan yang paling banyak terdengar.

Banyak orang tua tidak mengetahui, bahwa bermain mengajari anak-anak kita ketangguhan. Dan ketangguhan sudah terbukti menjadi satu dari faktor paling penting dalam memprediksi kesuksesan pada orang dewasa. Ketangguhan ini ia akan dapatkan saat bermain sendiri atau bermain bersama teman-temannya. Manfaat lain dari bermain adalah anak-anak dapat lebih stabil secara emosi, meningkatkan empatinya dan menjauhkan anak dari stress dan depresi.

“Kegiatan bermain sering kali dianggap sebagai pelarian atau jeda dari kegiatan belajar dan sesungguhnya. Namun, bagi anak-anak bermain adalah kegiatan belajar yang sesungguhnya” – Tuan Rogers

Jika dari kecil anak sudah di dorong apalagi dipaksa untuk terus belajar, belajar dan belajar, ia akan kehilangan dunia bermainnya. Anak bisa tumbuh dengan anak-anak yang pintar namun menjadi kurang tangguh. Jangan sampai kita lupa ya pa dan ma, bahwa konsep sebenarnya anak itu adalah bermain sambil belajar bukan sebaliknya atau terus menerus hanya belajar saja.

A for Authenticity (autensitas / keaslian)

Anak-anak di Denmark sejak kecil diajari untuk jujur pada diri sendiri dengan cara mengenali setiap emosi yang dirasakan. Bagi orang Denmark, kenyataan dimulai dengan sebuah pemahaman dari emosi kita sendiri. Mengenali, menerima dan memahami semua emosi sejak dini membuat anak menjadi lebih mudah untuk mengatur strategi bagi semua masalah.

Orang tua bisa menanyakan hal-hal ini untuk mengajari anak-anak mengenali emosinya. Misalnya, ketika anak sedih dan menangis, oarang tua tidak langsung marah-marah, namun menanyakan beberapa hal kepada anaknya, ”kamu sedih? Sedih kenapa?” dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk membantu anak-anak mengenali emosinya dan kemudian mencoba memberikan saran untuk menyelesaikannya.

Namun, perlu digaris bawahi juga, sebelum orang tua mampu ’mengajari’ anak-anak untuk mengenali emosi itu, orang tua juga harus jujur dengan dirinya sendiri, mengenali emosinya sendiri dan tidak sok ’cool’ di depan anak-anak. Saat papa atau mama merasakan emosi tertentu, papa dan mama bisa mengatakan langsung dengan jujur apa yang sedang dirasakannya, dan tidak perlu disembunyi-sembunyikan.

Buku cerita dan juga film anak-anak di Denmark juga tidak melulu memiliki happy ending, hal ini bertujuan untuk mengajari anak bahwa tidak semua yang terjadi di dunia ini hanyalah hal-hal indah. Ada juga hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan, rencana dan harapan. Dengan cara itulah anak-anak kemudian diajari bagaimana menangani masalah-masalah tersebut, yang kemudian menjadikan anak menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Orang tua di Denmark juga terkenal ’pelit’ pujian. Artinya adalah mereka memberikan pujian dengan sangat jujur. Mereka lebih mementingkan memberikan pujian pada anak-anak atas proses yang mereka lakukan, bukan pujian pada hasilnya. Misalnya, anaknya menggambar sesuatu namun gambar itu jelek, orang tua akan mengatakan ”biasa aja sih, tapi kalau kamu latihan lagi mungkin bisa lebih bagus, semangat ya.”.

R for Reframing (memaknai ulang)

Memaknai ulang ini memiliki pengertian sebagai melihat dari segala sudut pandang, dari beberapa sisi, dan itu tugas orang tua untuk mengajarkan anak-anak. Reframing ini sudah diajarkan kepada anak dari sejak kecil. Jadi orang-orang Denmark dikenal juga sebagai orang-orang yang ’Realistic Optimist’, artinya mereka optimis tapi mereka juga lebih realistis, terutama dalam menghadapi tantangan hidup.

Inilah contoh Reframing kepada anak-anak di Denmark, yang dilakukan oleh orang tua. Misal, anaknya sedang marah kepada temannya.

“Mama, si A nakal, dia merebut mainanku,” orang tua tidak akan langsung mencari A kemudian marah-marah padanya, ia akan lebih dulu bertanya kepada anaknya. 
”Emang menurutmu dia selalu nakal? Kan dia juga pernah melakukan hal baik untukmu,”
”Iya dia pernah baik sih, dia juga pernah ngasi aku permen dan kue saat bermain bersama,”
”Nahkan, dia juga pernah baik. Kamu nanya ga kenapa dia merebut mainamu? Trus kamu bilang ga sama dia kalau kamu tidak suka kalau mainanmu direbut?”
”Ga, aku langsung marah dan pergi.”
”Oke, lain kali kalau dia rebut mainanmu lagi, kamu akan gimana?”
”Jangan ambil, aku lagi main,”
”Nah begitu saja, atau kamu ajak dia main sama-sama, gimana?”

Dengan memaknai ulang, apa yang kita lakukan menjadi sesuatu yang lebih suportif sesungguhnya mengubah cara kita dalam merasakan sesuatu. Contoh juga kepada orang tua. Orang tua tidak cepat-cepat melabeli anak yang tidak mau makan sebagai anak yang bodo atau malah nakal karena tidak nurut. Tapi sebagai orang tua bisa melihat dari sisi lain, bisa jadi anak sudah kenyang karena nyemil sesuatu atau memang benar-benar tidak sedang lapar.

Kata kuncinya adalah kita harus mencoba untuk melihat gambaran suatu hal lebih luas dan lebih utuh. Pemaknaan ulang itu seperti kita belajar memaknai segala sesuatu dalam kacamata positif tapi tanpa mengabaikan informasi negatif. 

E for Empathy (empati)

Apa sih empati itu? Empati adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan orang lain. Kita bisa berada di sudut pandang atau di sepatu orang tersebut sehingga bisa merasakan bersama-sama apa yang sedang ia rasakan.

Seperti yang kita ketahui, semakin berkembangnya zaman dan teknologi semakin canggih, ternyata bukan berarti kerja sama dengan orang lain bisa semakin erat. Melainkan malah lebih meningkatnya jiwa kompetitif di setiap orang. Bukannya sama-sama bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, malah semakin menunjukkan jiwa bersaing hingga sampai menjatuhkan dan merugikan orang lain hanya untuk keuntungan diri sendiri.

Anak-anak di Denmark, diajarkan untuk selalu berempati pada orang lain. Tidak hanya di rumah, bahkan di sekolah mereka juga punya banyak kegiatan untuk melatih empati sejak dini. Salah satu pilar yang diajarkan orang-orang Denmark pada anak-anaknya adalah tidak menjudge anak-anak mereka sendiri, anak-anak orang lain, anak-anak dari keluarga lain dan siapapun. Membantu mengembangkan empati pada anak-anak secara dini bisa membantu mereka menciptakan hubungan yang lebih baik dan lebih peduli di masa depan.

Berikut adalah pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh orang tua di Denmark untuk mengembangkan empati anak-anaknya.

“Heh si A tadi nangis ya, kenapa dia sampai nangis gitu?”

“Dik, tadi si B marah-marah sampai ngamuk gitu, emang dia kenapa?”

Sebaliknya orang tua tidak akan mengatakan hal ini kepada anaknya, karena tidak mencerminkan dan tidak mengajarkan empati sama sekali : ”jangan nangis terus dong, udah diem deh.” atau ”itu anak itu dari tadi mama lihat marah-marah dan ngamuk, nakal banget sih, kamu jangan gitu ya.” dll

N for No Ultimatum (tanpa ancaman)

Orang tua di Denmark mendidik anak-anaknya tanpa memberikan ancaman. Orang tua melihat anak pada dasarnya adalah anak yang baik. Ini yang perlu diingat, yang buruk bukanlah anaknya, tapi perilaku atau perbuatannya. Mereka setuju bahwa hukuman fisik tidak disarankan di dalam pengasuhan pada anak. Apalagi gaya pengasuhan otoriter sampai permisif tidak menjadi pilihan orang tua di Denmark untuk dilakukannya kepada anak-anaknya. Di bab ini lebih banyak dijelaskan bagaimana cara mendidik anak dengan cara menghormati anak.

Orang tua di Denmark tidak pernah menyebutkan kata-kata ini untuk mengubah perilaku anak sesuai yang diinginkannya, seperti : ”berhenti menangis, kalau ga, mama cubit ya!” atau ”ayo makan ga, kalau kamu ga mau makan, nanti sakit nanti di suntik dokter lho ya,”

Pa, ma, berikut tips-tips yang bisa dilakukan orang tua agar tidak menggunakan ancaman kepada anak-anak:

  • Tenang dan ingat-ingat apa yang benar-benar ingin diajarkan ke anak-anak. Ajarkan pelan-pelan, kalau pertama belum mau, ingatkan lagi tapi jangan terlalu dipaksa. Ingatkan terus nilai-nilai yang ingin diajarkan.
  • Berikan jalan keluar, hindari power struggles
  • Jelaskan aturan-aturan yang harus dipatuhi anak dan minta mereka untuk mengerti dan mau bekerja sama.

T for Togetherness and Hygge (kebersamaan dan kenyamanan)

Orang-orang Denmark membiasakan dirinya untuk menyediakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga, sesibuk apapun mereka. Mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk makan, mengobrol atau sekedar menghabiskan waktu bersama di rumah. Selain dengan keluarga kecil, mereka juga berkumpul bersama keluarga besar.

Dalam pengasuhan anak, orang tua Denmark mempercayai bahwa selain memperhatikan kualitas hubungannya, juga memperhatikan kuantitas kebersamaannya. Kebersamaan dan kenyamanan ini membuat anak-anak menjadi tumbuh bahagia, apalagi ia merasa bahwa memiliki support system atau dukungan sosial yang sangat solid dan kuat yaitu keluarga.

Berikut beberapa tips dalam menerapkan Togetherness dan Hygge ini :

  1. Matikan ponsel, laptop yang menjadi distraksi
  2. Siapkan makanan dan minuman untuk dinikmati bersama
  3. Tidak sambil mengambil aktivitas atau kerjaan
  4. Jangan membicarakan hal-hal negatif yang bisa menjadi perdebatan, seperti politik
  5. Tidak bergosip
  6. Menikmati waktu dengan menceritakan hal-hal lucu dan momen-momen menyenangkan terdahulu
  7. Berterima kasih kepada seluruh keluarga

______

Dan begitulah review dari buku The Danish Way of Parenting ini. Banyak sekali teori-teori parenting dan penjelasan mengenai pola asuh yang terdengar dan terlihat gampang sekali dilakukan, namun sebenarnya dalam prosesnya ya cukup berat juga dalam menerapkannya. Perlu kesabaran, kekonsistenan dan juga tidak mudah menyerah dari orang tua dalam menerapkan pola asuh PARENT ini, jika ingin ikut menerapkan pola asuh seperti orang tua Denmark sehingga menjadikan anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang bahagia dan kita sebagai orang tua juga jadi lebih bahagia.

Selamat membaca ya para orang tua hebat 🙂

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *