Books Review,  Parenting,  Titik Terang

Book Review | The Book You Wish Your Parents Had Read

Penulis : Philippa Perry
Jenis buku : Parenting
Penerbit : Penguin Random House UK
Tahun Terbit : Maret 2019
Jumlah Halaman : 256 halaman
ISBN : 9780241250990
Hardcover | edisi bahasa inggris | beli di Periplus 

Overview

Seperti yang bisa kita lihat dari judulnya, buku ini merupakan buku panduan mengenai pengasuhan orang tua. Tapi walaupun aku mengatakan bahwa ini adalah panduan, tapi menurutku, isi dari buku ini sama sekali tidak menggurui apalagi menghakimi kita, para orang tua dalam hal pengasuhan kepada anak. Aku pribadi, sebagai calon mama, mendapatkan cukup banyak kesadaran-kesadaran baru atau bahkan pelajaran-pelajaran berharga sebagai persiapan dalam mengasuh anak-anak nantinya.

Secara garis besar, inilah hal-hal yang kudapatkan dan kupelajari dari membaca buku ini, check this out ya :

  • Pola pengasuhan yang orang tua kita terapkan dulu ternyata juga mempengaruhi pola asuh kita sekarang pada anak
  • Tidakada orang tua yang sempurna, pasti sebagai orang tua adanya saja pernah membuat kesalahan, dan itu wajar adanya. Terima itu lalu cari solusi dalam penyelesaiannya
  • Kita, sebagai orang tua bisa memutus rantai negatif pengasuhan sebelumnya
  • Mempelajari bahwa apa yang dilakukan atau ditunjukkan anak sebagai perilaku adalah bentuk komunikasi anak kepada kita orang dewasa.

Tentang Isi Buku

Pada bagian pertama buku ini, mengajarkan kita bahwa kunci dari hubungan yang harmonis dengan anak dimulai dari kita, orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua diharapkan memiliki kesehatan emosional dan mental yang baik. Sederhananya orang tua yang sehat mental dan emosional akan mampu mendidik anak secara maksimal.

Perry juga mengatakan hal ini,

“inti dari pengasuhan adalah HUBUNGAN antara orang tua dan anak. Jika orang tua adalah tanaman, maka hubungan itu sendiri adalah tanahnya. Hubungan ini sebagai pendukung, pemelihara, dan memberikan jalan untuk pertumbuhan atau malah bisa juga sebagai penghambatnya. Tanpa sebuah hubungan yang dapat anak andalkan, maka anakpun tidak akan memiliki rasa aman yang dibutuhkan. Kita sebagai orang tua pasti menginginkan hubungan kita dengan anak adalah sumber kekuatan baginya, dan suatu hari nanti untuk anak-anak mereka juga”. 

Menurutku buku ini memiliki pendekatan yang berbeda dengan buku-buku parenting lainnya yang pernah kubaca sebelumnya. Tidak adalah trik, tips atau metode-metode yang disebutkan untuk orang tua dalam mengasuh anak-anaknya. Namun lebih kepada penjelasan mengenai ’hubungan’ yang riil atau nyata antara orang tua dan anaknya, yang kita sering temukan dalam kehidupan sehari-hari, di sepanjang hidup kita.

Di dalam buku ini, kita juga akan banyak disuguhkan dengan teori-teori pengasuhan dan juga dilengkapi dengan kasus-kasus yang ditangani oleh Perry. Sehingga kita juga bisa lebih mudah memahami konteks dan caranya dengan lebih baik dan tepat. Ada dua kasus yang bisa sebagai contoh :

Kasus Mark yang tidak bisa berkomunikasi baik dengan anaknya Toby. Ternyata setelah melakukan sesi konseling, dapat diketahui bahwa Mark memiliki hubungan yang tidak menyenangkan bersama ayahnya dulu. Kemudian setelah terapi, Mark mengalami perubahan signifikan. Ia jadi memahami dari mana datangnya kesulitan komunikasi antara dia dan anaknya. Ia juga jadi menyadari bahwa hubungannya dengan ayahnya, karena pola asuh yang dialaminya dulu sangat berpengaruh pada pola pengasuhannya sekarang kepada anaknya. Ia jadi belajar perlahan untuk memaafkan ayahnya, kemudian mulai mencari jalan keluar untuk memutus rantai negatif yang dialaminya dulu.

Menurut Perry, masa lalu orang tua berpengaruh besar dalam banyak disfungsi dalam hubungan antara orang tua-anak.

Kasus nova, gadis kecil yang menangis karena tempat duduk yang biasanya ia tempati di mobil di duduki oleh orang lain. Menurut Perry, penting bagi anak untuk dipahami perasaannya, bukannya malah diolok-olok, apalagi dialihkan. Berbicaralah dari hati kehati pada anak. Kita sebagai orang dewasa saja ingin dimengerti oleh orang lain, begitu juga anak-anak. Terutama disaat mood sedang jelek. Jadi karena itu tidak ada alasan untuk mengabaikan perasaan anak ya. Walaupun menurut kita perilaku yang ditunjukkan anak adalah hal yang sepele.

Orang tua bisa jongkok, mensejajarkan diri dengan anak, kemudian lakukan validasi terhadap perasaannya, ”kamu sedih ya kursi yang kamu sukainya, di duduki sepupumu?”, setelah anak merasa dipahami, lalu beri ia pilihan, “sekarang kamu mau duduk di mana? Di depan atau di dekat jendela?”

______

Buku ini penting atau bisa menjadi salah satu bacaan yang bagus karena di setiap bagian-bagiannya selalu menyadarkan kita lagi dan lagi bahwa menerapkan hubungan yang baik dengan anak itu sangat-sangat penting. Bahkan bayi yang baru lahirpun menunjukkan kebutuhan untuk di rawat, hidup dan tentu saja dicintai.

Namun, masalahnya tidak semua orang tua selalu stabil secara emosi. Untuk itu Perry memberikan solusi yang memadai untuk berbagai masalah parenting dari mulai bayi hingga anak beranjak dewasa, bahkan ada ’latihan’ di akhir setiap topik yang dapat kita gunakan untuk refleksi dan bimbingan parenting.

Topik yang sangat kudalami di buku ini adalah bagian dari post-natal depression. Karena alasannya aku sedang mengandung dan banyak isu-isu mengenai baby blues bahkan post-natal depression ini yang dialami oleh mama-mama setelah melahirkan. Di bagian ini Perry menjelaskan bahwa pentingnya suport system bagi seorang mama setelah melahirkan. Kebanyakan yang kita temui dan juga mungkin alami, setelah bayi lahir yang menjadi pusat perhatian adalah anak kita.

Semua berfokus hanya pada kenyamanan dan pertumbuhan bayi dan lupa kalau ada seorang mama yang juga sama butuh dukungan dan perhatian yang lebih. Bukannya malah dinilai ini dan itu, apalagi dihakimi.

Menurut Perry, kurangnya dukungan ini menyebabkan mama mengalami ’kesepian’ atau merasakan sendirian. Gejala-gejala dari post-natal depression ini meliputi irritability (lekas marah), deep sadness and despair (kesedihan mendalam dan putus asa), feeling useless (merasa tidak berguna), anxiety (kecemasan), insomnia (sulit tidur), setiap hal kecil merasa membutuhkan effort yang sangat besar, ingin bersembunyi dari orang lain, pikiran untuk menyakiti diri sendiri (self harm) dan dalam kasus ekstrim, psikosis. 

Topik latihan tidur terpisah dengan anak juga dibahas dalam buku ini. Aku pernah juga baca di buku pengasuhan anak ala Prancis, bahwa anak dibiasakan untuk tidur sendiri sejak baru lahir dan tidak serta merta langsung di gendong ketika merengek di malam hari. Kata pengasuhan ala Prancis itu, kebiasaan untuk tidur sendiri pada anak itu, bermanfaat untuk melatih kemandirian anak kelak.

Aku belum menentukan kesetujuan atau ketidaksetujuanku mengenai ini. Bisa kubayangkan pasti berat dalam prosesnya, apalagi untuk kita-kita orang tua di Indonesia. Butuh tekad yang kuat dari orang tua pastinya. Kalau bayanganku sih, saat anakku merengek atau menangis, aku akan secepat kilat menghampirinya dan menenangkannya.

Tapi kemudian, kutemukan di buku Perry ini, ia bisa memberi gambaran yang lebih fair dan gentle dalam proses ini, sebagai berikut:

“kita sebagai orang dewasa tentu tahu bahwa tidur yang terganggu akan menyebabkan kelelahan. Tapi Perry meyakini juga bahwa keinginan untuk mendorong anak-anak kita untuk tidur dengan sendirinya, juga secepat dan sedini mungkin berpotensi merusak hubungan kita dengan mereka. Dan oleh karena itu memiliki kemungkinan untuk mengganggu kapasitas kebahagiaan mereka di kemudian hari. 

Dalam hidup ini, bayi dan anak-anak tidak belajar untuk menenangkan diri dan mengatur emosi mereka dengan dibiarkan sendiri tetapi dengan ditenangkan oleh orang tua atau pengasuh utamanya, berkali-kali, terus menerus. Ketika anak tumbuh dewasa, akhirnya mereka belajar untuk menginternalisasikan hal-hal yang menyenangkan itu. Dengan kata lain, kita belajar menenangkan diri dengan lebih dulu ditenangkan oleh orang lain. Dan untuk memulai, menenangkan ini adalah pekerjaan orang tua selama 24 jam, yang sering kali mengejutkan bagi orang tua baru.”

Dari bagian di atas, aku jadi belajar mengenai hal ini:

Anak kita akan tidur dengan sendirinya, jika ia mengasosiasikan tidur dengan kenyamanan, keamanan, dan kebersamaan. Dan dengan itu, anak akan lebih merasa nyaman untuk pergi tidur dan tidur sendiri. Sedangkan sebaliknya, kita akan mendapatkan masalah jika kita terlalu mendorong bahkan memaksa anak-anak kita menjauh dari orang tua karena kita ingin agar ia cepat-cepat pergi tidur. 

______

Sebagai penutup kembali ku berfikir, bahwa buku ini terutamanya membahas hubungan kita sebagai orang tua dengan anak-anak dan bagaimana cara kita supaya memiliki hubungan yang positif, penuh kasih sayang dan bisa mengembangkannya sampai titik dimana kualitas hubungan tersebut bila terkoneksi pada pembentukan karakter yang optimal untuk anak dan orang tua.

Dalam buku ini sudah pasti tidak akan ada tips-tips atau trik atau parenting hacks. Tapi buku ini jelas memuat semua hal yang seorang anak akan berharap orang tuanya membaca buku ini. Apa saja itu lebih jelas dan lengkapnya, baca dibukunya ya, hehehe

Tepat setelah aku selesai membaca buku ini aku sadar bahwa penting sekali untuk menumbuhkan hubungan emosional yang sehat, positif dan baik dengan anak-anakku. Buku ini tanpa penghakiman dan mengakui bahwa menjadi orang tua tidaklah mungkin menjadi sempurna. Tapi hal itu tidaklah juga berarti memojokkan dan menyalahkan kita sebagai orang tua, atau pengasuhan yang orang tua kita lakukan dulu kepada kita. Kita masih bisa memperbaikinya, dan mencari cara memperbaiki atau memotong kesalahan-kesalahan yang pernah ada, sehingga tidak terbawa sampai generasi kita berikutnya.

Setelah membaca buku ini jadi lebih tersadar bahwa masa-masa balita anak kita, dia membutuhkan hubunganyang dekat, ikatan yang kuat dari orang tuanya untuk membekali dirinya menjadi orang yang sehat mental dan emosional di masa mendatang.

Kesimpulan

Perry menekankan bahwa membesarkan anak itu bukan sekedar get them dressed, feed them, wash them and put them to bed.

Lalu anak butuh yang bagaimana?

“a child needs warmth and acceptance, physical touch, parent’s physical presence, love plus boundaries, understanding, play with people of all ages, soothing experience, and a lot of parent’s attention and time”. 

Selain itu, ada hal-hal yang penting juga disampaikan :

  1. Pentingnya memvalidasi emosi anak dan mengajarkan anak mengartikulasikan perasaan, bukan diabaikan atau dipaksa dihilangkan
  2. Penting untuk memperhatikan juga kesehatan emosional dan mental orang tua, kerena dari sana kita bisa mengasuh anak dengan lebih optimal dan maksimal
  3. Penting untuk mengakui atau merefleksikan diri mengenai kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pengasuhan orang tua kita jaman dulu sehingga kita bisa memperbaiki atau menghilangkan hal-hal yang kurang tepat dalam pengasuhan kita kepada anak kita sekarang
  4. Penting untuk hadir secara nyata untuk anak tidak hanya quaity time, tapi juga dengan melakukan ’love-bombing time’ untuk me-reset emotional thermostat anak. Love-bombing time adalah orang tua atau salah satunya menyediakan waktu satu hari dengan hanya fokus kepada anak.

Rekomendasi

Buku ini bagus dibaca oleh para orang tua, atau orang dewasa yang sudah menjadi orang tua, atau pihak-pihak profesional lain yang bekerja di dunia anak-anak. Karena buku ini tidak hanya membahas masalah pengasuhan anak tapi juga konsen pada kebahagiaan dan kestabilan emosi orang tua.

______

happy reading, good parents

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *