Books Review,  Parenting,  Titik Terang

Book Review | Bringing Up Bebe

Judul lengkap : Bringing Up Bebe, Rahasia Kedamaian Pengasuhan ala Prancis 
Penulis : Pamela Druckerman 
Penerjamah : Ade Kumalasari dan Yusa Tripeni 
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih dan Noni Rosliyani
Pemeriksa aksara : Nunung Wiyati 
Penerbit : Bintang Pustaka 
Cetakan : Pertama, Februari 2020 
Bahasa Indonesia | Beli di Gramedia 

Overview

Buku Bringing Up Bebe ini sudah kubeli cukup lama, saat aku mencari-cari buku untuk kuberikan kepada sahabatku yang sedang hamil. Saat itu aku baru 1 atau 2 bulan menikah. Pertama kali yang membuat tertarik adalah sampulnya, ga tahu kenapa, suka aja sama perpaduan warna dan juga gambarnya. Gambaran seorang ibu modis yang sedang mengajak anaknya jalan-jalan. Beda sekali bayanganku pribadi mengenai menjadi ibu yang menjaga dan mengasuh anaknya setiap hari, dasteran, belum mandi, rambut awur-awuran, boro-boro pakai lipstik, bisa sikat gigi saja sudah mending kali ya. Hehehe..

(Mudah-mudahan gambaranku mengenai ibu dengan satu bayi tidak seperti di atas ya, apalagi aku bentar lagi mau lahiran)

Isi Buku

Ga mau lama-lama untuk pembukaannya. Dan sebenarnya juga ingin lebih meringkas lagi review ini, sebenarnya juga sedang belajar membuat review (apapun) dengan singkat, namun jelas dan dapat mengundang minat pembaca review ini, untuk membaca bukunya langsung. Semoga saja ya, review ini bisa menggugah minat kalian untuk beralih ke bukunya ya 🙂

Banyak hal yang bisa kita dapatkan di dalam buku ini, menurutku pribadi, aku jadi punya perbandingan dan jadi kadang-kadang geleng-geleng kepala sendiri saat membaca buku ini. Karena ada bagian-bagian yang aku baru tahu setelah membaca buku ini. Ada topik-topik yang sangat baru yang sebelumnya tidak pernah kuketahui sebelumnya.

Sebagai seorang psikolog anak, dan dulu saat jadi mahasiswa, aku lebih banyak membaca buku pengasuhan yang ditulis oleh penulis-penulis Amerika, dan secara garis besar jenis pengasuhan mereka hampir sama bahkan 90% sama dengan pengasuhan di Indonesia. Kemungkinan besar, kita orang-orang Indonesia, memang mengambil atau mengadaptasi jenis-jenis pengasuhan mereka.

Namun, setelah membaca buku ini jadi punya pandangan baru, yang sebenarnya berbanding terbalik dengan jenis pengasuhan di Amerika atau di Indonesia. Hal ini di ceritakan langsung oleh Pemela, yang sebenarnya orang Amerika namun tinggal di Prancis setelah menikah dan memiliki anak. Sama seperti kita, sebagai orang Amerika, Pamela lebih mengenai jenis-jenis pengasuhan yang kita kenal, namun setelah tinggal di Prancis dan melihat bagaimana orang tua di sana mengasuh anak-anaknya, iapun terkejut dan jadi banyak belajar juga mengenai pengasuhan disana, dan ada juga yang coba diterapkan olehnya kepada anak-anaknya.

Ada banyak bab di buku ini, namun tidak akan kubahas semuanya, aku hanya akan memilih beberapa bab yang kurasa relate denganku dan yang benar-benar membuatku geleng-geleng kepala karena saking berbedanya dengan pengasuhan yang kukenal selama ini. Check this out ya!

Aku akan mulai dengan topik mengenai support system yang berbeda dari orang Amerika dengan orang-orang Prancis terhadap ibu yang sedang mengandung. Hal ini dibahas di awal-awal bab buku ini. Seperti yang kita tahu, di Amerika ataupun di Indonesia, ibu hamil akan lebih banyak mendapatkan nasehat dan pandangan-pandangan mengenai masa kehamilan dari orang-orang terdekatnya atau bahkan dari orang lain, sesama mamil saat mengantre dokter. Kita terbiasa diberikan wejangan-wejangan dari apa yang boleh, yang tidak boleh sampai yang harus dilakukan dan dihindari saat masa-masa kehamilan, baik kita memintanya atau tidak.

Di Prancis berbanding terbalik dengan kita, orang-orang disana tidak cerewet dan tidak memiliki tanggung jawab untuk memberikan wejangan apalagi nasehat kepada mamil. Mereka mungkin akan bertanya, ”kamu hamil ya?” kemudian pertanyaan dan pernyataan tidak akan melebihi itu.

Kemudian kita akan membahas perbedaan yang lain, mengenai bagaimana para mamil di dua negara yang berbeda ini dalam berpenampilan, menjaga makanan dan juga metode melahirkan yang akan dipakai.

Di Amerika, begitu juga kita, akan lebih suka memakai pakaian yang nyaman, gombrong, menyerap keringat dan banyak dari kita menjauhi make up saat hamil. Yang terjadi padaku saat hamil adalah aku tidak pernah memakai make up apapun, lebih suka pakai daster yang menyerap keringat dan rambut tidak pernah di rapikan sebegitunya. Sedangkan di Prancis sangat berbeda, mereka tetap stylist, tetap memakai pakaian yang cantik-cantik bahkan tetap menjaga badan dan merawat wajah dan tubuh mereka. Tidak jarang kita lihat para mamil disana memakai high heels saat berjalan di trotoar.

Mengenai makananpun berbeda, aku saat hamil dan nafsu makanku sudah kembali normal, semua yang kuinginkan pasti ku makan. Alasannya, si baby meminta ini itu. Hahaha, alasan para mamil sepertinya sama. Apalagi lingkungan mendukung, kata mereka, ”makan yang banyak, kamu kan makannya berdua,”. Kalau mamil di Prancis, ya sudah pasti berbeda, mereka sangat menjaga makanan mereka, dan hanya makan secukupnya saja, mereka juga makan apa yang disukai, namun tidak berlebihan.

Berbeda juga halnya dengan metode melahirkan, ada beberapa mamil dan pamil keukeh memilih akan melahirkan dengan cara apa. Harus normal! Atau harus operasi! Hah, pokoknya harus. Kalau di Prancis, mereka tidak mengharuskan ini atau itu, apapun metodenya mereka akan menjalaninya asalkan anaknya bisa lahir dengan sehat dan selamat.

Kemudian selanjutnya aku akan membahas 3 topik lagi mengenai pengasuhan setelah anak lahir. 3 topik perbedaan ini yang membuatku berpikir ’apa bisa kuterapkan ya kepada anak-anakku nanti,’ atau membuatku jadi haus akan pengasuhan yang lain-lain lagi untuk menguaktkan yang mana yang harus kuterapkan, apakah ikut yang Amerika, atau ikut yang Prancis.

Semoga kalian juga tidak bingung ya 🙂

Topik pertama tentang bayi yang baru lahir, yaitu pembahasan mengenai tidur malam. Dalam bab ini dibahas mengenai perbedaan tidur bayi dari orang tua USA (sama dengan kita, di Indonesia) dengan orang tua di Prancis. Di USA, ibu-ibu akan mengalami tidur yang sebentar karena harus begadang mengurus bayinya di malam hari.

Tapi di Prancis, bayi sudah ’bisa’ tidur dengan tenang di malam hari sampai pagi tiba menjelang usia 3 bulan. Mereka tidak perlu bangun di malam hari dan tidak mengalami kurang tidur sama sekali, karena bayinya sudah menemukan pola tidurnya sendiri.

Karena penasaran kenapa bayi di Prancis tidak merengek di malam hari, Pamela kemudian mencari tahu dengan mewawancarai dokter ahli pola tidur anak. Ia asli orang Prancis tapi tinggal di New York. Dokter ini mengatakan orang tua Prancis memakai metode ’observing’ atau mengamati dan ’pause’ atau menunda.

Memang benar anak akan bangun dan merengek setiap 2 jam sekali di malam hari, namun belum tentu artinya minta di gendong atau minta susu. Ibu-ibu di Prancis akan mengamati dulu dan menunda untuk langsung menggendong dan menenangkan. Karena bisa jadi merengek atau bangun sebentar lalu balik tidur lagi. Hal ini karena ia ’baru belajar’ memahami pola tidurnya sendiri. Kalau langsung digendong artinya mengganggu tidur bayi jadi dia juga akan ’terbiasa’ digendong dan setiap bangun di tenangkan. 

Pamela kemudian mencoba ’pause’ ini dan tega menggunakan metode ini pada bayinya yang sudah berusia 9 bulan. Tapi lama-lama ia kemudian berhasil menemukan pola tidurnya sendiri. Pamela berhasil menerapkan metode itu walau melewati proses yang sangat menekan dirinya juga.

Pengasuhan lain yang dilakukan oleh anaknya di Prancis adalah anak diajarkan untuk ’menunggu’. Di Prancis, anak-anak diajarkan untuk bersabar dan tidak langsung mendapatkan apa yang ia mau sesuka hatinya. Sedikit sekali ditemukan anak yang tantrum di tempat umum. Rahasianya adalah sejak kecil mereka diajarkan untuk menunggu. Contohnya, mereka menerapkan dan sangat menghormati jam makan dan menikmati makan bersama seluruh anggota keluarga. Anak-anak di sana tidak dibiarkan ngemil sesuka hati. Saat anak-anak merengek dan minta perhatian orang tua, disana tidak akan mengatakan ’diam’ atau ’berhenti’ tapi akan mengatakan, ’tunggu! mama sedang melakukan ini, jadi kamu harus tunggu!’.

Orang tua di Prancis menerapkan ’delay gratification’, mereka memberikan alasan dengan tenang dan tidak marah-marah apalagi membentak, kepada anak saat tidak menuruti keinginan mereka. Dengan mengatakan ’tidak semua keinginanmu akan terpenuhi, ada juga hal-hal tidak bisa kamu miliki karena alasannya....’. 

Aku setuju dengan metode ini, dan akan kuterapkan untuk anak-anakku nanti. Salah satu caranya, aku sudah memikirkannya sejak sekarang. Aku akan membiasakan ia untuk duduk saat makan. Karena banyak sekali kulihat anak-anak makan malah sambil jalan, lari-larian dan atau sambil main. Itu tidak akan kuterapkan pada anakku. Semoga aku berhasil.

Satu lagi yang kusetujui dari buku ini, tentang pengasuhan ala Prancis ini, dan akan kucoba kuterapkan ke anak-anakku. Bab ini berjudul, manusia kecil mungil. Dalam topik ini dijelaskan mengenai filosofi Prancis, yaitu anak-anak adalah anak-anak, jadi biarkan mereka mengalami masa hidupnya sebagai anak-anak. Sedangkan di Amerika dan di Indonesia juga aku rasa, anak-anak sudah di masukkan kelas-kelas tertentu, les dan sebagainya. Dengan dalih kalau anak-anak belum bisa ini itu, ia akan ketinggalan dengan anak-anak lainnya dan tentu tidak akan bisa menjadi manusia dewasa yang sukses nantinya.

Di Prancis, orang tua punya filosofi bahwa tugas mereka adalah membantu anaknya ’awekening’ dan ’discovering’. Misalnya, anak-anak akan diikutkan kelas renang tapi orang tua tidak memaksa anak agar bisa berenang. Walau hanya mau main-main air saja, ya tidak apa-apa. Harapan orang tua tidak terlalu tinggi pada anak, karena mereka tahu nantinya anak akan merasa ’terpaksa/dipaksa’. Kalau sudah dewasa bukannya awekening dan discovering tapi malah jadi orang dewasa yang tidak tahu apa yang ingin dilakukan dan diminati.

______

Masih banyak bab-bab lain yang menarik untuk dibaca dan diambil informasi-informasi pentingnya. Siapa tahu ada kesadaran baru mengenai, parenting yang dilakukan di Prancis, walau berbeda dengan yang kita ketahui selama ini.

Siapa tahu seperti aku yang masih bingung mengenai ikuti atau ga ya, namun tetap mau belajar dan mencari tahu metode atau jenis pengasuhan mana yang lebih sesuai ya dengan keadaan kita sebagai orang tua dan anak-anak kita kelak.

Hah, jadi ga sabar ketemu si Mungil.

Catatan:

Anak kita bukan objek eksperimen ya pa ma, jadi jangan coba-coba, tentukan dari awal ingin menjadi orang tua yang seperti apa, jenis pengasuhan yang seperti apa yang akan kita terapkan untuk anak-anak kita. Yuk bisa yuk! 

-aa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *